Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 25 )

***


Mama tersenyum lalu mengelus rambutku pelan, “Mama sama Papa kalau sedang bertengkar pasti selalu membuka foto ini, untuk mengingatkan kejadian berpuluh tahun yang lalu, tentang kisah cinta Mama dan Papa.” Jelas Mama. “..foto ini selalu mengingatkan Mama dan Papa bahwa kami masih terus saling mencintai dari berpuluh tahun yang lalu sampai sekarang.” Mama meneteskan setetes air mata di akhir ucapannya.

“Aku harap, aku juga bisa kaya Mama dan Papa.”

“Amin, sayang. Sama siapapun akhirnya, kamu harus bisa menjaga cinta kamu ke pasangan kamu nanti.”

Aku mengangguk pelan sambil bertanya di dalam hati kepada diriku sendiri, ‘Apakah saat ini aku masih menjaga cinta Alfia?’ dan satu pertanyaan lagi, ‘siapa yang akan jadi pasanganku kelak?’

***

Aku terbangun.
Mungkin yang membangunkanku adalah sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden beserta suara kicauan burung pagi.
Atau mungkin saraf otakku sendiri yang memaksaku untuk membuka mata dan terbangun.

Aku berjalan ke kamar mandi sambil mengucek-ngucek mata, tetapi langkahku berhenti begitu melewati kalendar yang tertempel di dinding.

Hari ini,
Ulangtahun Alyssa yang ke tujuh belas!

Aku masuk ke kamar mandi, mengoleskan pasta gigi di atas sikat gigi dan mulai menyikat gigi. Di saat menyikat gigi sambil menatap refleksiku di kaca aku masih terus memikirkan, hadiah apa yang tepat untuk Alyssa di usia tujuh belas tahunnya?

***

Ku jatuhkan diriku di atas kasur setelah membersihkan tubuh, masih terus melakukan hal yang sama sedari tadi, yaitu, ‘hadiah apa yang tepat untuk Alyssa di usia tujuh belas tahunnya?’

Alyssa berbeda dengan yang lainnya, itulah yang membuatku bingung untuk mencari hadiah yang tepat untuknya. Aksesoris? Baju? Bingkai foto? Itu hadiah umum yang biasa orang-orang berikan kepada seseorang yang sedang berulangtahun, tetapi bagiku hadiah itu tidak tepat untuk Alyssa yang berbeda, maksudku Alyssa yang special.

***

Ku putuskan untuk pergi ke Mall seorang diri, masih dengan pikiran yang sama sedari tadi, dan ku harap keputusanku untuk pergi ke Mall bisa menemukan hadiah yang tepat untuk Alyssa.

Toko aksesoris adalah tempat pertama yang ku kunjungi. Aku berkeliling tempat ini, mencari benda apa yang pantas untuk Alyssa.
Gelang? Kalung? Topi? Tidak. Ku rasa itu bukan hadiah yang tepat karena mau bagaimana pun bentuk gelang, kalung atau topi Alyssa tidak akan bisa melihat benda itu, Ia tidak bisa menikmati barang itu dengan sepenuhnya.

Toko baju.
Aku masuk dan berkeliling melihat baju-baju yang dijual, tetapi pada akhirnya ku putuskan untuk keluar dari toko ini karena ku rasa baju sepertinya bukan hadiah yang tepat.

Toko sepatu.
 Sama seperti yang sebelumnya, aku tidak menemukan hadiah yang tepat untuk Alyssa lagi.

Toko buku.
Mungkin gila, aku pergi ke toko buku untuk mencari hadiah untuk Alyssa –yang-keadaannya-berbeda-, tetapi apa salahnya mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang menarik.

Aku berjalan ke kumpulan buku psikologi, melihat kumpulan buku bertemakan psikologi satu per satu. Hingga akhirnya sebuah buku mengalihkan duniaku, buku itu seperti memaksaku untuk berkata ‘yeah this is what I need!’

Ku ambill buku itu, membuka halamannya lembar demi lembar buku yang berjudul “Hadiah tepat untuk orang yang berbeda”.

Ku luncurkan telunjukku dari atas ke bawah di bagian halaman daftar isi, mencari halaman yang menjelaskan keadaan Alyssa, dan akhirnya telunjukku berhenti di tulisan “Hadiah untuk Ia yang tidak bisa melihat --- 150” langsung ku mainkan jemariku, membuka lembar demi lembar hingga halaman 150 muncul.

Ku baca halaman-halaman tersebut, meresapi kalimat-kalimat yang tersedia hingga ku temukan kalimat yang berbunyi, “Hadiah diberikan bertujuan agar si penerima dapat menikmati hadiah itu dengan sepenuhnya. Umumnya hadiah yang paling sering diberikan adalah hadiah-hadiah yang cantik, berbentuk unik, lucu, dan menarik, tetapi bagaimana jika kita ingin memberikan hadiah untuk seseorang yang tidak bisa melihat? caranya mudah. Berikanlah Ia benda-benda yang bisa dinikmati dengan menggunakan alat indera yang lain, bukan dengan indera penglihatan. Contoh, kotak musik klasik. Sang penerima bisa menikmati hadiah itu menggunakan indera pendengaran, bukan penglihatan, kan?”

Kotak musik? Ide yang bagus.

Ku taruh buku itu ke tempat semula dengan senyum yang terpampang di wajahku, dan tanpa menunggu lagi, ku langkahkan kaki ku dengan cepat keluar ke toko buku dan pergi menuju tempat yang menjual kotak musik klasik.

Aku masuk ke dalam toko yang menjual berbagai macam bentuk kotak musik klasik, bentuk yang lucu-lucu, bentuk yang menarik, tetapi apa gunanya bentuk yang menarik jika kotak musik ini akan ku berikan ke Alyssa?

Kotak musik yang berada di sudut ruangan telah mengalihkanku. Aku berjalan mendekati kotak musik yang ada di sudut ruangan ini untuk melihatnya dari dekat, untuk memperhatikan bentuk kotak musik ini.

Kotak musik ini terdapat patung kecil perempuan berkaca mata hitam yang sedang duduk di kursi taman dengan lelaki di sampingnya, seperti kejadian beberapa hari yang lalu saat aku bertemu Alyssa.

***

 Pukul 11.00 WIB.

Aku masuk ke kamar untuk beristirahat setelah mencari hadiah untuk Alyssa tadi. Ngomong-ngomong kotak music yang ku belikan tadi sudah terbungkus rapih di atas meja belajarku, sudah siap untuk ku berikan ke Alyssa nanti.

Tetapi, aku kembali berfikir lagi, kapan akan ku berikan hadiah ini kepada Aly? Sekarang? Nanti sore? Sepertinya tidak tepat. Kalau ku berikan sekarang pasti Aly akan menanyakan perihal untuk nanti malam maksudku prom night, lalu kapan?

Aku berjalan ke dekat jendela, menyibak gorden untuk membiarkan cahaya matahari masuk masih terus memikirkan hal yang sama.

“Setelah prom night!” seruku tiba-tiba setelah terus menerus memikirkan waktu yang tepat. Kalau malam, kan aku bisa berbohong bahwa tadi aku tidak pergi ke prom night karena ada acara keluarga jadi aku tidak bisa menjemput Aly! Aku tahu ini gila untuk berbohong tetapi mau bagaimana lagi? Aku terjebak di antara mereka yang memaksaku untuk berbohong, di antara mereka yang selalu mengisi otakku, mereka yang membuatku tersenyum nyaman, mereka berdua yang aku sayangi..dan aku tidak mau menyakiti satu dari mereka dengan kejujuran. Walaupun aku tahu, membahagiakan orang dengan kebohongan sama sekali tidak baik, bahkan bisa menimbulkan sakit yang justru lebih dalam jika kebohongan itu terbongkar, tetapi saat ini aku terjebak.

***

Seseorang menggoyangkan tubuhku pelan yang membuatku terbangun dan menyadari bahwa langit sudah berwarna orange sore terlihat dari jendela yang terbuka.

“Sayang, acaranya jam tujuh kan?” Tanya Mama yang ternyata membangunkanku.

“um, iya.” Jawabku sambil menguap kecil.

“Kalo gitu, ayo siap-siap.” Ujar Mama seraya menarik tanganku untuk bangun. “Sekarang kamu bersihin badan kamu, biar Mama tunggu di bawah.” Mama mengacak rambutku.

“Aku ke bawah? Ngapain, Ma?”

Mama menghela nafas pelan, “Ya buat dandanin kamu lah, di bawah ada asisten Mama buat ngurus penampilan kamu.” Mama berjalan meninggalkan kamarku tetapi berhenti begitu sampai di pintu, “oiya, Alfia tadi telfon Mama.”

“Telfon Mama? Ngomong apa?”

“Dia bilang kamu nggak usah jemput dia, dia berangkat bareng Jihan.”

“Kenapa nggak nelfon aku langsung?”

“Coba check ponsel kamu, Alfia bilang kamu nggak angkat telfon dia. Um, kamu kan tidur, Grey.”

“Oiya, hehe.”

“Yaudah cepet kamu mandi!”

***

Aku turun ke bawah untuk mematuhi perintah Mama tadi masih dengan memakai pakaian seadanya yaitu kaus dan celana selutut.

Terlihat Mama dengan asistennya yaitu Tante Siska. Tante Siska sudah menjadi asisten Mama kurang lebih dua tahunan, oleh karena itu aku sudah mengenalnya.

“Hello, Greyson! Lama nggak ketemu ya!” Sapa Tante Siska setelah aku ikut bergabung di antara mereka.

“Hai, Tan. Apa kabar?”

“Baik kok, hehe kamu sudah besar banget ya, Grey!”

“Masa mau jadi kecil terus, Tan? Hehe.”

“Waktu cepat banget ya berlalunya.” Ujar Tante Siska. “Oiya mau siap-siap sekarang, Grey?”

Aku menoleh kea rah Mama, memberikan isyarat bahwa jawabannya ku serahkan ke Mama.

Mama mengangguk, “Sekarang aja, Sis. Biar nggak buru-buru, lagipula sudah jam enam sore.” Jawab Mama.

Tante Siska mengangguk, lalu menyuruhku untuk berganti baju yang sudah Mama tunjukkan kepadaku semalam dan duduk di atas kursi di depan kaca dan meja rias.

Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan Tante Siska kepadaku, memoleskan bedak? Bulu mata palsu? Lol nggak mungkin, aku kan laki-laki.

***

Entah sudah berapa lama aku duduk menatapi refleksi diriku di kaca rias, memasrahkan penampilanku ke ahlinya.

“Tan, berapa lama lagi?” tanyaku yang sudah bosan duduk di depan meja rias.

“Ya ampun, gini nih kalo anak cowo baru beberapa menit aja udah ngerasa sejam ya?”

“Perasaan lama banget,”

Tante Siska langsung memperlihatkanku jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “sekarang jam berapa, Grey?”

“um, um, jam enam lewat sepuluh menit?”

“Kamu duduk di kursi ini jam berapa, Grey?”

“..jam enam.”

“jadi?”

“um, oke aku nggak pernah menang kalo sama tante.”

Ku angkat kedua tanganku menggambarkan menyerah yang disambut tawa Tante Siska.

“Wajar kok, laki-laki memang nggak betahan.” Ujar Tante Siska. “Padahal laki-laki nggak butuh banyak make up, paling cuma penataan rambut.”

“Aku bingung kenapa perempuan betah di depan meja rias berlama-lama untuk berdandan padahal ini sangat-sangat membosankan.”

Tante Siska tersenyum menatapku, menghentikan tangannya yang sedang bekerja menata rambutku lalu menghela nafas pelan. “Karena perempuan ingin tampil cantik, Grey.”

“Tetapi ini sangat membosankan,”

“Boys love from what they look, Girls love from what they hear. That’s why Girls make up and Boys lie.” Ujar Tante Siska masih terus memampangkan senyumnya, lalu mulai menata rambutku lagi.

Aku diam.

‘Boys love from what they look and that’s why girls make up?’ Ku rasa itu cukup benar, walaupun sebenarnya kecantikan bukan segalanya.

‘Girls love from what they hear and that’s why boys lie?’ kalimat ini yang terus terputar di otakku. Kalimat ini terus berputar di otakku karena aku mengakui bahwa kalimat itu benar, dan kalimat itu kenyataan.

Aku berbohong. Aku sudah beberapa kali berbohong kepada Alfia atau Alyssa belakangan ini, hanya agar membuat mereka tersenyum, hanya agar membuat mereka bahagia, jadi kalimat itu sepenuhnya benar?

I make them love with the lies?

***

“Tadaa!” seru Tante Siska sambil membuka kedua tangannya ke samping.

Aku bangun dari kursi, melihat penampilanku di depan kaca dan ku akui tatanan Tante Siska mengagumkan.

“Jadi gimana?” Tanya Tante Siska setelah membiarkanku beberapa saat untuk menatap penampilanku di depan kaca.

“um, lumayan.” Jawabku, sebenarnya mengagumkan tetapi sengaja ku jawab lumayan untuk sekedar bercanda.

“Lumayan? Huh, jahat ya, Grey.” Balasnya berpura-pura marah.

“Hehe, enggak kok. Ini mengagumkan.”  Ucapku pada akhirnya yang disambut senyum lebarnya.

Tiba-tiba Mama datang dengan kamera yang ada di tangannya, “senyum!” seru Mama begitu datang dan langsung mengarahkan kameranya kepadaku, menangkap gambarku.

“Oh sweety, kamu tampan sekali!” puji Mama yang membuatku tersipu malu. “Alfia pasti akan sangat sangat sangat sangat sangat terkejut melihat kamu!” lanjutnya.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum malu.

“Alfia itu pacarnya yang kuliah di Inggris, ya?” Tanya Tante Siska dengan tatapan meledek ke Mama.

“Iya, ituloh yang udah pacaran dari dua tahun yang lalu!” tambah Mama meledek, ku hanya memutar bola mataku.

“Langgeng ya!” tambah Tante Siska lagi.

“Iya nih, langgeng banget!” lanjut Mama.

“Um, aku berangkat sekarang boleh nggak? Udah jam tujuh kurang lima belas.” Ujarku mengganti topik.

Mama tersenyum menatapku, “Yaudah, ayo Mama anterin ke depan.” Aku dan Mama pun berjalan ke depan, aku ke garasi mobil sedangkan Mama hanya menunggu berdiri di pintu bersama Tante Siska.

Ku panaskan mesin mobil sejenak sebelum berangkat, tetapi aku baru menyadari bahwa ada sebuket bunga mawar merah di jok sebelahku. Aku terheran dan mengambil buket itu yang ada secarik kertas kecilnya yang bertuliskan, ‘for Alfia <3’.

Tunggu, untuk Alfia? Siapa yang menaruh ini? Padahal aku sendiri tidak membeli bunga untuk Alfia.

***

No comments:

Post a Comment