***
Aly membalikkan badannya lagi ke arah meja rias, kemudian mengambil sebuah lipgloss dan memoleskan di bibirnya yang merah dengan tangan kirinya yang membantu pemolesan itu agar tidak berantakan kemudian mengambil sebuah kacamata hitam dan memakainya.
“Grey, temenin aku mau nggak?”
“Mau kemana memangnya?”
“Ke cafénya kak Carmel aja.” Ucapnya, aku hanya membalas dengan mengangguk walaupun Aly nggak bisa ngeliat anggukanku kemudian ku pegang tangan Aly agar Ia bisa dengan lebih mudah berjalan.
Ku berhentikan mobil yang ku bawa begitu sampai di depan green café. Pikiranku kembali terbawa di saat aku dipaksa Mom Lisa untuk turun dar mobil dan menemui Alfia untuk menyatakan yang sebenarnya.
Oiya, Alfia. Aku sudah berjanji untuk tidak mengganti posisinya di hatiku selama Ia di Inggris, dan sekarang aku sedang bersama Aly. Perempuan yang baru ku kenal kemarin, apa nggak masalah kalo di hari-hari ke depan akan ku habiskan waktu bersama Aly? Lagipula aku hanya menjaga Aly, dan itu tidak mengganti posisi Alfia di sisiku kok.
“Sudah sampai, Grey?” Tanya Aly membuyarkan lamunanku.
“Oh i-iya udah sampe kok.” Akupun turun dari mobil dan membuka pintu untuk Aly dan membantunya keluar dari mobil.
“Thanks, Grey.” Ucap Aly begitu sudah keluar dari mobil.
“Anytime, Aly. Ayo kita masuk!” ajakku sambil menggandeng tangan kanannya dan masuk ke dalam café.
Aku menggandeng tangan Aly?
Itu hanya untuk membantunya. Bukan bermaksud yang lain.
“Mau duduk di mana? Pojok atau,” tanyaku.
“Pojok aja lebih nyaman.” Jawab Aly. Aku tidak membalas kemudian membantunya berjalan menuju sebuah kursi di pojok ruangan.
Ketika ku gandeng Aly dan membantunya berjalan menuju kursi di pojok café, setiap orang melihatku dengan tatapan aneh tapi bisa dibilang juga tatapan yang sok sedih. Mungkin mereka menyadari keadaan Aly, dan jujur aku nggak suka ngeliat tatapan itu.
“Umur kamu berapa, Grey?” Tanya Aly begitu duduk.
“tujuh belas, sama kaya kamu.” Jawabku.
“Im still wondering gimana rasanya jadi remaja tujuh belas tahun yang normal.”
“Kamu remaja tujuh belas tahun yang normal, Aly.”
“Are you kidding me? I'm not.” Aly memanglingkan wajahnya ke jendela, dengan tangannya yang meraba-raba kaca jendela, “Aku ingin sekali melihat apa yang sedang ada di depanku walaupun hanya untuk beberapa detik. Aku hanya ingin melihat keadaan di luar, melihat dunia, melihat wajah orang-orang yang ada di sekitarku. Aku ingin sekali pergi ke bioskop untuk menonton film bersama teman-teman, pergi ke taman, bermain bersama dan-“
“Dan kamu akan melihat dan merasakan itu semua nanti, Aly.” Potongku.
“Tapi kapan, Grey?”
“Suatu saat, Aly. Aku yakin, pasti kamu bisa melihat wajahku, melihat dunia melihat apapun yang kamu inginkan.”
“Ya, suatu saat. Tapi suatu saat itu kapan?”
“God and time will answer your questions.” Ucapku yang kemudian ku lihat Aly tersenyum walaupun air mata juga ikut mengalir di balik kacamata hitamnya itu. “Aly please, be patient.” Lanjutku lagi dan mencoba menghapus air mata yang membasahi pipinya.
***
Ku parkir mobil ku di garasi kemudian masuk ke dalam rumah. Rasanya cukup lelah untuk hari pertama menjaga Aly, dan seterusnya sampai minggu depan aku harus menemani Aly juga, karena kata Carmel minggu depan Ia akan mencarikan pembantu untuk menjaga Aly.
Jujur, aku merasakan hal yang berbeda ketika berada di dekat Aly. Mungkin itu karena ketika bersama Aly aku harus benar-benar menjaga omonganku karena Aly sangat sensitive, mungkin itu karena keadaan Aly yang berbeda dan memaksaku untuk benar-benar menjaganya.
Aku berjalan ke balkon kamarku dan berdiri terdiam di sana sambil menghirup udara malam yang segar, melihat sekeliling rumahku dari atas balkon dan aku teringat akan Alyssa.
Aku tidak tahu bagaimana cara Aly bisa hidup dan menjalani hari-harinya dengan keadaan seperti itu, Ia tidak bisa melihat keadaan di sekitarnya yang begitu indah dan melihat wajahnya di depan kaca.
Di lain sisi, aku sangat berterimakasih kepada Aly, aku jadi sangat bersyukur sampai detik ini masih bisa melihat, masih bisa menatap keindahan di sekelilingku. Aku bersyukur.
Aku kembali masuk ke dalam kamar, rasanya ingin sekali beristirahat dan menjatuhkan diriku di atas kasur. Tetapi sebuah ide muncul di pikiranku, karena ide itu aku pun langsung turun ke lantai bawah.
Langsung ku duduk di atas kursi di depan piano, mengambil ponselku di saku celana, menaruhnya di atas piano, menekan tombol voice recorder dan mulai bernyanyi diiringi pianoku.
“I’d wait on you forever and a day
Hand and foot
Your world is my world
Yeah,
Ain’t no way you’re ever gon’ get
Any less than you should
Cause baby
You smile I smile
Cause whenever
You smile I smile
Your lips, my biggest weakness
Shouldn’t have let you know
I’m always gonna do what they say
If you need me
I’ll come right there
From a thousand miles away
When you smile I smile
You smile I smile
Hey
Baby take my open heart and all it offers
Cause this is as unconditional as it’ll ever get
You ain’t seen nothing yet
I won’t ever hesitate to give you more
Cause baby
You smile I smile
You smile I smile
Hey hey hey
You smile I smile
I smile I smile I smile
You smile I smile
Make me smile baby
Baby you won’t ever work for nothing
You are my ins and my means now
With you there’s no in between
I’m all in
Cause my cards are on the table
And I’m willing and I’m able
But I fold to your wish
Cause it’s my command
You smile I smile,
You smile I smile, Alyssa.
You smile I smile,
I smile I smile I smile
You smile I smile,
Let smile Aly and I would smile too..”
Akupun menekan tombol stop di ponselku begitu selesai bernyanyi, lalu ku dengar ulang nyanyianku tadi dan kembali naik ke atas.
Ku letakkan ponselku di meja kecil di sebelah kasur ku, menatap ponsel itu sebentar dan tersenyum.
Semoga Aly suka voice note ku, pikirku kemudian menarik selimut dan mulai berlari ke alam mimpi.
***
Dengan gaya khasku memakai celana panjang dan kaos, ku ambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja dan turun ke bawah menuju garasi.
Aku langsung masuk ke dalam mobil bersiap menuju rumah Aly.
Ku parkirkan mobil ku di halaman depan rumah Aly, kemudian membuka pintu rumahnya yang sedikit terbuka dan masuk.
Rumah ini sepi banget, nggak ada tanda-tanda Aly atau Carmel. Carmel mungkin sudah berangkat kerja, tetapi Aly? Apa Ia sedang bersembunyi di salah satu tempat di rumah ini yang tidak ku ketahui?
Aku mencari Aly di semua ruangan yang ada di rumah ini, tapi nggak ada tanda-tanda keberadaan Aly. Aku rasa nggak mungkin kalau Aly pergi keluar rumah sendirian dengan keadaannya yang seperti itu. Kayaknya nggak mungkin.
Aku kembali masuk ke dalam kamar Aly untuk yang kedua kalinya, untuk mencari ulang apakah ada Aly di dalam kamarnya. Tapi hasilnya sama aja, nggak ada Aly di dalam. Yang ku temukan malah secarik kertas bertuliskan ‘Adrian’ di atas kumpulan crayon di atas meja.
Adrian siapa? Ini seperti tulisan Aly karena bentuknya yang berantakan.
Ku taruh kembali kertas itu di tempat semula, membiarkan rasa tanya tentang siapa itu Adrian menyelimuti perasaanku karena ada rasa tanya yang lebih besar dari itu, yaitu dimana Aly sekarang?
No comments:
Post a Comment