Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 8 )


***

Terdengar suara bel berbunyi, akupun membuka mata. Melihat sekitar, dan aku baru nyadar kalo aku ketiduran di lantai dengan tanganku yang menggenggam tangan Aly.
Aku langsung bangun. Ku lihat Aly yang masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya, kemudian berjalan ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang.


Aku berjalan dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, kemudian membuka pintu.
"Grey?" Ternyata yang menekan bel adalah Carmel.
"Ya ampun, Carmel! Maaf ya pintunya aku kunci takut ada-"
"Gapapa kok." Potong Carmel.

Carmel pun masuk ke dalam rumah, ternyata sekarang sudah jam tujuh malam pantesan Carmel udah pulang.

Carmel duduk di sofa depan TV aku juga ikut duduk di sampingnya.
"Gimana?" Tanya Carmel.
"Gimana apanya?" Tanyaku balik.
"Gimana kamu sama Aly?"
"Baik baik aja kok."
"Apa kamu punya feel sama Aly?"
"FEEL?!" Kagetku begitu mendengar pertanyaan Carmel.
"Calm, Grey. Remaja 17 tahun kaya kamu itu wajar kok." Balas Carmel dengan wajah meledekku.

oke aku nggak ngerti maksud Carmel. Apa Carmel pikir aku sama Aly ada hubungan sesuatu?

"Sebenarnya ada sesuatu yang harus aku kasih tau ke kamu."
"Sesuatu?"
"Ya, ada rahasia Aly yang harusnya aku kasih tau ke kamu."
"Rahasia apa?" Tanyaku dengan penuh penasaran.
"Se-"
"Kak Carmel? Udah pulang?" Seru Aly dari pintu kamarnya yang membuat ucapan Carmel terpotong.

Carmel menatapku sekilas kemudian bangkit dari sofa dan mendekat ke Aly yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Hai, Aly!" Carmel memeluk Aly.
"Kangen kak Carmel." Balas Aly memeluk Carmel.
Aku cuma duduk di sofa melihat mereka. Melihat kakak beradik yang begitu akur.

Carmel membantu Aly berjalan menuju sofa, kemudian Aly duduk di sebelahku.
"Kalian keliatan lucu kalo berdua, loh!" Kata Carmel yang buatku kaget, sedangkan Aly senyum-senyum.
"Lucu?" Tanyaku memperjelas.
"Ya, kalian cocok." Jawab Carmel.
"Um, aku kayaknya harus pulang deh. Udah malem." Ucapku tiba-tiba dan bangun dari sofa.
Aly menahanku, "besok ke sini lagi kan, Grey?" Ucap Aly.
"Iya, tenang aja." Balasku.

Akupun pamit kepada Aly dan Carmel, masuk ke mobil yang terparkir di depan rumah Carmel dan pergi meninggalkan rumah itu.


Selama di mobil pikiranku nggak sepenuhnya terarah ke jalan. Pikiranku kacau. Memikirkan berbagai macam hal. Memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan mencoba untuk mencerna hal-hal itu secara perlahan.

Lampu merah. Mobilku berhenti. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada kotak kecil merah yang tertempel di dalam mobilku.

Flashback-

Ku taruh pandanganku ke depan, ke jalan berusaha untuk mengkonsentrasikan pikiranku ke jalan dan menyetir tapi aku nggak bisa. Seakan mataku selalu memaksa untuk melihat Alfia yang duduk di sampingku.
"Grey, tatap jalan. Konsentrasi buat nyetir." Kata Alfia begitu melihatku yang sedang menatapnya bukan ke jalanan.
"Maaf, Alfia." Balasku.

Aku mencoba lagi untuk berkonsentrasi menyetir tapi nyatanya memang nggak bisa. Alfia mengalihkan pandanganku.
"Grey?!" Seru Alfia begitu aku berhentikan mobil secara mendadak.
"Alfia.." Ku peluk Alfia dengan sangat erat.
"Grey, kenapa kamu malah minggirin mobil? 20 menit lagi aku harus take off." Ucap Alfia di dalam pelukanku.
"20 menit lagi aku nggak bisa liat kamu, nggak bisa ngeliat senyum kamu secara langsung, I cant hold your hands, I cant hug you." Ucapku yang masih memeluknya erat.
Alfia melepas pelukanku, "Aku tau itu, Grey. Tapi kamu kan udah bilang ke aku buat nerima beasiswa ini kan?"
"Ya, aku tau. Aku cuma nggak bisa nahan perasaan ini."
"Aku juga nggak bisa, Grey." Balas Alfia dan memelukku sejenak.

Alfia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, kemudian mengeluarkan kotak kecil merah. Tunggu, itu kan kotak kecil merah yang tadi malam ku berikan kepada Alfia yang berisi cincin. Alfia mengeluarkan cincin yang ku beri semalam dan memakainya.

Kemudian merobek sebuah kertas, mengambil pulpen dan menulis sesuatu di atas kertas itu.

Kertas yang sudah Ia tulis di lipat menjadi kecil dan di masukkan ke dalam kotak merah itu.

"Kalo kangen, mending kamu buka kotak ini dan baca tulisan yang ada di kertas di dalam kotak merah ini." Alfia menatapku. "Bisa kita berangkat ke soetta sekarang? Takutnya aku ketinggalan pesawat."
"Okay, Alfia."

Akupun menancap gas dan melanjutkan perjalanan ke bandara Soekarno-Hatta untuk mengantarkan Alfia meninggalkan Indonesia.

Back-

Aku senyum-senyum sendiri di dalam mobil, mengingat kenangan itu bersama Alfia.

Aku ambil kotak merah yang Alfia kasih waktu itu, mau membuka dan membaca isinya tapi sayang aku baru sadar kalo lampu sudah berwarna hijau dan aku harus tancap gas mobil sebelum diamuk pengemudi lain.
"What the!" Kesalku begitu kotak merah itu jatuh ke bawah. Aku nyoba ngambil tapi nggak bisa karena harus ngendarain mobil ini. Untungnya kotak itu masih jatuh di dalam mobil.

Aku minggir ke tepi jalan untuk berhenti agar bisa mencari kotak merah itu, karena aku nggak mau kotak itu hilang.

Aku keluar mobil, berjalan ke sisi mobil yang lain untuk mencari kotak itu.
Saat sedang mencari kotak itu, seseorang menepuk bahuku.

***

No comments:

Post a Comment