***
Tiba-tiba ketukan pintu kamar membuyarkan pikiranku, dengan
malas akupun membuka pintu.
“Yap, Mom?” tanyaku.
“Ada tamu, Grey.” Balas Mom.
“Tamu?” tanyaku meyakinkan. Mom hanya mengangguk.
Akupun menuruni tangga menuju lantai bawah, untuk mengetahui siapa tamunya dan ternyata tamunya adalah perempuan sinis tadi.
“Greyson ya?” Tanya perempuan yang tadi pagi sinis kepadaku.
“Ya. Ada apa?”
“Aku Carmel, maaf kalau tadi pagi aku bersikap begitu tidak sopan kepadamu.”
“Tidak masalah.”
“Aku datang ke sini hanya untuk mengucapkan terimakasih karena kau sudah mau mengantarkan Aly ke rumah tadi pagi.”
“Sama-sama.”
“Sebagai permohonan maaf, bisakah kau mengunjungi café ku di seberang taman nanti sore? Kau boleh memesan apapun yang kau mau nanti, sebagai permohonan maafku.” Carmel memberiku sebuah kartu alamat café itu.
“Aku menunggu kedatanganmu, Grey. Kalau begitu aku pulang dulu.” Ucap Carmel kemudian berjalan ke pintu. “See ya there, Grey.” Lanjut Carmel lagi.
Aku hanya mengangguk sambil melihat kartu alamat café yang diberikan Carmel tadi.
Green café?
Aku sangat mengenal café ini. Itu bukan café yang asing bagiku. Itu adalah café tempat bermulanya hubunganku dengan Alfia.
Flashback-
“Gugup?” Tanya Mom sambil mengendarai mobil.
“Mungkin.” Jawabku.
“Ingat umur Grey udah 15 tahun. Grey sudah mulai tumbuh dewasa.” Mom melirikku sekilas. “Alfia juga menyukai Grey kok.” Lanjut Mom.
“Kata siapa?”
“Dari tatapan Alfia ke Grey udah keliatan.” Mom menghentikan laju mobil. “Kita sampai di green café.”
Aku terdiam, menatap keluar mobil, menatap ke sebuah café yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau, penglihatanku menembus ke dalam café melalui kaca jendela yang di dalamnya terlihat seorang perempuan berambut hitam dengan gaun yang sangat indah.
“Tunggu apa lagi, Grey? Ayo temui Alfia dan katakan.” Mom menatapku dengan tersenyum. Aku memang beruntung mempunyai Mom seperti Mom Lisa yang selalu mengerti kepadaku.
Aku mengangguk pelan, kemudian membuka pintu mobil.
“Semoga beruntung, ya!” seru Mom dengan tangan yang menyemangati, aku hanya tersenyum kemudian mulai melangkahkan kaki memasuki café itu.
Tanganku mendorong pintu café dengan pelan, dan masuk ke dalam café yang dipenuhi orang-orang yang ku kenali dan seumuranku.
Seorang perempuan dengan gaun berwarna biru menghampiriku.
“Grey, kok telat? Alfia dari tadi udah nyari-nyari kamu tau, dia takut kamu nggak dateng.” Ucapnya. Namanya Jihan, dia sahabat Alfia.
“Maaf, aku tadi cuma…”
“Bilang aja gugup.” Potong Jihan. “Oke, nanti kamu jadi kan nyatain itu ke Alfia?” lanjutnya.
“Aku gugup, Jihan. Serius aku takut.”
“Grey, kemarin waktu main truth or dare kamu udah janji kan buat nembak orang yang kamu suka, dan orang itu Alfia. Gunakan kesempatan ini, Grey.”
“Kalo dia nolak gimana?”
“Aku kan sahabatnya Alfia, aku tau kalo Alfia suka sama kamu.”
“Serius?” tanyaku meyakinkan. Jihan mengangguk. “Oke, aku bakal nyatain kok.” Lanjutku dan berjalan meninggalkan Jihan dan mendekati perempuan dengan gaun indah yang sedang menerima hadiah-hadiah dari tamu yang datang.
Dan akhirnya aku sudah berdiri tepat di depan Alfia. Aku menatap matanya yang berwarna cokelat terang dan memancarkan cahaya itu. Aku memang jatuh cinta kepada Alfia sejak masuk SMA, dan aku jatuh cinta kepadanya saat memandang matanya yang begitu indah.
“Hai, Grey.” Sapa Alfia membuyarkan lamunanku yang sedang menikmati bola matanya yang indah.
“Hai, Alfia.” Balasku terbata-bata. “Selamat ulangtahun yang ke-15, Alfia.” Lanjutku sambil memberi sebuah kotak berwarna hijau muda.
“Wah, thanks ya, Grey!” balas Alfia dan menerima hadiah pemberianku.
“Ya, sama-sama.” Jawabku dengan sangat-sangat gugup.
“em, kamu boleh ambil cemilan di sana, Grey. Bebas kok.” Ucap Alfia. Aku hanya mengangguk dan berbalik badan, berjalan meninggalkan Alfia untuk mengambil cemilan.
Tapi rasanya berat untuk berjalan.
Rasanya ingin sekali untuk berbalik badan lagi dan menyatakan yang sebenarnya kepada Alfia.
Itu hanya akan memakan waktu beberapa menit bahkan bisa beberapa detik.
Tapi aku takut.
Tapi aku gugup.
Mungkin aku bukan cowo yang gentle.
Mungkin aku bukan cowo yang mudah untuk menyatakan cinta.
Tapi sungguh, aku menyukai Alfia dan aku nggak mau kehilangan kesempatan ini.
Aku harus menunjukkan kepadanya bahwa aku benar-benar mencintainya.
Aku harus.
Ku balikkan badan dan menghadap ke Alfia. “I love you.” Ucapku dengan sangat cepat dari kata ke kata. Entah apa Alfia bisa mendengar perkataanku atau tidak.
“Apa?” Tanya Alfia kepadaku dengan wajah yang sangat bingung. “Aku tidak mendengar perkataanmu dengan jelas, Grey. Katakan lagi?”
“Ah lupakan saja, Alfia.” Ucapku dengan salah tingkah dan kembali berbalik badan dan berjalan meninggalkan.
“you love me, Grey?” tanya Alfia setengah berteriak. Langkahku berhenti begitu mendengar ucapannya. Kemudian ku dengar suara lahkah kaki yang mendekatiku dari belakang.
“You love me?” Tanya Alfia begitu sampai di depanku, dan Ia menatap mataku dengan sangat dalam.
“ye-yea.” Balasku terbata.
“I love you too, Grey.”
Back-
Setetes air mata jatuh ke lantai begitu teringat kenangan dua tahun yang lalu. Kenangan itu membuat aku sangat merindukan Alfia.
Aku jadi sangat merindukan pancaran sinar mata Alfia…
***
Aku berjalan dengan santai menuju green café.
Tadi sudah kupikir-pikir untuk menerima tawaran Carmel untuk datang ke café nya atau tidak, lagipula kan nggak ada salahnya buat menerima permintaan maafnya dan datang ke café miliknya.
Ku pegang gagang pintu masuk café ini, tetapi tiba-tiba aku terdiam. Aku kembali teringat dengan Alfia. Aku jadi merindukannya.
Belum sempat membuka pintu, pintu ini sudah duluan terbuka. Di buka oleh seorang perempuan berambuk ikal yang berdiri dan tersenyum manis kepadaku.
“Akhirnya kau datang, Grey.” Sapa Carmel. “Ayo masuk, aku sudah menyiapkan tempat untukmu.”
Aku berjalan mengikuti Carmel kemudian di ajak duduk di pojok café.
“Aku sangat berterimakasih kau mau menyempatkan diri untuk datang ke café milikku.”
“Nggak masalah kok.”
“Sebenarnya aku mengajakmu ke sini bukan hanya untuk membayar rasa bersalahku. Sebenarnya aku punya maksud lain, Grey.” Ucap Carmel.
“Maksud lain? Apa?”
“Aku butuh bantuanmu.”
“Yap, Mom?” tanyaku.
“Ada tamu, Grey.” Balas Mom.
“Tamu?” tanyaku meyakinkan. Mom hanya mengangguk.
Akupun menuruni tangga menuju lantai bawah, untuk mengetahui siapa tamunya dan ternyata tamunya adalah perempuan sinis tadi.
“Greyson ya?” Tanya perempuan yang tadi pagi sinis kepadaku.
“Ya. Ada apa?”
“Aku Carmel, maaf kalau tadi pagi aku bersikap begitu tidak sopan kepadamu.”
“Tidak masalah.”
“Aku datang ke sini hanya untuk mengucapkan terimakasih karena kau sudah mau mengantarkan Aly ke rumah tadi pagi.”
“Sama-sama.”
“Sebagai permohonan maaf, bisakah kau mengunjungi café ku di seberang taman nanti sore? Kau boleh memesan apapun yang kau mau nanti, sebagai permohonan maafku.” Carmel memberiku sebuah kartu alamat café itu.
“Aku menunggu kedatanganmu, Grey. Kalau begitu aku pulang dulu.” Ucap Carmel kemudian berjalan ke pintu. “See ya there, Grey.” Lanjut Carmel lagi.
Aku hanya mengangguk sambil melihat kartu alamat café yang diberikan Carmel tadi.
Green café?
Aku sangat mengenal café ini. Itu bukan café yang asing bagiku. Itu adalah café tempat bermulanya hubunganku dengan Alfia.
Flashback-
“Gugup?” Tanya Mom sambil mengendarai mobil.
“Mungkin.” Jawabku.
“Ingat umur Grey udah 15 tahun. Grey sudah mulai tumbuh dewasa.” Mom melirikku sekilas. “Alfia juga menyukai Grey kok.” Lanjut Mom.
“Kata siapa?”
“Dari tatapan Alfia ke Grey udah keliatan.” Mom menghentikan laju mobil. “Kita sampai di green café.”
Aku terdiam, menatap keluar mobil, menatap ke sebuah café yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau, penglihatanku menembus ke dalam café melalui kaca jendela yang di dalamnya terlihat seorang perempuan berambut hitam dengan gaun yang sangat indah.
“Tunggu apa lagi, Grey? Ayo temui Alfia dan katakan.” Mom menatapku dengan tersenyum. Aku memang beruntung mempunyai Mom seperti Mom Lisa yang selalu mengerti kepadaku.
Aku mengangguk pelan, kemudian membuka pintu mobil.
“Semoga beruntung, ya!” seru Mom dengan tangan yang menyemangati, aku hanya tersenyum kemudian mulai melangkahkan kaki memasuki café itu.
Tanganku mendorong pintu café dengan pelan, dan masuk ke dalam café yang dipenuhi orang-orang yang ku kenali dan seumuranku.
Seorang perempuan dengan gaun berwarna biru menghampiriku.
“Grey, kok telat? Alfia dari tadi udah nyari-nyari kamu tau, dia takut kamu nggak dateng.” Ucapnya. Namanya Jihan, dia sahabat Alfia.
“Maaf, aku tadi cuma…”
“Bilang aja gugup.” Potong Jihan. “Oke, nanti kamu jadi kan nyatain itu ke Alfia?” lanjutnya.
“Aku gugup, Jihan. Serius aku takut.”
“Grey, kemarin waktu main truth or dare kamu udah janji kan buat nembak orang yang kamu suka, dan orang itu Alfia. Gunakan kesempatan ini, Grey.”
“Kalo dia nolak gimana?”
“Aku kan sahabatnya Alfia, aku tau kalo Alfia suka sama kamu.”
“Serius?” tanyaku meyakinkan. Jihan mengangguk. “Oke, aku bakal nyatain kok.” Lanjutku dan berjalan meninggalkan Jihan dan mendekati perempuan dengan gaun indah yang sedang menerima hadiah-hadiah dari tamu yang datang.
Dan akhirnya aku sudah berdiri tepat di depan Alfia. Aku menatap matanya yang berwarna cokelat terang dan memancarkan cahaya itu. Aku memang jatuh cinta kepada Alfia sejak masuk SMA, dan aku jatuh cinta kepadanya saat memandang matanya yang begitu indah.
“Hai, Grey.” Sapa Alfia membuyarkan lamunanku yang sedang menikmati bola matanya yang indah.
“Hai, Alfia.” Balasku terbata-bata. “Selamat ulangtahun yang ke-15, Alfia.” Lanjutku sambil memberi sebuah kotak berwarna hijau muda.
“Wah, thanks ya, Grey!” balas Alfia dan menerima hadiah pemberianku.
“Ya, sama-sama.” Jawabku dengan sangat-sangat gugup.
“em, kamu boleh ambil cemilan di sana, Grey. Bebas kok.” Ucap Alfia. Aku hanya mengangguk dan berbalik badan, berjalan meninggalkan Alfia untuk mengambil cemilan.
Tapi rasanya berat untuk berjalan.
Rasanya ingin sekali untuk berbalik badan lagi dan menyatakan yang sebenarnya kepada Alfia.
Itu hanya akan memakan waktu beberapa menit bahkan bisa beberapa detik.
Tapi aku takut.
Tapi aku gugup.
Mungkin aku bukan cowo yang gentle.
Mungkin aku bukan cowo yang mudah untuk menyatakan cinta.
Tapi sungguh, aku menyukai Alfia dan aku nggak mau kehilangan kesempatan ini.
Aku harus menunjukkan kepadanya bahwa aku benar-benar mencintainya.
Aku harus.
Ku balikkan badan dan menghadap ke Alfia. “I love you.” Ucapku dengan sangat cepat dari kata ke kata. Entah apa Alfia bisa mendengar perkataanku atau tidak.
“Apa?” Tanya Alfia kepadaku dengan wajah yang sangat bingung. “Aku tidak mendengar perkataanmu dengan jelas, Grey. Katakan lagi?”
“Ah lupakan saja, Alfia.” Ucapku dengan salah tingkah dan kembali berbalik badan dan berjalan meninggalkan.
“you love me, Grey?” tanya Alfia setengah berteriak. Langkahku berhenti begitu mendengar ucapannya. Kemudian ku dengar suara lahkah kaki yang mendekatiku dari belakang.
“You love me?” Tanya Alfia begitu sampai di depanku, dan Ia menatap mataku dengan sangat dalam.
“ye-yea.” Balasku terbata.
“I love you too, Grey.”
Back-
Setetes air mata jatuh ke lantai begitu teringat kenangan dua tahun yang lalu. Kenangan itu membuat aku sangat merindukan Alfia.
Aku jadi sangat merindukan pancaran sinar mata Alfia…
***
Aku berjalan dengan santai menuju green café.
Tadi sudah kupikir-pikir untuk menerima tawaran Carmel untuk datang ke café nya atau tidak, lagipula kan nggak ada salahnya buat menerima permintaan maafnya dan datang ke café miliknya.
Ku pegang gagang pintu masuk café ini, tetapi tiba-tiba aku terdiam. Aku kembali teringat dengan Alfia. Aku jadi merindukannya.
Belum sempat membuka pintu, pintu ini sudah duluan terbuka. Di buka oleh seorang perempuan berambuk ikal yang berdiri dan tersenyum manis kepadaku.
“Akhirnya kau datang, Grey.” Sapa Carmel. “Ayo masuk, aku sudah menyiapkan tempat untukmu.”
Aku berjalan mengikuti Carmel kemudian di ajak duduk di pojok café.
“Aku sangat berterimakasih kau mau menyempatkan diri untuk datang ke café milikku.”
“Nggak masalah kok.”
“Sebenarnya aku mengajakmu ke sini bukan hanya untuk membayar rasa bersalahku. Sebenarnya aku punya maksud lain, Grey.” Ucap Carmel.
“Maksud lain? Apa?”
“Aku butuh bantuanmu.”
***
No comments:
Post a Comment