***
Ku ambil parfum itu, kemudian menyemprotkan parfum itu ke
pergelangan tanganku dan ku hirup wangi parfum yang sangat ku kenal itu dan ku
sadari aku merindukan aroma parfum ini.
Kemudian ku ambil secarik kertas yang ada di dekat parfum itu.
Kertas yang bertuliskan,
'Spray the parfum if you miss me <3
-Alfia'
God. I miss this.
Ku hirup lagi aroma parfum khas Alfia dari pergelangan tanganku padahal sebelum Alfia pergi aku hanya perlu memeluk tubuhnya yang akan mengeluarkan aroma parfum itu. Tetapi sekarang?
Aku masih terduduk di bibir kasur, masih melakukan hal yang sama sedari tadi yaitu menghirup aroma khas ini, mungkin aku sedang sangat merindukan Alfia saat ini. Sangat merindukannya.
Flashback-
”Aku akan sangat merindukan momen ini, Alfia.” Ucapku sembari memeluk tubuh Alfia yang mengeluarkan aroma tubuh khasnya. Aroma khas yang selalu membuatku ingin memeluknya di setiap saat.
”Aku juga, Grey.”
”Aku akan sangat amat merindukan aroma tubuh khas kamu. Aroma khas yang selalu ada di setiap pelukan hangat itu.”
”Grey...”
Alfia melepas pelukanku, membuka tas kecil yang Ia bawa lalu mengeluarkan sebuah botol parfum yang hanya terisi separuhnya.
”Spray the parfum if you miss me, kay.”
Alfia menaruh parfum itu di telapak tanganku sembari tersenyum menatapku yang dilanjutkan oleh air mata yang jatuh dengan bebas dari kedua bola matanya.
Aku menatapnya dalam.
Menatap kedua bola mata cokelat indah itu yang berair.
Menatap pipinya yang basah.
Menatap senyum manis yang begitu pedih itu.
Aku hanya memikirkan, bagaimana kehidupanku nanti setelah Alfia pergi?
Siapa yang akan membuatku tersenyum dan tertawa dengan lepas di setiap waktu?
Siapa yang akan membuatku hangat dengan pelukan itu?
Siapa yang akan ku goda hingga wajahnya memerah?
Alfia menghapus air mata yang membasahi pipinya dan melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangannya.
”Aku harus pergi sekarang. Pesawat akan segera take off.”
Alfia menarik gagang kopernya dan tersenyum kepadaku sebelum berbalik badan.
Entah mengapa aku hanya terdiam mematung menatapnya berjalan menjauh dariku dan sesekali saat sedang berjalan Alfia mengusap pipinya. Aku tahu Ia menangis, tetapi mengapa aku hanya bisa berdiam diri menatapnya berlalu?
Tiba-tiba aku langsung berlari dengan cepat bersama air mata yang menetes di setiap langkah kaki hingga akhirnya seseorang yang sedang menarik koper itu berbalik badan yang langsung ku balas dengan pelukan yang sangat amat erat, hangat, dan basah karena air mata.
”Grey...”
Suara lembut itu terdengar di tengah-tengah pelukan hangat dan erat ini yang membuatku semakin memeluknya dengan erat, berharap waktu berhenti untuk sejenak saja agar aku bisa menikmati momen ini walau ku tahu itu mustahil.
”I love you.”
Suara lembut itu terdengar lagi tetapi suara ini membuatku melepas pelukan ini perlahan, menatap wajahnya yang basah di penuhi air mata.
”Love you mo-”
Ucapanku terpotong karena Alfia langsung mendaratkan bibirnya di pipiku kemudian memelukku dengan amat sangat erat dan menghapus air mata yang membasahi pipiku.
”Aku harus pergi sekarang. I love you, Greyson. Bye.”
Alfia tersenyum kepadaku lagi sebelum berbalik badan dan berlari masuk ke dalam bandara sedangkan aku masih berdiri di tempat memandangnya berlalu.
Bodohnya, aku masih terus terdiam menatapnya masuk ke dalam ruangan, aku tidak melakukan apapun seperti meneriakkan namanya atau melambai kepadanya. Mungkin aku tidak kuat melakukan itu semua. Mungkin aku masih belum bisa menerima kepergian Alfia ke Inggris.
Tubuh Alfia masih terlihat dari balik pembatas kaca walaupun semakin lama semakin kecil dan ku rasa Alfia tidak akan berbalik badan dan memelukku lagi, mungkin tadi pelukan terakhir sebelum Ia pergi ke Inggris.
Tetapi ternyata Alfia berbalik badan kemudian melambaikan tangan ke padaku dari kejauhan dan aku pun membalas lambaian tangan itu.
Dan itulah terakhir kalinya aku melihat wajah Alfia sebelum akhirnya Ia pergi dari Indonesia.
Back-
Ku tatap langit-langit kamar, memikirkan apa aku sekarang sudah benar-benar berubah? Apa terjadi suatu perubahan di dalam diriku? Atau mungkin di dalam hidupku?
Am I changed?
Life changed?
***
Di saat sedang melahap sarapan nasi goreng buatanku yang entah layak atau tidak untuk dimakan, bel rumahku berbunyi menandakan ada yang datang.
Dengan malas aku bangkit dari kursi makan dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
”Carmel? Aly?” Spontanku begitu melihat mereka berdua berdiri di depan pintu rumahku. Lalu ku lirik jam yang melingkar di tanganku, hey ini masih pukul setengah tujuh pagi?
”Aku tahu kamu pasti bingung karena ini masih pukul setengah tujuh pagi. Mm, aku ada kerja dadakan jadi maaf aku tiba-tiba langsung datang ke rumah kamu sama Aly.”
”Gapapa kok.” Balasku.
Carmel mendekat kepadaku kemudian berbisik, ”buat Aly senang ya hari ini sampai dua hari ke depan, dua hari lagi sweet seventeennya. Sebenarnya aku nggak ada kerja dadakan, tapi mau beli hadiah buat dia.”
Aku hanya mengangguk mengerti. Jadi lusa adalah ulangtahun Aly yang ke tujuh belas? Bertepatan dengan prom night?
”Have fun with Greyson ya, Aly!” Kata Carmel selagi memeluk Aly sedangkan Aly hanya terdiam tidak membalas perkataan Carmel.
Carmel melambaikan tangan kepada kami-atau mungkin hanya kepadaku cause you know what happen with Aly- lalu berlalu dengan mobil yang Ia kendarai.
”Ayo masuk.” Ajakku sambil merangkul pinggang Aly mempersilahkannya masuk ke dalam tetapi tidak ada balasan dari Aly.
Ku bantu Aly duduk di sofa kemudian ku nyalakan televisi.
”Sudah sarapan?” Tanyaku sembari mengganti channel televisi.
Aly hanya mengangguk.
”Mau minum?” Tanyaku lagi yang hanya dibalas dengan sebuah gelengan.
”Ada masalah?” Tanyaku untuk ketiga kalinya tetapi kali ini Aly tidak membalas pertanyaanku. Tidak mengangguk, tidak menggeleng dan tidak berbicara.
”Jangan dikacangin dong.”
Aly masih terdiam.
”Lagi bete?”
Aly lagi-lagi tidak menjawab dan aku hanya menghela nafas panjang.
”Kenapa aku kaya gini, Grey? Kenapa takdirku seperti ini?” Tanyanya lembut dengan ekspresi datar.
Akhirnya Aly membuka mulut yang membuatku sedikit lega, tetapi tidak untuk kata-kata yang keluar dari mulutnya.
”Maksud kamu apa sih?”
”Aku tahu kamu ngerti apa yang ku maksud.”
”Aly, aku nggak ngerti.”
”KENAPA AKU HARUS BUTA?! KENAPA TAKDIRKU SEPERTI INI?! KENAPA SEMUA INI HARUS TERJADI KEPADAKU?! KENAPA NGGAK ORANG LAIN AJA?!” Ucapnya dengan getaran dari kata per kata, Ia menangis kencang atau bisa dibilang sangat kencang dan sangat pedih untuk didengar.
Aku mendekat dan memeluknya pelan, membiarkan semua air mata Aly jatuh ke bahuku dan mempererat pelukan ini untuk meredam getaran tangisannya.
”Tuhan memberikannya kepada kamu karena Tuhan tahu kamu sanggup.”
”Kamu bisa bilang itu karena kamu nggak tahu rasanya jadi aku, Grey!” Ucap Aly dengan nada sedikit membentak. Aku cuma diam masih memeluknya erat dan merasakan hangatnya air mata Aly yang membasahi bahuku.
”Hidupku nggak bebas, selalu bergantung dengan orang lain, aku nggak bisa melihat dunia luar, aku nggak bisa melihat wajahku di depan kaca, aku nggak bisa menjalani hidupku layaknya remaja normal lainnya, aku nggak bisa melihat wajah-wajah orang yang ada di sekelilingku, apa kamu pikir aku sanggup menjalani hidup seperti ini selamanya? Ini semua nggak adil, Grey! Sangat tidak adil!”
Tubuh Aly sangat bergetar karena tangisannya yang membuatku semakin memeluknya dengan erat.
”Stop, Aly.”
”Kamu nggak ngerti rasanya jadi aku, Grey. Kamu nggak ngerti. Nggak ada yang pernah ngerti.”
”Aku ngerti, Aly.”
”Nggak, kamu nggak ngerti. Kamu nggak pernah ngerti gimana rasanya jadi aku, kamu nggak pernah ngerti betapa sakitnya aku yang cuma bisa duduk di rumah dengan pandangan kosong disaat remaja seumuranku sedang asik hang out dengan teman-temannya, kamu nggak pernah ngerti betapa tidak bebasnya aku yang selalu bergantung dengan orang lain, nggak ada yang pernah ngerti tentang kehidupanku, Grey. Dan nggak ada satu pun di dunia ini yang menyayangiku dengan tulus...”
”Aly, I'm here.”
Ku lepas pelukan ini untuk melihat wajahnya yang di penuhi dengan air mata,
”Aku tulus.” Ucapku sembari menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Aly hanya terdiam dengan pandangan kosongnya.
”Nggak. Kamu cuma disuruh Carmel, itu bukan tulus namanya.”
”Awalnya memang disuruh Carmel tapi sekarang? Aku rasa aku tulus.”
”Cuma kamu rasa kan?”
Aku hanya menghela nafas kemudian mengajaknya berdiri.
”Mau kemana?” Tanya Aly. Aku sengaja nggak membalas pertanyaannya dan hanya merangkulnya dari belakang, membawanya ke suatu tempat.
Kemudian ku ambil secarik kertas yang ada di dekat parfum itu.
Kertas yang bertuliskan,
'Spray the parfum if you miss me <3
-Alfia'
God. I miss this.
Ku hirup lagi aroma parfum khas Alfia dari pergelangan tanganku padahal sebelum Alfia pergi aku hanya perlu memeluk tubuhnya yang akan mengeluarkan aroma parfum itu. Tetapi sekarang?
Aku masih terduduk di bibir kasur, masih melakukan hal yang sama sedari tadi yaitu menghirup aroma khas ini, mungkin aku sedang sangat merindukan Alfia saat ini. Sangat merindukannya.
Flashback-
”Aku akan sangat merindukan momen ini, Alfia.” Ucapku sembari memeluk tubuh Alfia yang mengeluarkan aroma tubuh khasnya. Aroma khas yang selalu membuatku ingin memeluknya di setiap saat.
”Aku juga, Grey.”
”Aku akan sangat amat merindukan aroma tubuh khas kamu. Aroma khas yang selalu ada di setiap pelukan hangat itu.”
”Grey...”
Alfia melepas pelukanku, membuka tas kecil yang Ia bawa lalu mengeluarkan sebuah botol parfum yang hanya terisi separuhnya.
”Spray the parfum if you miss me, kay.”
Alfia menaruh parfum itu di telapak tanganku sembari tersenyum menatapku yang dilanjutkan oleh air mata yang jatuh dengan bebas dari kedua bola matanya.
Aku menatapnya dalam.
Menatap kedua bola mata cokelat indah itu yang berair.
Menatap pipinya yang basah.
Menatap senyum manis yang begitu pedih itu.
Aku hanya memikirkan, bagaimana kehidupanku nanti setelah Alfia pergi?
Siapa yang akan membuatku tersenyum dan tertawa dengan lepas di setiap waktu?
Siapa yang akan membuatku hangat dengan pelukan itu?
Siapa yang akan ku goda hingga wajahnya memerah?
Alfia menghapus air mata yang membasahi pipinya dan melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangannya.
”Aku harus pergi sekarang. Pesawat akan segera take off.”
Alfia menarik gagang kopernya dan tersenyum kepadaku sebelum berbalik badan.
Entah mengapa aku hanya terdiam mematung menatapnya berjalan menjauh dariku dan sesekali saat sedang berjalan Alfia mengusap pipinya. Aku tahu Ia menangis, tetapi mengapa aku hanya bisa berdiam diri menatapnya berlalu?
Tiba-tiba aku langsung berlari dengan cepat bersama air mata yang menetes di setiap langkah kaki hingga akhirnya seseorang yang sedang menarik koper itu berbalik badan yang langsung ku balas dengan pelukan yang sangat amat erat, hangat, dan basah karena air mata.
”Grey...”
Suara lembut itu terdengar di tengah-tengah pelukan hangat dan erat ini yang membuatku semakin memeluknya dengan erat, berharap waktu berhenti untuk sejenak saja agar aku bisa menikmati momen ini walau ku tahu itu mustahil.
”I love you.”
Suara lembut itu terdengar lagi tetapi suara ini membuatku melepas pelukan ini perlahan, menatap wajahnya yang basah di penuhi air mata.
”Love you mo-”
Ucapanku terpotong karena Alfia langsung mendaratkan bibirnya di pipiku kemudian memelukku dengan amat sangat erat dan menghapus air mata yang membasahi pipiku.
”Aku harus pergi sekarang. I love you, Greyson. Bye.”
Alfia tersenyum kepadaku lagi sebelum berbalik badan dan berlari masuk ke dalam bandara sedangkan aku masih berdiri di tempat memandangnya berlalu.
Bodohnya, aku masih terus terdiam menatapnya masuk ke dalam ruangan, aku tidak melakukan apapun seperti meneriakkan namanya atau melambai kepadanya. Mungkin aku tidak kuat melakukan itu semua. Mungkin aku masih belum bisa menerima kepergian Alfia ke Inggris.
Tubuh Alfia masih terlihat dari balik pembatas kaca walaupun semakin lama semakin kecil dan ku rasa Alfia tidak akan berbalik badan dan memelukku lagi, mungkin tadi pelukan terakhir sebelum Ia pergi ke Inggris.
Tetapi ternyata Alfia berbalik badan kemudian melambaikan tangan ke padaku dari kejauhan dan aku pun membalas lambaian tangan itu.
Dan itulah terakhir kalinya aku melihat wajah Alfia sebelum akhirnya Ia pergi dari Indonesia.
Back-
Ku tatap langit-langit kamar, memikirkan apa aku sekarang sudah benar-benar berubah? Apa terjadi suatu perubahan di dalam diriku? Atau mungkin di dalam hidupku?
Am I changed?
Life changed?
***
Di saat sedang melahap sarapan nasi goreng buatanku yang entah layak atau tidak untuk dimakan, bel rumahku berbunyi menandakan ada yang datang.
Dengan malas aku bangkit dari kursi makan dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
”Carmel? Aly?” Spontanku begitu melihat mereka berdua berdiri di depan pintu rumahku. Lalu ku lirik jam yang melingkar di tanganku, hey ini masih pukul setengah tujuh pagi?
”Aku tahu kamu pasti bingung karena ini masih pukul setengah tujuh pagi. Mm, aku ada kerja dadakan jadi maaf aku tiba-tiba langsung datang ke rumah kamu sama Aly.”
”Gapapa kok.” Balasku.
Carmel mendekat kepadaku kemudian berbisik, ”buat Aly senang ya hari ini sampai dua hari ke depan, dua hari lagi sweet seventeennya. Sebenarnya aku nggak ada kerja dadakan, tapi mau beli hadiah buat dia.”
Aku hanya mengangguk mengerti. Jadi lusa adalah ulangtahun Aly yang ke tujuh belas? Bertepatan dengan prom night?
”Have fun with Greyson ya, Aly!” Kata Carmel selagi memeluk Aly sedangkan Aly hanya terdiam tidak membalas perkataan Carmel.
Carmel melambaikan tangan kepada kami-atau mungkin hanya kepadaku cause you know what happen with Aly- lalu berlalu dengan mobil yang Ia kendarai.
”Ayo masuk.” Ajakku sambil merangkul pinggang Aly mempersilahkannya masuk ke dalam tetapi tidak ada balasan dari Aly.
Ku bantu Aly duduk di sofa kemudian ku nyalakan televisi.
”Sudah sarapan?” Tanyaku sembari mengganti channel televisi.
Aly hanya mengangguk.
”Mau minum?” Tanyaku lagi yang hanya dibalas dengan sebuah gelengan.
”Ada masalah?” Tanyaku untuk ketiga kalinya tetapi kali ini Aly tidak membalas pertanyaanku. Tidak mengangguk, tidak menggeleng dan tidak berbicara.
”Jangan dikacangin dong.”
Aly masih terdiam.
”Lagi bete?”
Aly lagi-lagi tidak menjawab dan aku hanya menghela nafas panjang.
”Kenapa aku kaya gini, Grey? Kenapa takdirku seperti ini?” Tanyanya lembut dengan ekspresi datar.
Akhirnya Aly membuka mulut yang membuatku sedikit lega, tetapi tidak untuk kata-kata yang keluar dari mulutnya.
”Maksud kamu apa sih?”
”Aku tahu kamu ngerti apa yang ku maksud.”
”Aly, aku nggak ngerti.”
”KENAPA AKU HARUS BUTA?! KENAPA TAKDIRKU SEPERTI INI?! KENAPA SEMUA INI HARUS TERJADI KEPADAKU?! KENAPA NGGAK ORANG LAIN AJA?!” Ucapnya dengan getaran dari kata per kata, Ia menangis kencang atau bisa dibilang sangat kencang dan sangat pedih untuk didengar.
Aku mendekat dan memeluknya pelan, membiarkan semua air mata Aly jatuh ke bahuku dan mempererat pelukan ini untuk meredam getaran tangisannya.
”Tuhan memberikannya kepada kamu karena Tuhan tahu kamu sanggup.”
”Kamu bisa bilang itu karena kamu nggak tahu rasanya jadi aku, Grey!” Ucap Aly dengan nada sedikit membentak. Aku cuma diam masih memeluknya erat dan merasakan hangatnya air mata Aly yang membasahi bahuku.
”Hidupku nggak bebas, selalu bergantung dengan orang lain, aku nggak bisa melihat dunia luar, aku nggak bisa melihat wajahku di depan kaca, aku nggak bisa menjalani hidupku layaknya remaja normal lainnya, aku nggak bisa melihat wajah-wajah orang yang ada di sekelilingku, apa kamu pikir aku sanggup menjalani hidup seperti ini selamanya? Ini semua nggak adil, Grey! Sangat tidak adil!”
Tubuh Aly sangat bergetar karena tangisannya yang membuatku semakin memeluknya dengan erat.
”Stop, Aly.”
”Kamu nggak ngerti rasanya jadi aku, Grey. Kamu nggak ngerti. Nggak ada yang pernah ngerti.”
”Aku ngerti, Aly.”
”Nggak, kamu nggak ngerti. Kamu nggak pernah ngerti gimana rasanya jadi aku, kamu nggak pernah ngerti betapa sakitnya aku yang cuma bisa duduk di rumah dengan pandangan kosong disaat remaja seumuranku sedang asik hang out dengan teman-temannya, kamu nggak pernah ngerti betapa tidak bebasnya aku yang selalu bergantung dengan orang lain, nggak ada yang pernah ngerti tentang kehidupanku, Grey. Dan nggak ada satu pun di dunia ini yang menyayangiku dengan tulus...”
”Aly, I'm here.”
Ku lepas pelukan ini untuk melihat wajahnya yang di penuhi dengan air mata,
”Aku tulus.” Ucapku sembari menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Aly hanya terdiam dengan pandangan kosongnya.
”Nggak. Kamu cuma disuruh Carmel, itu bukan tulus namanya.”
”Awalnya memang disuruh Carmel tapi sekarang? Aku rasa aku tulus.”
”Cuma kamu rasa kan?”
Aku hanya menghela nafas kemudian mengajaknya berdiri.
”Mau kemana?” Tanya Aly. Aku sengaja nggak membalas pertanyaannya dan hanya merangkulnya dari belakang, membawanya ke suatu tempat.
***
No comments:
Post a Comment