Mama tersenyum lalu mengelus rambutku pelan, “Mama sama Papa kalau
sedang bertengkar pasti selalu membuka foto ini, untuk mengingatkan kejadian
berpuluh tahun yang lalu, tentang kisah cinta Mama dan Papa.” Jelas Mama.
“..foto ini selalu mengingatkan Mama dan Papa bahwa kami masih terus saling mencintai
dari berpuluh tahun yang lalu sampai sekarang.” Mama meneteskan setetes air
mata di akhir ucapannya.
“Aku harap, aku juga bisa kaya Mama dan Papa.”
“Amin, sayang. Sama siapapun akhirnya, kamu harus bisa menjaga
cinta kamu ke pasangan kamu nanti.”
Aku mengangguk pelan sambil bertanya di dalam hati kepada diriku
sendiri, ‘Apakah saat ini aku masih menjaga cinta Alfia?’ dan satu pertanyaan
lagi, ‘siapa yang akan jadi pasanganku kelak?’
***
Aku terbangun.
Mungkin yang membangunkanku adalah sinar matahari yang masuk
melalui celah-celah gorden beserta suara kicauan burung pagi.
Atau mungkin saraf otakku sendiri yang memaksaku untuk membuka
mata dan terbangun.
Aku berjalan ke kamar mandi sambil mengucek-ngucek mata, tetapi
langkahku berhenti begitu melewati kalendar yang tertempel di dinding.
Hari ini,
Ulangtahun Alyssa yang ke tujuh belas!
Aku masuk ke kamar mandi, mengoleskan pasta gigi di atas sikat
gigi dan mulai menyikat gigi. Di saat menyikat gigi sambil menatap refleksiku
di kaca aku masih terus memikirkan, hadiah apa yang tepat untuk Alyssa di usia
tujuh belas tahunnya?
***
Ku jatuhkan diriku di atas kasur setelah membersihkan tubuh, masih
terus melakukan hal yang sama sedari tadi, yaitu, ‘hadiah apa yang tepat untuk
Alyssa di usia tujuh belas tahunnya?’
Alyssa berbeda dengan yang lainnya, itulah yang membuatku bingung
untuk mencari hadiah yang tepat untuknya. Aksesoris? Baju? Bingkai foto? Itu
hadiah umum yang biasa orang-orang berikan kepada seseorang yang sedang
berulangtahun, tetapi bagiku hadiah itu tidak tepat untuk Alyssa yang berbeda,
maksudku Alyssa yang special.
***
Ku putuskan untuk pergi ke Mall seorang diri, masih dengan pikiran
yang sama sedari tadi, dan ku harap keputusanku untuk pergi ke Mall bisa
menemukan hadiah yang tepat untuk Alyssa.
Toko aksesoris adalah tempat pertama yang ku kunjungi. Aku
berkeliling tempat ini, mencari benda apa yang pantas untuk Alyssa.
Gelang? Kalung? Topi? Tidak. Ku rasa itu bukan hadiah yang tepat
karena mau bagaimana pun bentuk gelang, kalung atau topi Alyssa tidak akan bisa
melihat benda itu, Ia tidak bisa menikmati barang itu dengan sepenuhnya.
Toko baju.
Aku masuk dan berkeliling melihat baju-baju yang dijual, tetapi
pada akhirnya ku putuskan untuk keluar dari toko ini karena ku rasa baju
sepertinya bukan hadiah yang tepat.
Toko sepatu.
Sama seperti yang
sebelumnya, aku tidak menemukan hadiah yang tepat untuk Alyssa lagi.
Toko buku.
Mungkin gila, aku pergi ke toko buku untuk mencari hadiah untuk
Alyssa –yang-keadaannya-berbeda-, tetapi apa salahnya mungkin aku bisa
menemukan sesuatu yang menarik.
Aku berjalan ke kumpulan buku psikologi, melihat kumpulan buku
bertemakan psikologi satu per satu. Hingga akhirnya sebuah buku mengalihkan
duniaku, buku itu seperti memaksaku untuk berkata ‘yeah this is what I need!’
Ku ambill buku itu, membuka halamannya lembar demi lembar buku
yang berjudul “Hadiah tepat untuk orang yang berbeda”.
Ku luncurkan telunjukku dari atas ke bawah di bagian halaman
daftar isi, mencari halaman yang menjelaskan keadaan Alyssa, dan akhirnya
telunjukku berhenti di tulisan “Hadiah untuk Ia yang tidak bisa melihat ---
150” langsung ku mainkan jemariku, membuka lembar demi lembar hingga halaman
150 muncul.
Ku baca halaman-halaman tersebut, meresapi kalimat-kalimat yang tersedia
hingga ku temukan kalimat yang berbunyi, “Hadiah diberikan bertujuan agar si
penerima dapat menikmati hadiah itu dengan sepenuhnya. Umumnya hadiah yang
paling sering diberikan adalah hadiah-hadiah yang cantik, berbentuk unik, lucu,
dan menarik, tetapi bagaimana jika kita ingin memberikan hadiah untuk seseorang
yang tidak bisa melihat? caranya mudah. Berikanlah Ia benda-benda yang bisa
dinikmati dengan menggunakan alat indera yang lain, bukan dengan indera
penglihatan. Contoh, kotak musik klasik. Sang penerima bisa menikmati hadiah
itu menggunakan indera pendengaran, bukan penglihatan, kan?”
Kotak musik? Ide yang bagus.
Ku taruh buku itu ke tempat semula dengan senyum yang terpampang
di wajahku, dan tanpa menunggu lagi, ku langkahkan kaki ku dengan cepat keluar
ke toko buku dan pergi menuju tempat yang menjual kotak musik klasik.
Aku masuk ke dalam toko yang menjual berbagai macam bentuk kotak
musik klasik, bentuk yang lucu-lucu, bentuk yang menarik, tetapi apa gunanya
bentuk yang menarik jika kotak musik ini akan ku berikan ke Alyssa?
Kotak musik yang berada di sudut ruangan telah mengalihkanku. Aku berjalan mendekati kotak musik yang ada di
sudut ruangan ini untuk melihatnya dari dekat, untuk memperhatikan bentuk kotak
musik ini.
Kotak musik ini terdapat patung kecil perempuan berkaca mata hitam
yang sedang duduk di kursi taman dengan lelaki di sampingnya, seperti kejadian
beberapa hari yang lalu saat aku bertemu Alyssa.
***
Pukul 11.00 WIB.
Aku masuk ke kamar untuk beristirahat setelah mencari hadiah untuk
Alyssa tadi. Ngomong-ngomong kotak music yang ku belikan tadi sudah terbungkus
rapih di atas meja belajarku, sudah siap untuk ku berikan ke Alyssa nanti.
Tetapi, aku kembali berfikir lagi, kapan akan ku berikan hadiah
ini kepada Aly? Sekarang? Nanti sore? Sepertinya tidak tepat. Kalau ku berikan
sekarang pasti Aly akan menanyakan perihal untuk nanti malam maksudku prom
night, lalu kapan?
Aku berjalan ke dekat jendela, menyibak gorden untuk membiarkan
cahaya matahari masuk masih terus memikirkan hal yang sama.
“Setelah prom night!” seruku tiba-tiba setelah terus menerus
memikirkan waktu yang tepat. Kalau malam, kan aku bisa berbohong bahwa tadi aku
tidak pergi ke prom night karena ada acara keluarga jadi aku tidak bisa
menjemput Aly! Aku tahu ini gila untuk berbohong tetapi mau bagaimana lagi? Aku
terjebak di antara mereka yang memaksaku untuk berbohong, di antara mereka yang
selalu mengisi otakku, mereka yang membuatku tersenyum nyaman, mereka berdua
yang aku sayangi..dan aku tidak mau menyakiti satu dari mereka dengan
kejujuran. Walaupun aku tahu, membahagiakan orang dengan kebohongan sama sekali
tidak baik, bahkan bisa menimbulkan sakit yang justru lebih dalam jika
kebohongan itu terbongkar, tetapi saat ini aku terjebak.
***
Seseorang menggoyangkan tubuhku pelan yang membuatku terbangun dan
menyadari bahwa langit sudah berwarna orange sore terlihat dari jendela yang
terbuka.
“Sayang, acaranya jam tujuh kan?” Tanya Mama yang ternyata
membangunkanku.
“um, iya.” Jawabku sambil menguap kecil.
“Kalo gitu, ayo siap-siap.” Ujar Mama seraya menarik tanganku
untuk bangun. “Sekarang kamu bersihin badan kamu, biar Mama tunggu di bawah.”
Mama mengacak rambutku.
“Aku ke bawah? Ngapain, Ma?”
Mama menghela nafas pelan, “Ya buat dandanin kamu lah, di bawah
ada asisten Mama buat ngurus penampilan kamu.” Mama berjalan meninggalkan
kamarku tetapi berhenti begitu sampai di pintu, “oiya, Alfia tadi telfon Mama.”
“Telfon Mama? Ngomong apa?”
“Dia bilang kamu nggak usah jemput dia, dia berangkat bareng Jihan.”
“Kenapa nggak nelfon aku langsung?”
“Coba check ponsel kamu, Alfia bilang kamu nggak angkat telfon
dia. Um, kamu kan tidur, Grey.”
“Oiya, hehe.”
“Yaudah cepet kamu mandi!”
***
Aku turun ke bawah untuk mematuhi perintah Mama tadi masih dengan
memakai pakaian seadanya yaitu kaus dan celana selutut.
Terlihat Mama dengan asistennya yaitu Tante Siska. Tante Siska
sudah menjadi asisten Mama kurang lebih dua tahunan, oleh karena itu aku sudah
mengenalnya.
“Hello, Greyson! Lama nggak ketemu ya!” Sapa Tante Siska setelah
aku ikut bergabung di antara mereka.
“Hai, Tan. Apa kabar?”
“Baik kok, hehe kamu sudah besar banget ya, Grey!”
“Masa mau jadi kecil terus, Tan? Hehe.”
“Waktu cepat banget ya berlalunya.” Ujar Tante Siska. “Oiya mau
siap-siap sekarang, Grey?”
Aku menoleh kea rah Mama, memberikan isyarat bahwa jawabannya ku
serahkan ke Mama.
Mama mengangguk, “Sekarang aja, Sis. Biar nggak buru-buru,
lagipula sudah jam enam sore.” Jawab Mama.
Tante Siska mengangguk, lalu menyuruhku untuk berganti baju yang
sudah Mama tunjukkan kepadaku semalam dan duduk di atas kursi di depan kaca dan
meja rias.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan Tante Siska
kepadaku, memoleskan bedak? Bulu mata palsu? Lol nggak mungkin, aku kan
laki-laki.
***
Entah sudah berapa lama aku duduk menatapi refleksi diriku di kaca
rias, memasrahkan penampilanku ke ahlinya.
“Tan, berapa lama lagi?” tanyaku yang sudah bosan duduk di depan
meja rias.
“Ya ampun, gini nih kalo anak cowo baru beberapa menit aja udah
ngerasa sejam ya?”
“Perasaan lama banget,”
Tante Siska langsung memperlihatkanku jam yang melingkar di
pergelangan tangannya, “sekarang jam berapa, Grey?”
“um, um, jam enam lewat sepuluh menit?”
“Kamu duduk di kursi ini jam berapa, Grey?”
“..jam enam.”
“jadi?”
“um, oke aku nggak pernah menang kalo sama tante.”
Ku angkat kedua tanganku menggambarkan menyerah yang disambut tawa
Tante Siska.
“Wajar kok, laki-laki memang nggak betahan.” Ujar Tante Siska.
“Padahal laki-laki nggak butuh banyak make up, paling cuma penataan rambut.”
“Aku bingung kenapa perempuan betah di depan meja rias
berlama-lama untuk berdandan padahal ini sangat-sangat membosankan.”
Tante Siska tersenyum menatapku, menghentikan tangannya yang
sedang bekerja menata rambutku lalu menghela nafas pelan. “Karena perempuan
ingin tampil cantik, Grey.”
“Tetapi ini sangat membosankan,”
“Boys love from what they look, Girls love from what they hear.
That’s why Girls make up and Boys lie.” Ujar Tante Siska masih terus
memampangkan senyumnya, lalu mulai menata rambutku lagi.
Aku diam.
‘Boys love from what they look and that’s why girls make up?’ Ku
rasa itu cukup benar, walaupun sebenarnya kecantikan bukan segalanya.
‘Girls love from what they hear and that’s why boys lie?’ kalimat
ini yang terus terputar di otakku. Kalimat ini terus berputar di otakku karena
aku mengakui bahwa kalimat itu benar, dan kalimat itu kenyataan.
Aku berbohong. Aku sudah beberapa kali berbohong kepada Alfia atau
Alyssa belakangan ini, hanya agar membuat mereka tersenyum, hanya agar membuat
mereka bahagia, jadi kalimat itu sepenuhnya benar?
I make them love with the lies?
***
“Tadaa!” seru Tante Siska sambil membuka kedua tangannya ke
samping.
Aku bangun dari kursi, melihat penampilanku di depan kaca dan ku
akui tatanan Tante Siska mengagumkan.
“Jadi gimana?” Tanya Tante Siska setelah membiarkanku beberapa
saat untuk menatap penampilanku di depan kaca.
“um, lumayan.” Jawabku, sebenarnya mengagumkan tetapi sengaja ku
jawab lumayan untuk sekedar bercanda.
“Lumayan? Huh, jahat ya, Grey.” Balasnya berpura-pura marah.
“Hehe, enggak kok. Ini mengagumkan.” Ucapku pada akhirnya yang disambut senyum
lebarnya.
Tiba-tiba Mama datang dengan kamera yang ada di tangannya,
“senyum!” seru Mama begitu datang dan
langsung mengarahkan kameranya kepadaku, menangkap gambarku.
“Oh sweety, kamu tampan sekali!” puji Mama yang membuatku tersipu
malu. “Alfia pasti akan sangat sangat sangat sangat sangat terkejut melihat
kamu!” lanjutnya.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum malu.
“Alfia itu pacarnya yang kuliah di Inggris, ya?” Tanya Tante Siska
dengan tatapan meledek ke Mama.
“Iya, ituloh yang udah pacaran dari dua tahun yang lalu!” tambah
Mama meledek, ku hanya memutar bola mataku.
“Langgeng ya!” tambah Tante Siska lagi.
“Iya nih, langgeng banget!” lanjut Mama.
“Um, aku berangkat sekarang boleh nggak? Udah jam tujuh kurang
lima belas.” Ujarku mengganti topik.
Mama tersenyum menatapku, “Yaudah, ayo Mama anterin ke depan.” Aku
dan Mama pun berjalan ke depan, aku ke garasi mobil sedangkan Mama hanya
menunggu berdiri di pintu bersama Tante Siska.
Ku panaskan mesin mobil sejenak sebelum berangkat, tetapi aku baru
menyadari bahwa ada sebuket bunga mawar merah di jok sebelahku. Aku terheran
dan mengambil buket itu yang ada secarik kertas kecilnya yang bertuliskan, ‘for
Alfia <3’.
Tunggu, untuk Alfia? Siapa yang menaruh ini? Padahal aku sendiri
tidak membeli bunga untuk Alfia.
***
No comments:
Post a Comment