***
Aly asik mencoret-coret di atas kertas putih dengan
crayon-crayonnya, aku hanya melihatnya dengan tersenyum dan dilain sisi aku
berfikir, mengapa Aly mencoret-coret kertas dengan crayon berwarna-warni
padahal Ia sendiri tidak dapat melihat hasil coretannya?
"For ya, Grey."
Aly memberiku kertas yang Ia coret-coret tadi.
"Grey-lyssa?" Tanyaku begitu melihat kertas coretan Aly bertuliskan 'Grey-lyssa'.
"Yep, grey-lyssa. Supaya kamu selalu ada di samping aku, Grey." Jawab Aly. Jujur, aku sedikit kaget mendengar jawaban Aly.
"Kamu nggak usah bikin ini juga aku bakal terus di samping kamu, Aly." Balasku yang kemudian sebuah senyum manis muncul di wajah cantik Alyssa.
"Thanks, Grey." Aly memelukku, aku kaget banget waktu Aly meluk aku. Tapi aku nggak mungkin nolak.
"Anytime, Aly." Balasku membalas pelukannya.
"Promise me that you'll never leave me, and will always standing right next to me, Greyson."
"I will, Aly."
"Love you."
Apa? 'Love you'?
Aly bilang itu ke aku?
Jujur aku bingung harus jawab apa.
"For ya, Grey."
Aly memberiku kertas yang Ia coret-coret tadi.
"Grey-lyssa?" Tanyaku begitu melihat kertas coretan Aly bertuliskan 'Grey-lyssa'.
"Yep, grey-lyssa. Supaya kamu selalu ada di samping aku, Grey." Jawab Aly. Jujur, aku sedikit kaget mendengar jawaban Aly.
"Kamu nggak usah bikin ini juga aku bakal terus di samping kamu, Aly." Balasku yang kemudian sebuah senyum manis muncul di wajah cantik Alyssa.
"Thanks, Grey." Aly memelukku, aku kaget banget waktu Aly meluk aku. Tapi aku nggak mungkin nolak.
"Anytime, Aly." Balasku membalas pelukannya.
"Promise me that you'll never leave me, and will always standing right next to me, Greyson."
"I will, Aly."
"Love you."
Apa? 'Love you'?
Aly bilang itu ke aku?
Jujur aku bingung harus jawab apa.
"Love you too, Aly."
Aku masih memeluk Aly, Aly juga masih memelukku malah ku rasa tambah erat.
Rasanya ingin sekali aku bisa menjaga Aly, selalu ada di sisinya, membahagiakannya, menjadi penyebab di balik senyumnya, tawanya, semuanya.
Tetapi di lain sisi aku menyadari bahwa aku memiliki Alfia, dan aku juga tidak bisa mengelak perasaanku kepada Aly.
Dan aku juga mempunyai janji kepada mereka berdua.
Flashback-
"Udah selesai belum?" Tanyaku dengan keadaan mata yang tertutup oleh sebuah kain.
"Tunggu sebentar lagi, Grey." Jawabnya.
"Lebih cepat dong! Kamu buat apa sih, Alfia?"
"Oke, kamu boleh buka kainnya."
Alfia mulai membuka kain yang menutupi kedua mataku. Dan akhirnya kain itu terlepas seutuhnya dan terpampang di depan ku sebuah lukisan yang sangat indah. Sungguh, sangat sangat indah.
"Kamu yang?" Tanyaku, Alfia mengangguk tersenyum kepadaku.
"Gimana menurut kamu?" Tanya Alfia.
"Seriously awesome, Alfia!"
"Thanks, Grey. Kamu tau gak arti dari lukisan ini?"
"Apa artinya?"
"Its about us, Grey."
"Us?"
"Yep. Liat, cewe dengan gaun yang sedang menerima kado ini aku dan cowo ini kamu. Inget kejadian di ulangtahun ke-15 ku? Awal hubungan kita, Grey. Remember?"
"Oh, God! Aku baru nyadar, Alfia! Dan sekarang kita udah satu tahun ngejalani nya kan?"
"Yep and I'm still loving you, Grey."
"Me too, Alfia."
Back-
Aku terdiam menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong setelah mengingat momen-momen ku bersama Alfia.
Aku masih belum bisa mengerti apa yang sedang terjadi dengan perasaanku.
"Grey, daritadi kamu nggak ngomong apapun. Kamu kenapa?" Aly membuyarkan lamunanku.
"Nothing, Aly." Jawabku.
Aly bangun dari duduknya, kemudian mulai berjalan menuju kasurnya.
"Mau istirahat?" Tanyaku begitu melihat Aly menarik selimutnya.
"Iya." Jawab Aly singkat.
"Kalo gitu, aku tunggu di luar aja ya."
"No, Grey. Temenin aku."
Aly menggenggam tanganku, menahanku untuk pergi.
"nyanyiin lagu tadi dong, boleh?" Pintanya.
Itukan lagu khusus buat Alfia.
Is it okay?
Kalo aku nyanyiin lagu itu buat Aly?
Flashback-
Tanganku ada di belakang punggungku, mengumpatkan sesuatu dari Alfia.
"Hai, sweetheart." Sapaku begitu membuka pintu kamar Alfia.
"Hai, Grey." Sapanya balik. Aku berjalan mendekat Alfia sedang terbaring di tempat tidurnya.
"Kamu jadi berangkat ke UK besok? Padahalkan kamu lagi sakit gini." Ucapku khawatir.
"Jadi kok, lagipula di pesawat kan cuma duduk doang, Grey."
"Tapi perjalanannya kan panjang, kamu yakin kuat?"
"Aku kuat kok buat perjalanan itu." Alfia mengusap air mata yang mengalir dari matanya. "Yang bikin aku nggak kuat cuma jauh dari kamu, Grey."
"Aku juga nggak akan kuat, tapi di Jakarta aku juga harus ngejalani hidupku dengan kuliah. Kamu juga. Tapi kamu pasti bakal ke Indonesia kan?"
"Iya, kalo liburan musim panas Grey."
"I will miss you, Alfia."
"Me too, Grey."
"Here for ya, Alfia." Ku berikan sebuah kotak kecil berwarna merah kepada Alfia.
Alfia mengambil kotak itu. "Apa ini?" Tanya Alfia.
"Buka aja, nanti kamu juga tau." Balasku sambil melet.
"Kay." Alfia mulai membuka kotak ini sambil melirikku. "God! Grey ini buat aku?"
"Yep, Mrs. Chance." Jawabku.
"Thanks, Grey!" Alfia memelukku.
"Anytime for my baby." Balasku. "Sini biar aku yang pakein." Lanjutku.
Akupun memakaikan cincin bertuliskan 'chance' ke jemari Alfia dan bisa ku lihat ekspresi Alfia yang begitu senang dan aku suka ekspresi itu.
"Love you so much, Grey!"
"Love you too, Alfia." Ku peluk Alfia lagi. "Mending sekarang kamu istirahat, sambil aku nyanyiin lagu home is in your eyes."
"Home is in your eyes? Lagu siapa?"
"Laguku khusus buat kamu, Alfia." Jawabku yang kemudian Alfia tersenyum mendengar jawabanku.
Back-
Aku jadi bingung mau nyanyiin lagu itu ke Aly atau engga. Itu kan lagu khusus buat Alfia. Tapi aku juga nggak mau nyakitin hati Aly.
"Grey?" Lagi-lagi Aly membuyarkan lamunanku.
"Ya Aly?"
"Kamu nggak mau nyanyiin lagu itu?" Tanya Aly.
"Kata siapa? Aku mau kok." Jawabku.
Oke bodoh, kenapa aku mau?
Tapi aku udah terlanjur bilang dan nggak mau bikin Aly sakit hati. Tapi apa Alfia bakal sakit hati kalo aku nyanyiin lagu khusus ini ke orang lain?
Dan terpaksa aku harus nyanyiin lagu itu buat Aly, lagipula Alfia juga nggak tau kan.
***
Terdengar suara bel berbunyi, akupun membuka mata. Melihat sekitar, dan aku baru nyadar kalo aku ketiduran di lantai dengan tanganku yang menggenggam tangan Aly.
Aku langsung bangun. Ku lihat Aly yang masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya, kemudian berjalan ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang.
Aku masih memeluk Aly, Aly juga masih memelukku malah ku rasa tambah erat.
Rasanya ingin sekali aku bisa menjaga Aly, selalu ada di sisinya, membahagiakannya, menjadi penyebab di balik senyumnya, tawanya, semuanya.
Tetapi di lain sisi aku menyadari bahwa aku memiliki Alfia, dan aku juga tidak bisa mengelak perasaanku kepada Aly.
Dan aku juga mempunyai janji kepada mereka berdua.
Flashback-
"Udah selesai belum?" Tanyaku dengan keadaan mata yang tertutup oleh sebuah kain.
"Tunggu sebentar lagi, Grey." Jawabnya.
"Lebih cepat dong! Kamu buat apa sih, Alfia?"
"Oke, kamu boleh buka kainnya."
Alfia mulai membuka kain yang menutupi kedua mataku. Dan akhirnya kain itu terlepas seutuhnya dan terpampang di depan ku sebuah lukisan yang sangat indah. Sungguh, sangat sangat indah.
"Kamu yang?" Tanyaku, Alfia mengangguk tersenyum kepadaku.
"Gimana menurut kamu?" Tanya Alfia.
"Seriously awesome, Alfia!"
"Thanks, Grey. Kamu tau gak arti dari lukisan ini?"
"Apa artinya?"
"Its about us, Grey."
"Us?"
"Yep. Liat, cewe dengan gaun yang sedang menerima kado ini aku dan cowo ini kamu. Inget kejadian di ulangtahun ke-15 ku? Awal hubungan kita, Grey. Remember?"
"Oh, God! Aku baru nyadar, Alfia! Dan sekarang kita udah satu tahun ngejalani nya kan?"
"Yep and I'm still loving you, Grey."
"Me too, Alfia."
Back-
Aku terdiam menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong setelah mengingat momen-momen ku bersama Alfia.
Aku masih belum bisa mengerti apa yang sedang terjadi dengan perasaanku.
"Grey, daritadi kamu nggak ngomong apapun. Kamu kenapa?" Aly membuyarkan lamunanku.
"Nothing, Aly." Jawabku.
Aly bangun dari duduknya, kemudian mulai berjalan menuju kasurnya.
"Mau istirahat?" Tanyaku begitu melihat Aly menarik selimutnya.
"Iya." Jawab Aly singkat.
"Kalo gitu, aku tunggu di luar aja ya."
"No, Grey. Temenin aku."
Aly menggenggam tanganku, menahanku untuk pergi.
"nyanyiin lagu tadi dong, boleh?" Pintanya.
Itukan lagu khusus buat Alfia.
Is it okay?
Kalo aku nyanyiin lagu itu buat Aly?
Flashback-
Tanganku ada di belakang punggungku, mengumpatkan sesuatu dari Alfia.
"Hai, sweetheart." Sapaku begitu membuka pintu kamar Alfia.
"Hai, Grey." Sapanya balik. Aku berjalan mendekat Alfia sedang terbaring di tempat tidurnya.
"Kamu jadi berangkat ke UK besok? Padahalkan kamu lagi sakit gini." Ucapku khawatir.
"Jadi kok, lagipula di pesawat kan cuma duduk doang, Grey."
"Tapi perjalanannya kan panjang, kamu yakin kuat?"
"Aku kuat kok buat perjalanan itu." Alfia mengusap air mata yang mengalir dari matanya. "Yang bikin aku nggak kuat cuma jauh dari kamu, Grey."
"Aku juga nggak akan kuat, tapi di Jakarta aku juga harus ngejalani hidupku dengan kuliah. Kamu juga. Tapi kamu pasti bakal ke Indonesia kan?"
"Iya, kalo liburan musim panas Grey."
"I will miss you, Alfia."
"Me too, Grey."
"Here for ya, Alfia." Ku berikan sebuah kotak kecil berwarna merah kepada Alfia.
Alfia mengambil kotak itu. "Apa ini?" Tanya Alfia.
"Buka aja, nanti kamu juga tau." Balasku sambil melet.
"Kay." Alfia mulai membuka kotak ini sambil melirikku. "God! Grey ini buat aku?"
"Yep, Mrs. Chance." Jawabku.
"Thanks, Grey!" Alfia memelukku.
"Anytime for my baby." Balasku. "Sini biar aku yang pakein." Lanjutku.
Akupun memakaikan cincin bertuliskan 'chance' ke jemari Alfia dan bisa ku lihat ekspresi Alfia yang begitu senang dan aku suka ekspresi itu.
"Love you so much, Grey!"
"Love you too, Alfia." Ku peluk Alfia lagi. "Mending sekarang kamu istirahat, sambil aku nyanyiin lagu home is in your eyes."
"Home is in your eyes? Lagu siapa?"
"Laguku khusus buat kamu, Alfia." Jawabku yang kemudian Alfia tersenyum mendengar jawabanku.
Back-
Aku jadi bingung mau nyanyiin lagu itu ke Aly atau engga. Itu kan lagu khusus buat Alfia. Tapi aku juga nggak mau nyakitin hati Aly.
"Grey?" Lagi-lagi Aly membuyarkan lamunanku.
"Ya Aly?"
"Kamu nggak mau nyanyiin lagu itu?" Tanya Aly.
"Kata siapa? Aku mau kok." Jawabku.
Oke bodoh, kenapa aku mau?
Tapi aku udah terlanjur bilang dan nggak mau bikin Aly sakit hati. Tapi apa Alfia bakal sakit hati kalo aku nyanyiin lagu khusus ini ke orang lain?
Dan terpaksa aku harus nyanyiin lagu itu buat Aly, lagipula Alfia juga nggak tau kan.
***
Terdengar suara bel berbunyi, akupun membuka mata. Melihat sekitar, dan aku baru nyadar kalo aku ketiduran di lantai dengan tanganku yang menggenggam tangan Aly.
Aku langsung bangun. Ku lihat Aly yang masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya, kemudian berjalan ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang.
***
No comments:
Post a Comment