***
Ku
taruh kembali kertas itu di tempat semula, membiarkan rasa tanya tentang siapa
itu Adrian menyelimuti perasaanku karena ada rasa tanya yang lebih besar dari
itu, yaitu dimana Aly sekarang?
Sesaat kemudian bel rumah berbunyi, akupun segera ke pintu depan dan melihat
siapa yang menekan bel itu.
Terlihat Aly bersama seorang wanita tua di depan pintu.
"Aly?" Tanyaku.
"Mas, gimana sih masa pacarnya di tinggal sendirian di pemakaman? Untung
saya orang baik jadi saya anterin dia pulang!" Ucap ibu itu.
Pemakaman? Kok Aly bisa ada di pemakaman? Sama siapa dia ke sana? Dan ngapain?
"Oh iya bu, maaf." Balasku kemudian ibu itu pergi dengan wajah yang
cuek.
Aku tatap Aly dengan penuh tanya.
"Aly, kamu kok bisa ada di pemakaman?" Tanyaku panik.
Aly nggak jawab pertanyaanku, dia cuma ngusap air mata di pipinya. Oke, Aly
nangis juga, sebenarnya dia kenapa sih?
"Aly, kamu kenapa sih? Tanyaku lagi.
"Aku capek, Grey. Anterin aku ke kamar, oke. Aku mau istirahat."
Balas Aly. Capek? Gak mungkin capek sampe dia pergi ke pemakaman sendiri dan
nangis, pasti ada sesuatu yang aku nggak tau.
Aku gak lanjutin percakapan itu, aku milih buat nyimpan semua perasaan tanyaku
dan mengantar Aly ke kamarnya. Mungkin Aly cuma butuh waktu tenang untuk
dirinya sendiri.
"Have a nice rest, Aly." Ucapku dari pintu kamar Aly.
"Thanks, Grey." Balasnya, akupun menutup pintu kamar Aly dan
membiarkannya istirahat.
Aku duduk di salah satu sofa di ruang santai, mencoba menenangkan pikiran dan
badanku untuk sesaat.
Kalau dipikir-pikir, manusia itu nggak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi
esok hari terhadap dirinya.
Seperti,
Apa yang akan terjadi kepada dirinya esok hari?
Apa pengalaman baru yang akan Ia alami esok hari?
Siapa yang akan Ia temui esok hari?
Cause only God who knows.
Aku mengambil ponselku hanya untuk mengecheck apa ada pesan/panggilan yang
masuk walaupun tidak ada. Tetapi ini mengingatkanku akan voice note yang ku
buat semalam khusus untuk Aly dan aku belum menunjukkan voice note ini kepada
Aly.
Aku berjalan kembali ke kamar Aly, membuka pintunya pelan-pelan, siapa tahu Aly
belum tertidur dan aku bisa menunjukkan voice note ini.
Tetapi nyatanya terlihat Aly yang sedang tertidur pulas dengan senyum yang
masih terpampang di wajahnya.
Aku mendekati Aly yang masih tertidur, kemudian melihat wajahnya dan tiba-tiba
saja wajahku mendekat ke wajah Aly dan mencium keningnya.
Begitu bibirku menyentuh kening Aly aku baru sadar akan Alfia.
Langsung ku jauhkan wajahku dari wajah Aly, kemudian ku pegang bibirku.
Aku mencium kening Aly?
Nggak, nggak mungkin aku ngelakuin hal itu. Aku punya Alfia di jauh sana,
kenapa bisa-bisanya aku mengecup kening Aly?
Ya Tuhan, apa sebenarnya yang baru saja aku alami? Bagaimana bisa aku melakukan
itu di saat aku mempunyai Alfia?
Oke aku gila.
Aku langsung meninggalkan Aly, keluar dari kamarnya dan kembali duduk di sofa
tadi.
Aku kan udah janji untuk tidak menggantikan posisi Alfia di hatiku, tapi kenapa
tadi aku tiba-tiba mengecup kening Aly?
Mungkin tadi hanya kecupan persahabatan, pikirku lagi.
Aku beranjak dari sofa, berjalan ke sebuah piano yang ada di sudut ruangan.
Ku tarik nafas sejenak, berusaha menenangkan pikiranku sebelum bernyanyi. Ya,
bernyanyi dan bermain piano adalah salah satu cara yang paling ampuh untuk
menenangkanku pikiranku jika ada suatu masalah. Karena lagu adalah kesatuan
dari kata-kata yang begitu emosional dan tidak dapat dijelaskan, hanya bisa
dirasakan dan dinyanyikan, itu menurutku.
"My heart beats a little bit slower
These nights are a little bit colder
Now that you’re gone
My skies seem a little bit darker
Sweet dreams seem a little bit harder…
I hate when you’re gone.
Everyday time is passing
Growing tired of all this traffic
Take me away to where you are.
I wanna be holding your hand
In the sand
By the the tire swing
Where we use to be
Baby you and me
I travel a thousand miles
Just so I can see you smile
Feels so far away when you cry
‘Cause home is in your eyes
Your heart beats a little bit faster
There’s tears where there use to be laughter…
Now that I’m gone…
You talk just a little bit softer
Things take a little bit longer.
You hate that I’m gone.
Everyday time is passing
Growing tired of all this traffic
Take me away to where you are.
I wanna be holding your hand
In the sand
By the the tire swing
Where we use to be
Baby you and me
I travel a thousand miles
Just so I can see you smile
Feels so far away when you cry
‘Cause home is in your eyes
If I could write another ending
This wouldn’t even be our song
I’d find a way where we would never ever be apart
Right from the start
I wanna be holding your hand
In the sand
By the the tire swing
Where we use to be
Baby you and me
I travel a thousand miles
Just so I can see you smile
Feels so far away when you cry
‘Cause home is in your eyes"
Aku menunduk, meneteskan air mata.
Karena itu adalah lagu yang ku buat khusus untuk Alfia sebelum Ia pergi ke
Inggris, aku memang sangat mencintainya, tapi yang masih ku bingungkan adalah
mengapa tadi aku mengecup kening Aly?
"Bagus, itu lagu siapa?" Ku dengar sebuah suara dari belakangku
diiringi dengan tepukan tangan, akupun berbalik badan dan melihat siapa yang
memujiku.
***
No comments:
Post a Comment