***
Bertepatan dengan itu kami bersama-sama melemparkan botol itu ke
tengah laut, lalu berpelukan.
“I love you so much, Grey.”
“I love you too.” Ku kecup kening Alfia, lalu kembali memeluknya
erat.
Di tengah berpelukan dengan Alfia, aku bertanya-tanya apa yang
dipinta Alfia di doanya tadi.
***
Aku duduk di hamparan pasir, masih bersama Alfia di sampingku,
masih bersama Alfia yang menyenderkan kepalanya di bahuku, masih bersama tangan
Alfia yang setia merangkulku erat.
“Matahari terbenam berapa lama lagi, Grey?” Tanya Alfia masih
dengan kebiasaannya sedari dulu, yaitu memainkan jemarinya di kaus yang ku
kenakan.
“Sebentar lagi, kok.” Jawabku. “Lihat, mataharinya perlahan sudah
mau terbenam, sudah mulai mendekati garis laut!”
Alfia dengan sigap langsung berdiri, dan berlari ke tengah laut.
“Grey, fotoin ya!” teriaknya. Aku mengangguk, lalu menyiapkan focus di kamera
untuk memotret Alfia dengan latar matahari sore yang hampir terbenam.
Alfia kembali ke hamparan pasir pantai setelah ku acungkan
jempolku menandakan aku telah memotretnya, lalu langsung mengambil alih
kameraku untuk melihat hasil potretanku.
“Gimana?” tanyaku.
“Hm, lumayan bagus.” Jawabnya. “Fotoin lagi dong!” pintanya, aku
mengangguk dan mengambil kameraku kembali.
Alfia mengambil ranting kayu yang berserakan di pantai, lalu mulai
menggoreskan ranting itu di pasir pantai, menulis sesuatu.
‘Gweyson <3’
Itulah yang Alfia tulis di hamparan pasir pantai, lalu Ia duduk di
samping hasil tulisannya dengan tangannya membentuk hati.
Dengan sigap, ku potret Alfia.
“Sudah?” Tanya Alfia, ku acungkan jempol menandakan sudah. Alfia
berlari mendekatku, Ia berjinjit untuk melihat hasil potretanku. “Hey, aku baru
sadar kalau kamu makin tinggi, Grey!”
Aku terkekeh pelan, “Kamunya aja kali yang pendek.” Ledekku. Perkataanku langsung dibalas pukulan Alfia pelan tepat di lenganku.
“lebih baik kita duduk manis di atas pasir sambil memandangi
matahari terbenam daripada harus berpukulan.” Saranku sambil tertawa pelan.
Alfia menghentikan pukulannya, tersenyum kecil lalu menarik tanganku untuk
duduk bersamanya di atas pasir pantai sambil menunggu matahari terbenam.
“Bagaimana kalau berhitung mundur?” saran Alfia. Aku mengangguk.
“Berhitung dari dua puluh, oke?”
“Dua puluh? Itu terlalu lama, Alfia.” Balasku. “Lihat! Sudah
setengah bagian yang tenggelam!” lanjutku.
“Lalu kita berhitung dari berapa?” Tanya Alfia.
“sstt.. lima..empat…” ucapku berhitung mundur begitu melihat
matahari yang sudah setengahnya tertupi air laut. Sudah tenggelam ke dalam laut
dalam.
“tiga..dua..” Alfia melanjuti hitungan mundurku, aku menoleh ke
arahnya, memperhatikan lekukan wajahnya, memperhatikan garis bibirnya yang
tersenyum.
Kami menghentikan hitung mundur kami, menatap satu sama lain.
Rasanya saat ini waktu berjalan sangat lambat, sangat-sangat lambat ibarat
adegan slow motion di film, kami masih bertatapan satu sama lain, ditemani
cahaya matahari yang perlahan meredup.
“..satu.” ucap kami berdua bersamaan, dan di saat itu juga, kami
berpelukan di saat matahari seutuhnya tenggelam, meninggalkan dunia, dan
digantikan oleh bulan dan bintang-bintang yang sedang mengerjakan kewajiban
mereka di setiap malam.
***
Alfia melahap santapan makan malam yang sudah di pesan tadi, aku
pun melakukan hal yang sama walaupun sesekali mencuri pandang ke pada sosok
Alfia yang ada di hadapanku.
Rambut Alfia yang hitam panjang
dan terurai menari-nari mengikuti arah angin yang menerpanya. Wajar,
kami berdua sedang berada di salah satu restaurant di dekat pantai, restaurant
open space, restaurant yang menampilkan sesuatu yang menarik terutama di malam
hari, karena di malam hari pengunjung restaurant bisa makan dengan atap
langsung berupa hamparan langit luas, ditemani bintang-bintang yang bertaburan,
dan tentunya dengan angin malam pantai yang begitu terasa menghempas tubuh.
“Apa?” Tanya Alfia yang jelas-jelas telah menangkapku basah sedang
memperhatikannya.
“Nggak, nggak ada apa-apa.” Jawabku malu.
“Fokus ke makananmu, Grey.”
“Memang dari tadi..aku focus ke apa?”
“Jangan berbohong.” Balasnya. “Aku tahu kamu focus ke apa,” Alfia
menunduk tersipu malu.
Aku tidak membalas, tertawa kecil dan melanjutkan santapan makan
malamku.
***
Seperti biasa, aku mengantarkan Alfia pulang ke rumahnya.
“Besok kita bersepeda yuk!” ajak Alfia sebelum turun dari mobil.
Aku mengerutkan kening, “Alfia, besok prom night.” Ujarku
mengingatkan.
“Aku tahu itu, Greyson.” Jawabnya.
“Kamu nggak--”
“ke salon?” potong Alfia.
Aku mengangguk cepat. “Prom night itu malam di mana kita bisa berubah menjadi sosok yang lebih dari sebelumnya, lebih dari biasanya.” Jelasku.
“Lalu?”
“Ya, maksudku..”
“Aku tahu maksudmu, Greyson. Aku mengerti, besok kita tidak usah
bersepeda, oke.”
“Kamu marah?”
“Buat apa aku marah? Aku tahu maksud kata-katamu tadi, Grey.”
Alfia mendekatkan wajahnya ke sisi kanan wajahku. “Aku akan membuatmu terkejut,
besok.” Bisiknya tepat di telingaku, lalu segera berlari ke gerbang rumahnya
dengan tawa kecil yang terpampang di wajahnya.
Aku tersenyum menatapnya yang sedang membuka pintu, lalu
melambaikan tangan kepadaku kemudian aku pun menancap gas untuk pulang ke rumah
setelah membalas lambaian tangan Alfia.
***
Aku turun dari mobil sambil melempar-lempar kunci mobil ke
tanganku, dan terkadang tertawa kecil saat kunci ini hampir jatuh karena tidak
ku tangkap dengan tepat.
“Hai, Greyson.” Sapa Mama begitu pintu rumah ku buka.
“Hai, Ma.” Sapaku balik.
“Sudah makan malam, sayang?” Tanyanya begitu aku ikut duduk di
sampingnya, di sofa.
“Sudah, kok.” Jawabku. “..dengan Alfia tadi.”
Mama terkekeh pelan, “Tahu kok, yang pacarnya sudah di Jakarta.”
Lanjut Mama.
Aku hanya tersipu malu lalu pamit izin untuk naik ke atas kamar.
***
Ku sibak gorden jendela kamar, membuka pintu kaca yang begitu
terbuka tubuhku langsung dihempas angin malam, dingin.
Ku taruh tanganku di pagar pembatas balkon, masih dengan senyum
yang terpampang di wajahku walaupun angin malam terus menerus mencoba untuk
menusuk tulang rusukku, membuatku membeku.
Ku tatap langit yang cerah malam ini, dengan bulan yang dengan
senangnya memancarkan cahayanya, bersama bintang-bintang kecil yang selalu
setia.
Pandanganku terfokus ke dua bintang yang terlihat paling cerah
diantara yang lainnya. Bintang cerah yang satu berada di sisi kanan rembulan,
bintang cerah yang satunya lagi berada di sisi kiri rembulan, dua bintang yang
paling cerah itu seperti sedang menemani sang rembulan, bersama-sama memancarkan
cahaya untuk bumi, membantu penerangan bumi di malam hari.
Mungkin.
Mungkin, kedua bintang itu ibarat Alfia dan Alyssa.
Mungkin, rembulan itu ibarat diriku.
Mungkin, kedua bintang dan rembulan itu sedang mengibaratkan
diriku saat ini, dikelilingi Alfia dan Alyssa.
Mungkin, kedua bintang dan rembulan itu menggambarkan bahwa
kehidupanku akan selalu dikelilingi oleh Alfia dan Alyssa.
Mungkin, kedua bintang dan rembulan itu sedang menyampaikan pesan.
Pesan rahasia, mungkin?
Mungkin.
Aku masih terus memperhatikan mereka, memperhatikan kedua bintang
beserta rembulan tersebut, mencoba untuk mencari, mencari sebuah pesan rahasia
yang sedang mereka sampaikan, mungkin?
Tidak lama kemudian, bintang yang berada di sisi kanan sang
rembulan cahayanya meredup, terus meredup, hingga akhirnya bintang itu bukan
menjadi bintang yang paling cerah lagi di langit saat ini, bukan bintang yang
paling cerah di sisi sang rembulan lagi. Bintang yang cahayanya masih terus
bersinar terang sampai saat ini adalah bintang yang sedang berada di sisi kiri
sang rembulan.
Tunggu, apakah ini mengandung sebuah pesan atau arti rahasia?
***
Ku geser pintu kaca untuk masuk ke dalam, mungkin angin malam
sudah berhasil mengalahkanku dan membuatku merasa dingin membeku.
Aku berjalan ke depan kaca, menatap bayangan diriku di depan kaca.
“Harus berpenampilan apa aku besok malam?” bisikku masih di depan
kaca, memutarkan badanku ke kanan dan ke kiri.
“tok..tok..tok..” seseorang mengetuk pintu, lalu muncul Mama dari
balik pintu.
“Sayang, kamu coba deh.” Ujar Mama saat masuk ke dalam sambil
menunjukkan tuxedo hitam kepadaku.
Ku ambil tuxedo hitam itu, “Coba sekarang, ma?” tanyaku, Mama
mengangguk lalu meninggalkanku, memberikanku kesempatan untuk berganti baju.
Aku pun berganti baju, mencoba pakaian yang Mama berikan.
Ku tatap kaca, memperhatikan refleksi diriku yang memakai tuxedo
hitam yang sepertinya masih baru dan
Mama buat khusus untukku. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu, dan
Mama muncul lagi dengan senyumnya yang lebar.
“Kamu kelihatan persis dengan Papa kamu saat masih seumuranmu,
sayang!” seru Mama, aku hanya tersipu malu mendengarnya. “Kamu mengingatkan
Mama ke puluhan tahun yang lalu, saat Mama dan Papa kamu di pesta dansa.”
“Seberapa miripnya sih, Ma?” tanyaku.
Mama hanya tersenyum, turun ke bawah dan kembali lagi ke kamar
membawakan album foto. “Lihat, kamu benar-benar seperti Papa kamu, sayang!”
ujar Mama sambil menunjukkan foto Mama dan Papa di saat masih seumuranku, di
pesta dansa.
“Mama masih menyimpan foto yang diambil berpuluh tahun yang lalu?”
tanyaku.
Mama tersenyum lalu mengelus rambutku pelan, “Mama sama Papa kalau
sedang bertengkar pasti selalu membuka foto ini, untuk mengingatkan kejadian
berpuluh tahun yang lalu, tentang kisah cinta Mama dan Papa.” Jelas Mama.
“..foto ini selalu mengingatkan Mama dan Papa bahwa kami masih terus saling
mencintai dari berpuluh tahun yang lalu sampai sekarang.” Mama meneteskan
setetes air mata di akhir ucapannya.
“Aku harap, aku juga bisa kaya Mama dan Papa.”
“Amin, sayang. Sama siapapun akhirnya, kamu harus bisa menjaga
cinta kamu ke pasangan kamu nanti.”
Aku mengangguk pelan sambil bertanya di dalam hati kepada diriku
sendiri, ‘Apakah saat ini aku masih menjaga cinta Alfia?’ dan satu pertanyaan
lagi, ‘siapa yang akan jadi pasanganku kelak?’
***
No comments:
Post a Comment