Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 21 )

***

Aku turun ke bawah, menghampiri Alfia yang sedang duduk di kursi tamanku sambil memainkan handphonenya. Aku langsung berdiri di depannya dan mengulurkan tanganku untuk mengajaknya berdiri dan mulai bermain sepatu roda di pagi hari, menjalankan kebiasaan kami sejak dulu.

”Ayo!” Ajakku yang dibalas sambutan tangan Alfia menggenggam tanganku dan berdiri.

Alfia dengan lihai bermain di atas sepatu rodanya, mempercepat gerakan kakinya hingga membuatku tertinggal jauh di belakang.

”Cepat sedikit dong! Huu lemot!” Ledek Alfia sambil memeletkan lidahnya.

Aku menghiraukan ledekannya dan terus bergerak mendekat ke dirinya.

”Take my hand.” Ucapku begitu sampai di samping Alfia, memberhentikan gerakan sepatu rodaku.

”Buat apa?”

”Biar kamu nggak ninggalin aku jauh di belakang pas bersepatu roda.”

Ku ulurkan tanganku sambil menatap mata Alfia dan tersenyum.

”Okay.”

Alfia membalas uluran tanganku sambil tersenyum lalu kami pun melanjutkan kegiatan bersepatu roda kami masih dalam keadaan tangan kami yang menyatu.

Setelah asik bersepatu roda, Alfia mengajakku untuk beristirahat sejenak di sebuah taman yang membawa perubahan di hidupku. Taman yang mempertemukan aku dan Aly saat itu.


Alfia duduk di bawah pohon rindang beralaskan tanah sambil menyenderkan tubuhnya di batang pohon, keringat bercucuran dari pori-pori kulitnya yang membuatku mengeluarkan sapu tangan dari saku celana, ikut duduk di sampingnya dan mengelap keringat yang membasahi wajahnya.

”Thanks.” Ucap Alfia sambil menolehkan kepalanya menghadap ke arahku sambil tersenyum.

”Anytime.” Balasku.

Alfia perlahan menjatuhkan kepalanya ke bahuku, lalu memeluk tubuhku pelan masih dengan kepalanya yang menyender di bahuku.

”Grey..”

”Ya, Alfia?”

”Apa yang paling kamu suka dari aku?”

”Semuanya.”

”Aku bilang kan yang paling kamu suka.”

”Hm, mata kamu.”

Alfia mendongakkan kepalanya.

”Mata? Kenapa mata?”

”Mata kamu itu selalu buat aku kalah. Mata kamu itu selalu buat kamu menang. Mata kamu selalu mengeluarkan pancaran cahaya sihir yang buat aku mau ngelakuin apapun yang kamu minta. Bola mata cokelat terang kamu kelemahanku, tapi aku suka.”

Alfia menunduk, kembali ke posisi sebelumnya.

”Kalo suatu saat aku buta apa kamu bakal tetap ada di sisi aku?”

Aku diam, memikirkan jawaban yang tepat.

”I'll always love you, Alfia. No matter what happens.” Ucapku sambil mencium ubun-ubun kepala Alfia dan membelai rambutnya dan bisa ku rasakan Alfia yang memelukku makin erat.

”Grey, liat mereka deh!”

Alfia menunjuk ke seorang perempuan sebaya kami yang berjalan sambil mengarahkan tongkatnya bersama seorang lelaki sebaya kami juga yang menggandeng tangan perempuan itu.

”Beruntung banget ya perempuan itu, punya lelaki yang masih mau ada di sampingnya walaupun dengan keadaan perempuan itu yang berbeda.”

Aku diam melihat perempuan dan lelaki yang ditunjuk Alfia tadi. Lelaki itu dengan telaten membantu perempuan itu berjalan dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya dan tiba-tiba Aly muncul lagi di pikiranku. Aku jadi berfikir apakah orang-orang berfikiran yang sama di saat melihatku jalan bersama dengan Aly yang 'berbeda'? Apakah mereka berfikir bahwa Aly beruntung karena ada aku disisinya --yang bukan siapa-siapanya--?

”We should respect blind peoples, they judge by the personality not by the looks.” Ucap Alfia yang kemudian mendangakan kepalanya untuk melihatku.

Aku mengangguk mantap. ”Yeah we should.” ucapku dengan pikiran tentang Alyssa di otakku.

***

Sudah cukup lama kami masih bersender di batang pohon ini dengan Alfia yang masih memeluk dan menyenderkan kepalanya di bahuku.

”I know, I know it’s been a while
I wonder where you are, and if you think of me
Sometimes, got you always on my mind
You know I had it rough, trying to forget you but,
The more that I look around, the more I realize
You’re all i’m looking for....”

Alfia bernyanyi kecil lagu dari Carly rae Jepsen ft Justin Bieber yang berjudul Beautiful sambil memainkan jemari-jemarinya di kaos yang ku kenakan, sedangkan aku hanya mengelus rambut Alfia pelan.

”What makes you so beautiful, is you don’t know how beautiful you are to me
You’re not trying to be perfect
Nobody’s perfect, but you are, to me
It’s how you take my breath away
Fill the words that I don’t say
I wish somehow, I could say them now
Oh, oh, I could say them now, yeah...”


Lanjut Alfia lagi masih asik memutar-mutarkan jemarinya di kaos ku.

”Just friends, the beginning of the end
How do we make sense
From we’re on our own
It’s like you’re the other half of me
I feel incomplete, I should’ve known
Nothing in the world compares to the feelings that we share
So not fair...”


Aku ikut menyumbangkan suara yang harusnya diisi oleh Justin yang disambut senyum Alfia yang menatap wajahku selama bernyanyi.

Alfia bangun dari sandarannya, lalu duduk berhadapan denganku masih dengan senyumnya yang menantiku untuk lanjut bernyanyi.

Aku menggait tangan Alfia dan menggenggamnya. ”What makes you so beautiful, is you don’t know how beautiful you are to me. You’re not trying to be perfect. Nobody’s perfect, but you are, to me” lantunku menatap kedua mata Alfia dalam.

Ku taruh tangan Alfia yang ku genggam di atas dada kiriku, tepat di atas jantungku membiarkannya merasakan detak jantungku yang berdegup kencang. ”It’s how you take my breath away, fill the words that I don’t say I wish somehow, I could say them now...” Lantunku lagi.

Alfia menggait tanganku yang satu lagi lalu menggenggamnya dan kami mulai bernyanyi berdua.

”Oh, it’s not you, blame it all on me
I was running from myself
Cause I couldn’t tell how deep that we
We were gonna be
I was getting stress of me, but it hurts like hell
Hope it’s not too late, just a twist of fate.”


Kami berdua tersenyum menatap satu sama lain, lalu lanjut bernyanyi lagi,

”What makes you so beautiful, is you don’t know how beautiful you are to me
You’re not trying to be perfect
Nobody’s perfect, but you are, to me
It’s how you take my breath away
Fill the words that I don’t say
I wish somehow, I could say them now....”


Kami mendekat dan memeluk satu sama lain. ”Oh, oh, I could say them now, mmm...” nyanyi kami di dalam pelukan yang hangat di pagi hari dan ditemani kicauan burung yang asik melihat kami berdua.


***


Kami kembali bersepatu roda dengan tangan kami yang masih menyatu dengan erat tetapi tiba-tiba Alfia melepas tangannya dan menggerakkan kakinya lebih cepat hingga membuatku tertinggal di belakang.

Alfia menggerakkan sepatu rodanya ke seorang penjual balon cair di pinggir jalan, akupun menggerakkan sepatu rodaku lebih cepat mendekat ke Alfia.

”Kamu ngapain?” Tanyaku begitu sampai di sampingnya.

”Beli ini.” Alfia menunjukkan sebotol balon cair yang baru saja Ia beli.

”Kaya anak kecil aja.” Ledekku.

”Biarin.” Balas Alfia dan menjulurkan lidahnya meledekku.

Lalu Ia membuka botol balon cair itu dan mulai meniup balon tersebut hingga menghasilkan gelembung-gelembung busa di udara dan aku yang melihatnya dari belakang diam-diam memotret Alfia lewat ponselku. Mengabadikan kecantikan Alfia.


***

No comments:

Post a Comment