Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 18 )


***

Aku hanya menghela nafas kemudian mengajaknya berdiri.

”Mau kemana?” Tanya Aly. Aku sengaja nggak membalas pertanyaannya dan hanya merangkulnya dari belakang, membawanya ke suatu tempat.

“Ini dimana, Grey?”
“Just sit, Aly.”

Aku membantu Aly duduk di sebuah kursi di depan piano yang disusul diriku duduk di sampingnya. Kemudian ku mainkan jemariku di atas piano yang mengeluarkan rangkaian nada-nada indah.

“Oh her eyes, her eyes,
Make the stars look like they're not shining.
Her hair, her hair,
Falls perfectly without her trying.
Aly is so beautiful,
And I tell her every day.”

“Grey, no.”

“What?”

“Im not….beautiful.”

“Yeah I know, I know
When I compliment her
She wont believe me
And its so, its so
Sad to think Aly don't see what I see”

“I know I cant see what you see.”

“But every time she asks me do I look okay
I say…
When I see your face,
There's not a thing that I would change.
Cause Alyssa you're amazing,
Just the way you are…”

“No I’m not Greyson.”

“Trust me, you’re amazing.”

“ blind girl like me doesn’t deserve it.”

“you deserve it.”

“no, greyson.”

“I say yes. You deserve.”

“Grey…”

“And when you smile,
The whole world stops and stares for awhile
Cause Aly you're amazing…
Just the way you are….”
Aku menatap Aly kemudian merangkulnya pelan.

“Believe me, youre amazing Aly.” Ucapku lembut tepat di telinganya yang disambut dengan pelukan hangat Aly.
“Thanks, Grey.”
“For what?”
“Thanks for making me look special.”
“Youre special to me.”

Aly tidak membalas perkataanku, Ia masih mendekap di rangkulanku dengan tetesan air mata yang sesekali jatuh dan aku juga tidak membiarkan air mata itu membasahi pipi Aly karena langsung ku usap dengan jemariku.

“Aly, kamu mau nggak nemenin aku lusa depan?”
“Kemana?”
“Prom night.”
“Prom night?”
“Ya, pesta dansa. Kamu mau nggak dampingin aku di acara itu?”
“Grey kamu gila.”
“Kenapa?”
“Kamu gila kalo ngajak aku ke prom night.”
“Kenapa gila? Kamu kan perempuan kecuali kalo aku ngajak cowo ke prom night baru kamu bisa manggil aku gila.”
“Tapi aku itu kan…buta.”
“Aku nggak peduli. Ku mohon, Aly.”
“Aku nggak yakin, pasti orang-orang akan ngejek kamu karena aku.”
“Aku bilang kan aku nggak peduli. Gimana?”

Aly hanya menghela nafas panjang.


***

Aku masuk ke dalam mobil dan tersenyum sejenak menatap Aly yang sedang duduk di sampingku. Aly hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong itu yang membuatku merasa iba dengan keadaannya, ya maksudku malang sekali nasib Aly yang tidak bisa menikmati masa mudanya, masa remajanya, masa keemasannya dengan kehilangan penglihatannya itu dan semenjak bertemu dengan Aly aku jadi lebih merasa bersyukur karena Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk menikmati masa-masa remajaku. Thanks God.

“Grey.”
“Yap.”
“Kamu seriusan?”
“Ya aku serius.”
“Tapi nanti apa yang aku lakuin di prom night? Kalo tiba-tiba aku kepisah sama kamu gimana?”
“Nggak kok,kita nggak akan misah.”
“Grey, serius aku nggak yakin buat jadi pasangan kamu di prom night.”
“Tadi kamu bilang kamu mau, kenapa sekarang kamu nggak yakin?”
“Maksudku aku nggak percaya kalo kamu ngajak aku buat jadi pasangan dansa.”
“Kamu harus percaya karena ini kenyataan, kan.”
“Iya tapi...”
Ku pegang pipi Aly, “kamu harus yakin dan percaya, jangan pernah bicara tentang keadaan karena di dunia ini nggak ada yang sempurna. Prom night is about the love not about the physic.” Ku jauhkan tanganku dari pipi Aly. “Sekarang kamu masih belum yakin?”
“Aku…yakin.”

***

Ku hentikan mobil di depan sebuah butik ternama untuk membelikan Aly sebuah gaun untuk lusa depan dan aku sengaja nggak pergi ke butik mama karena aku nggak mau selalu bergantung ke mama. Aku mau beliin Aly sebuah gaun menggunakan uangku sendiri.

“Ayo turun” ucapku sembari membuka pintu mobil dan memegang tangannya.
“Grey sebenarnya kamu nggak perlu beliin aku gaun, aku bisa beli sendiri.”
“Aku kan yang ngajak kamu jadi aku yang tanggung jawab.”
“Tapi kan aku-“
“Ayolah, Aly.”
Aly menghela nafas sejenak, “baiklah.”

Aku menuntun Aly masuk ke dalam butik yang langsung disambut dengan pemilik butik itu dengan ramah dan aku pun menjelaskan maksudku untuk mencari sebuah gaun yang pantas untuk Aly.

“Yang ini?” Tanya salah pemilik butik itu sembari menunjukkan sebuah gaun berwarna biru tua.
Aku menggeleng.
“Ini?” Ia membawakan gaun berwarna hijau lembut.
Aku menggeleng lagi.
“Bagaimana kalau ini? Ini desain terbaru saya.” Pemilik butik itu membawakan sebuah gaun yang menarik perhatianku. Gaun dengan warna merah muda yang lembut dengan motif yang simple tapi terlihat berkesan dan mewah di mataku. Aku menatap Aly yang sedari tadi hanya duduk di atas kursi dan membayangkan dirinya memakai gaun ini.
“Oke yang ini.” Ucapku sambil memberikan gaun itu kepada pemilik butik tersebut yang dibalas dengan senyum pemilik butik itu.

***

Aku masuk ke mobil begitu Aly sudah masuk sambil menenteng tas yang berisikan gaun merah muda tadi beserta sepatu pasangan dress itu dan bisa dibilang gaun dan sepatu itu cukup menguras dompet tapi aku puas dengan gaun itu yang akan sangat cocok dipakai Aly nanti.

“Grey, makasih banget ya. Aku tau yang kamu beli pasti gaun yang sangat indah walaupun aku nggak bisa melihat langsung tapi intinya makasih banget, Grey. Aku tau itu bukan gaun yang murah dan makasih banget udah minta cewe buta kaya aku buat jadi pasangan dansa kamu.” Ucap Aly setelah aku menutup pintu mobil.
“Sama-sama, tapi ku mohon jangan pernah bicara tentang keadaan kamu.”
“Apa salahnya ngomongin keadaan kalo ini memang udah jadi takdir aku, Grey.”
“Tapi aku nggak suka kalo kamu mulai ngomong masalah itu.”
“Aku coba buat nggak ngomongin itu.”

Aku tersenyum begitu melihat sebuah senyum simpul muncul di wajah Alyssa yang kemudian ku rasakan tangan Aly meraba tanganku pelan dan menggenggamnya. “Makasih buat segalanya, Grey.”
Lalu ku genggam tangan Aly, “Sama-sama.”

Kami sempat terlarut dalam keheningan sejenak tetapi tidak berlangsung lama karena suara aneh dari perutku memecah keheningan.

“Kamu laper, Grey?”
“hehe iya.”
“Pantes, perut kamu sampe ngekonser.”
“Hehe, gimana kalo kita makan siang? Udah mau jam dua belas juga nih.”
“Terserah kamu.”
“Oke, mau makan di mana?”
“Di mana aja kok.”

Aku langsung menancap gas dan pergi ke restoran terdekat untuk makan siang bersama Aly. Kalau dipikir-pikir malu juga aku kelaparan sampai muncul bunyi aneh itu haha.

Akhirnya kami sampai di restoran terdekat. Aku pun turun dan berjalan ke pintu yang satunya,  membukakan Aly pintu dan membantunya berjalan masuk ke dalam restoran.

Aku memilih untuk duduk di sudut restoran dekat jendela, entah kenapa dari dulu pasti aku selalu memilih tempat duduk yang ada di dekat jendela karena aku merasa seperti ada suatu keasikan tersendiri untuk melihat apa yang ada di luar jendela di saat menunggu makanan datang ataupun sedang makan.

Aku asik menatap ke luar jendela sambil menunggu pesanan datang, seperti apa yang sudah ku bilang seperti ada suatu keasikan tersendiri menatap ke luar jendela, menatap kendaraan yang berlalu lalang di jalan dan menatap orang-orang.

“Grey, kamu diem aja.”
“Hah, maaf Aly.”
“Lagi ngapain?”
“Nggak tau, asik aja ngeliatin keadaan di luar jendela.” Jelasku setengah tertawa.
Aly tersenyum setelah mendengar ucapanku lalu Ia menaruh jemari-jemarinya di depan kaca, “Andai aku bisa ngelakuin apa yang kamu lakuin sekarang, Grey.”

***

No comments:

Post a Comment