Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 20 )

***

Aku terdiam begitu melihat siapa yang sedang berdiri tepat di hadapanku begitu pintu terbuka. Seorang perempuan dengan celana jeans pendek, cropped tee bertuliskan ‘believe’ dan dengan rambut panjangnya yang terurai panjang sedang tersenyum menatapku penuh arti.
                             
Alfia? Mengapa Ia ada di sini?


“Kejutan!”


Alfia langsung memelukku yang  masih berdiri di depan pintu dan masih memikirkan bagaimana Alfia bisa ada di Indonesia tanpa mengabariku sebelumnya? Dan ini juga bukan musim panas.

Akhirnya Alfia melepas pelukannya yang cukup lama dan erat, “Kamu nggak terkejut sama sekali, Grey? Apa kamu nggak kangen?” Tanya Alfia dengan ekspresi penuh tanya karena melihatku yang hanya berdiri tegak tidak membalas pelukannya, tidak berkata apapun.
“Aku? Nggak kangen? Oh cmon Alfia mana mungkin aku bisa nggak kangen sama pacar yang udah tiga bulan lebih nggak ketemu?”  langsung ku sambar tubuh Alfia dengan erat walaupun masih memikirkan akan kedatangannya yang tiba-tiba.

Alfia perlahan melepas pelukanku lalu menatap mataku dalam. Oh Tuhan, mata cokelat terang itu kelemahanku.

“Kamu masih nepatin janji itu kan? Janji tiga bulan yang lalu sebelum aku pergi?” Tanya Alfia, masih menatap mataku dalam ditambah senyuman manis itu. Aku terdiam, memikirkan masihkah aku menepati janji itu?

“Grey? Masih nepatin kan?”  tanyanya lagi membuyarkan lamunanku. Ia masih menatapku dalam dengan dua bola mata itu yang selalu memancarkan sinar sihir. Kedua bola mata dan senyum manis itu masih menunggu jawabanku, jawaban yang aku sendiri tidak tau apa. Apa aku masih menepati itu?

Aku masih terdiam, belum menjawab dengan sepatah kata apapun, yang aku lakukan saat ini hanya masih membalas tatapan Alfia yang dalam, mencoba mengalahkan pancaran cahaya yang dikeluarkan kedua bola matanya walaupun aku tau aku nggak akan pernah bisa mengalahkan pancaran sinar sihir itu.

Alfia tiba-tiba perlahan melingkarkan kedua tangannya di pundakku kemudian berjinjit dan mengecup pipiku pelan lalu menempelkan dagunya di pundakku dan memelukku lembut diiringi angin malam yang dingin. “I love you.” Bisiknya tepat di dekat telingaku dan udara yang keluar dari mulutnya saat berbisik seperti berlari masuk ke dalam telingaku, masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh membuat sekujur tubuhku merasakan udara dingin tersebut. Membeku di dalam pelukannya.
Ku angkat tanganku dan melingkarkannya di pinggang Aly, membalas pelukannya. “Love you too.”


***


Ku bawa dua cangkir cokelat hangat dengan penuh hati-hati sambil berjalan menuju sofa menghampiri perempuan yang sedang asik menatap layar handphonenya.

“Here it is!” ucapku sembari menaruh cokelat hangat di atas meja.
“Oh thanks babe!” balas Alfia yang langsung menyambar gelas yang berisikan cokelat hangat itu.
“Anytime baby.” Aku duduk di sebelah Alfia sambil terus melihatnya yang sedang menghirup aroma yang dikeluarkan dari cokelat hangat itu yang setelah itu Ia teguk perlahan.

“Kamu kenapa nggak bilang dulu sih kalo mau ke Jakarta?” tanyaku setelah meneguk cokelat hangat milikku sendiri.

“Like what I said before, ini kejutan.” Jawabnya santai dengan senyum manis itu.

“Ini bukan summer kan? Kok kamu sempet ke Jakarta?”

“kepo.”

“Oke ya mainannya gitu.”

“Hehe, pingin banget tau Gweeyy?”

“Oke sip.”

“Gweyson mayah wuu.” Alfia mulai meledekku, memanggilku dengan sebutan ‘gweyson’. Gweyson adalah nama panggilan teman-temanku semasa SMA, dan yang pertama kali mulai memanggilku dengan sebutan gweyson adalah Alfia. Tapi jujur, aku suka cara Alfia menyebutkan ‘Gweyson’, seperti ada sesuatu yang indah di dalam pelafalannya itu.

Alfia mulai dengan kebiasaannya sedari dulu, selalu melakukan sesuatu yang -aneh-tetapi-lucu- disaat aku sedang berpura-pura atau sedang marah kepadanya dan perlakuan anehnya selalu membuatku kalah dan akhirnya tidak bisa melanjutkan kemarahanku dan digantikan oleh tawa.  Ia selalu membuat hidupku penuh warna, penuh canda, penuh tawa, penuh senyum, dan penuh kebahagiaan.

“my boyfriend get mad at me…” ucap Alfia yang masih bersender di sofa di sebelahku sambil menampilkan ekspresi konyolnya.

“my girlfriend..hm my girlfriend..hm I love her.” Balasku menampilkan ekspresi yang tidak kalah konyol.

“Shut up dude, I don’t believe that.”

“hm…” Aku langsung menghadap ke kanan, dan dengan sigap memegang pipi Alfia hingga membuatnya menatapku. And then I get closer, closer and…


“Hello sweetie!”

Suara pintu terbuka dan dengan paniknya aku langsung bangun dari sofa melihat Mama yang sedang berdiri sambil memegang gagang pintu dan juga dengan senyum yang lebar.

“Hai, Ma.” Sapaku, tetapi Mama nggak balas sapaanku karena langsung memeluk Alfia yang sudah berdiri di depannya.

“Oh my God luvie, how are you? Long time no see darl!” ucap Mama saat memeluk Alfia.

“Pretty good fine, what about Mom Lisa?”

“Pretty good sweetie!” Mama melepas pelukannya. “Kenapa Grey nggak bilang kalo Alfia mau datang sih?” Tanya Mom kepadaku.

“Alfia juga nggak ngasih tau ke aku Ma, kalo dia mau ke Jakarta.” Jawabku sedangkan Alfia hanya senyum-senyum masih di dalam rangkulan Mom.

“Mau ngasih kejutan ya ke Greyson? Lucunya!” ledek Mom sambil mencubit pelan pipi Alfia.

“Ya begitulah.” Balas Alfia.

“Yaudah Mom mau ke kamar dulu ya capek, kalian berduaan aja kan udah lama nggak ketemu! Hihi.” Goda Mom kepada kami berdua dengan lirikan genit sedangkan aku dan Alfia hanya saling bertatap-tatapan aneh melihat kelakuan Momku.

***

Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku yang sudah menunjukkan jam Sembilan malam, hari sudah gelap dan hanya dipenuhi oleh lampu-lampu kota yang tidak pernah mati.

Aku masih fokus mengendarai mobil menuju rumah Alfia, mengantarnya pulang.


Ku berhentikan mobil di depan rumah bercat putih dan bertingkat dua ini, rumah siapa lagi ya pasti rumah Alfia.

“Arrived.” Ucapku sambil menaruh tanganku melingkar di punggungnya.

“Grey, Jihan bilang kalo ada acara prom night lusa depan di kampus kamu.” Tanya Alfia yang seketika langsung mengingatkanku ke Aly.

“Um, yeah.” Jawabku singkat.

“Waktu itu aku kan udah bilang ke Jihan kalo kamu boleh nyari perempuan lain buat kamu ajak ke prom night karna aku ada di jauh sana, jadi kamu udah dapet perempuan lain buat jadi pasangan kamu?”

Aku cuma diam menatap ke depan, ke kaca mobilku dan Aly datang muncul di pikiranku seakan-akan mengingatkanku bahwa aku telah mengajaknya untuk lusa depan, aku telah membelikannya sebuah gaun yang tidak murah, aku telah mengajarinya bagaiman cara berdansa dan sekarang Alfia yang merupakan pacarku menanyakan apakah aku telah mendapatkan perempuan lain untuk prom night lusa depan?

Haruskah ku jawab, ‘ya, aku punya Aly untuk ke prom night.’
Tapi apa aku lelaki bodoh yang bisa berkata itu di depan kekasihku? Melukai hatinya secara langsung? Walaupun aku tau pilihanku untuk mengajak Aly mau-tidak-mau pasti akan menggoreskan sedikit perih di hati Alfia tetapi di lain sisi Alfia-lah yang menyuruhku untuk mencari perempuan lain karena Ia sedang ada di Inggris. Bukan kesalahanku sepenuhnya kan?

Dan apabila ku jawab, ‘nggak, aku belum punya pasangan untuk ke prom night.’
Otomatis Alfia yang sebagai kekasihku pasti akan menjadi pasanganku nanti tanpa perlu ku tanyakan lagi, dan jika ini terjadi apa yang harus ku katakan ke Aly? Apa yang ada di pikiran Aly nanti jika lusa depan aku tidak menjemputnya di rumah? Apa alasan yang harus ku katakan kepada Carmel karna aku tidak bisa menemani hari bahagia Aly? Apakah aku akan merusak sweet seventeennya?


“Grey? Kamu jujur aja. Kamu udah punya pasangan?”

Aku menggeleng pelan, entah mengapa aku menggelengkan kepalaku, ini semua seperti diluar kendali. Otak memerintahkan untuk menggelengkan kepala menandakan bahwa aku tidak punya pasangan prom night walaupun sebenarnya aku punya. Tetapi hatiku tidak bisa melakukan ini, hatiku tidak bisa berbohong bahwa aku memang sudah memiliki pasangan dansa. Ini semua telah terjadi, aku telah menggelengkan kepala menandakan bahwa aku belum punya pasangan dansa walaupun –berbohong- ini semua telah terjadi. Im sorry Aly.

“Kamu seriusan belum punya pasangan? Ya ampun Grey kalo aku nggak ke Jakarta gimana nasib kamu? Kamu tau kan aku bolehin kamu ngajak perempuan lain karena aku nggak tega kalo ngeliat kamu di prom night sendirian, aku nggak mau kamu tersiksa karna nggak ada aku.” Ucap Alfia panjang lebar. Ya Tuhan, sebegitu baiknya kah Alfia membolehkan pacarnya mencari perempuan lain untuk dansa hanya karna Ia nggak tega ngeliat aku sendirian? Sebegitu baiknya kah dia? Dan sebegitu berengseknya kah aku yang menyia-nyiakan cinta Alfia yang begitu besar kepadaku selama ini? Ya, aku memang brengsek.

“I’ll be okay, Alfia.” Balasku singkat yang disambut senyum Alfia yang kemudian mengecup pipi sebelah kananku dan turun dari mobil berjalan ke gerbang rumahnya.

“Good night.” Ucap Alfia sambil melambaikan tangannya kepadaku.

“Night.” Balasku melambaikan tangan dan mulai menancap gas kembali ke rumah.



***


Aku terpaksa membuka mata karena seseorang sedang menghancurkan tidur nyenyakku dengan menarik selimut dan memukul tanganku pelan memaksaku bangun.

“Gweysonnn bangun!”

Suara familiar itu terdengar, siapa lagi kalau bukan Alfia dan begitu tau kalau itu suara Alfia aku sengaja tetap bermalasan di atas tempat tidur sampai akhirnya aku merasa ada yang meniban tubuhku dan mengecup pipiku pelan. “wake up babe.” Ucapnya lembut yang membuatku berbalik badan dan membuka mata perlahan. “Morning Gweyson.” Sapanya.
“Morning Alfia.” Ku rentangan tangan untuk melenturkan otot setelah tidur. Alfia hanya tersenyum kemudian turun dari kasur.
“Wake up wake up!” tiba-tiba sepasang sepatu roda jatuh di hadapanku yang membuatku langsung terbelalak. “Ayo bangun Greyson kita main sepatu roda udah lama nggak main!” Alfia menarik tanganku memaksa bangun.
“Okay, kamu tunggu di bawah aja biar aku siap-siap.” Alfia hanya mengangguk kemudian meninggalkanku.


Aku duduk di bibir kasur, mengambil sepasang sepatu roda yang dilempar Alfia tadi. Bermain sepatu roda adalah kebiasaanku dan Alfia dari dulu dan semenjak Alfia pindah ke Inggris aku sama sekali nggak pernah bermain sepatu roda.


***

Aku turun ke bawah, menghampiri Alfia yang sedang duduk di kursi tamanku sambil memainkan handphonenya. Aku langsung berdiri di depannya dan mengulurkan tanganku untuk mengajaknya berdiri dan mulai bermain sepatu roda di pagi hari, menjalankan kebiasaan kami sejak dulu.

***

No comments:

Post a Comment