Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 28 )

***

Frans merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan dompet berwarna hitam miliknya. Frans membuka dompetnya lalu mengeluarkan sebuah foto kecil dan mengelus permukaan foto itu pelan. “Miss you all, guys. I wish you were here.” Ucapnya nyaris berbisik.

Rasa penasaran sedikit datang kepadaku saat Frans melakukan hal itu yang membuatku menoleh sedikit untuk sekedar melihat siapa yang ada di foto itu.

Dan tebak, mataku langsung membulat begitu melihat siapa yang ada di foto itu.

Seorang perempuan yang tengah diapit oleh dua laki-laki.

Mereka saling merangkul satu sama lain.

Perempuan itu terlihat seperti Alyssa.

Lelaki di sebelah kanannya adalah Frans, dan lelaki di sebelah kirinya adalah lelaki yang ada di bingkai foto di kamar tempatku siuman setelah pingsan karena kehujanan waktu itu.

***

Acara panggung bebas.
Saat ini adalah acara yang bertujuan khusus untuk siapapun yang ingin menampilkan bakat maupun kreatifitasnya di atas panggung. Dan sedari tadi sudah banyak yang naik turun ke panggung untuk sekedar menampilkan bakatnya atau mengekspresikan dirinya seperti bernyanyi atau bermain music.

“Maju sana!” Alfia menepuk lenganku pelan dengan senyumnya yang begitu merekah terpampang jelas di wajahnya.

“Ngapain?” tanyaku.

“Nyanyi dan bermain piano,” ucapnya. “Kamu sangat ahli dalam bidang itu.”

Alfia menatapku dalam yang beberapa saat kemudian ku rasakan jemari-jemari tangannya menyusup ke celah-celah jemariku yang kemudian digenggamnya erat. “Bernyanyi untukku, malam ini. Ku mohon.” Pintanya. Kedua bola mata cokelat itu bekerja lagi, membuatku tidak bisa menolak. Karena sorotan matanya begitu tajam dan bisa menyihirku dalam sekejap.

Ku sunggingkan senyum lalu balas menggenggam tangan Alfia, “Baiklah.” Ucapku pada akhirnya lalu berjalan ke depan, mendekat ke panggung untuk menuruti permintaannya.

Setelah seorang perempuan dengan dress orange nya turun setelah bernyanyi, aku naik ke atas panggung dengan mencoba bersikap santai walaupun  jantungku terus berdegup kencang.

Semua yang ada di bawah panggung menatapku, dan kini aku mencoba berjalan santai menuju kursi piano. Setelah duduk, ku tarik nafas dalam dan menatap ke depan yang langsung tertuju ke wajah Alfia yang sedang tersenyum menatapku dengan kamera ponselnya yang mengarah kepadaku.

Mulai ku mainkan jemariku dengan lihai di atas piano, yang menghasilkan nada-nada indah.

Dan aku mulai bernyanyi lagu With You dari Chris Brown ini,

“I need you boo, I gotta see you boo, and all the hearts all over the world tonight, said the hearts all over  the world tonight. I need you boo, I gotta see you boo, and all the hearts all over the world tonight, said the hearts all over  the world tonight.”

Penonton mulai meriuhkan tepuk tangan yang membuatku menyunggingkan senyum masih memainkan jemariku di tuts-tuts piano.

“Hey lil mama, ooh you’re a stunner, hot little figure, yes you a winner, and I’m so glad to be yours. You’re a class of your own and ooh lil cutie, when you talk to me I swear the whole world stops. You’re my sweetheart and I’m so glad that you’re mine. You’re one of a kind, and you mean to me what I mean to you and together baby there is nothing we wont do..”

“Cause if I got you, I don’t need money, I don’t need cars, Girl you’re my all..” nyanyiku dengan menambah cengkok di akhir liriknya yang membuat tepuk tangan bertambah meriah. Tepuk tangan untukku.

And oh, I’m into you and Girl no one else would do, with every kiss and every hug, you make me fall in love and now I know I can’t be the only one, I bet there’s hearts all over the world tonight, with the love of their life who feel. What I feel when I’m with you, with you, with you, with you, with you… girl. With you, with you, with you, with you, with you… Oh girl..”

“I don’t want nobody else, without you there’s no one left, and You’re like Jordans on Saturday, I gotta have you and I cannot wait now. Hey lil shorty, say you care for me. You know I care for you. You know that I’ll be true. You know that I won’t lie. You know that I will try, to be your everything..”

Ku akhiri nyanyi dan permainan pianoku dengan menambah cengkok di akhir lagu diiringi iringan piano yang kumainkan.

Aku bangkit dari kursi, lalu membungkukkan badan yang disambut riuh tepuk tangan penonton yang semarak dan juga sorak sorai mereka yang membuatku tersipu malu dan bahagia mendengarnya.

Aku menatap ke depan, ke mereka yang sedang bertepuk tangan untukku. Dan inilah yang ku impikan sejak dahulu, menampilkan bakatku di depan orang banyak dan mendengar riuhan tepuk tangan dari mereka yang suka dengan bakat yang ku tampilkan. Ini rasanya sungguh menakjubkan.

Entah bagaimana, tetapi saat ini aku seperti sedang berada dalam sebuah adegan slow motion, di mana aku sedang berada di sebuah panggung, menatap ke sekeliling yang sedang bertepuk tangan dengan meriah untukku, bersorak riang untukku, dan tersenyum untukku.

Ku tarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak dan bergumam dalam hati, “mungkin ini aromanya di saat orang-orang bertepuk tangan untuk dirimu sendiri.”

Ku buka mata perlahan dan melihat mereka yang masih bertepuk tangan untukku dan bergumam lagi dalam hati, “mungkin ini pemandangannya di saat orang-orang bertepuk tangan untuk dirimu sendiri.”

Ku taruh tanganku di dada sebelah kiri tepatnya di atas jantung lalu bergumam untuk ketiga kalinya, “Mungkin ini irama degupan jantung di saat orang-orang bertepuk tangan untuk dirimu sendiri.”

Kini semuanya kembali normal, aku tersenyum kepada mereka semua dan mengucapkan terimakasih lalu turun ke bawah panggung.

Semua orang menatapku dengan sumringah begitu aku turun dari panggung dan berjalan untuk menemui Alfia bahkan sesekali ada perempuan yang berteriak dengan temannya saat melihatku berjalan di dekatnya, tetapi aku hanya membalas mereka dengan senyum semanis mungkin.

Akhirnya ku temukan Alfia yang sedang duduk di sebuah kursi di dekat pohon yang cukup rindang, Ia sedang menatap layar ponselnya sambil sesekali tersenyum.

“Hey!” seruku begitu duduk di sampingnya.

“Oh my God! Grey kamu tadi!!”

“Aku tadi kenapa?”

“KEREN BANGET. OKE.” Alfia menunjukkanku video saat ku tampil tadi di atas panggung. “Banyak perempuan yang teriak saking kerennya, loh!”

Ku alihkan pandanganku dari ponsel Alfia ke wajahnya, “Kamu cemburu?” tanyaku sambil tersenyum menggodanya yang tak lama kemudian pipi Alfia berubah memerah. “Lets be honest, Alfia.”

“Siapa yang cemburu juga? Wlee!”

“Ah bohong kali!”

“Serius, Grey! Ngapain coba aku cemburu?”


“Bagus deh kalau nggak cemburu.” Aku bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkannya.

“Grey, mau kemana?” Tanyanya.

“Cari perempuan buat diajak slow dance nanti.” Jawabku yang sengaja agar membuatnya mengakui atas kecemburuannya.

“Grey,” Alfia bangkit dari kursinya, berlari, dan memeluk tubuhku dengan cepat. “Yes. I’m jealous. Please, don’t leave me.” Ucapnya disela pelukannya.

“Yes, I will never leave you.”

***

Ku gamit tangan Alfia seraya berjalan menuju dance floor, karena sebentar lagi acara slow dance akan dimulai.

“Are you ready for the slow dance?” suara dari DJ yang berada di atas panggung terdengar yang dibalas teriakan para penonton yang berkata bahwa mereka sudah siap.

“Are we ready?” tanyaku kepada Alfia sambil perlahan menaruh tanganku dipinggangnya.

“Yes, we are.” Jawabnya seraya perlahan melingkarkan kedua tangannya di leherku.

Aku tersenyum menatapnya, kami saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain dan lagi-lagi oh Tuhan, kedua matanya mengalihkan duniaku lagi.

“Okayyy lets start the slow dance!” suara DJ itu terdengar lagi yang tak lama kemudian lagu First Dance – Justin Bieber terputar.

“Oh God this song..” ujar Alfia sambil menutup mulutnya. “..this is so me. This is my first dance, Grey.”

“me too, this is my first dance too.” Balasku. “Lets start this..”

Kami mulai melakukannya, bergerak ke kanan, kiri, depan, belakang, mengikuti irama lagu yang terputar. Kami melakukan ini dengan sendirinya karena sebelumnya tidak ada latihan sama sekali.

When I close my eyes I see me and you at the prom, we've both been waiting so long for this day to come, now that it's here lets make it special..” nyanyiku menyamakan lagu yang terputar sambil terus berdansa bersama Alfia dengan kedua tanganku yang melingkar di pinggangnya dan kedua tangannya yang melingkar di leherku.

“There's so many thoughts in my mind the DJ's playing my favorite song, ain't no chaperones this could be the night of your dreams..”

Ku sibak rambut Alfia yang menutupi wajahnya, lalu memegang dagunya agar menatap wajahku.

“Only if you give, give the first dance to me. Girl I promise I'll be gentle, I know we gotta do it slowly. If you give, give your first dance to me I’m gon’ cherish every moment, cause it only happens once, once in a life time..”

Kami mulai enjoy melakukan ini, ditambah Alfia yang menyenderkan kepalanya di dadaku masih dengan tangannya yang melingkar di leherku. Dan ku yakin saat ini pasti Alfia bisa mendengar degup jantungku yang kencang karenanya.

Everybody says that we look cute together, lets make this a night the two us remember, no teachers around to see us dancing close, I'm telling you our parents will never know..”

Ku elus rambut Alfia yang panjang, masih terus berdansa di tengah lantai dansa, dan masih dengan Alfia yang menyender di dadaku.

Alfia melepas senderannya di dadaku, lalu menatap kedua bola mataku dalam dan aku mencoba untuk membalas tatapannya yang dalam disertai senyum yang sendirinya datang di setiap saat aku menatap wajahnya.

“Before the lights go up and the music turns off, now’s the perfect time for me to taste your lip-gloss, your glass slippers in my hand, right here..” nyanyiku disambut bibir Alfia yang menyunggingkan senyum untukku.

***

“Gimana menurut kamu acara malam ini?” tanyaku setelah masuk ke mobil. Ya, acara malam ini sudah selesai.

“um, menakjubkan.” Jawabnya. “Menakjubkan karena kamu, Grey.”

Aku tersenyum menatapnya yang duduk di sampingku, “Ya, bagiku juga begitu. Menakjubkan karena kamu, Alfia.”

Alfia tersipu malu, pipinya memerah lagi dan entah mengapa aku senang begitu melihat pipinya yang selalu memerah setiap ku puji.

“Okay, ada yang pipinya mulai jadi tomat.”

“Grey, huh?”

“Ada tomat di pipimu.”

“Huh, cukup Grey. Take me home, please. Aku lelah.” Alfia menyenderkan badannya ke jok mobil. “Sudah jam sepuluh malam, aku ngantuk.”

Aku mendekat dan mengelus rambutnya pelan, “Okay, babe. Let me take you home.” Lalu mengecup puncak kepalanya pelan.

***

Ku berhentikan mobil begitu sampai di depan rumah Alfia. Ku lirik gadis di sampingku ini yang sedang tertidur dengan pulasnya, ingin aku membangunkannya untuk memberitahu bahwa kita sudah sampai tapi aku nggak tega dan alhasil aku berinisiatif untuk menggendongnya masuk ke dalam rumah.

Aku keluar dari mobil, membuka pintu dari sisi Alfia dan mencoba untuk menggendong dirinya, tetapi sayangnya saat ingin digendong Alfia malah terbangun.

“Sudah sampai?” tanyanya sambil mengucek mata.

“Yap.” Jawabku.

Alfia bangkit dari senderannya, “Grey, ada tissue? Kayaknya aku kena pilek gara-gara kebanyakan minum es tadi.”

“Ada di belakang, ambil aja.”

“Oke.” Ia membalikkan badan untuk mengambil tissue. “Grey, ini untuk siapa?” Alfia menunjukkanku kotak music yang ku belikan tadi pagi untuk Alyssa. Gawat. Aku lupa kalau aku menaruh baju untuk ke rumah Alyssa dan kotak music untuk Alyssa di kursi belakang agar nanti aku tidak perlu ke rumah dulu sebelum ke rumah Alyssa, dan sekarang Alfia melihat kotak music itu. Gawat. Sangat gawat.

“Buat siapa, Grey?” Tanya Alfia lagi. Dan kini aku bingung harus berbuat apa, dan harus berkata apa. Ini kecerobohanku yang membiarkan Alfia ke jok belakang mobil. “Ini kotak music untuk siapa?”

“Um, itu, um, buat kamu, Alfia.” Jawabku. “Sebagai ucapan terimakasih untuk malam ini.”

Alfia tersenyum, dan memelukku erat. “Thanks, Grey.”

“You’re welcome.” Balasku.

Dan kini lagi-lagi aku terjebak dalam kesalahan atas diriku sendiri. Ku berikan kotak music yang seharusnya milik Alyssa kepada Alfia. 

***

No comments:

Post a Comment