Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 15 )

***

Ku bangunkan badan perlahan, menatap ke sekeliling kemudian melepas selimut dan berdiri untuk mencari tahu di mana aku berada saat ini.

Kamar tempat di mana ku berada saat ini sepertinya milik seseorang yang begitu mencintai basket karena begitu banyak hiasan-hiasan berbau basket ada di ruangan ini, mulai dari bola basket, poster pemain basket dunia, dan masih banyak lagi.

Tanpa disadari aku berjalan mendekat ke sebuah meja yang ada di dekat jendela. Sebuah meja yang di atasnya terdapat beberapa bingkai foto.

Ku lihat satu persatu foto yang berada di bingkai itu.

Bingkai pertama, terdapat seorang lelaki dengan bola basket yang di putarkan di jarinya tersenyum menatap kamera.

Mmm, mungkin dia pemilik kamar ini.

Bingkai kedua, masih lelaki yang sama sedang merangkul Carmel.

Carmel?

Bingkai ketiga, lelaki yang sama dengan bingkai-bingkai sebelumnya sedang mencium pipi Alyssa yang sedang membawa kue ulangtahun.

Tunggu,
Mencium pipi Alyssa?

Ku tatap lagi bingkai ketiga itu dari dekat. Memastikan apa benar yang baru saja ku lihat dan ternyata apa yang ku lihat sebelumnya memang benar.

Lelaki itu mencium pipi Alyssa yang sedang membawa kue ulangtahun dan di foto ini Aly terlihat normal. Ia menatap kamera dengan penuh ekspresi. Ia tidak terlihat buta dan ini yang membuatku bingung. Membuatku bertanya-tanya.

Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui selama ini?

"Greyson, kamu udah siuman?" Seru Carmel tiba-tiba dari pintu. Oh, ternyata ini rumah Carmel.
"Iya, baru aja." Balasku dan berjalan mendekatnya dengan santai walaupun pikiranku masih stuck bertanya-tanya tentang foto di bingkai ketiga tadi. "Memang tadi aku kenapa?"
"Kamu pingsan di belakang mobil untung aja aku pas pulang kantor dan liat pas kamu pingsan."
"Aku? Pingsan?"
"Yep!"
"Terus Aly di mana?"
"Dia di kamar, sakit."

Aku sedikit panik begitu mendengar balasan Carmel kalau Aly sakit dan kami pun berjalan bersama ke kamar Aly walaupun sebenarnya aku itu berlari kecil.

Aku terdiam sejenak begitu sampai di pintu kamar Aly. Melihat wajah Aly dari kejauhan kemudian berjalan perlahan mendekatnya.

"Dia demam karna kedinginan." Kata Carmel disaat aku sedang menggenggam tangan Aly. Memang benar sih, tangan Aly terasa sangat dingin.
"Pasti karna dia cuma bisa diem di dalam mobil pas aku pingsan... dan bajunya kan basah." Ucapku dengan penuh rasa bersalah.
"Nggak usah merasa bersalah gitu, Grey." Carmel berusaha menghilangkan rasa besalahku walaupun tetap aja aku masih merasa bersalah. "Oiya, ini ponsel kamu. Tadi basah untung nggak rusak." Carmel memberikan ponselku.
"Thanks."

Ku nyalakan ponsel yang sedari tadi mati dan ternyata baterainya habis jadi terpaksa ku matikan lagi.

Hari sudah malam dan terpaksa aku harus pamit untuk pulang ke rumah sebelum Mama mencariku.

"Carmel, aku harus pulang dulu ya udah malam." Pamitku.
"Oh oke, Grey. Makasih ya udah mau nemenin Aly dari kemarin."
"Iya sama-sama."
"Oiya, tiga hari ke depan kamu nggak perlu ke sini lagi kok. Aku udah manggil orang buat jagain Aly, maaf yah udah ngerepotin."
"Nggak ngerepotin kok."

Aku dan Carmel pun berjalan ke luar kamar Aly dan begitu baru sampai di pintu suara Aly terdengar memanggilku.

"Grey?" Panggil Aly.

Aku dan Carmel segera berbalik badan begitu mendengar suara Aly kemudian mendekat ke Aly dan duduk di bibir kasur.

"ya, Aly?"
"Kamu bakal terus nepatin janji itu kan?"
"Pasti kok kan aku udah janji kan?"
"Tapi aku mimpi aneh."
"Mimpi apa?"
"Aku mimpi kamu punya orang lain."

Aku sempat terdiam mendengar itu.
Andai aku bisa berkata bahwa, 'itu bukan mimpi, Aly. Itu kenyataan. Kenyataan yang susah untuk dijelaskan.'.
Andai aku bisa berkata itu, mengatakan yang sebenarnya.

"Um, itukan cuma mimpi." Ucapku yang bisa dibilang setengah bohong dan setengah benar.

Setengah bohong karna itu sebenarnya bukan hanya mimpi tapi juga kenyataan.

Dan setengah benar adalah karena itu memang sebuah mimpi yang datang ke Aly, kan?

"Aku tau."
"Aly tenang, itu cuma mimpi kan? Nggak usah dianggap serius."

Aku menenangkan dan menggenggam tangannya. Membuatnya tenang. "Aku pulang dulu ya udah malam." Ku peluk Aly sejenak. "Bye, Aly."


***


Aku turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah.

Rumah sepi.
Cuma terlihat Alexa di depan televisi dengan cemilan di sebelahnya.

"Mama mana?" Tanyaku ke Alexa.
"Pergi sama Papa." Jawab Alexa sambil melahap cemilannya.
"Oh." Balasku singkat dan berjalan menuju tangga.
"Eh tunggu!" Panggil Alexa.
"Apaan sih kak?" Jawabku males-malesan.
"Idih gitu banget. Nggak jadi ngomong deh."
Ku hela nafas sejenak. "Ada apa?"
"Nggak jadi." Balas Alexa gantian yang jawab males-malesan.

Aku menghela nafas panjang kemudian kembali berjalan menuju tangga.

Baru saja menaikki anak tangga pertama tiba-tiba sebuah suara terfokus di telingaku.
Suara gemercik air.

Ku turunkan kakiku dari tangga, masih terfokus dengan suara gemercik air itu.

Aku menjauh dari tangga kemudian berjalan ke taman belakang rumah.

Aku terdiam.
Menatap ke air mancur dari kolam ikan itu. Menatap ke sumber suara itu.

Aku berjalan pelan mendekat kolam itu kemudian mencelupkan jemariku ke dalam air kolam yang dingin setelah itu sebuah senyum simpul terpampang di wajahku.

Flashback-

Aku duduk di bibir kolam, menatap Alfia yang sedang asik bermain dengan ikan-ikan yang ada di dalamnya.

Sesekali Alfia tertawa dan tersenyum ketika bermain dengan ikan-ikan itu.

Tawanya,
Senyumnya,
Tatapan matanya,
Semuanya,
Adalah bagian dari hidupku.

Aku ikut mencelupkan jemari, ikut bermain bersama ikan-ikan dan tiba-tiba tersirat sesuatu di pikiranku.

Masih dengan keadaan jemari di dalam air, ku dekatkan tanganku ke tangan Alfia dan kemudian ku selipkan jemariku di sela-sela jemarinya hingga akhirnya muncul senyum manis di wajahnya.

That smile just make me overwhelmed.

Back-

Masih ku mainkan jemariku di dalam air mengingat kenangan bersama Alfia saat itu, tapi sayang saat ini aku nggak bisa menyelipkan jemariku di sela-sela jarinya.

Ku pejamkan mata, berdiam diri dengan suara gemercik air itu dengan jemariku yang masih ada di dalam air.

Saat menenangkan diri, aku merasa ada yang menyelipkan jemarinya di sela-sela jemariku secara perlahan.

***

No comments:

Post a Comment