***
Begitu turun dari mobil, ku lihat perempuan dengan kacamata
hitamnya duduk di salah sebuah ayunan di bawah pohon tamanku dengan senyumnya
yang khas.
Aly?
Aku langsung berlari mendekat begitu melihat sosok Aly di ayunan
itu untuk menyapanya hangat.
“Al..” ucapanku terpotong begitu sosok itu membuka kaca mata
hitamnya dan akhirnya baru ku sadari bahwa Ia bukan Aly, dia Alfia. “..fia.”
ujarku yang awalnya ingin berkata Aly menjadi Alfia. Entah mengapa, ada rasa
kecewa di benakku begitu mengetahui bahwa yang ku temui adalah Alfia bukan Aly.
“Habis dari mana?” tanyanya sambil mengayunkan ayunan yang Ia
duduki.
“Jalan-jalan.” Balasku dan ikut duduk di ayunan kosong sampingnya.
Alfia menghentikan ayunannya lalu berdiri dan menarik tanganku.
“Ke pantai yuk!”
“Mau ngapain?”
“Lihat matahari terbenam!”
Alfia masih terus menarik tanganku dan akhirnya ku turuti
kemauannya untuk pergi ke pantai sore ini.
***
Aku turun dari mobil sambil mengalungi kamera slr yang wajib ku
bawa, sedangkan Alfia begitu sampai langsung berlari menuju pasir pantai yang
hangat.
Aku menghampiri Alfia yang sedang berdiri menghadap hamparan laut
luas dengan kedua tangannya yang bertolak di pinggangnya.
Aku ikut berdiri di sampingnya, merangkul pinggangnya yang
disambut oleh senderan kepala Alfia di bahuku.
“Grey..”
“Ya?”
“I love you.”
“Love you too.” Balasku lalu mencium kening Alfia masih menatap ke
hamparan laut sore yang luas, menatap burung-burung yang berterbangan di langit
luas, menatap orang-orang yang asik berenang di laut.
Sesaat kemudian, ku lepas rangkulanku di pinggang Alfia, lalu
meminta izin untuk pergi sebentar.
Aku meninggalkan Alfia lalu berjalan ke sebuah toko di pinggir
pantai yang menjual berbagai macam layang-layang yang berbentuk unik dan mempunyai
warna yang indah.
Aku sibuk memilih layang-layang yang menurutku bagus sampai
akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah layang-layang yang bentuknya
mengingatkanku ke kejadian saat di SMA dulu. Kejadian dua tahun sebelum aku dan
Alfia berpacaran.
Flashback-
Kami duduk melingkar di depan kelas, berhubung free class alias
tidak ada guru yang masuk karena sedang rapat maka aku, Alfia, Jihan, Danty,
Maria, Adit, Bayu dan Raka berencana untuk bermain truth or dare, permainan
antara jujur dan nekat yang sudah menjadi permainan sehari-hari kami.
Raka bersiap untuk memutar botol minum milik Maria yang sudah
tidak ada isinya, bersiap untuk menentukan siapa yang akan menjadi korban
pertama permainan ini.
Botol itu berputar melewati kami semua seperti sedang mencari
mangsa yang tepat, mencari mangsa pertama untuk permainan ini hingga akhirnya
ujung botol berhenti tepat di..
“ALFIA!” seru kami serempak begitu botol itu berhenti tepat di
Alfia, sedangkan Alfia dengan wajah kaget hanya bisa menerima jebakan apa yang
akan kami berikan kepadanya.
“Truth or dare?” Tanya Danty kepada Alfia.
“Trr...” Alfia menggantungkan ucapannya, dan aku berharap Ia
menjawab truth agar aku bisa bertanya siapa lelaki yang ada di hatinya. Karena
aku ingin tahu apa Alfia juga mencintaiku?
“rrr..dare.” ujar Alfia santai yang membuatku kehilangan
kesempatan untuk menanyakan perihal lelaki yang ada di hatinya saat ini.
“Dare? Oke.” Ucap Danty sambil pergi keluar dari lingkaran,
berjalan ke mejanya lalu kembali lagi ke dalam lingkaran membawa sebuah tempat
makan. Danty membuka tutup bekal itu dan terlihat burger yang berukuran jumbo
di dalamnya. “Makan ini sampai habis dalam waktu maksimal tiga menit.” Ujar
Danty dengan wajah yang penuh kejahilan.
Mata Alfia terbelalak begitu melihat burger berukuran jumbo itu
apalagi begitu mendengar waktu tiga menit yang diujarkan Danty tadi. “tiga
menit?” Tanya Alfia memastikan, Danty mengangguk sedangkan aku dan yang lain hanya
menelan ludah membayangkan bagaimana bisa burger berukuran jumbo itu dihabiskan
dalam waktu tiga menit dan juga membayangkan wajah Alfia dengan burger di dalam
mulutnya itu.
“challenge accepted.” Seru Alfia dengan yakin tak yakin.
Bayu dan Maria mulai bersiap dengan penghitung waktu di ponsel
Jihan, menunggu Jihan berkata mulai.
Burger sudah bersiap di depan mulut Alfia, hanya tinggal menunggu
Jihan untuk memulai tantangan ini.
“Kamu yakin?” tanyaku ke Alfia.
“Kenapa enggak?” balas Alfia dengan santai yang malah membuatku tak yakin.
Jihan mulai memberi aba-aba, “3..2..1! Mulai!” serunya bersamaan
dengan Bayu yang mulai menekan tombol start di aplikasi penghitung waktu dan
Alfia pun dengan bersamaan mulai melahap burger berukuran jumbo tersebut.
Yang lain mulai bersorak memberi semangat kepada Alfia yang sedang
melahap burger tersebut sedangkan ku lihat Jihan malah memotret Alfia yang
menghasilkan foto dirinya dengan pipi yang berisikan burger.
“Yeahh! Before three minutes, guys!” sahut Alfia begitu burgernya
habis hanya dalam waktu dua menit. Kami semua menatapnya berusaha mempercayai
bahwa Alfia bisa menghabiskan burger berukuran besar itu hanya dalam waktu dua
menit.
“Kenapa? Pada nggak percaya?” Tanya Alfia, kami menggeleng pelan.
“Eh by the way, liat nih!” Jihan menunjukkan hasil potretannya
tadi. Jihan memamerkan foto Alfia yang pipi nya gembil berisikan burger dan
wajahnya yang –tablo-. Kami semua tertawa begitu melihat foto Alfia yang mirip
Winnie the Pooh itu, dan mulai saat itu Alfia lebih sering dipanggil dengan
panggilan ‘pooh’. Nama panggilan kami semua untuknya.
Back-
Aku mengambil layang-layang yang berbentuk dan bergambar Winnie
the pooh tersebut kemudian membawanya ke kasir untuk dibeli.
Layang-layang berwajah Alfia hehe maksudku Winnie the pooh sudah
ada di tanganku, tetapi rasanya aku ingin memberikannya kejutan lewat layangan
ini.
Ku pinjam spidol milik seorang bapak yang sedang asik mengisi buku
teka teki silang di pinggir pantai lalu mulai menggerakkan spidol ku di atas kertas
layang-layang, menuliskan sesuatu.
Setelah selesai menulis di atas layang-layang, ku layangkan
layang-layang ini di udara sambil berjalan dengan hati-hati mendekat ke Alfia
yang terlihat sedang duduk di hamparan pasir pinggir pantai.
Aku berdiri di samping Alfia dengan pandangan tetap ke arah
layang-layang yang melayang di udara.
“Grey?”
Alfia berdiri dari duduknya, mendekat ke padaku dan matanya
menatap ke atas, ke layang-layang yang sedang asik ku terbangkan.
“prom?” Tanya Alfia lagi yang telah menyadari tulisan yang ada di
layang-layang ini. Ya, spidol yang ku pinjam dari seorang bapak tadi ku gunakan
untuk menulis ‘prom?’ di atas kertas ini.
“Prom?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya, memberi senyum ku yang
terindah.
Alfia menggapai tanganku yang sedang menjaga benang layang-layang
agar tetap di udara. Aku masih menatapnya, dan sesaat kemudian air matanya
menetes jatuh ke pasir pantai sore yang hangat.
“Yes or no?” tanyaku lagi.
Alfia dengan cepat langsung memelukku, “You don’t need to ask
this, of course I want!” ujarnya masih memelukku erat.
Ku alihkan benang ini ke tangan kananku lalu menurunkan tangan
kiriku yang mendarat di punggung Alfia lalu menggapai rambutnya yang pajang.
“Thanks.” Ujarku dan disambut anggukan kepala Alfia.
“How sweet you are, Grey!”
“How pretty you are, Pooh!”
Alfia langsung melepas pelukannya dan memukulku. “Daa ffuuu!! Aku
baru nyadar kalo gambar layang-layang itu Pooh!” Alfia masih terus menerus memukulku yang
membuatku kesakitan, tertawa dan berlari berusaha menghindari pukulan ganas
itu.
“Hahaha Pooh yang bisa makan burger jumbo dalam dua menit!”
ledekku masih berlari dan memegangi benang.
“Gweyy!” Alfia masih terus berlari mengejarku dan memukulku sambil
tertawa hingga akhirnya kami berebut layang-layang itu. “Hahahaha AWW!”
Tiba-tiba Alfia menghentikan rebutannya, memegang jari telunjuknya sambil terus
menjerit kesakitan aku yang mendengar jeritannya langsung melepaskan
layang-layang tadi dan melihat apa yang terjadi dengan jari telunjuknya.
Ternyata, jari telunjuk Alfia terbeset benang layang-layang yang membuat
jarinya mengeluarkan darah.
Alfia masih terus menjerit perih sambil memegangi jari
telunjuknya, aku yang melihat darah itu terus mengalir langsung berlari pergi
membeli sebotol air mineral dan memaksa Alfia untuk mencelupkan jemarinya ke
dalam botol air mineral ini.
Tetesan darah menyatu dengan air yang ada di dalam botol, mengubah
warna air yang jernih berubah sedikit merah. Alfia menggigit ujung bibirnya
untuk menahan rasa perih. Ku keluarkan jemari telunjuknya dari botol dan
mengeringkan lukanya dengan tisu.
“Lukanya cukup dalam.” Ujarku. “But its okay.”
“Aku tahu, rasanya sangat perih tapi.” Alfia menunjuk telunjukku.
“Grey, telunjukmu juga terbeset benang!”
Aku menunduk untuk melihat telunjukku yang ternyata juga
mengeluarkan darah, aku bahkan tidak menyadari bahwa telunjukku juga terbeset
benang layang-layang.
Alfia menarik tanganku dan mencelupkan telunjukku ke dalam botol
air mineral yang tercampur darah Alfia tadi.
“Alfia..”
“Tadi kamu juga ngelakuin ini ke aku, kan.” Alfia mengeluarkan
jemariku dari dalam botol lalu mengelap dengan tissue. “Its our blood.” Alfia
menutup botol air mineral yang airnya tercampur darah kami berdua, lalu berdiri
dan menarik tanganku berjalan ke pinggir laut.
Kaki kami berdua sudah terbaluti air laut sore yang hangat, Alfia
menggenggam tanganku erat, lalu memintaku untuk bersama-sama memegang botol
yang berisi darah kami berdua.
“Di hitungan ke tiga lempar botol ini bersama-sama, ya!” ujar
Alfia. “..dan di hitungan ke satu dan ke dua, kita sama-sama berdoa di dalam
hati untuk hubungan kita, Grey.”
Aku mengangguk mengerti.
“Satu..”
‘Ya Tuhan, berikan lah yang terbaik untuk kami berdua. Berikan lah
apapun, asal yang terbaik untukku dan Alfia.’ Doaku dalam hati.
“Dua..”
‘..dan Ya Tuhan, berikanlah dan bawakan aku ke seseorang yang terbaik,
yang akan benar benar mencintaiku, entah Alfia, Alyssa atau siapapun asalkan
yang terbaik bagiMu. Bawalah aku kepadanya, ya Tuhan.’ Gumamku meminta
kepadaNya di dalam hati.
“Tiga!”
Bertepatan dengan itu kami bersama-sama melemparkan botol itu ke tengah
laut, lalu berpelukan.
“I love you so much, Grey.”
“I love you too.” Ku kecup kening Alfia, lalu kembali memeluknya
erat.
Di tengah berpelukan dengan Alfia, aku bertanya-tanya apa yang
dipinta Alfia di doanya tadi.
***

No comments:
Post a Comment