***
Alfia membuka botol balon cair itu dan mulai meniup balon tersebut
hingga menghasilkan gelembung-gelembung busa di udara dan aku yang melihatnya
dari belakang diam-diam memotret Alfia lewat ponselku. Mengabadikan kecantikan
Alfia.
“Grey?”
Alfia berbalik badan dan berhenti meniup balon itu.
“Ah kamu fotoin aku diem-diem ya?”
Alfia memukul lenganku pelan.
“Kenapa? Tadi kamu cantik banget makanya aku foto!”
Alfia tersipu malu, menundukkan kepala dan menutup wajahnya yang
bersemu merah lalu ku angkat dagu Alfia agar bisa melihat wajahnya dengan jelas
lalu menepis rambut yang menghalangi matanya.
“How beautiful you are to me, Alfia.”
Alfia mengambil dan mengenggam tanganku, “Thank you so much, Grey.
I love you.” Lalu memeluk tubuhku.
***
“Grey, laper nih!” ujar Alfia di sampingku masih menjalankan
sepatu rodanya.
“Mau makan di mana?” tanyaku sambil berusaha mengimbangi gerakan sepatu
roda Alfia yang cepat.
Alfia menghentikan gerak sepatu rodanya yang buatku ikut berhenti.
“Green café?” Tanya Alfia.
Aku diam.
Green café? Jangan, jangan green café. Green café kan milik
Carmel, bagaimana jadinya kalau nanti Carmel melihatku berdua dengan Alfia?
Dan,
Seharusnya hari ini aku ada di rumah Aly, bermain dengannya,
menjaganya seperti biasa, tetapi ada Alfia di sisiku saat ini dan nggak mungkin
aku ke rumah Aly meninggalkan Alfia yang sedang ada di Jakarta.
“Grey?”
Alfia membuyarkan lamunanku dan menatapku bingung.
“Gimana? Kita udah lama loh nggak ke green café.” Tanya Alfia
lagi.
“Eh aku tau café lain yang bagus loh!” ujarku.
“Dimana?”
“Ikutin aku aja!”
Aku menggamit tangan Alfia dan menggerakkan sepatu rodaku entah
kemana karena sesungguhnya ucapanku tadi berbohong hanya agar kami tidak pergi
ke green café.
“Café mana sih, Grey?” Tanya Alfia.
“Rahasia.” Ujarku berbohong lagi sedangkan Alfia hanya
menggelengkan kepalanya.
Alfia tiba-tiba melepas genggaman tangannya. “Jihan!” teriaknya,
aku menoleh ke Alfia yang sedang mengerakkan sepatu rodanya mendekat ke
perempuan yang sedang minum sebotol teh bersama Frans, lelaki yang Ia kenalkan
padaku di tengah hujan deras itu. Aku mengikuti Alfia, berjalan ke arah Jihan
dan Frans.
“Babeee!” sahut Jihan lalu memeluk
tubuh Alfia.
“Heiyoo jizeyy!” balas Alfia dengan nama panggilan khususnya untuk
Jihan. Mereka melepas pelukannya. “Dia, Frans?” Tanya Alfia kepada Jihan sambil
menunjuk Frans yang masih berdiri kaku di samping Jihan.
Jihan menggangguk. “Yep he is!”
“Oh, jadi kamu yang sering diomongin Jihan!” Alfia menjulurkan
tangannya untuk berjabat tangan.
“Alfia.”
Frans membalas uluran tangan Alfia, “Frans.”
“Jihan sering curhat loh tentang kamu!” ujar Alfia yang disambut
pukulan hangat jihan di pundaknya, sedangkan Frans hanya tersenyum malu
mendengar ujaran Alfia.
“Jihan, masa Grey bilang kalo dia nggak punya pasangan buat dansa
besok! Bayangin aja kalo aku nggak ke Jakarta apa jadinya dia?” sahut Alfia
sambil melirik dan memukul bahuku pelan.
Aku hanya tersenyum karena perkataan Alfia tidak benar, aku
punya..
“Dasar, Gweyson Chaincess” ledek Alfia dan Jihan kepadaku
bersamaan.
“Oke oke, mau ledekin apa lagi?” balasku santai.
“Jangan diledekin lagi deh nanti tambah jelek.” Ucap Alfia. Haduh
Alfia, itu namanya juga ngeledekin.
Ku tarik tubuh Alfia membuat wajahnya berhadapan dengan wajahku walaupun
hampir saja Ia terjatuh tergelincir karena sepatu rodanya tapi dengan sigap
langsung ku tangkap. “Jelek-jelek gini kamu suka kan?”
Alfia diam, Ia hanya menatapku dalam dan kami sempat mengalami
–awkward moment- sampai akhirnya Jihan berdeham membuat kami kembali ke dalam
keadaan semua.
“Frans, mending kita pergi yuk! Jangan gangguin orang pacaran.”
Sindir Jihan sambil menarik tangan Frans berjalan pergi dan begitu sudah jauh
dari kami terlihat Jihan tertawa. Aku tahu Jihan melakukan itu dengan sengaja.
Alfia menarik tanganku, “Ayo kita lanjut lagi!” lalu melanjutkan
kegiatan bersepatu roda kami.
***
Ku lepas sepatu roda yang masih melekat di kakiku, menaruhnya lalu
naik ke lantai atas untuk beristirahat di tangan.
Sempat ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh
pagi lalu menjatuhkan diri di atas kasur empuk untuk sekedar menghilangkan rasa
lelah setelah bersepatu roda.
Pandanganku tiba-tiba terfokus menatap ke ponselku yang tergeletak
di samping, mengambilnya lalu membuka sebuah folder rekaman suara dan muncullah
rekaman suara yang ku buat beberapa hari lalu untuk Alyssa.
Ku tekan play untuk mendengar rekaman itu.
Alunan piano yang ku mainkan di rekaman itu mulai terdengar,
dilanjutkan lirik lagu U Smile yang kulantunkan dan pikiranku saat ini mengarah
ke Alyssa.
Pikiranku seperti sedang memutar segala sesuatu yang pernah ku
lakukan bersama Alyssa selama ini dengan cepat. Di saat kami bertemu, di saat
aku mengantarnya ke rumah, di saat
keesokan harinya ku temukan Ia sedang duduk di depan piano dengan tangis yang
ada di pipinya, duduk bersamanya di taman, menemukannya sedang bernyanyi di
atas genting, melihatnya berperilaku aneh di depan kaca, menemukannya di depan
pintu rumah bersama seorang wanita paruh baya yang berkata bahwa Ia menemukan
Alyssa sedang sendirian di pemakaman, menyanyikan lagu khusus dariku untuk
Alfia kepada Aly, memberinya bunga di taman, menggendong Aly di tengah hujan
deras, mencium keningnya di saat Ia tertidur pulas, mengajaknya pergi ke prom
night, membelikannya sebuah gaun, makan ice cream bersamanya di bawah pohon
rindang, bermain sepeda dengannya, dan yang terakhir di saat kami duduk di
bawah pohon rindang dan aku membuatnya normal dengan kupu-kupu itu. Aku
membuatnya normal, aku membuatnya bahagia, aku membuatnya tersenyum, aku
membuatnya special.
Lagu yang ku nyanyikan di rekaman itu habis bersamaan dengan semua
kenangan yang terputar di pikiranku ibarat sebuah video yang dibuat khusus
tentang aku dan Alyssa dengan menggunakan lagu itu.
Ku usap air mata yang tanpa ku sadari menetes seiring dengan
kenangan-kenangan yang terputar tadi.
Lalu ku putar lagi sebuah rekaman suara yang ku buat khusus untuk
Alfia saat itu menyanyikan lagu Home is in your eyes yang sengaja kubuat
untuknya saat itu.
Sekarang pikiranku memutar segala sesuatu yang pernah terjadi di
antara aku dan Alfia selama ini. Di saat aku bertemu dengannya untuk pertama
kali di tangga sekolah saat SMA kelas 1 dan saat itu aku langsung jatuh cinta
ke sepasang bola mata yang ada di wajahnya, di saat Jihan memperkenalkan Alfia
kepadaku di kantin sekolah, di saat Alfia memberikan nomor ponselnya kepadaku
di taman, di saat kami mulai menjadi teman yang cukup dekat, di saat aku
menyatakan cinta kepada Alfia di ulangtahunnya yang ke-15, di saat Ia pertama
kali bilang ‘Love you too’ kepadaku, di saat kami berdua mulai menjalani
hari-hari bersama, di saat Ia datang dan memberiku surat diterimanya Ia di
Oxford, di saat terakhir kalinya aku memeluk tubuh Alfia di bandara sebelum Ia
pergi, di saat Ia tiba-tiba muncul di depan pintu rumahku dengan senyum yang
terpampang dengan indah di wajahnya. Aku membuatnya tersenyum, aku membuatnya
bahagia, aku membuatnya special.
Aku membuat dua wanita yang berbeda tersenyum.
Aku membuat dua wanita yang berbeda bahagia.
Aku membuat dua wanita yang berbeda special.
Apa itu semua salah?
Apa itu salah untuk membuat dua wanita yang berbeda merasa
bahagia, special dan tersenyum di waktu yang bersamaan?
***
Pukul 03.00 pm.
Aku bangun dari tidur siangku, sebenarnya aku ketiduran setelah
menangis setelah mendengar dua rekaman yang ditujukan untuk dua orang yang
berbeda dan memikirkan semua kenangan yang telah ku alami bersama mereka,
mungkin tadi otak dan mataku lelah hingga ketiduran dengan pipi yang basah.
Sore ini tidak ada acara apapun, tidak ada acara yang aku dan
Alfia buat hingga akhirnya ku putuskan untuk pergi ke rumah Carmel sekedar
untuk mengunjungi Aly.
Tunggu, mungkin aku rindu Aly?
Di tengah perjalanan menuju rumah Aly aku sempat berfikir untuk
membawakannya sebuah bunga mawar mengingat kejadian di taman saat itu, Aly
bilang Ia suka bunga mawar kan.
Akhirnya ku hentikan mobil di depan took bunga lalu membeli
serangkaian bunga mawar yang masih segar dan harum baunya.
***
Aku turun dari mobil begitu sampai, tak lupa bersama rangkaian
bunga mawar yang ku beli tadi. Ku tekan bel yang terpajang di dekat pintu,
menunggu seseorang muncul dari balik pintu dan menyambutku hangat tetapi
sayang, sudah berkali-kali ku tekan bel itu tetapi tidak ada yang muncul, tidak
ada yang menyambut. Mungkin tidak ada di rumah, pikirku lalu ku tinggalkan
bunga itu di sebuah kursi di dekat pintu.
***
Aku kembali ke rumah dengan lemas karena tidak menemukan Aly atau
Carmel di rumahnya, membuatku berfikir kemana mereka pergi.
Begitu turun dari mobil, ku lihat perempuan dengan kacamata
hitamnya duduk di salah sebuah ayunan di bawah pohon tamanku dengan senyumnya
yang khas.
***
No comments:
Post a Comment