Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 23 )

***

Begitu turun dari mobil, ku lihat perempuan dengan kacamata hitamnya duduk di salah sebuah ayunan di bawah pohon tamanku dengan senyumnya yang khas.

Aly?

Aku langsung berlari mendekat begitu melihat sosok Aly di ayunan itu untuk menyapanya hangat.

“Al..” ucapanku terpotong begitu sosok itu membuka kaca mata hitamnya dan akhirnya baru ku sadari bahwa Ia bukan Aly, dia Alfia. “..fia.” ujarku yang awalnya ingin berkata Aly menjadi Alfia. Entah mengapa, ada rasa kecewa di benakku begitu mengetahui bahwa yang ku temui adalah Alfia bukan Aly.

“Habis dari mana?” tanyanya sambil mengayunkan ayunan yang Ia duduki.

“Jalan-jalan.” Balasku dan ikut duduk di ayunan kosong sampingnya.

Alfia menghentikan ayunannya lalu berdiri dan menarik tanganku. “Ke pantai yuk!”

“Mau ngapain?”

“Lihat matahari terbenam!”

Alfia masih terus menarik tanganku dan akhirnya ku turuti kemauannya untuk pergi ke pantai sore ini.


***


Aku turun dari mobil sambil mengalungi kamera slr yang wajib ku bawa, sedangkan Alfia begitu sampai langsung berlari menuju pasir pantai yang hangat.

Aku menghampiri Alfia yang sedang berdiri menghadap hamparan laut luas dengan kedua tangannya yang bertolak di pinggangnya.

Aku ikut berdiri di sampingnya, merangkul pinggangnya yang disambut oleh senderan kepala Alfia di bahuku.

“Grey..”

“Ya?”

“I love you.”

“Love you too.” Balasku lalu mencium kening Alfia masih menatap ke hamparan laut sore yang luas, menatap burung-burung yang berterbangan di langit luas, menatap orang-orang yang asik berenang di laut.


Sesaat kemudian, ku lepas rangkulanku di pinggang Alfia, lalu meminta izin untuk pergi sebentar.

Aku meninggalkan Alfia lalu berjalan ke sebuah toko di pinggir pantai yang menjual berbagai macam layang-layang yang berbentuk unik dan mempunyai warna yang indah.

Aku sibuk memilih layang-layang yang menurutku bagus sampai akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah layang-layang yang bentuknya mengingatkanku ke kejadian saat di SMA dulu. Kejadian dua tahun sebelum aku dan Alfia berpacaran.

Flashback-

Kami duduk melingkar di depan kelas, berhubung free class alias tidak ada guru yang masuk karena sedang rapat maka aku, Alfia, Jihan, Danty, Maria, Adit, Bayu dan Raka berencana untuk bermain truth or dare, permainan antara jujur dan nekat yang sudah menjadi permainan sehari-hari kami.

Raka bersiap untuk memutar botol minum milik Maria yang sudah tidak ada isinya, bersiap untuk menentukan siapa yang akan menjadi korban pertama permainan ini.

Botol itu berputar melewati kami semua seperti sedang mencari mangsa yang tepat, mencari mangsa pertama untuk permainan ini hingga akhirnya ujung botol berhenti tepat di..

“ALFIA!” seru kami serempak begitu botol itu berhenti tepat di Alfia, sedangkan Alfia dengan wajah kaget hanya bisa menerima jebakan apa yang akan kami berikan kepadanya.

“Truth or dare?” Tanya Danty kepada Alfia.

“Trr...” Alfia menggantungkan ucapannya, dan aku berharap Ia menjawab truth agar aku bisa bertanya siapa lelaki yang ada di hatinya. Karena aku ingin tahu apa Alfia juga mencintaiku?

“rrr..dare.” ujar Alfia santai yang membuatku kehilangan kesempatan untuk menanyakan perihal lelaki yang ada di hatinya saat ini.

“Dare? Oke.” Ucap Danty sambil pergi keluar dari lingkaran, berjalan ke mejanya lalu kembali lagi ke dalam lingkaran membawa sebuah tempat makan. Danty membuka tutup bekal itu dan terlihat burger yang berukuran jumbo di dalamnya. “Makan ini sampai habis dalam waktu maksimal tiga menit.” Ujar Danty dengan wajah yang penuh kejahilan.

Mata Alfia terbelalak begitu melihat burger berukuran jumbo itu apalagi begitu mendengar waktu tiga menit yang diujarkan Danty tadi. “tiga menit?” Tanya Alfia memastikan, Danty mengangguk sedangkan aku dan yang lain hanya menelan ludah membayangkan bagaimana bisa burger berukuran jumbo itu dihabiskan dalam waktu tiga menit dan juga membayangkan wajah Alfia dengan burger di dalam mulutnya itu.

“challenge accepted.” Seru Alfia dengan yakin tak yakin.

Bayu dan Maria mulai bersiap dengan penghitung waktu di ponsel Jihan, menunggu Jihan berkata mulai.

Burger sudah bersiap di depan mulut Alfia, hanya tinggal menunggu Jihan untuk memulai tantangan ini.

“Kamu yakin?” tanyaku ke Alfia.

“Kenapa enggak?” balas Alfia dengan santai yang malah membuatku tak yakin.

Jihan mulai memberi aba-aba, “3..2..1! Mulai!” serunya bersamaan dengan Bayu yang mulai menekan tombol start di aplikasi penghitung waktu dan Alfia pun dengan bersamaan mulai melahap burger berukuran jumbo tersebut.

Yang lain mulai bersorak memberi semangat kepada Alfia yang sedang melahap burger tersebut sedangkan ku lihat Jihan malah memotret Alfia yang menghasilkan foto dirinya dengan pipi yang berisikan burger.

“Yeahh! Before three minutes, guys!” sahut Alfia begitu burgernya habis hanya dalam waktu dua menit. Kami semua menatapnya berusaha mempercayai bahwa Alfia bisa menghabiskan burger berukuran besar itu hanya dalam waktu dua menit.

“Kenapa? Pada nggak percaya?” Tanya Alfia, kami menggeleng pelan.

“Eh by the way, liat nih!” Jihan menunjukkan hasil potretannya tadi. Jihan memamerkan foto Alfia yang pipi nya gembil berisikan burger dan wajahnya yang –tablo-. Kami semua tertawa begitu melihat foto Alfia yang mirip Winnie the Pooh itu, dan mulai saat itu Alfia lebih sering dipanggil dengan panggilan ‘pooh’. Nama panggilan kami semua untuknya.

Back-


Aku mengambil layang-layang yang berbentuk dan bergambar Winnie the pooh tersebut kemudian membawanya ke kasir untuk dibeli.

Layang-layang berwajah Alfia hehe maksudku Winnie the pooh sudah ada di tanganku, tetapi rasanya aku ingin memberikannya kejutan lewat layangan ini.

Ku pinjam spidol milik seorang bapak yang sedang asik mengisi buku teka teki silang di pinggir pantai lalu  mulai menggerakkan spidol ku di atas kertas layang-layang, menuliskan sesuatu.

Setelah selesai menulis di atas layang-layang, ku layangkan layang-layang ini di udara sambil berjalan dengan hati-hati mendekat ke Alfia yang terlihat sedang duduk di hamparan pasir pinggir pantai.

Aku berdiri di samping Alfia dengan pandangan tetap ke arah layang-layang yang melayang di udara.

“Grey?”

Alfia berdiri dari duduknya, mendekat ke padaku dan matanya menatap ke atas, ke layang-layang yang sedang asik ku terbangkan.

“prom?” Tanya Alfia lagi yang telah menyadari tulisan yang ada di layang-layang ini. Ya, spidol yang ku pinjam dari seorang bapak tadi ku gunakan untuk menulis ‘prom?’ di atas kertas ini.

“Prom?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya, memberi senyum ku yang terindah.

Alfia menggapai tanganku yang sedang menjaga benang layang-layang agar tetap di udara. Aku masih menatapnya, dan sesaat kemudian air matanya menetes jatuh ke pasir pantai sore yang hangat.

“Yes or no?” tanyaku lagi.

Alfia dengan cepat langsung memelukku, “You don’t need to ask this, of course I want!” ujarnya masih memelukku erat.

Ku alihkan benang ini ke tangan kananku lalu menurunkan tangan kiriku yang mendarat di punggung Alfia lalu menggapai rambutnya yang pajang. “Thanks.” Ujarku dan disambut anggukan kepala Alfia.

“How sweet you are, Grey!”

“How pretty you are, Pooh!”

Alfia langsung melepas pelukannya dan memukulku. “Daa ffuuu!! Aku baru nyadar kalo gambar layang-layang itu Pooh!”  Alfia masih terus menerus memukulku yang membuatku kesakitan, tertawa dan berlari berusaha menghindari pukulan ganas itu.

“Hahaha Pooh yang bisa makan burger jumbo dalam dua menit!” ledekku masih berlari dan memegangi benang.

“Gweyy!” Alfia masih terus berlari mengejarku dan memukulku sambil tertawa hingga akhirnya kami berebut layang-layang itu. “Hahahaha AWW!” Tiba-tiba Alfia menghentikan rebutannya, memegang jari telunjuknya sambil terus menjerit kesakitan aku yang mendengar jeritannya langsung melepaskan layang-layang tadi dan melihat apa yang terjadi dengan jari telunjuknya. Ternyata, jari telunjuk Alfia terbeset benang layang-layang yang membuat jarinya mengeluarkan darah.

Alfia masih terus menjerit perih sambil memegangi jari telunjuknya, aku yang melihat darah itu terus mengalir langsung berlari pergi membeli sebotol air mineral dan memaksa Alfia untuk mencelupkan jemarinya ke dalam botol air mineral ini.

Tetesan darah menyatu dengan air yang ada di dalam botol, mengubah warna air yang jernih berubah sedikit merah. Alfia menggigit ujung bibirnya untuk menahan rasa perih. Ku keluarkan jemari telunjuknya dari botol dan mengeringkan lukanya dengan tisu.

“Lukanya cukup dalam.” Ujarku. “But its okay.”

“Aku tahu, rasanya sangat perih tapi.” Alfia menunjuk telunjukku. “Grey, telunjukmu juga terbeset benang!”

Aku menunduk untuk melihat telunjukku yang ternyata juga mengeluarkan darah, aku bahkan tidak menyadari bahwa telunjukku juga terbeset benang layang-layang.

Alfia menarik tanganku dan mencelupkan telunjukku ke dalam botol air mineral yang tercampur darah Alfia tadi.

“Alfia..”

“Tadi kamu juga ngelakuin ini ke aku, kan.” Alfia mengeluarkan jemariku dari dalam botol lalu mengelap dengan tissue. “Its our blood.” Alfia menutup botol air mineral yang airnya tercampur darah kami berdua, lalu berdiri dan menarik tanganku berjalan ke pinggir laut.

Kaki kami berdua sudah terbaluti air laut sore yang hangat, Alfia menggenggam tanganku erat, lalu memintaku untuk bersama-sama memegang botol yang berisi darah kami berdua.

“Di hitungan ke tiga lempar botol ini bersama-sama, ya!” ujar Alfia. “..dan di hitungan ke satu dan ke dua, kita sama-sama berdoa di dalam hati untuk hubungan kita, Grey.”

Aku mengangguk mengerti.

“Satu..”

‘Ya Tuhan, berikan lah yang terbaik untuk kami berdua. Berikan lah apapun, asal yang terbaik untukku dan Alfia.’ Doaku dalam hati.

“Dua..”

‘..dan Ya Tuhan, berikanlah dan bawakan aku ke seseorang yang terbaik, yang akan benar benar mencintaiku, entah Alfia, Alyssa atau siapapun asalkan yang terbaik bagiMu. Bawalah aku kepadanya, ya Tuhan.’ Gumamku meminta kepadaNya di dalam hati.

“Tiga!”

Bertepatan dengan itu kami bersama-sama melemparkan botol itu ke tengah laut, lalu berpelukan.

“I love you so much, Grey.”

“I love you too.” Ku kecup kening Alfia, lalu kembali memeluknya erat.
Di tengah berpelukan dengan Alfia, aku bertanya-tanya apa yang dipinta Alfia di doanya tadi.

***

No comments:

Post a Comment