***
Aku ke belakang mobil dan berusaha mendorong mobil ini
tapi hasilnya mobil ini nggak bergerak sama sekali mungkin karena cuma didorong
oleh satu orang. Tetapi kejadian ini mengingatkanku akan suatu hal. Suatu hal
yang pernah ku alami bersama seseorang.
Flashback-
Aku menyetir mobil dengan fokus karena hujan deras cukup menghalangi penglihatanku ditemani oleh suara lembut Alfia bernyanyi lagu Count on me yang dipopulerkan oleh Bruno Mars.
"You can count on me like one two three..."
"I'll be there....Alfia." Potongku sambil tersenyum menatapnya sejenak walaupun masih fokus ke depan dan beberapa saat kemudian ku rasakan tangan Alfia memegang tanganku perlahan.
"Love you, Grey." Ucapnya dengan lembut.
Kedua matanya menatapku dalam, bola mata yang memancarkan sinar terang itu, bola mata yang selalu membuatku tersihir. Bola mata itu menyihirku untuk menancapkan rem mobil dan memeluk Alfia dengan erat di dalam mobil dengan suara hujan deras yang mengiringi.
"I love you more than you could imagine." Ucapku setengah berbisik masih mendekapnya erat.
"Me too." Balasnya.
"No, I love you more." Ucapku dan melepas dekapan ini.
"I love you more, Greyson."
"No. I love you more, Alfia."
"No Greyson, mine more."
"Alfia, my love more than yours."
"No."
"Yes."
"No, Greyson. Mine more."
Aku langsung mengecup keningnya kemudian berbisik di dekat telinganya, "my love for you more than your love for me." setelah itu ku jauhkan wajahku dari wajah Alfia dan tersenyum menatap pipinya yang memerah.
"Can we go home now?" Tanya Alfia kepadaku setelah sekian detik ku tatap wajahnya. Aku tahu Alfia salah tingkah dengan pipinya yang sudah sangat merah itu.
"Sure girl, we can!" Balasku dengan memberi hormat dan mengedipkan sebelah mataku yang disambut dengan tawa lembut Alfia.
Aku mulai menancap gas tapi hasilnya mobil ini tetap ada di tempat tidak bergerak sama sekali dan aku baru sadar kalo ternyata aku kehabisan bensin.
"Jangan bilang kalau bensinnya habis." Ucap Alfia.
"But yes we are. Kita kehabisan bensin." Balasku.
"Huh. Di luar hujan deras, kita harus duduk di sini nungguin hujan reda gitu?"
"Tenang aja, Alfia."
Ku tatap wajah Alfia sejenak dan memberinya sebuah senyum simpul kemudian membuka pintu mobil berniat keluar walaupun tertahan oleh tangan Alfia yang tiba-tiba memegangku.
"Greyson!" Serunya yang membuatku mengurungkan niat untuk keluar dari mobil. "You're crazy, huh?" Lanjutnya.
"Yep I am. Crazy in love with you." Ledekku yang dibalas oleh bola mata Alfia yang berputar dari atas ke bawah.
"Kamu nggak boleh keluar mobil. Ini hujan deras, Grey."
"Jadi kita harus nunggu di dalam mobil gitu aja?"
"Aku cuma nggak mau kamu nanti kehujanan dan sakit."
"Alfia, aku itu laki-laki okay kamu nggak perlu khawatir. Jadi kamu duduk aja di sini, tenang aja." Ucapku memberi penjelasan kepada Alfia yang dibalasnya dengan anggukan.
Aku pun keluar dari mobil dan bisa ku rasakan air hujan yang jatuh dengan derasnya menimpa tubuhku.
Aku berlari kecil ke belakang mobil dan bersiap untuk mendorong mobil.
Aku mulai mendorong mobil dengan sekuat tenaga tetapi sayangnya mobil ini tetap diam di tempat.
Ku pejamkan mata sejenak, merasakan air hujan yang menimpaku dengan kencang dan mendengarkan suara air demi air yang jatuh. Menyenangkan rasanya, membuat hatiku terasa damai dengan berdiam diri di bawah hujan deras walaupun aku tahu ini nggak bagus buat kesehatan.
Flashback-
Aku menyetir mobil dengan fokus karena hujan deras cukup menghalangi penglihatanku ditemani oleh suara lembut Alfia bernyanyi lagu Count on me yang dipopulerkan oleh Bruno Mars.
"You can count on me like one two three..."
"I'll be there....Alfia." Potongku sambil tersenyum menatapnya sejenak walaupun masih fokus ke depan dan beberapa saat kemudian ku rasakan tangan Alfia memegang tanganku perlahan.
"Love you, Grey." Ucapnya dengan lembut.
Kedua matanya menatapku dalam, bola mata yang memancarkan sinar terang itu, bola mata yang selalu membuatku tersihir. Bola mata itu menyihirku untuk menancapkan rem mobil dan memeluk Alfia dengan erat di dalam mobil dengan suara hujan deras yang mengiringi.
"I love you more than you could imagine." Ucapku setengah berbisik masih mendekapnya erat.
"Me too." Balasnya.
"No, I love you more." Ucapku dan melepas dekapan ini.
"I love you more, Greyson."
"No. I love you more, Alfia."
"No Greyson, mine more."
"Alfia, my love more than yours."
"No."
"Yes."
"No, Greyson. Mine more."
Aku langsung mengecup keningnya kemudian berbisik di dekat telinganya, "my love for you more than your love for me." setelah itu ku jauhkan wajahku dari wajah Alfia dan tersenyum menatap pipinya yang memerah.
"Can we go home now?" Tanya Alfia kepadaku setelah sekian detik ku tatap wajahnya. Aku tahu Alfia salah tingkah dengan pipinya yang sudah sangat merah itu.
"Sure girl, we can!" Balasku dengan memberi hormat dan mengedipkan sebelah mataku yang disambut dengan tawa lembut Alfia.
Aku mulai menancap gas tapi hasilnya mobil ini tetap ada di tempat tidak bergerak sama sekali dan aku baru sadar kalo ternyata aku kehabisan bensin.
"Jangan bilang kalau bensinnya habis." Ucap Alfia.
"But yes we are. Kita kehabisan bensin." Balasku.
"Huh. Di luar hujan deras, kita harus duduk di sini nungguin hujan reda gitu?"
"Tenang aja, Alfia."
Ku tatap wajah Alfia sejenak dan memberinya sebuah senyum simpul kemudian membuka pintu mobil berniat keluar walaupun tertahan oleh tangan Alfia yang tiba-tiba memegangku.
"Greyson!" Serunya yang membuatku mengurungkan niat untuk keluar dari mobil. "You're crazy, huh?" Lanjutnya.
"Yep I am. Crazy in love with you." Ledekku yang dibalas oleh bola mata Alfia yang berputar dari atas ke bawah.
"Kamu nggak boleh keluar mobil. Ini hujan deras, Grey."
"Jadi kita harus nunggu di dalam mobil gitu aja?"
"Aku cuma nggak mau kamu nanti kehujanan dan sakit."
"Alfia, aku itu laki-laki okay kamu nggak perlu khawatir. Jadi kamu duduk aja di sini, tenang aja." Ucapku memberi penjelasan kepada Alfia yang dibalasnya dengan anggukan.
Aku pun keluar dari mobil dan bisa ku rasakan air hujan yang jatuh dengan derasnya menimpa tubuhku.
Aku berlari kecil ke belakang mobil dan bersiap untuk mendorong mobil.
Aku mulai mendorong mobil dengan sekuat tenaga tetapi sayangnya mobil ini tetap diam di tempat.
Ku pejamkan mata sejenak, merasakan air hujan yang menimpaku dengan kencang dan mendengarkan suara air demi air yang jatuh. Menyenangkan rasanya, membuat hatiku terasa damai dengan berdiam diri di bawah hujan deras walaupun aku tahu ini nggak bagus buat kesehatan.
Setelah beberapa saat berdiam di bawah hujan ku buka mata perlahan dan terlihat di hadapanku Alfia yang tersenyum menatapku.
"Alfia, kamu ngapain keluar dari mobil?"
"Mau bantuin kamu. Udahlah ayo kita dorong nanti kelamaan hujan-hujanan!"
"Biar aku aja, kamu masuk ke dalam."
"Aku nggak mau. Satu basah semuanya basah, satu kedinginan semuanya kedinginan."
Aku tersenyum mendengar ucapan Alfia kemudian memeluknya dengan erat dan bisa ku rasakan basahnya tubuh Alfia menyentuh tubuhku.
Back-
Kenangan itu...
Membuatku seperti merasa bersalah kepada Alfia.
Membuatku semakin merasa bahwa aku sudah melanggar janji itu.
Dan membuatku merasa nggak pantas untuk Alfia.
Alfia mencintaiku dengan amat sangat dan Ia hanya memintaku untuk tetap menjaga cintaku kepadanya selama Ia tinggal di jauh sana. Hanya sebuah janji tetapi ku rasa aku telah melanggar janji itu.
Maafkan aku, Alfia.
Aku sendiri bahkan nggak tahu apa yang sedang ku alami.
Ku rasa air mata keluar dari kedua mataku walaupun sebenarnya tidak terlalu terlihat karena tercampur oleh air hujan. Aku menangis.
Kakiku tiba-tiba terasa lemas dan tidak sanggup untuk berdiri dengan tegak yang membuatku menyender ke badan mobil.
Saat bersender ku rasakan air hujan yang turun semakin derasnya menimpa tubuhku tetapi rasanya aku tidak sanggup untuk berbuat apa-apa. Rasanya untuk berdiri saja begitu lemas.
Ku pejamkan mata sejenak sambil merasakan kakiku yang begitu lemas, merasakan air hujan yang menimpa tubuhku kencang dan air mata yang masih mengalir dari kedua mataku.
Begitu terpejam, di pikiranku muncul wajah Alfia kemudian Alyssa kemudian Alfia lagi dan Alyssa lagi. Mereka muncul dengan cepat dan bergantian di pikiranku. Membuat kepalaku menjadi pusing. Wajah mereka berdua sama-sama tersenyum kepadaku. Mereka berdua begitu indah.
Mereka berdua...
***
Ku buka mata perlahan walaupun sedikit berat dan bisa ku rasakan hangatnya selimut di tubuhku.
Setelah sepenuhnya tersadar aku baru menyadari bahwa aku sudah tidak ada di bawah hujan lagi, tubuhku sudah tidak kebasahan, melainkan aku sedang berada di sebuah kamar yang bukan kamarku.
Ku bangunkan badan perlahan, menatap ke sekeliling kemudian melepas selimut dan berdiri untuk mencari tahu di mana aku berada saat ini.
***

No comments:
Post a Comment