***
Aku terdiam begitu melihat siapa yang sedang berdiri tepat di
hadapanku begitu pintu terbuka. Seorang perempuan dengan celana jeans pendek,
cropped tee bertuliskan ‘believe’ dan dengan rambut panjangnya yang terurai
panjang sedang tersenyum menatapku penuh arti.
Alfia? Mengapa Ia ada di sini?
“Kejutan!”
Alfia langsung memelukku yang
masih berdiri di depan pintu dan masih memikirkan bagaimana Alfia bisa
ada di Indonesia tanpa mengabariku sebelumnya? Dan ini juga bukan musim panas.
Akhirnya Alfia melepas pelukannya yang cukup lama dan erat, “Kamu
nggak terkejut sama sekali, Grey? Apa kamu nggak kangen?” Tanya Alfia dengan ekspresi
penuh tanya karena melihatku yang hanya berdiri tegak tidak membalas
pelukannya, tidak berkata apapun.
“Aku? Nggak kangen? Oh cmon Alfia mana mungkin aku bisa nggak
kangen sama pacar yang udah tiga bulan lebih nggak ketemu?” langsung ku sambar tubuh Alfia dengan erat
walaupun masih memikirkan akan kedatangannya yang tiba-tiba.
Alfia perlahan melepas pelukanku lalu menatap mataku dalam. Oh
Tuhan, mata cokelat terang itu kelemahanku.
“Kamu masih nepatin janji itu kan? Janji tiga bulan yang lalu sebelum
aku pergi?” Tanya Alfia, masih menatap mataku dalam ditambah senyuman manis
itu. Aku terdiam, memikirkan masihkah aku menepati janji itu?
“Grey? Masih nepatin kan?”
tanyanya lagi membuyarkan lamunanku. Ia masih menatapku dalam dengan dua
bola mata itu yang selalu memancarkan sinar sihir. Kedua bola mata dan senyum
manis itu masih menunggu jawabanku, jawaban yang aku sendiri tidak tau apa. Apa
aku masih menepati itu?
Aku masih terdiam, belum menjawab dengan sepatah kata apapun, yang
aku lakukan saat ini hanya masih membalas tatapan Alfia yang dalam, mencoba
mengalahkan pancaran cahaya yang dikeluarkan kedua bola matanya walaupun aku
tau aku nggak akan pernah bisa mengalahkan pancaran sinar sihir itu.
Alfia tiba-tiba perlahan melingkarkan kedua tangannya di pundakku
kemudian berjinjit dan mengecup pipiku pelan lalu menempelkan dagunya di
pundakku dan memelukku lembut diiringi angin malam yang dingin. “I love you.”
Bisiknya tepat di dekat telingaku dan udara yang keluar dari mulutnya saat
berbisik seperti berlari masuk ke dalam telingaku, masuk ke dalam pembuluh
darah dan menyebar ke seluruh tubuh membuat sekujur tubuhku merasakan udara
dingin tersebut. Membeku di dalam pelukannya.
Ku angkat tanganku dan melingkarkannya di pinggang Aly, membalas
pelukannya. “Love you too.”
***
Ku bawa dua cangkir cokelat hangat dengan penuh hati-hati sambil
berjalan menuju sofa menghampiri perempuan yang sedang asik menatap layar
handphonenya.
“Here it is!” ucapku sembari menaruh cokelat hangat di atas meja.
“Oh thanks babe!” balas Alfia yang langsung menyambar gelas yang
berisikan cokelat hangat itu.
“Anytime baby.” Aku duduk di sebelah Alfia sambil terus melihatnya
yang sedang menghirup aroma yang dikeluarkan dari cokelat hangat itu yang
setelah itu Ia teguk perlahan.
“Kamu kenapa nggak bilang dulu sih kalo mau ke Jakarta?” tanyaku
setelah meneguk cokelat hangat milikku sendiri.
“Like what I said before, ini kejutan.” Jawabnya santai dengan
senyum manis itu.
“Ini bukan summer kan? Kok kamu sempet ke Jakarta?”
“kepo.”
“Oke ya mainannya gitu.”
“Hehe, pingin banget tau Gweeyy?”
“Oke sip.”
“Gweyson mayah wuu.” Alfia mulai meledekku, memanggilku dengan
sebutan ‘gweyson’. Gweyson adalah nama panggilan teman-temanku semasa SMA, dan
yang pertama kali mulai memanggilku dengan sebutan gweyson adalah Alfia. Tapi
jujur, aku suka cara Alfia menyebutkan ‘Gweyson’, seperti ada sesuatu yang
indah di dalam pelafalannya itu.
Alfia mulai dengan kebiasaannya sedari dulu, selalu melakukan
sesuatu yang -aneh-tetapi-lucu- disaat aku sedang berpura-pura atau sedang
marah kepadanya dan perlakuan anehnya selalu membuatku kalah dan akhirnya tidak
bisa melanjutkan kemarahanku dan digantikan oleh tawa. Ia selalu membuat hidupku penuh warna, penuh
canda, penuh tawa, penuh senyum, dan penuh kebahagiaan.
“my boyfriend get mad at me…” ucap Alfia yang masih bersender di
sofa di sebelahku sambil menampilkan ekspresi konyolnya.
“my girlfriend..hm my girlfriend..hm I love her.” Balasku
menampilkan ekspresi yang tidak kalah konyol.
“Shut up dude, I don’t believe that.”
“hm…” Aku langsung menghadap ke kanan, dan dengan sigap memegang
pipi Alfia hingga membuatnya menatapku. And then I get closer, closer and…
“Hello sweetie!”
Suara pintu terbuka dan dengan paniknya aku langsung bangun dari sofa
melihat Mama yang sedang berdiri sambil memegang gagang pintu dan juga dengan
senyum yang lebar.
“Hai, Ma.” Sapaku, tetapi Mama nggak balas sapaanku karena
langsung memeluk Alfia yang sudah berdiri di depannya.
“Oh my God luvie, how are you? Long time no see darl!” ucap Mama
saat memeluk Alfia.
“Pretty good fine, what about Mom Lisa?”
“Pretty good sweetie!” Mama melepas pelukannya. “Kenapa Grey nggak
bilang kalo Alfia mau datang sih?” Tanya Mom kepadaku.
“Alfia juga nggak ngasih tau ke aku Ma, kalo dia mau ke Jakarta.”
Jawabku sedangkan Alfia hanya senyum-senyum masih di dalam rangkulan Mom.
“Mau ngasih kejutan ya ke Greyson? Lucunya!” ledek Mom sambil
mencubit pelan pipi Alfia.
“Ya begitulah.” Balas Alfia.
“Yaudah Mom mau ke kamar dulu ya capek, kalian berduaan aja kan
udah lama nggak ketemu! Hihi.” Goda Mom kepada kami berdua dengan lirikan genit
sedangkan aku dan Alfia hanya saling bertatap-tatapan aneh melihat kelakuan
Momku.
***
Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku yang
sudah menunjukkan jam Sembilan malam, hari sudah gelap dan hanya dipenuhi oleh
lampu-lampu kota yang tidak pernah mati.
Aku masih fokus mengendarai mobil menuju rumah Alfia, mengantarnya
pulang.
Ku berhentikan mobil di depan rumah bercat putih dan bertingkat
dua ini, rumah siapa lagi ya pasti rumah Alfia.
“Arrived.” Ucapku sambil menaruh tanganku melingkar di punggungnya.
“Grey, Jihan bilang kalo ada acara prom night lusa depan di kampus
kamu.” Tanya Alfia yang seketika langsung mengingatkanku ke Aly.
“Um, yeah.” Jawabku singkat.
“Waktu itu aku kan udah bilang ke Jihan kalo kamu boleh nyari
perempuan lain buat kamu ajak ke prom night karna aku ada di jauh sana, jadi
kamu udah dapet perempuan lain buat jadi pasangan kamu?”
Aku cuma diam menatap ke depan, ke kaca mobilku dan Aly datang
muncul di pikiranku seakan-akan mengingatkanku bahwa aku telah mengajaknya
untuk lusa depan, aku telah membelikannya sebuah gaun yang tidak murah, aku
telah mengajarinya bagaiman cara berdansa dan sekarang Alfia yang merupakan
pacarku menanyakan apakah aku telah mendapatkan perempuan lain untuk prom night
lusa depan?
Haruskah ku jawab, ‘ya, aku punya Aly untuk ke prom night.’
Tapi apa aku lelaki bodoh yang bisa berkata itu di depan
kekasihku? Melukai hatinya secara langsung? Walaupun aku tau pilihanku untuk
mengajak Aly mau-tidak-mau pasti akan menggoreskan sedikit perih di hati Alfia
tetapi di lain sisi Alfia-lah yang menyuruhku untuk mencari perempuan lain
karena Ia sedang ada di Inggris. Bukan kesalahanku sepenuhnya kan?
Dan apabila ku jawab, ‘nggak, aku belum punya pasangan untuk ke
prom night.’
Otomatis Alfia yang sebagai kekasihku pasti akan menjadi
pasanganku nanti tanpa perlu ku tanyakan lagi, dan jika ini terjadi apa yang
harus ku katakan ke Aly? Apa yang ada di pikiran Aly nanti jika lusa depan aku
tidak menjemputnya di rumah? Apa alasan yang harus ku katakan kepada Carmel
karna aku tidak bisa menemani hari bahagia Aly? Apakah aku akan merusak sweet
seventeennya?
“Grey? Kamu jujur aja. Kamu udah punya pasangan?”
Aku menggeleng pelan, entah mengapa aku menggelengkan kepalaku,
ini semua seperti diluar kendali. Otak memerintahkan untuk menggelengkan kepala
menandakan bahwa aku tidak punya pasangan prom night walaupun sebenarnya aku
punya. Tetapi hatiku tidak bisa melakukan ini, hatiku tidak bisa berbohong
bahwa aku memang sudah memiliki pasangan dansa. Ini semua telah terjadi, aku
telah menggelengkan kepala menandakan bahwa aku belum punya pasangan dansa
walaupun –berbohong- ini semua telah terjadi. Im sorry Aly.
“Kamu seriusan belum punya pasangan? Ya ampun Grey kalo aku nggak
ke Jakarta gimana nasib kamu? Kamu tau kan aku bolehin kamu ngajak perempuan
lain karena aku nggak tega kalo ngeliat kamu di prom night sendirian, aku nggak
mau kamu tersiksa karna nggak ada aku.” Ucap Alfia panjang lebar. Ya Tuhan,
sebegitu baiknya kah Alfia membolehkan pacarnya mencari perempuan lain untuk
dansa hanya karna Ia nggak tega ngeliat aku sendirian? Sebegitu baiknya kah
dia? Dan sebegitu berengseknya kah aku yang menyia-nyiakan cinta Alfia yang
begitu besar kepadaku selama ini? Ya, aku memang brengsek.
“I’ll be okay, Alfia.” Balasku singkat yang disambut senyum Alfia
yang kemudian mengecup pipi sebelah kananku dan turun dari mobil berjalan ke
gerbang rumahnya.
“Good night.” Ucap Alfia sambil melambaikan tangannya kepadaku.
“Night.” Balasku melambaikan tangan dan mulai menancap gas kembali
ke rumah.
***
Aku terpaksa membuka mata karena seseorang sedang menghancurkan
tidur nyenyakku dengan menarik selimut dan memukul tanganku pelan memaksaku
bangun.
“Gweysonnn bangun!”
Suara familiar itu terdengar, siapa lagi kalau bukan Alfia dan
begitu tau kalau itu suara Alfia aku sengaja tetap bermalasan di atas tempat
tidur sampai akhirnya aku merasa ada yang meniban tubuhku dan mengecup pipiku
pelan. “wake up babe.” Ucapnya lembut yang membuatku berbalik badan dan membuka
mata perlahan. “Morning Gweyson.” Sapanya.
“Morning Alfia.” Ku rentangan tangan untuk melenturkan otot
setelah tidur. Alfia hanya tersenyum kemudian turun dari kasur.
“Wake up wake up!” tiba-tiba sepasang sepatu roda jatuh di
hadapanku yang membuatku langsung terbelalak. “Ayo bangun Greyson kita main
sepatu roda udah lama nggak main!” Alfia menarik tanganku memaksa bangun.
“Okay, kamu tunggu di bawah aja biar aku siap-siap.” Alfia hanya
mengangguk kemudian meninggalkanku.
Aku duduk di bibir kasur, mengambil sepasang sepatu roda yang
dilempar Alfia tadi. Bermain sepatu roda adalah kebiasaanku dan Alfia dari dulu
dan semenjak Alfia pindah ke Inggris aku sama sekali nggak pernah bermain
sepatu roda.
***
Aku turun ke bawah, menghampiri Alfia yang sedang duduk di kursi
tamanku sambil memainkan handphonenya. Aku langsung berdiri di depannya dan
mengulurkan tanganku untuk mengajaknya berdiri dan mulai bermain sepatu roda di
pagi hari, menjalankan kebiasaan kami sejak dulu.
***
No comments:
Post a Comment