***
Ku panaskan mesin mobil sejenak sebelum berangkat, tetapi aku baru
menyadari bahwa ada sebuket bunga mawar merah di jok sebelahku. Aku terheran
dan mengambil buket itu yang ada secarik kertas kecilnya yang bertuliskan, ‘for
Alfia <3’.
Tunggu, untuk Alfia? Siapa yang menaruh ini? Padahal aku sendiri
tidak membeli bunga untuk Alfia.
“Kenapa, sayang?” Tanya Mama yang tiba-tiba muncul di balik
jendela mobil. “Oh, bunga itu?”
“Siapa yang taruh ini buat Alfia?”
Mama terkekeh pelan, “Mama.”
“Mama?”
“Iya, kenapa? Mama sengaja beliin buket bunga buat Alfia, ini kan
prom night yaitu malam yang special, masa kamu nggak kasih apa-apa ke dia?”
jelas Mama. “Mama kan perempuan, jadi Mama tahu apa yang perempuan mau. Kamu
harus lebih peka, Grey.”
“Oh, iya, Ma. Makasih ya! Aku nggak tahu bakal gimana kalo nggak
ada Mama.”
Mama mencubit pipiku pelan, “Sama-sama, sayang! Mending sekarang kamu berangkat daripada
nanti terlambat.”
Aku mengangguk sambil bersiap-siap menginjak gas, “Bye, Ma!”
“Bye! Take care, honey!” ucap Mama yang hanya ku balas dengan
lambaian tangan lalu pergi meninggalkan rumah untuk pergi ke Kampus Universitas
Indonesia yang berada di kawasan Depok daerah Jakarta Timur yaitu tempat
diselenggarakannya acara malam ini.
***
Ku kendarai mobilku masuk ke dalam kawasan Kampus UI yang di
sepanjang jalannya sudah dipasang berbagai macam hiasan seperti lampu-lampu
kecil berwarna-warni yang dipasang untuk menghiasi pohon-pohon di sepanjang
jalanan, dan juga dilengkapi petunjuk arah tempat diselenggarakan acara yang
dibuat semenarik mungkin.
Ku jalankan mobil mengikuti petunjuk-petunjuk arah yang tersedia
hingga akhirnya sampai di tempat parkiran.
Setelah ku parkirkan mobil, ku ikuti lagi petunjuk-petunjuk arah
menuju tempat acara, dan di saat berjalan ku lihat tamu-tamu yang datang sudah
bersama pasangannya masing-masing, sedangkan aku hanya sendiri dan sedang
mencari Alfia.
Akhirnya aku sampai di tempat diselenggarakan acara ini. Tempat
yang bisa membuat mata berhenti mengedip saking indahnya. Tempat
diselenggarakannya acara ini berada di dekat danau yang cukup luas, dengan
lampu-lampu kemirlap yang menggantung di pohon-pohon sekeliling danau, panggung
pun juga tersedia dengan megah dan dengan tampilan yang mengagumkan, dan
feeling ku acara ini akan sangat-sangat mengagumkan karena prom night ini bukan
diadakan di dalam gedung atau ruangan melainkan di alam terbuka, yaitu di dekat
danau yang luas dan cantik!
Yang datang rata-rata sudah mengumpul bersama pasangannya
masing-masing, sedangkan aku bahkan sama sekali tidak melihat batang hidung
Alfia. Tamu yang banyak mungkin menjadi alasan mengapa sangat sulit untuk
melihat batang hidung Alfia saat ini.
Aku terus berkeliling untuk mencari Alfia tetapi hasilnya aku juga
belum menemuinya, apa mungkin Ia dan Jihan belum datang?
Pandanganku tertuju kepada seorang perempuan mengenakan gaun
selutut berwarna merah muda yang lembut sedang berbincang bersama seorang
lelaki di tepi danau, aku sangat mengenal perempuan itu, dan langsung saja ku
hampiri perempuan itu dan menepuk pundaknya pelan.
“Jihan?” seruku.
“Hei, Grey!” balasnya. “You look awesome tonight!” lanjutnya
memujiku.
“Thanks, you too. You look pretty!” balasku memuji.
“Hehe, thank you.” Ucapnya.
Aku menoleh ke lelaki yang tadi berbincang dengan Jihan, “Hello,
Frans.” Sapaku sambil mengulurkan tangan.
Frans membalas uluran tanganku, “Hai, Greyson.” Balasnya.
“um, Alfia mana?” tanyaku.
“Nggak tahu, Grey. Dia sih tadi bilang pingin keliling aja.” Jawab
Jihan.
“Sendirian?” tanyaku sedikit panik. Tahu sendiri bahwa tamu yang
datang sangat banyak dan Alfia berkeliling sendirian? Wajar kan kalau aku
panik.
Aku langsung berlari mencari Alfia, aku nggak mau ada apa-apa
dengan Alfia di tengah kerumunan ini, apalagi Ia sendirian di tengah orang
banyak.
Ku cari Alfia sampai tempat parkir, tetapi hasilnya nihil, aku
tidak melihat batang hidungnya.
Di saat melintasi mobilku yang sudah terpakir rapih, aku baru teringat
dengan sebuket bunga yang ditaruh Mama di dalam mobil, aku lupa untuk
mengeluarkannya dan akhirnya ku buka
mobil untuk mengambil buket itu.
Sekarang buket bunga mawar merah ini sudah ada digenggamanku, yang
ku butuhkan saat ini adalah orang yang berhak menerimanya seperti yang sudah
tertera di secarik kertas di buket ini, yaitu Alfia.
Aku berjalan masih dengan mata yang jelalatan mencari Alfia,
mencari pasanganku malam ini.
Saat berjalan ku dengar suara dencing ayunan yang sedang
dimainkan, suara ini membuatku bergerak dan langsung mencari sumber suara itu.
Mungkin itu Alfia, pikirku.
Dengan bermodalkan pendengaran telinga, ku dekati sumber suara itu
masih dengan buket bunga mawar merah yang masih cukup segar di genggamanku dan
akhirnya aku sampai di sumber suara itu.
Perempuan mengenakan dress sedang mengayunkan ayunannya sendirian,
rambutnya yang hitam ikal mengayun mengikuti ayunan itu, aku tidak tahu jelas siapa dia
karena hanya melihatnya dari belakang tetapi ku harap Ia adalah seseorang yang
sedang ku cari saat ini.
Ku langkahkan kaki perlahan supaya tidak terdeteksi olehnya yang
sedang bersenandung kecil.
“That should be me holding your hand, that should be me making you
laugh, that should be me this is so sad, that should be me..” senandungnya
kecil, dan aku tahu siapa dia berdasarkan suara itu.
“..yeah that should be me.” Lanjutku seraya meraih tangannya yang
sedang memegang tali ayunan itu, dan Ia pun menghentikan senandungnya dan
menoleh ke arahku.
“Grey,”
“That should be me giving you flowers.” Ucapku sambil memberinya
sebuket bunga mawar merah tadi. Benar, seseorang di atas ayunan itu adalah
seseorang yang berhak menerima buket ini, yaitu Alfia.
Alfia menerima buket pemberian dariku lalu mencium aromanya
sejenak, dan jujur saat Alfia mendekatkan wajahnya untuk mencium aroma bunga
itu mengingatkanku kepada Alyssa di taman sesaat sebelum hujan turun pada hari
itu.
“Makasih, Grey. Aku suka banget sama bunga mawar merah.” Ujarnya.
“Sama-sama, Alfia. Apa yang enggak buat kamu?” balasku.
Alfia hanya tersenyum tipis lalu bangun dari duduknya dan berdiri
mendekatiku. Di saat Ia berdiri aku terkagum-kagum dengan kecantikannya yang
menggunakan dress berwarna biru
dan aku juga baru menyadari bahwa rambut Alfia malam ini berbeda, Ia
mengikalkan rambutnya yang menambah pesona kecantikannya malam ini.
Ku raih tangan Alfia yang disambut senderan kepala Alfia
di pundakku seraya berjalan pelan berdua menuju tempat acara diselenggarakan,
yaitu di pinggir danau.
“Kamu cantik banget malam ini.” Pujiku.
Alfia tersipu malu, “Kamu tampan banget malam ini, Grey.”
Balasnya. “Biasanya kamu cuma pake kaus dan celana panjang, tapi malam ini?
Kamu tampil benar-benar beda.”
“Kamu juga, aku suka dress biru dan rambut curly kamu, sangat
sangat pas!”
“Hehe, thanks.”
Akhirnya kami berdua sudah berkumpul di pinggir danau,
menyatu dengan tamu-tamu yang datang, menyatu ke dalam acara yang sebentar lagi
akan dimulai.
Ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tangan yang
menunjukkan pukul tujuh malam dan seharusnya acara ini sudah dimulai.
“Sebentar lagi.” Ucapku.
“Ya, sekarang sudah jam tujuh, kan? Dan acara mulai jam
tujuh.” Balas Alfia, aku mengangguk.
Tak lama kemudian terdengar suara mic yang diketuk-ketuk
seperti sedang mengetes suara. Semua orang tertuju pada seorang lelaki paruh
baya berjas rapih yang sedang berdiri di atas panggung dengan mic di depannya.
“Selamat malam semuanya! Bagaimana menurut kalian sejauh
ini tentang penataan acara malam ini?” serunya dengan semangat, dan disambut
teriak dan tepuk tangan yang meriah dari tamu-tamu yang datang seakan-akan
mengatakan ‘menakjubkan’ membalas perkataan lelaki paruh baya itu.
“Saya Bapak Toni Adrinawan selaku ketua penyelenggara
acara ini sangat berterimakasih kepada tamu-tamu undangan yang sudah mau
datang, dan selamat datang untuk para
mahasiswa dan mahasiswi baru Universitas Indonesia!!”
Lagi-lagi perkataannya disambut temput tangan yang
meriah, tak kecuali aku dan Alfia yang juga ikut bertepuk tangan.
Lelaki di panggung alias Bapak Toni Adrinawan itu
tersenyum mendengar tepuk tangan meriah dari para tamu, “Kalian semua tahu
bahwa Universitas Indonesia adalah Universitas besar di Indonesia dan oleh
sebab itu lah saya tidak mau menyia-nyiakan ini, jadi malam ini akan menjadi
malam yang sangat sangat istimewa!” jelas Bapak Toni.
“Mau tahu mengapa istimewa? Karena acara malam ini akan
diisi dengan berbagai macam aktivitas seru!”
Semua orang bertepuk tangan lagi.
“Baiklah, saya akan bacakan daftar acara malam ini.” Ia mengeluarkan kertas dari sakunya. “Acara-acaranya
adalah games, dance, acara panggung bebas dimana kalian bisa mengekspresikan
diri kalian di atas panggung dengan bebas, dan slow dance.”
Aku menoleh ke Alfia disaat mendengar kata slow dance,
“Kita nggak pernah latihan, loh.” Ujarku.
Alfia terkekeh pelan, “Buat apa latihan? Just enjoy it,
Grey.” Ucapnya yang ku balas dengan senyum.
“and the party starts.. right now!” seru Bapak Toni
Adrinawan yang terus menerus disambut tepuk tangan meriah dari para tamu,
setelah itu Bapak Toni turun dari panggung dan digantikan oleh naiknya
seseorang dengan gaya ala DJ.
“Vas happeninn everyone?” sapa DJ itu.
“Vas happenin? Kaya Zayn Malik aja.” Celoteh Alfia yang
membuatku tertawa geli melihat ekspresinya.
“Start this party right now, huh?” ledek DJ itu yang
membuat semua orang tak terkecuali aku dan
Alfia berteriak.
“Kay..” DJ itu mengotak-atik alat yang ada di depannya dan
tak lama kemudian lagu Starships dari Nicki Minaj terdengar. “Pemanasan dulu
sebelum acara mulai, okeee!”
“Aaaaaaaaaaa” teriak para tamu yang datang begitu juga
kami berdua yang ikut terbawa suasana.
“I'm on the floor, floor
I love to dance
So give me more more, till I can't stand
Get on the floor, floor
Like it's your last chance
If you want more, more
Then here I am!” nyanyi kami serempak sambil meloncat mengikuti nada lagu tersebut.
So give me more more, till I can't stand
Get on the floor, floor
Like it's your last chance
If you want more, more
Then here I am!” nyanyi kami serempak sambil meloncat mengikuti nada lagu tersebut.
“Starships were meant to fly
Hands up, and touch the sky
Can't stop, 'cause we're so high
Let's do this one more timeeee!!” nyanyi Alfia keras seraya meloncat mengikuti irama, sedangkan aku hanya tertawa melihat tingkahnya.
Hands up, and touch the sky
Can't stop, 'cause we're so high
Let's do this one more timeeee!!” nyanyi Alfia keras seraya meloncat mengikuti irama, sedangkan aku hanya tertawa melihat tingkahnya.
“What? Kenapa ketawa?” Tanya Alfia padaku dan
menghentikan loncatannya.
“Lucu aja, ngeliat kamu loncat-loncat sambil nyanyi
gitu.” Jawabku terus terang.
Alfia malah terkekeh lalu melepas high heels yang Ia
pakai, “Tadi itu belum seberapa karena make high heels.” Ucapnya dan tiba-tiba
menarik tanganku lalu berlari ke depan mendekat ke panggung, ke tengah
kerumanan orang-orang yang sedang asik bernyanyi dan meloncat-loncat.
Begitu sudah berada di tengah kerumunan, Alfia berhenti
menarikku dan ikut bernyanyi seperti yang lainnya dengan sepatu high heelsnya
yang ditenteng.
“Cmon, Grey! Join with us!” seru Alfia sambil menarik
tanganku untuk ikut meloncat. Aku pun mencoba untuk mengikuti apa yang mereka
lakukan dan ternyata ini asik juga.
***
Ku bawakan Alfia minum lalu bersulang setelah asik
meloncat-loncat di tengah kerumunan orang yang cukup melelahkan itu.
“Games dimulai jam berapa?” Tanya Jihan yang sedang
bergabung dengan kami, dan tentunya bersama Frans di sisinya.
“kira-kira lima menit lagi.” Jawabku.
Jihan hanya mengangguk.
“Frans, berapa lama sama Jihan?” Tanya Alfia yang membuat
Jihan membuka matanya lebar-lebar sedangkan Alfia malah tertawa.
“Kita nggak pacaran, cuma teman.” Jawab Frans tenang.
“Yeah, just friend.” Tambah Jihan.
“Sekarang sih Cuma teman, tapi nanti? Bisa lebih loh.”
Ledek Alfia lagi.
“Alfia..stop.”
“Sorry, Jihan hehe.”
Kami berempat terus berbincang-bincang sampai akhirnya
terdengar suara dari pengeras suara yang meminta kita semua untuk menuju ke
lapangan yang tak jauh dari danau, untuk memulai permainan.
Ternyata yang berbicara dari pengeras suara tadi adalah
Kak Bill, senior yang merupakan koordinator permainan ini. Ia meminta kami semua
mengumpul di lapangan untuk menjelaskan permainan yang akan diselenggarakan.
“Are you ready for the games?” tanyanya dengan pengeras
suara.
“Yes we are!” jawab kami serempak.
Kak Bill tersenyum sekilas sebelum melanjutkan ucapannya, “Semua
permainan yang ada adalah permainan yang dimainkan dengan pasangan, jadi apa
semuanya udah dapat pasangan?”
“Sudah!” jawab kami lagi serempak.
“Oke, di sana sudah disediakan bakiak dan borgol. Jadi nanti
setiap pasangan tangannya akan diborgol dan dikunci lalu harus berjalan bersama
menggunakan bakiak menuju kumpulan tempat balon yang digantung disetiap pohon
untuk mencari kunci borgol karena petunjuk kunci ada di dalam balon itu.”
Jelasnya. “Setiap pasangan balonnya akan ditaruh di tempat yang berbeda dan
nanti akan dikasih klue dimana balon itu berada. Jelas?”
Kami semua mengangguk sembari mengatakan “Jelas.”
“Nah, sekarang kalian boleh pergi ke sana.” Ujar Kak Bill sambil
menuju tempat kumpulan borgol di atas meja dengan beberapa orang senior di sana
untuk membantu jalannya permainan.
Aku dan Alfia saling menoleh, lalu berjalan bersama menuju tempat
yang ditunjuk Kak Bill tadi.
“Nama kalian?” Tanya seorang senior kepada aku dan Alfia.
“Greyson dan Alfia.” Jawabku yang kemudian dicatat oleh senior
itu.
“Nama gue Saska, kalau ada pertanyaan bisa tanya ke gue.” Kata Kak
Saska sambil julurin tangannya dan senyum.
“Oke kak,” balasku dan menjabat tangannya.
***
Tangan Alfia dan tanganku sudah diborgol oleh kak Saska dan
pasangan-pasangan yang lain pun sama seperti kami yaitu tangannya sudah
diborgol.
“Nih, clue tempat balonnya dan ini jarum buat mecahin balonnya.”
Kata Kak Saska sambil ngasih kertas berwarna biru muda kepadaku.
Aku menoleh ke Alfia, begitupun dia.
“Di hitungan ketiga semuanya langsung mengenakan bakiak yang telah
tersedia dan pergi menuju tempat dimana balon itu berada berdasarkan clue yang
tersedia.” Jelas Kak Bill lagi dengan pengeras suara.
Aku dan Alfia saling toleh menoleh lagi.
“Satu, dua..” ujar Kak Bill dari pengeras suara, aku dan Alfia
langsung bersiap-siap. “TIGA!”
Dan di saat Kak Bill mengucapkan ‘tiga’ langsung ku pakai bakiak
itu dengan posisi Alfia yang ada di depanku dan aku yang berada di belakangnya.
Posisi kami saling bertolak belakang dengan punggung yang bertemu karena tangan
Alfia yang diborgol adalah yang kanan dan tanganku yang diborgol adalah yang
kiri jadi aku tidak bisa menghadap ke depan saat memakai bakiak karena borgolan
ini.
“Grey, kita kemana ini?” Tanya Alfia kepadaku.
Ku baca clue yang ada di kertas biru itu, “Aku dikelilingi negisko
dan retaw.” Itulah yang tertulis.
“Negisko? Retaw? itu apa?” Tanya Alfia.
Ku angkat kedua bahuku, “Aku juga nggak tau,” jawabku.
***

No comments:
Post a Comment