Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 26 )

***

Ku panaskan mesin mobil sejenak sebelum berangkat, tetapi aku baru menyadari bahwa ada sebuket bunga mawar merah di jok sebelahku. Aku terheran dan mengambil buket itu yang ada secarik kertas kecilnya yang bertuliskan, ‘for Alfia <3’.

Tunggu, untuk Alfia? Siapa yang menaruh ini? Padahal aku sendiri tidak membeli bunga untuk Alfia.

“Kenapa, sayang?” Tanya Mama yang tiba-tiba muncul di balik jendela mobil. “Oh, bunga itu?”

“Siapa yang taruh ini buat Alfia?”

Mama terkekeh pelan, “Mama.”

“Mama?”

“Iya, kenapa? Mama sengaja beliin buket bunga buat Alfia, ini kan prom night yaitu malam yang special, masa kamu nggak kasih apa-apa ke dia?” jelas Mama. “Mama kan perempuan, jadi Mama tahu apa yang perempuan mau. Kamu harus lebih peka, Grey.”

“Oh, iya, Ma. Makasih ya! Aku nggak tahu bakal gimana kalo nggak ada Mama.”

Mama mencubit pipiku pelan, “Sama-sama, sayang!  Mending sekarang kamu berangkat daripada nanti terlambat.”

Aku mengangguk sambil bersiap-siap menginjak gas, “Bye, Ma!”

“Bye! Take care, honey!” ucap Mama yang hanya ku balas dengan lambaian tangan lalu pergi meninggalkan rumah untuk pergi ke Kampus Universitas Indonesia yang berada di kawasan Depok daerah Jakarta Timur yaitu tempat diselenggarakannya acara malam ini.

***

Ku kendarai mobilku masuk ke dalam kawasan Kampus UI yang di sepanjang jalannya sudah dipasang berbagai macam hiasan seperti lampu-lampu kecil berwarna-warni yang dipasang untuk menghiasi pohon-pohon di sepanjang jalanan, dan juga dilengkapi petunjuk arah tempat diselenggarakan acara yang dibuat semenarik mungkin.

Ku jalankan mobil mengikuti petunjuk-petunjuk arah yang tersedia hingga akhirnya sampai di tempat parkiran.

Setelah ku parkirkan mobil, ku ikuti lagi petunjuk-petunjuk arah menuju tempat acara, dan di saat berjalan ku lihat tamu-tamu yang datang sudah bersama pasangannya masing-masing, sedangkan aku hanya sendiri dan sedang mencari Alfia.

Akhirnya aku sampai di tempat diselenggarakan acara ini. Tempat yang bisa membuat mata berhenti mengedip saking indahnya. Tempat diselenggarakannya acara ini berada di dekat danau yang cukup luas, dengan lampu-lampu kemirlap yang menggantung di pohon-pohon sekeliling danau, panggung pun juga tersedia dengan megah dan dengan tampilan yang mengagumkan, dan feeling ku acara ini akan sangat-sangat mengagumkan karena prom night ini bukan diadakan di dalam gedung atau ruangan melainkan di alam terbuka, yaitu di dekat danau yang luas dan cantik!

Yang datang rata-rata sudah mengumpul bersama pasangannya masing-masing, sedangkan aku bahkan sama sekali tidak melihat batang hidung Alfia. Tamu yang banyak mungkin menjadi alasan mengapa sangat sulit untuk melihat batang hidung Alfia saat ini.

Aku terus berkeliling untuk mencari Alfia tetapi hasilnya aku juga belum menemuinya, apa mungkin Ia dan Jihan belum datang?

Pandanganku tertuju kepada seorang perempuan mengenakan gaun selutut berwarna merah muda yang lembut sedang berbincang bersama seorang lelaki di tepi danau, aku sangat mengenal perempuan itu, dan langsung saja ku hampiri perempuan itu dan menepuk pundaknya pelan.

“Jihan?” seruku.

“Hei, Grey!” balasnya. “You look awesome tonight!” lanjutnya memujiku.

“Thanks, you too. You look pretty!” balasku memuji.

“Hehe, thank you.” Ucapnya.

Aku menoleh ke lelaki yang tadi berbincang dengan Jihan, “Hello, Frans.” Sapaku sambil mengulurkan tangan.

Frans membalas uluran tanganku, “Hai, Greyson.” Balasnya.

“um, Alfia mana?” tanyaku.

“Nggak tahu, Grey. Dia sih tadi bilang pingin keliling aja.” Jawab Jihan.

“Sendirian?” tanyaku sedikit panik. Tahu sendiri bahwa tamu yang datang sangat banyak dan Alfia berkeliling sendirian? Wajar kan kalau aku panik.

Aku langsung berlari mencari Alfia, aku nggak mau ada apa-apa dengan Alfia di tengah kerumunan ini, apalagi Ia sendirian di tengah orang banyak.

Ku cari Alfia sampai tempat parkir, tetapi hasilnya nihil, aku tidak melihat batang hidungnya.

Di saat melintasi mobilku yang sudah terpakir rapih, aku baru teringat dengan sebuket bunga yang ditaruh Mama di dalam mobil, aku lupa untuk mengeluarkannya dan akhirnya ku buka  mobil untuk mengambil buket itu.

Sekarang buket bunga mawar merah ini sudah ada digenggamanku, yang ku butuhkan saat ini adalah orang yang berhak menerimanya seperti yang sudah tertera di secarik kertas di buket ini, yaitu Alfia.

Aku berjalan masih dengan mata yang jelalatan mencari Alfia, mencari pasanganku malam ini.

Saat berjalan ku dengar suara dencing ayunan yang sedang dimainkan, suara ini membuatku bergerak dan langsung mencari sumber suara itu. Mungkin itu Alfia, pikirku.

Dengan bermodalkan pendengaran telinga, ku dekati sumber suara itu masih dengan buket bunga mawar merah yang masih cukup segar di genggamanku dan akhirnya aku sampai di sumber suara itu.

Perempuan mengenakan dress sedang mengayunkan ayunannya sendirian, rambutnya yang hitam ikal mengayun mengikuti  ayunan itu, aku tidak tahu jelas siapa dia karena hanya melihatnya dari belakang tetapi ku harap Ia adalah seseorang yang sedang ku cari saat ini.

Ku langkahkan kaki perlahan supaya tidak terdeteksi olehnya yang sedang bersenandung kecil.

That should be me holding your hand, that should be me making you laugh, that should be me this is so sad, that should be me..” senandungnya kecil, dan aku tahu siapa dia berdasarkan suara itu.

“..yeah that should be me.” Lanjutku seraya meraih tangannya yang sedang memegang tali ayunan itu, dan Ia pun menghentikan senandungnya dan menoleh ke arahku.

“Grey,”

“That should be me giving you flowers.” Ucapku sambil memberinya sebuket bunga mawar merah tadi. Benar, seseorang di atas ayunan itu adalah seseorang yang berhak menerima buket ini, yaitu Alfia.

Alfia menerima buket pemberian dariku lalu mencium aromanya sejenak, dan jujur saat Alfia mendekatkan wajahnya untuk mencium aroma bunga itu mengingatkanku kepada Alyssa di taman sesaat sebelum hujan turun pada hari itu.

“Makasih, Grey. Aku suka banget sama bunga mawar merah.” Ujarnya.

“Sama-sama, Alfia. Apa yang enggak buat kamu?” balasku.

Alfia hanya tersenyum tipis lalu bangun dari duduknya dan berdiri mendekatiku. Di saat Ia berdiri aku terkagum-kagum dengan kecantikannya yang menggunakan dress berwarna biru dan aku juga baru menyadari bahwa rambut Alfia malam ini berbeda, Ia mengikalkan rambutnya yang menambah pesona kecantikannya malam ini.
Ku raih tangan Alfia yang disambut senderan kepala Alfia di pundakku seraya berjalan pelan berdua menuju tempat acara diselenggarakan, yaitu di pinggir danau.

“Kamu cantik banget malam ini.” Pujiku.

Alfia tersipu malu, “Kamu tampan banget malam ini, Grey.” Balasnya. “Biasanya kamu cuma pake kaus dan celana panjang, tapi malam ini? Kamu tampil benar-benar beda.”

“Kamu juga, aku suka dress biru dan rambut curly kamu, sangat sangat pas!”

“Hehe, thanks.”

Akhirnya kami berdua sudah berkumpul di pinggir danau, menyatu dengan tamu-tamu yang datang, menyatu ke dalam acara yang sebentar lagi akan dimulai.

Ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tangan yang menunjukkan pukul tujuh malam dan seharusnya acara ini sudah dimulai.

“Sebentar lagi.” Ucapku.

“Ya, sekarang sudah jam tujuh, kan? Dan acara mulai jam tujuh.” Balas Alfia, aku mengangguk.

Tak lama kemudian terdengar suara mic yang diketuk-ketuk seperti sedang mengetes suara. Semua orang tertuju pada seorang lelaki paruh baya berjas rapih yang sedang berdiri di atas panggung dengan mic di depannya.

“Selamat malam semuanya! Bagaimana menurut kalian sejauh ini tentang penataan acara malam ini?” serunya dengan semangat, dan disambut teriak dan tepuk tangan yang meriah dari tamu-tamu yang datang seakan-akan mengatakan ‘menakjubkan’ membalas perkataan lelaki paruh baya itu.

“Saya Bapak Toni Adrinawan selaku ketua penyelenggara acara ini sangat berterimakasih kepada tamu-tamu undangan yang sudah mau datang,  dan selamat datang untuk para mahasiswa dan mahasiswi baru Universitas Indonesia!!”

Lagi-lagi perkataannya disambut temput tangan yang meriah, tak kecuali aku dan Alfia yang juga ikut bertepuk tangan.

Lelaki di panggung alias Bapak Toni Adrinawan itu tersenyum mendengar tepuk tangan meriah dari para tamu, “Kalian semua tahu bahwa Universitas Indonesia adalah Universitas besar di Indonesia dan oleh sebab itu lah saya tidak mau menyia-nyiakan ini, jadi malam ini akan menjadi malam yang sangat sangat istimewa!” jelas Bapak Toni.

“Mau tahu mengapa istimewa? Karena acara malam ini akan diisi dengan berbagai macam aktivitas seru!”

Semua orang bertepuk tangan lagi.

“Baiklah, saya akan bacakan daftar acara malam  ini.” Ia mengeluarkan kertas dari sakunya. “Acara-acaranya adalah games, dance, acara panggung bebas dimana kalian bisa mengekspresikan diri kalian di atas panggung dengan bebas, dan slow dance.”

Aku menoleh ke Alfia disaat mendengar kata slow dance, “Kita nggak pernah latihan, loh.” Ujarku.

Alfia terkekeh pelan, “Buat apa latihan? Just enjoy it, Grey.” Ucapnya yang ku balas dengan senyum.

“and the party starts.. right now!” seru Bapak Toni Adrinawan yang terus menerus disambut tepuk tangan meriah dari para tamu, setelah itu Bapak Toni turun dari panggung dan digantikan oleh naiknya seseorang dengan gaya ala DJ.

“Vas happeninn everyone?” sapa DJ itu.

“Vas happenin? Kaya Zayn Malik aja.” Celoteh Alfia yang membuatku tertawa geli melihat ekspresinya.

“Start this party right now, huh?” ledek DJ itu yang membuat semua orang tak terkecuali aku dan  Alfia berteriak.

“Kay..” DJ itu mengotak-atik alat yang ada di depannya dan tak lama kemudian lagu Starships dari Nicki Minaj terdengar. “Pemanasan dulu sebelum acara mulai, okeee!”

“Aaaaaaaaaaa” teriak para tamu yang datang begitu juga kami berdua yang ikut terbawa suasana.


“I'm on the floor, floor
I love to dance
So give me more more, till I can't stand
Get on the floor, floor
Like it's your last chance
If you want more, more
Then here I am!”
nyanyi kami serempak sambil meloncat mengikuti nada lagu tersebut.

Starships were meant to fly
Hands up, and touch the sky
Can't stop, 'cause we're so high
Let's do this one more timeeee!!”
nyanyi Alfia keras seraya meloncat mengikuti irama, sedangkan aku hanya tertawa melihat tingkahnya.

“What? Kenapa ketawa?” Tanya Alfia padaku dan menghentikan loncatannya.

“Lucu aja, ngeliat kamu loncat-loncat sambil nyanyi gitu.” Jawabku terus terang.

Alfia malah terkekeh lalu melepas high heels yang Ia pakai, “Tadi itu belum seberapa karena make high heels.” Ucapnya dan tiba-tiba menarik tanganku lalu berlari ke depan mendekat ke panggung, ke tengah kerumanan orang-orang yang sedang asik bernyanyi dan meloncat-loncat.

Begitu sudah berada di tengah kerumunan, Alfia berhenti menarikku dan ikut bernyanyi seperti yang lainnya dengan sepatu high heelsnya yang ditenteng.

“Cmon, Grey! Join with us!” seru Alfia sambil menarik tanganku untuk ikut meloncat. Aku pun mencoba untuk mengikuti apa yang mereka lakukan dan ternyata ini asik juga.

***

Ku bawakan Alfia minum lalu bersulang setelah asik meloncat-loncat di tengah kerumunan orang yang cukup melelahkan itu.

“Games dimulai jam berapa?” Tanya Jihan yang sedang bergabung dengan kami, dan tentunya bersama Frans di sisinya.

“kira-kira lima menit lagi.” Jawabku.

Jihan hanya mengangguk.

“Frans, berapa lama sama Jihan?” Tanya Alfia yang membuat Jihan membuka matanya lebar-lebar sedangkan Alfia malah tertawa.

“Kita nggak pacaran, cuma teman.” Jawab Frans tenang.

“Yeah, just friend.” Tambah Jihan.

“Sekarang sih Cuma teman, tapi nanti? Bisa lebih loh.” Ledek Alfia lagi.

“Alfia..stop.”

“Sorry, Jihan hehe.”

Kami berempat terus berbincang-bincang sampai akhirnya terdengar suara dari pengeras suara yang meminta kita semua untuk menuju ke lapangan yang tak jauh dari danau, untuk memulai permainan.

Ternyata yang berbicara dari pengeras suara tadi adalah Kak Bill, senior yang merupakan koordinator permainan ini. Ia meminta kami semua mengumpul di lapangan untuk menjelaskan permainan yang akan diselenggarakan.

“Are you ready for the games?” tanyanya dengan pengeras suara.

“Yes we are!” jawab kami serempak.

Kak Bill tersenyum sekilas sebelum melanjutkan ucapannya, “Semua permainan yang ada adalah permainan yang dimainkan dengan pasangan, jadi apa semuanya udah dapat pasangan?”

“Sudah!” jawab kami lagi serempak.

“Oke, di sana sudah disediakan bakiak dan borgol. Jadi nanti setiap pasangan tangannya akan diborgol dan dikunci lalu harus berjalan bersama menggunakan bakiak menuju kumpulan tempat balon yang digantung disetiap pohon untuk mencari kunci borgol karena petunjuk kunci ada di dalam balon itu.” Jelasnya. “Setiap pasangan balonnya akan ditaruh di tempat yang berbeda dan nanti akan dikasih klue dimana balon itu berada. Jelas?”

Kami semua mengangguk sembari mengatakan “Jelas.”

“Nah, sekarang kalian boleh pergi ke sana.” Ujar Kak Bill sambil menuju tempat kumpulan borgol di atas meja dengan beberapa orang senior di sana untuk membantu jalannya permainan.

Aku dan Alfia saling menoleh, lalu berjalan bersama menuju tempat yang ditunjuk Kak Bill tadi.

“Nama kalian?” Tanya seorang senior kepada aku dan Alfia.

“Greyson dan Alfia.” Jawabku yang kemudian dicatat oleh senior itu.

“Nama gue Saska, kalau ada pertanyaan bisa tanya ke gue.” Kata Kak Saska sambil julurin tangannya dan senyum.

“Oke kak,” balasku dan menjabat tangannya.

***

Tangan Alfia dan tanganku sudah diborgol oleh kak Saska dan pasangan-pasangan yang lain pun sama seperti kami yaitu tangannya sudah diborgol.

“Nih, clue tempat balonnya dan ini jarum buat mecahin balonnya.” Kata Kak Saska sambil ngasih kertas berwarna biru muda kepadaku.

Aku menoleh ke Alfia, begitupun dia.

“Di hitungan ketiga semuanya langsung mengenakan bakiak yang telah tersedia dan pergi menuju tempat dimana balon itu berada berdasarkan clue yang tersedia.” Jelas Kak Bill lagi dengan pengeras suara.

Aku dan Alfia saling toleh menoleh lagi.

“Satu, dua..” ujar Kak Bill dari pengeras suara, aku dan Alfia langsung bersiap-siap. “TIGA!”

Dan di saat Kak Bill mengucapkan ‘tiga’ langsung ku pakai bakiak itu dengan posisi Alfia yang ada di depanku dan aku yang berada di belakangnya. Posisi kami saling bertolak belakang dengan punggung yang bertemu karena tangan Alfia yang diborgol adalah yang kanan dan tanganku yang diborgol adalah yang kiri jadi aku tidak bisa menghadap ke depan saat memakai bakiak karena borgolan ini.

“Grey, kita kemana ini?” Tanya Alfia kepadaku.

Ku baca clue yang ada di kertas biru itu, “Aku dikelilingi negisko dan retaw.” Itulah yang tertulis.

“Negisko? Retaw? itu apa?” Tanya Alfia.

Ku angkat kedua bahuku, “Aku juga nggak tau,” jawabku.

***

No comments:

Post a Comment