Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 3 )

***

Belum sempat membuka pintu, pintu ini sudah duluan terbuka. Di buka oleh seorang perempuan berambuk ikal yang berdiri dan tersenyum manis kepadaku.
“Akhirnya kau datang, Grey.” Sapa Carmel. “Ayo masuk, aku sudah menyiapkan tempat untukmu.”
Aku berjalan mengikuti Carmel kemudian di ajak duduk di pojok café.
“Aku sangat berterimakasih kau mau menyempatkan diri untuk datang ke café milikku.”
“Nggak masalah kok.”
“Sebenarnya aku mengajakmu ke sini bukan hanya untuk membayar rasa bersalahku. Sebenarnya aku punya maksud lain, Grey.” Ucap Carmel.
“Maksud lain? Apa?”
“Aku butuh bantuanmu.”
“Bantuan?”
“Besok aku harus pergi kerja. Besok hari pertamaku kerja”
“Lalu hubungannya denganku?”
“Ya kau sudah tau kan kalau Aly ada kekurangan dalam penglihatannya. Dan besok adalah hari pertamaku masuk kerja, jadi mau tidak mau aku nggak bisa nemenin Aly di rumah, ku rasa kamu bisa menggantiku, Grey.”
“Menggantikan? Maksudnya aku nemenin Aly di rumah?”
“Bisa dibilang begitu. Ku rasa kau orang baik dan bisa menjaga Aly.” Carmel menggenggam tangan kananku. “Ku mohon.” Ucapnya dengan penuh harap.

Ku lihat tatapan wajah Carmel yang memandangku penuh harap.
Aku belum pernah menjaga atau bisa dibilang mengurusi orang yang tidak bisa melihat, jadi aku agak ragu untuk menerima permintaan ini.
“Ku mohon, Grey. Kalau mau, kamu bisa memesan apa aja di café ini setiap hari selama menjaga Alyssa.” Tawar Carmel.
“Bagaimana?” Tanya Carmel.
Aku mengangguk. “Baiklah, aku bisa.” Jawabku mantap dengan tersenyum.

***

Matahari mulai menyerobot masuk ke celah-celah jendela kamarku dan meneruskan cahayanya hingga menyilaukan mataku.
Ku renggangkan badan sambil menguap kecil kemudian melepas selimut yang sedari tadi membalutku dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

Setelah mencuci muka, ku berjalan ke sebuah meja di sebelah tempat tidur untuk mengecheck ponselku dan ternyata terdapat 5 panggilan tidak terjawab dari Carmel.
Carmel?
OH GOD! Aku lupa buat ke rumah Carmel jam tujuh pagi untuk menjaga Aly! Dan begitu ku lihat jam dindingku menunjukkan pukul delapan pagi.
Dengan terburu-buru terpaksa aku harus segera bersiap-siap menuju rumah Carmel.

***

Ku ketuk pintu rumah Carmel berkali-kali tetapi tidak ada balasan juga dari dalam. Aku coba menunggu, tetapi tidak ada yang keluar. Apa mungkin Carmel sudah berangkat dan Aly di ajak? Aku nggak tau.

Waktu ingin mengetuk pintu rumah ini untuk yang ke sekian kalinya, aku mendengar sebuah nada-nada yang tidak tersusun dengan jelas dari dalam rumah. Seperti nada-nada piano. Begitu mendengar itu, aku memberanikan diri untuk membuka pintu rumah ini, mungkin yang membuat nada-nada itu adalah Aly atau Carmel.

Aku terus berjalan menuju sumber nada-nada piano yang berantakan itu, kemudian aku sampai di sebuah ruangan yang di ujungnya terdapat seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi di depan piano. Aku nggak tau siapa dia, karena Ia membelakangiku.

Aku berjalan mendekatinya dengan perlahan, Ia terus menerus membuat nada berantakan dengan menekan asal-asalan piano itu. Dan sesekali terdengar suara desahan seperti menangis.

Aku sudah berdiri di samping seseorang yang membuat nada berantakan tadi, dia Aly.
“Mau aku ajarin main piano?” tawarku.
“Gre-greyson?”
“Kok bisa tau kalo aku Greyson?”
“Aku hafal suara kamu.”
Aku ikut duduk di sampingnya. “Mau aku ajarin?”
“Bisa main piano?”
“Lumayan.” Akupun menaruh tanganku di atas tangan Aly, memberi pengarahan tentang cara bermain piano.
“Percuma, aku kan buta. Nggak bakal bisa main piano.” Aku terdiam begitu mendengar perkataan Aly.
“Bermain piano itu menggunakan perasaan, bukan penglihatan. Aku yakin kalo kamu mau pasti kamu bisa.” Ucapku.
Aly tidak membalas perkataanku kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan pelan-pelan dengan tangannya yang ikut meraba-raba tembok. Aku hanya menatapnya dari kursi piano ini. Kemudian ku lihat setetes air jatuh ke lantai, aku tahu Aly menangis.

Aku ikut berjalan di belakang Aly, mengikuti setiap langkahnya, menjaganya dari belakang.
Dan akhirnya Ia menghentikan langkahnya begitu kami berdua sudah ada di sebuah taman di rumah ini. Taman ini bisa di bilang sangat indah, ada kolam yang berisi ikan-ikan dan sebuah air mancur yang membuat suara gemericik air yang indah, ada banyak tumbuhan dan bunga-bunga yang terawat dengan baik.
“Indah kan tamannya?” Tanya Aly.
“Ya, sangat.” Jawabku.
“Walaupun aku tidak bisa melihat, aku bisa merasakan keindahan taman ini.” Ucap Aly yang membuatku menoleh ke arahnya.
“Ya, keindahan bisa dirasakan melalui hati atau perasaan tidak selalu harus dengan penglihatan.” Ucapku.
“Andai aja aku bisa ngeliat keindahan taman kak Carmel.” Ucap Aly yang duduk di salah satu kursi taman.
“Kamu pasti akan liat keindahan taman ini kok.” Balasku.
“Ku harap.” Lanjut Aly yang kemudian ku lihat meneteskan air mata.
“Don’t cry, Aly.” Aku berusaha menenangkannya, tetapi Aly langsung berdiri dari kursi dan berjalan meninggalkan taman.

Aku tidak mengikuti Aly, aku masih duduk di kursi ini. Aku hanya berfikir betapa malangnya Aly harus kehilangan penglihatan di usianya yang sama denganku. Ia tidak bisa melihat dunia yang indah, tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya, tidak bisa melihat wajahnya yang cantik, harus kuakui Aly memang cantik.

Aku tau pasti rasanya berat, pasti rasanya sakit, pasti rasanya terpukul mengetahui bahwa Ia memang ditakdirkan seperti itu. Padahal di usia 17 tahun Ia bisa melakukan apa pun yang Ia suka, seperti hang out, nonton bioskop dan masih banyak lagi. Tapi sayangnya Aly..

Ku usap air mata yang sedari tadi mulai membasahi pipiku, aku memang cowok yang mudah tersentuh, aku harus akui itu.
Begitu sudah ku usap air mataku, aku bangun dan berjalan mencari Aly. Mencari keberadaan Aly, kata Carmel biasanya Aly ada di kamarnya, jadi aku pergi mencari di kamarnya.

Akhirnya ku temukan pintu yang bertuliskan ‘Alyssa’, akupun membuka pintu itu pelan-pelan dan masuk ke dalam kamar itu tapi sayangnya tidak ada Alyssa di dalam kamar itu.
Entah kenapa aku tetap masuk ke dalam kamar ini walaupun tidak ada Alyssa, rasanya aku ingin melihat ada benda apa saja di dalam kamarnya.
Pandanganku tertuju pada sebuah buku yang tergeletak di atas sebuah meja. Pandanganku langsung tertuju ke buku ini karena tulisan berwarna-warni yang sangat mencolok di buku itu.
Aku berjalan mendekati buku itu, kemudian mengambilnya dan membaca tulisannya,


"It's not the end of my story I know Aly can do it."

Aku yakin itu pasti tulisan Aly walaupun Ia tidak bisa melihat. Mungkin itu adalah curahan hatinya kepada sebuah lembaran buku, mungkin Ia tidak tahu harus curhat dengan siapa, jadi Ia curahkan di kertas itu walaupun Ia sendiri tidak bisa melihat hasil tulisannya. Manis.

Ku taruh buku itu di atas kasur lagi, dan berniat kembali mencari Aly.
Ketika baru selangkah aku melangkah menuju keluar kamar Aly, tiba-tiba ku dengar suara yang sangat merdu menyanyikan sebuah lagu.

“I always needed time on my own,
I never thought I’d need you there when I cry,
And the days feel like years when I’m alone,
And the bed where you lie is made up on your side.

When you walk away
I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?

When you’re gone,
The pieces of my heart are missing you.
When you’re gone,
The face I came to know is missing too.
When you’re gone,
All the words I need to hear to always get me through the day,
And make it OK…”

“I miss you..” lanjutku memotong Aly yang sedang bernyanyi. Ternyata yang sedang bernyanyi adalah Aly, di atas genteng rumahnya. Aku bahkan bingung bagaimana cara Alyssa yang ‘kau tahu keadaannya’ bisa duduk dengan manisnya di atas genteng rumah yang cukup berbahaya. Bahkan mungkin aku tidak akan bisa duduk dengan nyaman di situ.


“Aly, ayo ke sini. Bahaya duduk di atas genteng gitu!” pintaku dari jendela kamarnya.
“It’s okay. Aku udah biasa duduk di sini kok, Grey.” Jawabnya dengan santai.
“Tapi kamu…”
“Aku tau kalo aku buta, tapi aku nggak mau bersikap seperti orang buta. Tenang Grey, aku udah biasa di sini.”
“Tapi aku takut kamu kenapa-kenapa, Aly.” Ucapku. “Aly, please. Aku di sini kan untuk jaga kamu.”
“Huh, baiklah.” Aly perlahan mulai menggerakkan badannya ke jendela kamar. Ini sesuatu yang sangat menakjubkan bagiku, dengan mudahnya Ia masuk ke dalam jendela walaupun aku bantu dengan memegang tangannya, tapi dia kan...
“Bagaimana bisa?” tanyaku begitu Aly sudah masuk ke dalam kamar dan duduk di atas kasurnya.
“Mungkin itu kelebihanku. Aku melihat bukan dengan mata, aku melihat dengan hati dan perasaan.” Ucapnya dengan tersenyum, walaupun senyumnya datar dan tidak menatap ke wajahku, tapi itu maklum dengan keadaannya.

Aly berjalan ke sebuah meja rias, kemudian berdiri di depan kaca dan memegang kedua pipinya.
“Ya ampun aku punya jerawat! Ya ampun ada noda di pipiku!” ucapnya di depan kaca dan bergaya layaknya Ia bisa melihat dirinya yang cantik di depan kaca. Aku hanya menatapnya dengan senyum haru.
“Maaf Grey, mungkin kamu bakal mikir aku gila.” Aly membalikkan badannya. “Aku melakukan itu di depan kaca setiap hari, aku hanya ingin bersikap seperti remaja-remaja lainnya ketika berada di depan kaca, walaupun aku tau aku berbeda dengan mereka.” Lanjutnya.
“Perbedaan itu indah.” Balasku.
“Haha, tapi sayangnya perbedaan yang ku miliki nggak indah.” Ucapnya mencoba untuk bercanda walau aku tau kalau Ia tersakiti dengan keadaannya.
“Aly, kalo aku boleh bilang, kamu itu cantik. Aku jujur.” Pujiku.
Sesaat kemudian ku lihat sebuah senyum mungil muncul di wajahnya, “terimakasih, Grey. Ku harap itu bukan sebuah pujian palsu.” Balasnya.

Aly membalikkan badannya lagi ke arah meja rias, kemudian mengambil sebuah lipgloss dan memoleskan di bibirnya yang merah dengan tangan kirinya yang membantu pemolesan itu agar tidak berantakan kemudian mengambil sebuah kacamata hitam dan memakainya.
“Grey, temenin aku mau nggak?”
“Mau kemana memangnya?”

***

No comments:

Post a Comment