Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 11 )

***

Aku duduk di sofa dan memikirkan, siapa yang akan ku ajak ke prom night minggu depan?

Aku kembali ke atas, kembali ke kamarku untuk sekedar bersantai saja kemudian duduk di kursi meja belajar, membuka lembaran demi lembaran album foto berwarna cokelat ini. Memperhatikan setiap foto yang terpampang dengan rapi di setiap kertas. Foto yang telah banyak membawa kenangan.

Foto saat aku dan Alfia sedang makan bersama di kantin.

Foto saat aku, Alfia dan Jihan foto bersama di salah satu wahana bermain di Jakarta.

Foto saat Alfia sedang memakan ice cream di taman.

Foto saat aku sedang berulangtahun, Alfia dan Jihan sedang memegang kue ulangtahun itu.

Foto saat Jihan dan Alfia sedang bermain ayunan.

Dan masih banyak foto lain yang membawa beribu-ribu kenangan.

Semua itu foto-foto lama.
Foto-foto yang membawa berjuta kenangan.
Foto-foto yang telah membuat hariku.
Foto-foto kebahagian.
Tapi mungkin sekarang itu hanya sebuah kenangan, mungkin sudah banyak hal yang berubah. Mungkin.

How many things have changed?

Ku tutup album itu dan menaruhnya di tempat semula. Di sela-sela koleksi buku yang ku taruh di sebuah rak, kemudian melirik jam yang tertempel di dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.

Aku seharusnya sudah mulai berangkat ke rumah Carmel seperti biasanya, tapi aku berfikir, apa aku akan salah jika pergi menemui Aly lagi?
Bagaimana dengan Alfia di sana?
Apa dia akan marah kepadaku jika mengetahui ini?
Tapi, kenapa aku takut untuk menemui Aly?
Apa aku takut karena rasa ini?
Apa aku takut jika menemui Aly rasaku kepada Alfia akan berubah?

Dan pada akhirnya ku putuskan untuk mengambil kunci mobil, bergegas ke bawah dan pergi menuju rumah Carmel.
Ku harap ini bukan keputusan yang salah.

***

Seperti biasa, ku parkirkan mobil di depan rumah Carmel kemudian berjalan keluar dan mengetuk pintu rumah.

"Ada orang di rumah?" Ucapku sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah dan tak lama kemudian pintu terbuka dan Alyssa muncul dari balik pintu dengan senyum manisnya seperti biasa.
"Greyson!" Sahut Alyssa dan berusaha meraih tanganku. "Ayo, masuk!" Ajaknya sambil menarik tanganku pelan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu tampil beda hari ini, Aly." Sahutku begitu menyadari penampilan Alyssa yang berbeda dari biasanya. Rambutnya di curly.
"Aku tahu itu walaupun aku nggak bisa ngeliat penampilanku." Alyssa mengajakku masuk ke dalam kamarnya dan mempersilahkanku duduk di atas kasurnya.

Aly berjalan ke sebuah meja di sudut ruangan, kemudian dengan hati-hati mencoba mengambil kamera dari dalam sebuah tas dan membawa kamera itu ke arahku.
"Ini." Aly memberi kamera itu kepadaku.
"Untuk apa?"
"Ya untuk foto lah, are you kidding me Grey?"
"Maksudku memotret apa?"

Aly hanya tersenyum kemudian beranjak lagi menuju meja di sudut ruangan tadi.

"Untuk mengisi ini." Alyssa memberiku album foto berwarna biru muda. "Kak Carmel ngasih aku ini, katanya aku harus bisa menuhin isi buku ini."
"Carmel nyuruh kamu?"
Aly mengangguk. "Konyol kan, apalagi aku buta. Mana bisa aku memotret dan mengisi album ini. Melihat diriku sendiri di depan kaca aja nggak bisa, apalagi disuruh motret." Sahutnya.
"Aly, jangan ungkit-ungkit keadaan fisik kamu."
"Maaf, Grey. Tapi itu kan kenyataan dan itu takdirku."
"Jadi kamu nyuruh aku buat motret?" Tanyaku memanglingkan pembicaraan karena aku paling nggak suka kalo Aly mulai membahas tentang keadaannya.
"Iya, itu maksudku ngasih kamera ini ke kamu. Mulai hari ini sampai hari ke depan kamu potret segala macam hal yang ada di sekitar kita. Gimana?" Seru Aly dengan menggenggam tangan kiriku erat.
Memotret segala macam hal yang ada di sekitar?

Flashback-

"Grey liat kamera baruku!" Sahut Alfia memanggilku yang baru datang dari kursi taman.
"Hey itu bagus, Alfia!" Balasku begitu duduk di sampingnya.
"Papa bawain kamera ini pas pulang dari kantor!" Alfia menyalakan kameranya dan tak lama kemudian blits kamera menyambarku.
"Hey!"
"Got it!" Ia tertawa begitu melihat hasil potretannya.
"Lemme see!" Pintaku.
"No! Nanti kamu hapus!" Larangnya.
"Alfia, aku mau liat!"
"Ada syaratnya!"
"Apa?"
"Isi dan simpen ini." Alfia memberiku sebuah album foto berwarna cokelat. "Kamu bisa memotret segala macam hal yang ada di sekitar terus di taruh deh di album ini. Aku tau kamu suka memotret dan album ini bisa jadi kenang-kenangan dariku kan?" Lanjutnya.
Aku hanya membalas dengan senyum dan menerima album foto berwarna cokelat dari Alfia.

Back-

Kenapa ini semua bisa hampir sama?
Dua orang berbeda bisa melakukan hal yang hampir sama di setiap hal kepadaku?
Menyuruhku memotret segala macam hal yang ada di sekitarku?
Ini sebuah kebetulan atau bagaimana?


Aku kembali ke dalam dunia nyata setelah beberapa saat bermain di dunia masa lalu.

Ku lihat Aly yang sedang menatapku dan tiba-tiba saja ada niat untuk memotret Aly di dalam hatiku.

BLASH!

Blits kamera berbunyi.

Dan tampak wajah Alyssa yang sedang memandangku dengan pandangan kosong yang wajar -karena keadaannya- di layar kamera dslr ini.

"Kamu motret aku ya? Kok ada suara blits?" Tanya Aly.
"Iya. Kan aku disuruh motret segala macam hal yang ada di sekitar, jadi aku potret kamu aja."
"Grey!" Aly menepuk bahuku pelan.
"Gimana kalo kita jalan ke luar? Biar motretnya enak!" Tawarku.
"Em, boleh!"
"Kamu udah siap? Kita berangkat sekarang aja mumpung masih pagi."
"Tunggu, Grey." Alfia beranjak dari tempat tidur kemudian memakai kacamata yang sama seperti yang Ia pakai saat ku lihat dirinya di taman untuk yang pertama kali.
"Kamu nggak perlu pake kacamata itu, Aly."
"Aku nggak percaya diri kalau nggak make kacamata."
"Baiklah kalo kacamata itu bisa nambah rasa percaya diri kamu, ayo kita berangkat!" Ku genggam tangan Aly dan mengajaknya keluar.
"Tunggu, tapi ke tempat apa?" Tanya Aly dan menghentikan langkahnya.

***

No comments:

Post a Comment