Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 9 )


***

Aku keluar mobil, berjalan ke sisi mobil yang lain untuk mencari kotak itu.
Saat sedang mencari kotak itu, seseorang menepuk bahuku.
"Grey!" Serunya dari belakang, aku berbalik melihat siapa yang menepukku.
"Jihan?"
"Hey udah lama loh nggak ketemu!" Jihan memelukku.
"Semenjak lulus SMA udah nggak pernah ketemu, ya!" Balasku dan memeluknya. Pelukan persahabatan.
"Apa kabar?"
"Baik aja kok, kamu sendiri?"
"Sama, Grey."

Ku balas dengan mengangguk dan tersenyum, kemudian kembali masuk ke mobil untuk mencari kotak itu.

"Nyari apa, Grey?" Tanya Jihan kepadaku. Aku nggak balas karena sedang berusaha mengambil kotak merah kecil itu yang jatuh di bawah kursi dan akhirnya ku dapatkan kotak itu.
"Finally." Seruku lalu keluar dari mobil dengan kotak itu yang masih menggenggam tanganku. "Nyari ini, Jihan." Lanjutku sambil memperlihatkan kotak ini.
"Kotak apa itu?" Tanya Jihan dengan tangannya yang menyentuh kotak ini. "Eits, mau ngobrol-ngobrol di dalem? Nggak enak kalo ngobrol di pinggir jalan gini." Lanjutnya lagi menawarkan.
"Boleh." Jawabku yang disambut senyum Jihan, kami pun masuk ke dalam cafe yang kebetulan ada di pinggir jalan.

"Gimana kamu sama Alfia?" Tanya Jihan begitu duduk di salah satu kursi cafe.
"Aku sama Alfia baik-baik aja." Jawabku yang entah bisa dibilang berbohong atau tidak.
"Aku tau kamu persis, Grey. Kamu nggak akan macem-macem di belakang Alfia." Ucap Jihan yang menatapku seakan sangat mempercayaiku. Seakan Ia yakin bahwa aku tidak akan macam-macam di belakang Alfia. Tetapi, malah aku yang tidak percaya dengan diriku sendiri.
"Kamu ngelanjutin kuliah di mana, Jihan?" Tanyaku memalingkan pembicaraan.
"Universitas Indonesia, kamu?"
"Serius kamu di situ? Aku juga diterima di situ loh!" Seruku senang.
"Benarkah? Wah kita bisa ketemu lagi dong, Grey!" Jihan juga senang mendengarkan ucapanku. "Terus kamu mau bawa siapa ke prom night?" Lanjutnya sambil meneguk milkshake strawberrynya.
"Prom night?" Tanyaku.
"Iya prom night! Kamu belum tau?"
Aku menggeleng.
"Ini loh. Mungkin surat undangan prom nightnya belum sampai ke rumah kamu, Grey." Jihan memberiku kertas berwarna warni.
"Mungkin belum sampai ke rumah." Ucapku setelah membaca isi kertas undangan prom night.
"Terus siapa yang bakal kamu bawa di prom night? Alfia kan nggak di Indonesia."
"Aku nggak tau." Balasku sambil melihat ke luar jendela. Andai Alfia ada di sini, pikirku.

Ponselku berbunyi, langsung ku keluarkan ponsel yang sedari tadi ada di kantung celana dan melihat siapa yang memanggil. Mom yang memanggilku.

Mama menelfon menanyakan keberadaanku, menyuruhku untuk cepat pulang. Ya aku tahu sekarang sudah jam sembilan malam, pasti Mama khawatir.

"Jihan, Mom udah nyuruh buat-"
"Pulang aja, gapapa kok." Potong Jihan yang mungkin sudah tau bahwa aku disuruh pulang mendengar percakapanku di telfon dengan Mom.
"Kamu sendiri?" Tanyaku khawatir.
"Nggak kok, udah janjian sama temen di sini." Balasnya yang membuatku sedikit tenang. Bagaimana pun juga Jihan adalah sahabatku, jadi wajar kalo aku perhatian sama dia.

***

Aku langsung berbaring di atas kasur, membiarkan badanku beristirahat untuk sejenak.

Pikiranku melayang kemana-mana begitu berbaring. Berbagai macam hal masuk begitu saja.

Alfia.
Wajah Alfia langsung muncul begitu ku pejamkan mata.
Bayangannya tersenyum menatapku dan tak lupa memancarkan sinar terang dari bola mata cokelatnya.
"Jangan lupain janji kamu ya, Grey. Janji untuk tidak menggantikan siapapun di posisiku, karena di sini aku sangat merindukanmu dan tidak ada yang mengganti posisimu." Ucap bayangan Alfia di dalam pikiranku.
"Aku selalu mencoba, Alfia." Ucapku pelan dengan mata yang masih terpejam, menatap bayangan Alfia yang masih tersenyum di pikiranku.

Perlahan, bayangan Alfia mulai menghilang dan tergantikan oleh Alyssa.

Alyssa tersenyum dengan manis di pikiranku dan tanpa ku sadari aku juga ikut tersenyum.
"Promise me that you'll always standing right next to me, Greyson." Ucap bayangan Aly di dalam pikiranku.
"I will, Alyssa." Balasku pelan.

Dan sama seperti Alfia, bayangan Aly perlahan juga mulai menghilang dan digantikan oleh Jihan.

"Aku tau kamu persis, Grey. Kamu nggak akan macem-macem di belakang Alfia."

"Tapi aku nggak tau diriku dengan persis, Jihan." Balasku pelan.


Aku membuka mata, dan bayangan-bayangan itu semuanya hilang yang terlihat saat ini adalah langit-langit kamarku.

Badanku terasa sangat amat lemas, ingin bangun saja rasanya sulit. Beberapa saat kemudian aku baru menyadari bahwa kotak merah kecil tadi masih ada di genggaman tangan kananku.

Ku pegang kotak itu dengan kedua tanganku, membuka dengan perlahan dan melihat isinya yang terdapat sebuah kertas yang waktu itu sudah di tulis sesuatu oleh Alfia.

Ku ambil kertas itu, membuka lipatan-lipatan kertasnya, dan mulai membaca isi tulisan di dalam kertas itu.

***

No comments:

Post a Comment