Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 24 )

***

Bertepatan dengan itu kami bersama-sama melemparkan botol itu ke tengah laut, lalu berpelukan.

“I love you so much, Grey.”

“I love you too.” Ku kecup kening Alfia, lalu kembali memeluknya erat.

Di tengah berpelukan dengan Alfia, aku bertanya-tanya apa yang dipinta Alfia di doanya tadi.

***

Aku duduk di hamparan pasir, masih bersama Alfia di sampingku, masih bersama Alfia yang menyenderkan kepalanya di bahuku, masih bersama tangan Alfia yang setia merangkulku erat.

“Matahari terbenam berapa lama lagi, Grey?” Tanya Alfia masih dengan kebiasaannya sedari dulu, yaitu memainkan jemarinya di kaus yang ku kenakan.

“Sebentar lagi, kok.” Jawabku. “Lihat, mataharinya perlahan sudah mau terbenam, sudah mulai mendekati garis laut!”

Alfia dengan sigap langsung berdiri, dan berlari ke tengah laut. “Grey, fotoin ya!” teriaknya. Aku mengangguk, lalu menyiapkan focus di kamera untuk memotret Alfia dengan latar matahari sore yang hampir terbenam.

Alfia kembali ke hamparan pasir pantai setelah ku acungkan jempolku menandakan aku telah memotretnya, lalu langsung mengambil alih kameraku untuk melihat hasil potretanku.

“Gimana?” tanyaku.

“Hm, lumayan bagus.” Jawabnya. “Fotoin lagi dong!” pintanya, aku mengangguk dan mengambil kameraku kembali.

Alfia mengambil ranting kayu yang berserakan di pantai, lalu mulai menggoreskan ranting itu di pasir pantai, menulis sesuatu.

‘Gweyson <3’

Itulah yang Alfia tulis di hamparan pasir pantai, lalu Ia duduk di samping hasil tulisannya dengan tangannya membentuk hati.

Dengan sigap, ku potret Alfia.

“Sudah?” Tanya Alfia, ku acungkan jempol menandakan sudah. Alfia berlari mendekatku, Ia berjinjit untuk melihat hasil potretanku. “Hey, aku baru sadar kalau kamu makin tinggi, Grey!”

Aku terkekeh pelan, “Kamunya aja kali yang pendek.” Ledekku. Perkataanku langsung dibalas pukulan Alfia pelan tepat di lenganku.

“lebih baik kita duduk manis di atas pasir sambil memandangi matahari terbenam daripada harus berpukulan.” Saranku sambil tertawa pelan. Alfia menghentikan pukulannya, tersenyum kecil lalu menarik tanganku untuk duduk bersamanya di atas pasir pantai sambil menunggu matahari terbenam.

“Bagaimana kalau berhitung mundur?” saran Alfia. Aku mengangguk. “Berhitung dari dua puluh, oke?”

“Dua puluh? Itu terlalu lama, Alfia.” Balasku. “Lihat! Sudah setengah bagian yang tenggelam!” lanjutku.

“Lalu kita berhitung dari berapa?” Tanya Alfia.

“sstt.. lima..empat…” ucapku berhitung mundur begitu melihat matahari yang sudah setengahnya tertupi air laut. Sudah tenggelam ke dalam laut dalam.

“tiga..dua..” Alfia melanjuti hitungan mundurku, aku menoleh ke arahnya, memperhatikan lekukan wajahnya, memperhatikan garis bibirnya yang tersenyum.

Kami menghentikan hitung mundur kami, menatap satu sama lain. Rasanya saat ini waktu berjalan sangat lambat, sangat-sangat lambat ibarat adegan slow motion di film, kami masih bertatapan satu sama lain, ditemani cahaya matahari yang perlahan meredup.

“..satu.” ucap kami berdua bersamaan, dan di saat itu juga, kami berpelukan di saat matahari seutuhnya tenggelam, meninggalkan dunia, dan digantikan oleh bulan dan bintang-bintang yang sedang mengerjakan kewajiban mereka di setiap malam.

***

Alfia melahap santapan makan malam yang sudah di pesan tadi, aku pun melakukan hal yang sama walaupun sesekali mencuri pandang ke pada sosok Alfia yang ada di hadapanku.

Rambut Alfia yang hitam panjang  dan terurai menari-nari mengikuti arah angin yang menerpanya. Wajar, kami berdua sedang berada di salah satu restaurant di dekat pantai, restaurant open space, restaurant yang menampilkan sesuatu yang menarik terutama di malam hari, karena di malam hari pengunjung restaurant bisa makan dengan atap langsung berupa hamparan langit luas, ditemani bintang-bintang yang bertaburan, dan tentunya dengan angin malam pantai yang begitu terasa menghempas tubuh.

“Apa?” Tanya Alfia yang jelas-jelas telah menangkapku basah sedang memperhatikannya.

“Nggak, nggak ada apa-apa.” Jawabku malu.

“Fokus ke makananmu, Grey.”

“Memang dari tadi..aku focus ke apa?”

“Jangan berbohong.” Balasnya. “Aku tahu kamu focus ke apa,” Alfia menunduk tersipu malu.

Aku tidak membalas, tertawa kecil dan melanjutkan santapan makan malamku.

***

Seperti biasa, aku mengantarkan Alfia pulang ke rumahnya.

“Besok kita bersepeda yuk!” ajak Alfia sebelum turun dari mobil.

Aku mengerutkan kening, “Alfia, besok prom night.” Ujarku mengingatkan.

“Aku tahu itu, Greyson.” Jawabnya.

“Kamu nggak--”

“ke salon?” potong Alfia.

Aku mengangguk cepat. “Prom night itu malam di mana kita bisa berubah menjadi sosok yang lebih dari sebelumnya, lebih dari biasanya.” Jelasku.

“Lalu?”

“Ya, maksudku..”

“Aku tahu maksudmu, Greyson. Aku mengerti, besok kita tidak usah bersepeda, oke.”

“Kamu marah?”

“Buat apa aku marah? Aku tahu maksud kata-katamu tadi, Grey.” Alfia mendekatkan wajahnya ke sisi kanan wajahku. “Aku akan membuatmu terkejut, besok.” Bisiknya tepat di telingaku, lalu segera berlari ke gerbang rumahnya dengan tawa kecil yang terpampang di wajahnya.

Aku tersenyum menatapnya yang sedang membuka pintu, lalu melambaikan tangan kepadaku kemudian aku pun menancap gas untuk pulang ke rumah setelah membalas lambaian tangan Alfia.

***

Aku turun dari mobil sambil melempar-lempar kunci mobil ke tanganku, dan terkadang tertawa kecil saat kunci ini hampir jatuh karena tidak ku tangkap dengan tepat.

“Hai, Greyson.” Sapa Mama begitu pintu rumah ku buka.

“Hai, Ma.” Sapaku balik.

“Sudah makan malam, sayang?” Tanyanya begitu aku ikut duduk di sampingnya, di sofa.

“Sudah, kok.” Jawabku. “..dengan Alfia tadi.”

Mama terkekeh pelan, “Tahu kok, yang pacarnya sudah di Jakarta.” Lanjut Mama.

Aku hanya tersipu malu lalu pamit izin untuk naik ke atas kamar.

***

Ku sibak gorden jendela kamar, membuka pintu kaca yang begitu terbuka tubuhku langsung dihempas angin malam, dingin.

Ku taruh tanganku di pagar pembatas balkon, masih dengan senyum yang terpampang di wajahku walaupun angin malam terus menerus mencoba untuk menusuk tulang rusukku, membuatku membeku.

Ku tatap langit yang cerah malam ini, dengan bulan yang dengan senangnya memancarkan cahayanya, bersama bintang-bintang kecil yang selalu setia.

Pandanganku terfokus ke dua bintang yang terlihat paling cerah diantara yang lainnya. Bintang cerah yang satu berada di sisi kanan rembulan, bintang cerah yang satunya lagi berada di sisi kiri rembulan, dua bintang yang paling cerah itu seperti sedang menemani sang rembulan, bersama-sama memancarkan cahaya untuk bumi, membantu penerangan bumi di malam hari.

Mungkin.
Mungkin, kedua bintang itu ibarat Alfia dan Alyssa.
Mungkin, rembulan itu ibarat diriku.
Mungkin, kedua bintang dan rembulan itu sedang mengibaratkan diriku saat ini, dikelilingi Alfia dan Alyssa.
Mungkin, kedua bintang dan rembulan itu menggambarkan bahwa kehidupanku akan selalu dikelilingi oleh Alfia dan Alyssa.
Mungkin, kedua bintang dan rembulan itu sedang menyampaikan pesan. Pesan rahasia, mungkin?
Mungkin.

Aku masih terus memperhatikan mereka, memperhatikan kedua bintang beserta rembulan tersebut, mencoba untuk mencari, mencari sebuah pesan rahasia yang sedang mereka sampaikan, mungkin?

Tidak lama kemudian, bintang yang berada di sisi kanan sang rembulan cahayanya meredup, terus meredup, hingga akhirnya bintang itu bukan menjadi bintang yang paling cerah lagi di langit saat ini, bukan bintang yang paling cerah di sisi sang rembulan lagi. Bintang yang cahayanya masih terus bersinar terang sampai saat ini adalah bintang yang sedang berada di sisi kiri sang rembulan.

Tunggu, apakah ini mengandung sebuah pesan atau arti rahasia?

***

Ku geser pintu kaca untuk masuk ke dalam, mungkin angin malam sudah berhasil mengalahkanku dan membuatku merasa dingin membeku.

Aku berjalan ke depan kaca, menatap bayangan diriku di depan kaca.

“Harus berpenampilan apa aku besok malam?” bisikku masih di depan kaca, memutarkan badanku ke kanan dan ke kiri.

“tok..tok..tok..” seseorang mengetuk pintu, lalu muncul Mama dari balik pintu.

“Sayang, kamu coba deh.” Ujar Mama saat masuk ke dalam sambil menunjukkan tuxedo hitam kepadaku.

Ku ambil tuxedo hitam itu, “Coba sekarang, ma?” tanyaku, Mama mengangguk lalu meninggalkanku, memberikanku kesempatan untuk berganti baju.

Aku pun berganti baju, mencoba pakaian yang Mama berikan.

Ku tatap kaca, memperhatikan refleksi diriku yang memakai tuxedo hitam yang sepertinya masih baru dan  Mama buat khusus untukku. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu, dan Mama muncul lagi dengan senyumnya yang lebar.

“Kamu kelihatan persis dengan Papa kamu saat masih seumuranmu, sayang!” seru Mama, aku hanya tersipu malu mendengarnya. “Kamu mengingatkan Mama ke puluhan tahun yang lalu, saat Mama dan Papa kamu di pesta dansa.”

“Seberapa miripnya sih, Ma?” tanyaku.

Mama hanya tersenyum, turun ke bawah dan kembali lagi ke kamar membawakan album foto. “Lihat, kamu benar-benar seperti Papa kamu, sayang!” ujar Mama sambil menunjukkan foto Mama dan Papa di saat masih seumuranku, di pesta dansa.

“Mama masih menyimpan foto yang diambil berpuluh tahun yang lalu?” tanyaku.

Mama tersenyum lalu mengelus rambutku pelan, “Mama sama Papa kalau sedang bertengkar pasti selalu membuka foto ini, untuk mengingatkan kejadian berpuluh tahun yang lalu, tentang kisah cinta Mama dan Papa.” Jelas Mama. “..foto ini selalu mengingatkan Mama dan Papa bahwa kami masih terus saling mencintai dari berpuluh tahun yang lalu sampai sekarang.” Mama meneteskan setetes air mata di akhir ucapannya.

“Aku harap, aku juga bisa kaya Mama dan Papa.”

“Amin, sayang. Sama siapapun akhirnya, kamu harus bisa menjaga cinta kamu ke pasangan kamu nanti.”

Aku mengangguk pelan sambil bertanya di dalam hati kepada diriku sendiri, ‘Apakah saat ini aku masih menjaga cinta Alfia?’ dan satu pertanyaan lagi, ‘siapa yang akan jadi pasanganku kelak?’

***

No comments:

Post a Comment