Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 16 )

***

Saat menenangkan diri, aku merasa ada yang menyelipkan jemarinya di sela-sela jemariku secara perlahan.

Aku langsung membuka mata ingin mengetahui siapa yang datang dengan tiba-tiba.

"Ma?"

Ternyata Mama yang tiba-tiba datang.

"Lagi punya masalah ya?" Tanya Mama.

Aku terdiam, menatap ikan-ikan yang sedang berenang di dalam kolam.

"Everythings okay."

Everythings okay?
Mm, aku berbohong untuk kesekian kalinya.

"Serius?" Tanya Mama lagi seakan tidak percaya dengan jawabanku.

"Mm, yeah." Balasku ragu.

Nggak Ma, aku nggak serius.
Aku punya masalah.
Tapi aku nggak mau melibatkan Mama.


Tiba-tiba Mama menaruh kedua tangannya di pipiku ya dengan tangan kanannya yang basah kemudian memaksaku untuk menatap matanya.

"Mmm. Mama tau pasti Grey lagi punya masalah."
"Enggak kok."
"Jangan bohong."
"Enggak Ma." Aku melepas kedua tangan Mama dari wajahku perlahan kemudian berdiri. "Grey capek, mau istirahat dulu."

Aku berjalan pelan menuju tangga, meninggalkan Mama yang masih berada di pinggir kolam.

"Masalah kalau dipendam sendiri bisa jadi beban pikiran dan malah bisa jadi tambah rumit." Ucap Mama di saat aku ingin menaiki tangga.

Ku hentikan langkah sejenak karena perkataan Mama kemudian kembali menaiki tangga menuju ke kamar.

Ku buka pintu kaca yang membatasi kamar dengan balkon kamarku dan begitu terbuka bisa dirasakan angin malam yang menghempas tubuhku dengan keras serta dingin.

Aku berdiri menatap ke depan, ke gemerlap lampu-lampu kota di tengah gelapnya malam dan tiba-tiba perkataan Mama di bawah tadi terngiang-ngiang di telingaku.

'Masalah kalau dipendam sendiri bisa jadi beban pikiran dan malah bisa jadi tambah rumit.'

Mm,

Beban pikiran?
Ya, permasalahan itu memang selalu jadi beban di pikiranku, walaupun terkadang hilang untuk sejenak di saat aku sedang bersama Alyssa tetapi pasti masalah itu muncul kembali. Membebaniku kembali.


Rumit?
Mungkin bisa jadi.
Karena jika aku terus-terusan melakukan hal ini setiap saat pasti masalah ini semakin besar, walaupun yang sedang ku alami saat ini belum terlalu besar tetapi cukup menyita pikiranku.


Jadi apa?
Jadi siapa?


Jadi apa yang harus ku lakukan agar masalah ini bisa teratasi?

Jadi siapa yang harus ku pilih tanpa menyakiti satu orang pun?

Dan ada satu lagi yang mengganjal perasaanku saat ini,


Siapa yang membuat masalah ini?


Aku?
Kenapa aku?

Aku dengan tidak sengaja bertemu dengan Alyssa di taman, mengantarnya ke rumah kemudian Carmel memintaku untuk menjaganya hanya untuk seminggu. Aku kan cuma membantu Carmel untuk menjaga Alyssa, dan lagipula aku dan Alyssa hanya berteman. Aku nggak pernah berencana untuk macam-macam dengannya.

Tunggu, aku masih sedikit ragu dengan kata-kata 'hanya berteman' dengan Alyssa.

Kalau memang itu hanya sebuah rasa pertemanan biasa,
mengapa setiap berada di samping Aly aku selalu merasakan sesuatu yang membuatku selalu ingin menjaganya? Ingin menemaninya? Ingin membuatnya tersenyum dan membuatnya tertawa? Mengapa?

Padahal dilain sisi aku menyadari bahwa aku mempunyai Alfia. Aku dan Alfia sudah mempunyai banyak kenangan yang manis yang membuatku selalu teringatnya. Dan aku merasa bahwa aku masih mencintai Alfia.

Tetapi bagaimana dengan Aly?
Apa itu namanya?
Apa yang sedang aku rasakan?


Yeah, masalah ini mengalir dengan lembut, mengalir dengan manis tetapi menyakitkan pada akhirnya. Pintar.


***


Ketukan pintu mengganggu tidurku yang terpaksa membuatku membuka mata dan bangkit dari tempat tidur untuk melihat siapa yang mengketuk kamarku di pukul setengah enam pagi ini.

"Ada apa, ma? Aku ngan-"
"Greyson, Mama mau ke butik dulu ada temen lama Mama dari luar kota mau datang ke butik jadi mungkin Mama bisa pulang malam Alexa pergi ke rumah temannya jadi kamu bisa nggak jagain rumah untuk hari ini aja oke mama pergi dulu sayang jangan lupa jaga rumah ya! Mama pergi!" Ucap Mama panjang lebar dengan terburu-buru dan tanpa jeda dari kata ke kata yang membuatku pusing.

"Ma!" Panggilku begitu Mama sudah mulai berlari menuruni tangga.

Mama menoleh.

"Intinya cuma jagain rumah kan?"

Mama mengangguk kemudian berlari menuruni tangga.

Aku menghela nafas panjang. Itu memang kebiasaan Mama dari dulu, kalo sedang terburu-buru pasti bicaranya tanpa jeda.


Aku turun ke bawah tepatnya ke meja makan untuk sarapan tetapi sayangnya tidak ada apapun di atas meja makan. Aku tahu, pasti Mama nggak sempat masak.

Ku urungkan niatku untuk sarapan dan kembali naik ke kamar.

Aku berbaring di atas kasur menatap ke langit-langit kamar. Berdiam diri lagi.

"I believe God will bring me to the right person." Ucapku nyaris berbisik sembari tersenyum.

"But I dont know who is that right person." Lanjutku lagi dan kali ini setetes air mata jatuh dari bola mata kananku yang langsung ku usap.

"God and time will answer my questions, yeah." Ucapku lagi sembari bangun dari berbaring.

Aku menatap ke meja kecil di sebelah tempat tidurku, sebenarnya menatap sebuah parfum bertutup merah dengan secarik kertas yang ada di dekat parfum itu.

Ku ambil parfum itu, kemudian menyemprotkan parfum itu ke pergelangan tanganku dan ku hirup wangi parfum yang sangat ku kenal itu dan ku sadari aku merindukan aroma parfum ini.

Kemudian ku ambil secarik kertas yang ada di dekat parfum itu.

Kertas yang bertuliskan,
'Spray the parfum if you miss me <3
-Alfia'


God. I miss this.

***

No comments:

Post a Comment