Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 10 )

***

Ku ambil kertas itu, membuka lipatan-lipatan kertasnya, dan mulai membaca isi tulisan di dalam kertas itu.

' To : my lovely sweety baby,
greyson chance.

Baby, please.
Dont change your love for me.
Baby, please.
Promise me?

Im here, still loving you, still missing you.
Please do the same.

Can you?

Do you?

Babe, please.
I love you so much.

From all of my heart,
Alfia. '

Aku masih terdiam setelah membaca isi kertas itu.

Oh, God.

Did I change my love for Alfia?

Did I?

Please somebody tell me, did I change my love for Alfia?!

Did I?

C'mon please somebody tell me!!

DID I CHANGE THAT?!



Ku lempar semua barang yang ada di dekatku. Melempar bantal, guling, bahkan ponsel yang ada di sebelahku ku lempar ke bawah.

Aku benar-benar emosi.
Aku nggak sanggup nahan rasa ini.
Aku benar-benar bingung.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Apa yang sebenarnya sedang merasuki jiwaku?
Aku nggak tau.
Benar-benar nggak tau.

Ku hapus air mata yang turun deras membasahi pipiku, berusaha tenang, berusaha mencerna apa yang sedang ku alami, tetapi hasilnya nihil. Aku masih belum bisa mencerna semua ini.

"God please, who's in my heart? Who will stand right next to me?" Isakku di atas kasur sambil menangis.
Aku tahu, Tuhan mendengarku. Dan aku tahu, Tuhan akan memberikan jawaban dari pertanyaanku seiring waktu berlalu.
Tetapi, Tuhan. Aku butuh jawaban itu sekarang.

***

Mataku perlahan mulai membuka seiring cahaya matahari yang semakin terang. Menyilaukanku.

Ku lihat keadaan di sekelilingku, keadaan di dalam kamarku. Kamar ini terlihat seperti kapal pecah, sangat berantakan. Aku tahu ini karena ulahku semalam.

Aku bangun dari tempat tidur, lalu berjalan ke balkon kamar.

"No tears please for today." Ucapku nyaris berbisik di atas balkon sambil menatap pemandangan dari atas. Hari masih pagi, udara masih segar, dan ku harap hidupku hari ini akan lebih baik dari sebelumnya.

Aku kembali masuk ke dalam kamar. Merapikan semua barang yang berantakan gara-gara semalam. Aku nggak mau sampe Mom tau apa yang sedang terjadi kepada diriku.

Last night, I lost my self.

***

Begitu selesai membereskan barang-barang yang berantakan dan mandi, aku turun ke bawah menemui Mom untuk sarapan.

"Hello, sweety!" Sapa Mom dari dapur.
"Hai, mom!" Balasku kemudian duduk di kursi meja makan.
"Mata Grey kok bengkak?" Tanya mom dan langsung memegang kedua mataku.
"Its okay, mom."
"Grey kenapa? Cerita ke Mom dong."
"Nothing mom, everythings okay." Ucapku dan disambut senyum Mom walaupun senyumnya tidak sepenuhnya mempercayai perkataanku.

Biasanya aku selalu cerita ke Mom, cerita tentang berbagai macam hal, dari hal-hal sepele sampai hal terbesar yang pernah ku alami, tetapi ku rasa kali ini aku nggak mau melibatkan Mom. Aku udah 17 tahun. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Aku bukan anak kecil lagi. Aku harus bisa bersikap dewasa, karena yang sedang ku hadapi saat ini adalah tentang cinta. Cinta itu tentang perasaan, tentang perasaanku, jadi kurasa Mom juga nggak bisa membantu permasalahanku ini. Ini tentang cinta yang rumit.

"Grey dapet surat loh!" Mom membuyarkan lamunanku yang sedang memainkan sendok di atas meja.
"Surat apa, Mom?" Balasku.
"Coba aja liat di ruang tamu, belum Mom baca soalnya." Akupun langsung bangkit dari kursi dan berjalan menuju ruang tamu.

Di atas meja tamu tergeletak sebuah amplop yang warna-warni dengan hiasan-hiasan yang indah, aku tau ini pasti surat undangan prom night.

Ku ambil amplop itu, membuka dan melihat isinya dan benar perkiraanku bahwa ini memang surat undangan prom night.

"Surat apa, Grey?" Tanya mom dari belakang yang membuatku sedikit kaget.
"Oh surat undangan prom night, Mom." Jawabku.
"Prom night? Wah itu malam yang paling dinanti semua remaja loh!" Kata Mom.
"Really?"
"Mom sama Dad Scott pertama kali ketemu di prom night."
Bisa ku lihat wajah Mom yang malu-malu saat mengucapkan itu.
"Thats sweet!"
"Yeah, i know that. Terus Grey sama siapa ke prom night? Alfia kan lagi di UK."
"I dunno, Mom."
"Your friend? Grey punya teman perempuan kan?"
"Alfia memang nggak marah kalo Grey ke prom night sama perempuan lain?"
"Alfia pasti ngerti kok." Kata Mom sambil menepuk bahuku pelan. Oh God thanks for the best mom ever! "Jadi siapa yang bakal Grey bawa di prom night? Soalnya Mom punya beberapa baju yang bagus buat ke pesta dansa."
"Grey masih belum tau, Mom."
"Kalo gitu cepet cari pasangan! Keburu diambil orang lain loh!" Ledek Mom yang hanya ku balas dengan tawa.

Aku duduk di sofa dan memikirkan, siapa yang akan ku ajak ke prom night minggu depan?


***

No comments:

Post a Comment