Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes (Part 1)


***

Di sebuah kursi taman, seorang perempuan berambut hitam panjang terurai sedang terduduk manis. Akupun berjalan mendekatnya, karena Ia-lah alasanku datang ke taman ini.
“Hey sweetheart!” sapaku begitu sampai di dekatnya.
“Hai, Grey!” sapanya balik. Ia Alfia, seseorang yang sudah mengisi hati dan hari-hariku sejak dua tahun yang lalu. Aku sangat menyayanginya. Sangat mencintainya. Karena bagiku dua tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menjalin suatu hubungan. Apalagi kami masih berusia 17 tahun.
“Lalu ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan?” tanyaku yang duduk di sampingnya.
“Well, aku punya kabar bahagia!” Ia menampilkan ekspresi begitu senang.
“Really? Tell me.” Pintaku.
“Kamu tau kan kalau aku sangat menginginkan ini?” Alfia mengeluarkan sebuah amplop, kemudian memberikannya kepadaku.

Akupun membuka amplop itu sambil meliriknya yang sedang tersenyum menatapku.
Kemudian sebuah kertas pun terlihat di dalam amplop, langsung saja ku ambil kertas itu dan membaca apa isinya.

Aku terdiam begitu membaca apa isi dari kertas ini.
Alfia di terima di Oxford University England?

Entah.
Aku bingung harus menampilkan ekspresi apa.
Senang?
Tidak mungkin. Karena jika Alfia di terima di Oxford University tandanya Ia harus pindah ke England.
Sedih?
Aku juga nggak bisa sedih. Karena melanjutkan sekolah di Oxford University adalah mimpi Alfia sejak dulu. Aku nggak mungkin merusak mimpinya. Aku nggak mungkin merusak kebahagiaannya saat ini.
Jadi aku harus apa?

“Grey? Bagaimana? Kamu senang?” Tanya Alfia kepadaku.
“Aku hanya…”
“Hanya apa?”
Tanpa menjawab sepatah katapun, langsung ku peluk Alfia dengan erat.
“Aku hanya tidak tahu harus menampilkan ekspresi apa, Alfia. Aku mencintaimu, sangat. Di terima di Oxford tandanya kamu harus pindah ke sana kan? Inggris itu jauh, Alfia.” Ucapku di dalam pelukannya.
Beberapa saat kemudian Alfia melepas pelukanku. “Jadi, ku batalkan saja?” tanyanya.
“Dibatalkan? Tidak perlu. Aku tahu, melanjutkan sekolah di Oxford adalah mimpimu, aku tidak mau kamu membatalkan itu. Itu adalah kesempatan yang sangat berharga, dan kesempatan tidak akan datang dua kali.” Balasku.
“Lalu bagaimana denganmu, Grey?”
“Aku akan menunggumu di sini, di Jakarta, asal kamu harus berjanji untuk tidak mencintai siapapun kecuali aku.”
“Aku berjanji, Grey. Tapi kamu juga harus janji untuk tidak mencintai siapapun kecuali aku, Grey.”
“Aku janji, Alfia. Aku janji. Tidak akan ada satu orangpun yang akan menggantikan kamu di hatiku.”

I promise.


***


Sudah tiga bulan.
Sudah tiga bulan aku tidak melihat pancaran cahaya dari bola matanya.
Sudah tiga bulan lamanya aku tidak melihat senyum manisnya secara langsung.
Sudah tiga bulan lamanya kami tidak bertemu.
Sudah tiga bulan lamanya ku pegang janji itu.
Berjanji untuk tidak akan ada satu orang pun yang akan menggantikanmu di hatiku.
Sudah tiga bulan aku memegang janji itu, Alfia.
Dan aku menepati janji itu.


Ku tatap fotoku dan Alfia yang sedang tersenyum begitu riang di sebuah taman. Foto bahagia itu di ambil sebelum Alfia berangkat ke Inggris. Senyumnya, matanya, bibirnya, semuanya masih terlihat jelas di pikiranku. Dan aku menyadari bahwa aku sangat merindukannya saat ini. Kepergiannya untuk melanjutkan pendidikan di Inggris memang sangat menyiksaku, tetapi di lain sisi aku bangga karena mempunyai seorang kekasih yang begitu pandai sampai bisa masuk di salah satu universitas bergengsi di dunia itu.

Kerinduanku kepada Alfia memaksaku untuk pergi menuju taman, menuju tempat yang paling sering kami datangi bersama. Mungkin kedatanganku ke taman akan mengobati rasa rinduku.

Begitu sampai di taman aku sempat terdiam begitu melihat seorang perempuan berambut hitam panjang terurai sedang duduk manis di salah satu kursi. Perempuan itu mengingatkanku kepada Alfia. Ia duduk di kursi yang sama, model rambut yang sama, bedanya hanya perempuan yang sedang duduk di kursi saat ini memakai sebuah kacamata hitam.

Kakiku tiba-tiba melangkah tanpa aba-aba dari otakku, seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk mendekati perempuan ini.

Langsung ku duduk di samping perempuan ini, menatapnya dari atas sampai bawah dan Ia benar-benar mengingatkanku kepada Alfia. Bentuk tubuhnya, semuanya terlihat seperti Alfia.
“Kak Carmel?” ucap perempuan ini tiba-tiba.
Aku tidak menjawab, karena ku pikir Ia berbicara dengan orang lain.
“Kak? Kak Carmel?” ucap perempuan ini lagi. Lalu ku lihat sekelilingku, hanya ada aku dan perempuan ini. Nggak mungkin kalo dia bicara dengan orang lain selain aku.
“Carmel?” tanyaku.
“Oh maaf, ku kira kau itu kak Carmel.” Balasnya tidak menatap ke arahku sama sekali. Hanya menghadap lurus ke depan.
“It’s okay.” Ucapku. “Menunggu kakakmu?” lanjutku lagi.
“Menunggu Kak Carmel.” Jawabnya.
“Memang mau pergi ke mana? Kok nunggu di taman?”
“Ke rumah.”
“Kenapa nggak pulang sendiri?”
“Nggak bisa.”
“Nggak bisa? Kenapa? Nggak hafal alamat rumah sendiri? Masa nggak hafal sih.“
Perempuan itu mengambil tongkat yang ada di sampingnya, kemudian berdiri dan melepas kacamatanya.
“Cause I’m blind.” Ucapnya hanya dengan empat kata yang membuatku terdiam.
Cause I’m blind.
Cause I’m blind.

 Cause I’m blind.
Perkataan perempuan itu terus terngiang-ngiang di pikiranku. Aku hanya tidak bisa mempercayai bahwa remaja perempuan sebayaku ini mengalami buta. Malang. Ia tidak bisa melihat dunia yang begitu indah.
“Kau terkejut?” Tanya perempuan itu.
Aku tidak membalas, kemudian bangun dari kursi dan berdiri di sampingnya, “Di mana rumahmu?” tanyaku tidak membalas pertanyaan perempuan itu sama sekali.
“Rumahku tidak jauh dari sini. Ada apa?”
“Mau ku antar? Daripada kau harus menunggu kakak mu di sini sendirian.”
“Aku hanya…”
“Aku bukan orang jahat. Aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak akan menculikmu, malah aku bersedia menolongmu. Namaku Greyson, kau?”
“Alyssa. Panggil saja Aly.”

***

Benar, rumah Aly tidak terlalu jauh dari taman. Hanya kira-kira sepuluh menit dengan berjalan kaki kami sudah sampai.
Belum sempat mengetuk pintu rumah, muncul seorang perempuan yang lebih tua dari ku walaupun tidak terlalu jauh beda dan menurutku Ia-lah yang bernama Carmel. Seseorang yang di tunggu Aly sejak tadi.
“Aly!” seru perempuan yang muncul dari balik pintu itu kemudian memeluk Aly. “Kamu ke sini bersama siapa?” lanjut perempuan yang muncul dari pintu tadi.
“Sama dia.” Jawab Aly sambil menunjuk ke arahku. Aku hanya bisa menampilkan senyum semanis mungkin. Tiba-tiba perempuan yang muncul dari balik pintu tadi langsung menampilkan wajah sinis kepadaku dan membawa masuk Aly ke dalam tanpa bosa-basi sedikit pun.

Awkward. Itulah yang ku rasakan. Berdiri di depan pintu rumah orang yang tidak ku kenal. Di tinggal begitu saja oleh sang pemilik rumah setelah membantu Aly pergi ke rumahnya. Bahkan pemilik rumah tadi tidak mengucapkan sedikit pun kata terimakasih ke padaku.

Aku berbalik badan begitu melihat tidak ada tanda-tanda bahwa Aly dan perempuan tadi akan kembali untuk berterimakasih kepadaku kemudian berjalan kembali ke rumah.
Apa sebenarnya yang baru saja terjadi?
Apa salahku?
Apa salah jika aku mengantarkan seorang perempuan sebayaku yang tidak dapat melihat menuju rumahnya itu?
Mengapa tidak ada ucapan terimakasih sama sekali untuk ku?
Entahlah, yang penting tadi aku sudah berniat untuk membantu perempuan bernama Alyssa itu. Tidak mendapat ucapan terimakasih-pun aku terima.

***

Langsung ku rebahkan badanku di atas kasur. Mengingat apa saja yang baru saja terjadi hari ini.
Mulai dari bertemu dengan seseorang bernama Aly di taman yang tidak dapat melihat, mengantarnya ke rumah, kemudian malah diperlakukan sinis oleh perempuan yang muncul dari balik pintu tadi.
Dunia memang sudah aneh. Berniat membantu malah di balas dengan tampang sinis. Huh, aku nggak tau apalagi keanehan dunia yang akan muncul.

Tiba-tiba ketukan pintu kamar membuyarkan pikiranku, dengan malas akupun membuka pintu.
“Yap, Mom?” tanyaku.
“Ada tamu, Grey.” Balas Mom.
“Tamu?” tanyaku meyakinkan. Mom hanya mengangguk.

Akupun menuruni tangga menuju lantai bawah, untuk mengetahui siapa tamunya.


***

Thats all about part 1!
You can read this on @chandatamaOP 's favorites on twitter.
 Thanks for read <3 

1 comment:

  1. bagus eunggg .. ^_^

    tambahin sedikit kata-kata puisi gitu biar lebih dalem maknanya :)

    semangat menulis!

    oiya boleh nanya gk? itu yang kembang api di blog ini boleh minta script nya gk? pengeeenn u,u

    ReplyDelete