***
Aku keluar dari kamar Aly begitu Ia tertidur pulas setelah ku
temani.
“Grey,” panggil Carmel yang sedang duduk di salah satu sofa.
“Ya, Carmel?”
Aku duduk di dekat Carmel. “Ada apa?”
Carmel menunduk sejenak, lalu menarik nafas panjang. “Ada banyak
yang ingin ku jelaskan padamu,” Ia menoleh ke arahku. “..tentang Alyssa.
Tentang yang sebenarnya.”
Langsung ku tatap mata Carmel tajam begitu mendengar kalimat
‘tentang Alyssa. Tentang yang sebenarnya.’. Memang selama ini ada yang belum ku
ketahui? Ada kebenaran yang belum ku ketahui?
“Tentang yang sebenarnya? Jadi selama ini ada yang nggak aku
ketahui tentang Aly?”
Carmel mengangguk pelan. Tak lama kemudian setetes air mata jatuh
dari bola matanya yang langsung Ia tepis.
“Aly bukan adik kandungku,” ucapnya dengan bibir yang bergetar.
Aku masih menatapnya dengan tatapan penuh tanya, sedangkan Carmel masih terus
menerus menepis air matanya yang terus jatuh.
“Lalu kamu siapanya Aly?”
“a..aku,” Ia gantungkan ucapannya lalu menarik nafas panjang.
“Ceritanya cukup panjang, Grey.”
“Tell me, Carmel. Sepanjang apapun ceritanya pasti aku dengar.”
Ia tarik nafas panjang lagi, kemudian menunduk. “Tahun lalu adalah
tahun yang mengubah segalanya.” Ujar Carmel yang tak lama kemudian bangkit dari
sofa dan langsung pergi menaiki tangga, meninggalkanku dengan berbagai macam
pertanyaan dari kalimat demi kalimat yang diucapkannya.
Aku masih di tempat yang sama, masih duduk di sofa dengan ditemani
pertanyaan-pertanyaan dari setiap kata yang diucapkan Carmel tadi dan mencoba
untuk mencerna kalimat itu, mencari maknanya.
Kalimat yang baru diucapkan Carmel terputar lagi di otakku,
“Tahun lalu adalah tahun yang mengubah segalanya.”
Itu yang diucapkan Carmel sebelum berlari menaiki tangga, dan kini
aku tiba-tiba teringat dengan kertas yang ku temukan di saat ingin mengambil
air untuk membersihkan luka di tangan Aly.
“Don’t be like last year, please.”
Itu yang tertera di kertas yang ku injak tadi, dan berdasarkan
bentuk tulisan yang tidak teratur aku yakin itu tulisan Aly, aku yakin itu.
Dan dua kalimat itu mempunyai suatu makna yang sama. Sama-sama
membahas tentang tahun lalu. Kata Carmel tahun lalu adalah tahun yang mengubah
segalanya dan kata Aly Don’t be like last year, jangan seperti tahun lalu. Itu
sama-sama memiliki makna bahwa tahun lalu memiliki kejadian luar biasa bagi
mereka yang tidak ku ketahui.
Terlihat Carmel turun dari tangga dengan sebuah buku dan beberapa
benda yang Ia rangkul. Carmel kembali duduk di sampingku lalu menaruh
benda-benda yang ternyata terdiri dari
sebuah album foto dan tiga buah bingkai foto yang tak lain tak bukan adalah
tiga bingkai foto yang ku lihat setelah siuman waktu itu.
Carmel menoleh ke arahku sejenak, “Siap untuk mendengar semuanya?”
tanyanya.
Aku mengangguk mantap dengan hati yang berdebar-debar karena aku
sama sekali tidak tahu apa yang ingin Ia bicarakan.
Carmel mengalihkan pandangannya ke album foto berwarna cokelat
yang terdapat gambar tibul setangkai mawar mewar tepat di tengahnya.
Carmel mulai membuka buku album itu, dan di halaman pertama
terdapat dua foto beserta keterangan di bawahnya.
Foto pertama.
Seorang gadis kecil sedang duduk di salah sebuah kursi taman
dengan rambut hitam lurusnya sebahu, dan tidak jauh dari kursi itu seorang anak
lelaki sebayanya sedang memperhatikan gadis itu.
Note:
“The first time I met you, on that park :) Remember?”
Foto kedua.
Masih di tempat yang sama, masih dengan orang yang sama yaitu
gadis kecil dan lelaki kecil itu, tetapi sepertinya di hari yang berbeda karena
mereka memakai baju yang berbeda dengan foto pertama. Di foto ini, gadis kecil
itu sedang duduk menyila di atas kursi taman sedangkan lelaki kecil itu sedang
berdiri di depannya dengan bunga yang Ia umpatkan di balik tubuh mungilnya.
Note:
“The flowers hihi :]”
Aku menoleh ke Carmel yang sedang mengusap air matanya.
“Grey, sudah mau jam dua belas kau tidak pulang?”
“Tapi kau bilang mau memberitahuku yang sebenarnya tentang Aly
kan?”
“Ya, tapi ini sudah malam. Apa orangtuamu tidak mencarimu?”
Aku berfikir sejenak, benar juga kata Carmel. Pasti orangtuaku
akan cemas jika sampai larut malam seperti ini aku belum pulang.
“Kau boleh bawa ini pulang, Grey.” Carmel memberiku buku album itu. “Kau bisa
datang lagi besok, kan?”
Aku mengangguk.
“Kau buka saja semua yang ada di album foto itu, lalu besok akan
ku jelaskan semuanya padamu.”
Aku mengangguk lagi, “Serius ini aku bawa?” tanyaku memastikan.
Carmel mengangguk, “Mungkin beberapa pertanyaan yang ada di otakmu
akan dijawab oleh buku itu dan pertanyaan lainnya akan ku jawab besok dari
penjelasanku.”
Ku ambil album foto ini, lalu menutupnya.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu.” Ujarku seraya berjalan
didampingi Carmel ke depan rumahnya untuk mengambil mobil dan kembali ke rumah.
***
Ku tutup pintu kamar dan langsung menguncinya rapat-rapat, jam
sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam dan untungnya Mama tidak marah
dan bertanya bertele-tele mengapa aku baru pulang tengah malam begini.
Langsung ku jatuhkan tubuhku di atas kasur masih dengan album foto
cokelat ini di tanganku. Ku ambil posisi nyaman di atas kasur lalu mulai
melanjutkan melihat isi album foto ini walaupun hari sudah larut malam.
Foto ketiga.
Hanya lelaki kecil ini yang muncul dengan setangkai bunga mawar
yang Ia genggam.
Note:
“ Rose <3”
Foto keempat.
Tak lain tak bukan masih dengan wajah yang sama seperti foto kedua
dan ketiga, tetapi sepasang anak kecil ini sudah mulai tumbuh besar dan di foto
ini mereka mengenakan seragam putih merah alias seragam Sekolah Dasar.
Note:
“Elementary school we’re cominggg <3 heheh”
Aku tertawa kecil saat melihat foto yang keempat. Tak lama
kemudian ku dengar langkah kaki menaiki tangga, begitu mendengar itu langsung
ku tutup album foto ini dan menaruhnya di bawah bantal lalu berpura-pura
mengambil posisi tidur.
Ku pejamkan mataku untuk mengelabuhi siapapun yang masuk ke dalam
kamarku. Beberapa saat kemudian pintu kamarku terbuka dan terdengar langkah
kaki mendekat kasurku.
Masih memejamkan mata, lalu ku rasakan sebuah kecupan hangat
mendarat di dahiku dan terdengar sebuah kalimat dari mulut orang yang
mengecupku itu.
“My lil boy sudah tumbuh besar.” Ucapnya lalu mengelus rambutku
lembut dan aku tahu bahwa itu suara Mama.
Tak lama kemudian langkah kaki Mama terdengar menjauhi kasurku dan
suara pintu menutup terdengar. Ku buka mataku untuk memastikan bahwa Mama sudah
pergi dan mengambil album foto yang ku umpatkan di bawah bantal itu.
Ku buka lembaran berikutnya, untuk melihat kelanjutan foto itu
yang kata Carmel mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku.
Foto kelima.
Tidak seperti foto yang sebelumnya, karena hanya terdapat lelaki
kecil itu di foto ini yang sedang duduk manis di depan piano dengan kedua
tangannya yang berada di tuts piano dan wajahnya yang menghadap ke kamera.
Tersenyum.
Note:
“First melody, for you ;}”
Foto keenam.
Kali ini mereka berdua muncul lagi di foto ini. Mereka duduk manis
di depan piano berdua, dengan tangan lelaki kecil ini berada di atas tangan
sang perempuan kecil seperti sedang mengajarkan cara bermain piano.
Note:
“cute, isn’t it? ;b”
Ku lirik sekelilingku sejenak lalu kembali membuka lembaran
berikutnya.
Foto ketujuh.
Di foto ini mereka sedang menaiki sebuah sepeda bersama, dengan
tawa yang terpasang di wajah mereka masing-masing. Wajah mereka masih imut,
kalau diperkirakan sepertinya mereka masih berumur delapan tahun.
Note:
“The laugh, the smile , the love <3”
Foto kedelapan.
Foto ini berlatar belakang suasana sore pantai. Kedua anak kecil
ini sedang asik dengan istana pasir buatan mereka dan mereka sama-sama
menampilkan senyum ke kamera.
Note:
“my castle better than yours ;p”
Senyum tampil di wajahku dengan tiba-tiba, lalu disambut dengan
mulutku yang menguap dan ku akui aku sudah ngantuk saat ini. Tetapi dari
delapan foto yang sudah ku lihat, itu semua belum menjawab segala macam
pertanyaan yang terus berputar di pikiranku. Ada niat untuk membuka lembaran
selanjutnya, tetapi ku rasa mata ini sudah tidak sanggup lagi dan akhirnya ku
putuskan untuk menutup dan menaruh buku ini lalu memejamkan mata untuk tidur.
Besok, akan ku lanjutkan untuk melihat isi buku itu.
***
Aku terbangun.
Bukan, bukan karena cahaya matahari yang menyilaukanku.
Bukan, bukan karena kicauan burung bernyanyi.
Tetapi karena bunyi panggilan masuk dari ponsel yang ku taruh di
meja kecil dekat kasurku.
Alfia, menelfonku.
“Ya, Alfia?”
“Grey, maaf kita nggak bisa jalan hari ini. Mama dan Papa ngajak
aku pergi, jadi kita nggak bisa jalan hari ini. Maaf ya, maaf banget.”
“Oh, yaudah nggak apa-apa kok. Lagipula pasti orangtua kamu kangen
sama kamu, Fi. Dan mereka butuh waktu sama kamu.”
“Hehe, iya kan berbulan-bulan yang lalu aku pergi ninggalin
mereka.”
“Iya, aku ngerti kok.”
“Yaudah deh kalo gitu maaf banget ya, kita bisa hang out besok
kan?”
“Bisa kok, tenang aja.”
“Yaudah deh kalo gitu. Bye, Gwey.”
“Bye, sweetheart.”
Alfia menutup sambungan telepon ini. Aku pun kembali menaruh
ponsel ku di atas meja dan melihat jam yang tertempel di dinding kamar yang
sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Aku beranjak dari kasur untuk mencuci muka dan sikat gigi. Setelah
membersihkan diri, aku berjalan ke meja belajar untuk mengambil album foto yang
dipinjamkan Carmel kembali.
Ku bawa buku itu ke atas kasur dan mengambil posisi nyaman untuk
melihat buku album itu.
Foto kesembilan.
Masih seperti foto-foto
sebelumnya, kedua perempuan dan lelaki yang sama muncul.
Kali ini mereka menggunakan baju putih-merah SD, tetapi kemeja
putih mereka dipenuhi dengan berbagai macam coretan warna warni.
Note:
“Junior high school we’re coming ;D”
Foto kesepuluh.
Foto kesepuluh ini menampilkan mereka yang sedang bergaya di depan
kamera dengan seragam putih-birunya. Mereka saling merangkul satu sama lain.
Di foto ini aku baru menyadari bahwa perempuan itu terlihat
seperti Aly. Atau mungkin Ia memang Aly, tetapi di foto ini Ia tidak buta.
Dan lelaki itu adalah lelaki yang ada di bingkai foto di saat aku
siuman setelah pingsan.
Note:
“Junior high school yey! <3”
Aku terdiam sejenak, menatap langit-langit kamarku tanpa sebab,
kemudian kembali menunduk.
Apa foto kesepuluh ini sumber dari semua yang tidak ku ketahui?
Aku menggeleng pelan, mengaruk kepalaku yang tidak gatal dan
membiarkan pertanyaan ini terus terputar di kepalaku, karena kata Carmel buku
ini mungkin akan menjawab beberapa hal yang tidak ku ketahui. Maka jika aku
membuka lembaran demi lembaran selanjutnya, semua pertanyaan itu akan terjawab.
Foto kesebelas.
Di foto ini mereka masih memakai seragam putih-biru, dan mereka
sedang duduk di bawah pohon rindang dengan lidah mereka yang sama-sama
dijulurkan ke luar mulut.
Lelaki itu juga menjulurkan tangannya mendekat ke kamera, dan di
telapak tangannya tertulis, “bestfriend →” tanda panah itu menuju ke perempuan
di sampingnya.
Note:
“Besfriend → girlfriend? <3”
Foto kedua belas.
Masih orang yang sama dari foto pertama. Di foto kedua belas ini,
mereka saling merangkul satu sama lain membelakangi kamera dengan pakaian
olahraga basket yang mereka pakai. Nomer punggung yang lelaki 18 dan yang
perempuan 2.
Note:
“2 & 18 <3 hehe”
Foto ketiga belas.
Mereka memakai baju putih-biru dengan atasan putih yang dipenuhi
coretan warna-warni, hampir sama seperti foto sebelumnya dengan seragam
putih-merah dengan kemeja putihnya yang dicoret juga.
Note:
“GUESS WHAT? DONE WITH JUNIOR HIGH SCHOOL YOHOOOO”
Foto keempat belas.
Sekarang mereka sudah tidak memakai baju putih-biru lagi melainkan
seragam putih-abu abu yang sangat pas dengan postur tubuh mereka yang sudah
terlihat sangat remaja.
Note:
“HIGH SCHOOL! WE’RE ON HIGH SCHOOLLL! Time flies so fast!”
Foto kelima belas.
Hanya perempuan itu yang ada di foto ini dengan rok selututnya
yang tertiup angin pelan, perempuan itu menatap ke hamparan danau luas,
membiarkan rambut panjang hitamnya yang terurai diterpa angin.
Note:
“you’re beautiful, babe :)x”
Foto keenam belas.
Kembali seperti semula, mereka muncul bersama-sama di foto ini. Di
foto ini mereka sama-sama menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis
mereka yang sepertinya terbuat dari ranting pohon.
Note:
“the rings babe ;)x”
Foto ketujuh belas.
Di foto ini yang lelaki sedang mencium pipi perempuan itu yang
sedang membawa kue ulangtahun ber-angka 16.
Note:
“16 days ago, on my 16th birthday ;}”
Aku terdiam, lalu kembali menatap foto kedelapan belas
ini lebih dekat.
Ini foto yang ada di bingkai foto setelah aku siuman
waktu itu,
Jadi apa perempuan itu Alyssa seperti dugaanku
sebelumnya?
Dan siapa lelaki itu? Kekasihnya atau siapa?
Aku menggeleng lagi pelan, mencoba mengusir pertanyaan yang
berputar di kepalaku saat ini dan kembali membuka lembaran selanjutnya.
Foto kedelapan belas.
Ada tiga orang di foto ini. Dua lelaki dan satu perempuan. Mereka
saling merangkul satu sama lain dengan senyum ke kamera.
Tunggu, lelaki di sebelah kanan perempuan itu adalah Frans. Tidak
salah lagi ini adalah foto yang terdapat di dompet Frans. Foto yang Frans
tunjukkan di prom night itu.
Foto kesembilan belas.
Foto ini berlatar hamparan laut luas dengan perempuan ini yang
membuka kedua tangannya layaknya ingin terbang seperti burung-burung di
angkasa.
Note:
“Fly like you never fall. Cause I will catch you if you fall
<3”
Foto kedua puluh.
Mereka berdua sama-sama muncul di foto ini. Mereka berbaring di
atas rerumputan hijau, sama-sama tersenyum menatap ke kamera, dan di antara
mereka terdapat setangkai bunga mawar merah merekah.
Note:
“Yes the rose is between us. Rose = love ;)”
Aku membuka lembaran berikutnya lagi, tetapi sayang di lembaran
berikut nya sudah tidak terdapat foto lagi, yang ada hanya sebuah amplop
berwarna merah muda dengan motif mawar di sekitarnya.
Ku ambil amplop tersebut, ingin sekali membukanya dan melihat apa
isinya, tetapi di lain sisi aku ingat bahwa Carmel tidak bilang apa-apa tentang
amplop yang ada di buku ini. Aku takut amplop ini berisikan sesuatu yang
penting dan aku tidak berhak untuk membacanya tanpa izin.
Ku taruh amplop merah muda ini kembali ke sela-sela lembaran buku
dan menutupnya.
Ku raih ponsel yang tergeletak di meja kecil dekat kasur, dan
mulai mengetik dengan cepat deretan kalimat kepada seseorang yang saat ini
benar-benar ku butuhkan.
To : Carmel
Text:
“Can we meet? your café at 10? I need to talk.
-greyson”
Ku jatuhkan ponselku pelan di atas kasur lalu berbaring.
Carmel, buku itu tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Buku itu
hanya membuatku makin bingung dan bertanya-tanya.
***
Green café, Jakarta.
11.00 WIB.
Seseorang dengan rambut keriting khasnya muncul dari balik pintu
café dan berlari mendekat ke diriku yang duduk di pojok café dekat jendela.
“11 o’clock! Maaf aku telat satu jam, Grey. Yang menjaga Aly baru saja datang jadi aku
harus menunggunya.” Ujar Carmel dengan raut wajah penuh bersalah.
“Gapapa kok, aku juga baru datang.” Balasku.
“Jadi gimana, buku itu udah jawab semua pertanyaan kamu?” Tanya
Carmel sambil duduk di hadapanku.
Aku menggeleng. “Buku itu malah membuatku makin bingung.” Jawabku.
“Aku bisa tebak itu.” Ia menghela nafasnya panjang.
“Carmel, aku menemukan ini.” Ucapku sambil menunjukkannya amplop
merah muda itu. “Belum aku buka, aku takut itu bukan hak ku untuk membukanya
tanpa izin.”
Carmel mengambil amplop merah muda itu lalu menatapku sejenak
sebelum membuka amplop itu pelan.
Muncullah kertas yang terlipat berwarna merah muda sama seperti
amplopnya. Carmel melirikku lagi, lalu membuka lipatan kertas itu dan mulai
membaca tulisan yang ada di dalamnya, sedangkan aku hanya menatapnya serius
menanti kata-kata yang akan keluar dari mulutnya setelah membaca surat itu.
Tak lama kemudian, Ia jatuhkan kertas itu di atas meja, dan
menunduk. Menempelkan dahinya di permukaan meja. Badannya bergetar, isak
tangispun terdengar. Aku yang melihat hal itu langsung bangkit dari kursi dan
berjalan ke kursi yang ada di sebelah Carmel.
“Carmel, ada apa?” Ku rangkul tubuhnya pelan. Ia mendangak, lalu
cepat-cepat menghapus air mata yang jatuh dengan deras ke pipinya.
“Semuanya terlalu manis,” Ucapnya lirih, masih menumpahkan air
matanya. “tetapi terlalu pahit untuk menerima kenyataannya.” Lanjutnya.
“Segala sesuatu pasti punya sisi yang manis dan yang pahit.”
Ucapku.
“Aku tahu, Grey. Aku tahu itu.” Balasnya.
Carmel mengambil kertas merah muda itu lagi, membacanya lagi dan
memberikannya kepadaku.
“Baca ini,” pinta Carmel sambil memberikan kertas itu kepadaku.
Aku mengangguk pelan lalu menerima kertas merah muda itu, dan
mulai membacanya dalam hati.
“To : my rose :)
Ayo tebak ini tanggal
berapa?! Yep tanggal 2 November. Dan tebak apa yang terjadi di tanggal 2
November 16 tahun yang lalu? Kalau kamu nggak tahu mending aku aja yang kasih
tahu ya (;
Here’s the story..
16 tahun yang lalu, tepat
di tanggal 2 november seorang puteri cantik lahir ke dunia ini. Ia lahir dengan
kulit yang masih merah, hidung yang mancung dan bibir yang semerah mawar
mungkin?
Orangtua puteri cantik itu begitu bahagia saat melihat anak
pertamanya lahir, sangat-sangat bahagia,
dan mereka menamakan puteri pertamanya itu Alyssa Catherina Roses. Karena
puteri pertamanya itu memiliki bibir yang merah semerah bunga mawar.
Di usia ke lima tahun, di saat sedang bermain di taman dekat
rumahnya sang puteri bertemu dengan seorang pangeran berambut hitam. Mereka pun
bermain bersama di taman itu, bahkan setiap hari mereka sama-sama datang ke taman
itu untuk bermain bersama lagi.
Puteri dan Pangeran itu semakin hari pun semakin dekat, dan di
usia enam tahun mereka mulai masuk sekolah dan ternyata mereka satu sekolah.
Jadi setiap hari mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
Mereka habiskan masa kekanakan mereka bersama, bermain bersama,
tertawa bersama, tersenyum bersama, menangis bersama, marah bersama dan banyak
hal lain yang mereka lakukan bersama lagi.
Di usia Sembilan tahun, mereka sudah sama-sama bisa memainkan alat
musik piano karena mengikuti kursus bersama juga. Awalnya hanya sang Pangeran
yang mengikuti kursus, tetapi setelah
melihat sang Pangeran bermain piano sang Puteri pun tertarik untuk mengikuti
kursus juga.
Puteri dan Pangeran itu tumbuh dengan cepat, sampai akhirnya
mereka masuk SMP. SMP yang sama juga. Mungkin Tuhan ingin menempatkan Puteri
dan Pangeran ini bersama lagi, mungkin Tuhan ingin mereka bersatu menjadi
sahabat yang kekal dari kecil sampai tumbuh besar, atau mungkin Tuhan punya
jalan lain yang menginginkan mereka menjadi pasangan hidup sampai akhir?
Di usia 14 tahun mereka mulai tumbuh menjadi remaja, dan di usia
ini mereka baru menyadari bahwa ada suatu hal yang tidak mereka sadari selama
ini. Hal itu, cinta.
Akhirnya tepat di tanggal 20 November (18 hari setelah ulangtahun
Puteri), sang Pangeran mulai menyatakan apa yang Ia rasakan belakangan ini.
Jantung yang berdebar, bibir yang kaku setiap ingin bicara, dan pikirannya yang
tak menentu. Ia jelaskan semuanya kepada sang Puteri di salah satu kursi taman
tepat mereka pertama kali bertemu di usia 5 tahun itu, dan tanpa diduga oleh
sang Pangeran ternyata sang Puteri juga merasakan hal yang sama.
Maka di tanggal 20 November mereka tidak hanya menjadi sahabat,
tetapi sudah lebih.
Mungkin, ini jalan Tuhan yang menginginkan mereka bersama. Dalam
ikatan persahabatan, dan juga ikatan cinta.
Dan hari ini sang Puteri sedang merayakan ulangtahunnya yang ke-16
bersama sang Pangeran, yaitu aku.
Happy 16th birthday, dear! Love you! be my first and last
love k? xoxo
-Adrian <3
P.s: jumlah foto di buku ini ada 20 sama seperti tanggal kita
jadian, 20 adalah hasil perjumlahan dari tanggal lahir kita, dan satu lagi buku
ini itu khusus buat kamu, Aly. Sampul bunga mawar, diawali oleh foto kita
berdua dengan bunga mawar, dan di akhiri dengan foto kita yang di tengahnya
terdapat bunga mawa ;)x “
“Udah selesai kamu baca?” Tanya Carmel masih dengan air matanya
yang sedari tadi tidak berhenti turun.
Ku tatap Carmel serius,
“Ceritakan semuanya sekarang, apapun tentang semua ini. Tentang buku
album itu, tentang surat ini, tentang Aly, tentang siapa itu Adrian. ” ucapku
dengan cepat dari kata ke kata. “Sekarang, Carmel. Ini semua membuatku tambah
bingung, sungguh!” lanjutku lagi dengan tekanan di akhir kalimat.
Carmel mengusap air mata di pipinya, menatapku sekilas lalu
bangkit dari kursinya. “Ayo, akan ku jelaskan di suatu tempat.” Ucapnya.
Aku hanya menurutinya dan berharap nanti semuanya akan jelas.
Tidak ada lagi kebingungan. Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang terus menerus
terputar di otakku tanpa menentu.
***
Aku berjalan di belakang Carmel. Mengikutinya langkahnya dari
belakang, menyusuri hamparan rumput
hijau luas dan hamparan rumput luas ini sebagian tertutupi oleh
makam-makam yang terjejer rapih. Ya, aku sedang ada di pemakaman yang entah apa
sebabnya Carmel mengajakku ke sini.
Ia hentikan langkahnya begitu sampai di sebuah makam yang berada
di bawah pohon teduh. Carmel mendekat ke makam
itu lalu berlutut dan mengelus batu nisan itu lembut.
“Kakak kangen kamu, dek.” Ucap Carmel lirih masih terus mengelus
batu nisan dan rerumputan hijau di atas makam itu.
Ku bungkukkan badan, ikut berlutut di samping Carmel lalu mengelus
bahunya pelan.
“Aly juga kangen kamu, dek. Dia sangat-sangat rindu denganmu.”
Carmel menunduk, menarik nafas panjang. “Coba kamu liat siapa yang ada di
samping Kakak. Namanya Greyson, dia baik, wajahnya hampir mirip dengan kamu,
pandai bermain piano seperti kamu, pandai bernyanyi seperti kamu, dan sekarang
dia yang menjaga Aly. Menemani Aly. Menggantikan kamu yang sudah setahun pergi,
tetapi tenang, dek. Aly nggak akan pernah lupa sama kamu.”
Carmel menatapku sejenak, lalu kembali menunduk.
“Aku tahu pasti kamu bingung dengan semua ini, Grey.”
“Ya, aku sangat amat bingung. Tolong ceritakan semuanya sekarang,
Carmel. Ku mohon, aku benar-benar bingung.”
Lagi-lagi Ia menarik nafas panjang, lalu menghembusnya pelan.
“Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, Alyssa bukan adik kandungku.
Ia kekasih adikku.” Carmel menahan ucapannya dengan tangis. “Aly adalah
perempuan yang ada di buku album foto yang ku berikan padamu tadi malam, dan
yang lelaki adalah adikku. Adrian.”
“Adrian? Yang di surat itu?”
Carmel mengangguk, “Seperti yang ku bilang semalam, tahun lalu
adalah tahun yang mengubah segalanya. Merubah kehidupanku, kehidupan Aly, dan
kehidupan adikku Adrian…Tahun lalu di hari ulangtahun Aly yang ke-16, adikku
mengajak Aly untuk pergi ke sebuah restaurant di pinggir danau untuk memberikan
Aly kejutan tetapi belum sampai ke restaurant, mereka…” Isak tangis memotong
perkataan Carmel.
“Carmel, ada apa? Ayo jelaskan.”
“Mereka kecelakaan. Kecelakaan itu merenggut nyawa adikku, dan
merenggut penglihatan Aly.” Tangis
Carmel pecah lagi.
Aku tersentak mendengarnya. “Jadi Aly sebelumnya tidak buta? Ia
mengalami buta baru setahun yang lalu?” tanyaku dengan nada yang agak tinggi.
Carmel mengangguk, masih menangis dan entah kenapa mataku ikut
menumpahkan air mata juga.
“Padahal adikku dengan rajinnya mengumpulkan semua foto-fotonya
saat masih kecil hanya untuk Aly, untuk mengisi album foto yang ingin Ia
berikan pada Aly. Tapi sayang, semuanya percuma.”
“Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat betapa rajinnya adikku
menyusun foto-foto itu setiap malam, menulis kalimat-kalimat manis di atas
surat untuk pelengkap buku itu, berharap agar Aly akan senang saat membacanya.
Tapi apa? Belum sempat memberi buku itu Ia sudah pergi..”
“Tapi, kenapa nggak kamu kasih buku dan kertas itu ke Aly? Ia kan
masih hidup, Mel.”
“Percuma. Aly nggak bisa ngeliat semua yang ada di dalam buku itu
secara langsung. Aku ingin Aly melihat itu semua secara langsung, tanpa
perantara. Dan aku nggak tau kapan Aly bisa melihat itu semua secara langsung,
aku nggak tahu itu kapan, atau apakah itu mungkin terjadi?”
“Itu mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin, Carmel.”
“Aku tahu itu.”
“Kalau kamu bukan kakaknya Aly, kenapa Aly tinggal bersamamu?
Bagaimana dengan keluarganya? Orangtuanya?”
“Orangtuanya sedang di USA. Bekerja dan sedang berusaha mencari
donor mata untuk Aly. Karena sulit untuk mencari sepasang mata yang cocok
dengannya, Aly punya tipe darah yang sulit untuk dicari.”
“Aku prihatin, Carmel.”
“Dulu sebelum kamu datang di hidup Aly, Ia selalu pergi ke makam
ini sendirian hanya untuk menemui makam Adrian alias kekasihnya yang sudah lama
pergi, Ia pergi sendirian ke makam ini walaupun dengan keadaannya yang buta.
Sepulang dari pemakaman pasti Aly akan mampir ke taman tempat Ia dan adikku
pertama kali bertemu, untuk mengenang memori mereka. Dan di taman itu juga kamu
bertemu dengan Aly, kan?”
“Iya, aku bertemu dengan Aly di taman. Jadi taman itu adalah taman
tempat Aly dan Adrian bertemu?”
“Iya.” Jawab Carmel lirih.
Aku terdiam.
Ternyata taman itu mengandung banyak sekali arti, menyimpan banyak
sekali memori, dan menyaksikan berbagai macam peristiwa berharga seperti di
saat Aly bertemu dengan Adrian, di saat mereke berdua berpacaran, dan taman itu
juga merupakan salah satu tempat favorite ku dan Alfia.
***



No comments:
Post a Comment