***
Alyssa beranjak dari tempat tidur kemudian memakai
kacamata yang sama seperti yang Ia pakai saat ku lihat dirinya di taman untuk
yang pertama kali.
"Kamu nggak perlu pake kacamata itu, Aly."
"Aku nggak percaya diri kalau nggak make kacamata."
"Baiklah kalo kacamata itu bisa nambah rasa percaya diri kamu, ayo kita berangkat!" Ku genggam tangan Aly dan mengajaknya keluar.
"Tunggu, tapi ke tempat apa?" Tanya Aly dan menghentikan langkahnya.
"Ke sebuah tempat." Jawabku dengan tersenyum walaupun aku sadar bahwa Aly tetap nggak bisa ngeliat senyumku.
Aku masuk ke dalam mobil begitu Aly sudah masuk, kemudian mulai menancapkan gas untuk pergi ke tempat yang aku maksud.
Selama di perjalanan, sesekali ku lirik Aly yang menatap keluar jendela. Dari tatapannya aku tahu apa yang ada di benaknya sekarang. Pasti Ia ingin melihat apa yang ada di depannya.
Aly, aku yakin kamu pasti bisa melihat di suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat dunia yang indah suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat wajah kamu di depan kaca suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat senyummu suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat senyumku untukmu suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat diriku suatu saat nanti.
Aku sangat mengharapkan itu, Aly.
Aku kembali memfokuskan diri ke jalanan tetapi sesaat kemudian Aly menyebut namaku.
"Grey..." Panggil Aly yang terpaksa membuatku melirik dirinya.
"Ya, Aly?" Balasku yang terpaksa harus bolak-balik fokus dari jalanan ke wajah Aly.
"Ini apa?" Aly meraba-raba sebuah kotak merah kecil di depannya. God. Kotak Alfia.
"Em itu em kotak em hiasan em, Aly." Jawabku terbata. Kotak hiasan? Aku berbohong atau tidak?
"Oh, isinya apa memang?" Tanya Aly lagi, oke aku harus jawab apa?
Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang tepat dari pertanyaan Aly sambil fokus mengendarai mobil.
Aku harus jawab....
"Grey?"
"Ya?"
"Isi kotak ini apa?" Tanya Aly lagi.
"Itu em isinya em cu-cuma em, kita udah sampe Aly!" Seruku begitu sampai di tempat yang ku maksud. Untunglah sudah sampai jadi aku nggak perlu jawab pertanyaan Aly.
"Benarkah? Kita sampai di mana?" Tanya Aly, aku cuma tersenyum kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Aly.
"Kita di mana Grey?"
"SsttA...nanti kamu bisa rasain sendiri." Balasku sambil menuntun Aly berjalan menuju tempat di mana kami pertama kali bertemu.
Ya, taman.
"Grey aku kan nggak bisa ngeliat gimana caranya aku bisa tau?"
"Coba kamu buka sepatu kamu, terus rasain apa yang kamu pijak."
Aly dengan bantuanku pun membuka sepatu yang menyelimuti kakinya sedari tadi.
"Bisa nebak?" Tanyaku.
"Em...." Aly menghentakkan kakinya, mencoba merasakan apa yang sedang Ia injak. "Ini..." Lanjut Aly.
"apa?"
"Rumput?"
"Ya, lalu?"
"Rumput ada dimana-mana, Grey. Aku nggak bisa nebak."
"The first time we met?"
"First time we met...taman?"
"Yep!"
Ku gandeng tangan Aly dan mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi taman.
"Sit please." Pintaku kemudian Aly pun duduk di kursi itu.
Ku ambil kamera yang talinya sedari tadi melingkar di leherku kemudian menyiapkan fokus untuk memotret Aly.
And BLASH!
Aku berhasil mengambil gambar Aly yang sedang menundukkan kepala dengan rambutnya yang terurai dengan indah.
Andai kamu bisa melihat hasil potretanku, Aly.
Andai kamu bisa melihat wajahmu yang begitu cantik di foto ini, Aly.
Andai kamu bisa memberikan pendapat tentang hasil potretanku ini, Aly.
Andai kamu bisa melakukan itu semua.
Aku tahu ini bukan andai-an semata,
aku tahu kamu pasti bisa melakukan itu semua di suatu saat nanti, Alyssa.
"Grey, kamu kok nggak ada suaranya?" Seru Aly membuyarkan lamunanku.
"Aku habis motret kamu, Aly." Balasku sambil menghapus air mata yang jatuh membasahi pipiku. Ya, mungkin aku terharu bahkan aku nggak nyadar kalau tadi perlahan air mataku mulai menetes.
"Kamu motret aku? Ya ampun Grey! Kamu kok nggak bilang dulu sih pasti jelek kan hasilnya!"
"Bagus kok, tenang aja."
Tiba-tiba pandanganku tertarik dengan bunga-bunga yang tertanam dengan indahnya di taman dan tanpa berpikir panjang aku pun berjalan mendekat ke tumbuhan itu dan memetik setangkai bunga berwarna merah merekah kemudian mendekatkan bunga itu ke wajahku dan mencium aroma yang semerbak dari bunga itu.
Sebuah ide muncul di pikiranku tanpa sengaja dan karena ide itu ku bawa setangkai bunga mawar ini ke Aly.
"Hold this." Pintaku sambil menaruh bunga itu di telapak tangan Alyssa yang kemudian digenggamnya.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Coba kamu raba bentuknya dan cium aromanya. Itu mudah untuk di tebak, Aly." Jawabku.
Aly menuruti pintaku.
Ia meraba-raba bentuk dari bunga itu dari ujung kelopak sampai ujung tangkainya kemudian mendekatkan bunga itu ke wajahnya dan menghirup aroma yang dikeluarkan oleh bunga itu dan tak lama setelah itu sebuah senyum muncul dari wajah Aly.
"Grey, benda ini aku simpen ya." Pinta Aly dengan senyum yang sedari tadi tidak hilang.
"Sure! Kamu bisa simpen itu, Aly." Balasku.
"Thanks Grey for this." Sahutnya dengan penuh senyum bahagia yang membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang karena senyum itu.
"memang kamu udah tau itu apa?" Tanyaku.
"Bunga mawar. Aku hafal persis baunya." Jawab Aly yang membuatku tersenyum.
"Ya, kamu benar." Balasku yang disambut senyum Aly sambil menghirup aroma bunga mawar itu untuk ke sekian kalinya.
Ku tatap Aly dari atas sampai bawah, menatap setiap lekuk wajahnya dengan hidung yang mancung, bibir yang merah ditambah paduan rambut panjangnya yang menawan.
Ya Tuhan, mengapa Aly diberi cobaan seperti ini?
She didnt deserve it, seriously.
Aly seharusnya bisa melihat dunia yang begitu indah di depannya.
Aly seharusnya bisa melakukan apapun yang Ia suka di usianya yang masih belia.
Aly seharusnya bisa melihat dirinya yang indah di pandang di depan kaca.
Aly pantas melakukan itu semua.
Tetapi di lain sisi, aku tahu ini semua jalan Tuhan.
Ini adalah rencana Tuhan yang mungkin terbaik untuk Aly.
Dan aku tahu Tuhan pasti akan membayar semua kesedihan Aly selama ini dengan kebahagiaan.
Aku tahu Tuhan akan membayar itu semua suatu saat ini.
Aku tahu dan aku percaya akan itu.
Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya tanpa disangka. Membuatku kaget bukan main karena tadinya langit begitu cerah tiba-tiba hujan dengan derasnya.
Sebenarnya ini bukan masalah bagiku karna dengan berlari aku bisa langsung terhindar dari hujan dan masuk ke dalam mobil, tapi di sampingku ada Aly. Ia berbeda.
"Aly! Hujan ayo kita masuk ke mobil!" Seruku yang mulai sedikit panik.
"Tapi aku susah jalan, Grey!" Jawab Aly yang membuatku sadar akan keadaannya.
Setelah memikirkan berbagai hal, dengan panik dan sigapnya ku gendong Aly yang membuatnya kaget.
"Grey! Bunganya jatuh!" Teriak Aly saat aku gendong.
"Nanti aku ambil mending kamu masuk mobil dulu!" Balasku dengan berlari secepat mungkin untuk masuk ke mobil dengan Aly yang tangannya melingkar di leherku selama ku gendong.
***
"Grey bunganya!" Seru Aly di dalam mobil.
"Tenang Aly, bakal aku ambil kok! Mending kamu pake ini dulu biar hangat!" Balasku sambil memberi Aly jaket kesayanganku yang tersimpan di kursi belakang.
Aku melihat ke luar mobil, hujan cukup deras. Aku nggak yakin bakal basah-basahan cuman buat ngambil bunga itu tapi di lain sisi aku takut buat Aly kecewa. Aku nggak mau dia sedih. Aku nggak mau menambah kesedihannya selama ini karna keadaan fisiknya. Aku nggak mau.
"Kamu tunggu di sini, biar aku ambil bunganya ya." Ucapku kepada Aly.
"Masih hujan deras nanti kamu kebasahan?"
"Nggak kok, udah nggak deras. Kamu tunggu di sini aja, oke? Biar aku ambil." Balasku berbohong kemudian keluar dari mobil dan berlari ke tempat tadi.
Langsung ku ambil setangkai bunga mawar yang tergeletak di tanah dan sudah kebasahan, saat mengambil bunga itu ada tangan yang menepuk pundakku dari belakang.
"Kamu nggak perlu pake kacamata itu, Aly."
"Aku nggak percaya diri kalau nggak make kacamata."
"Baiklah kalo kacamata itu bisa nambah rasa percaya diri kamu, ayo kita berangkat!" Ku genggam tangan Aly dan mengajaknya keluar.
"Tunggu, tapi ke tempat apa?" Tanya Aly dan menghentikan langkahnya.
"Ke sebuah tempat." Jawabku dengan tersenyum walaupun aku sadar bahwa Aly tetap nggak bisa ngeliat senyumku.
Aku masuk ke dalam mobil begitu Aly sudah masuk, kemudian mulai menancapkan gas untuk pergi ke tempat yang aku maksud.
Selama di perjalanan, sesekali ku lirik Aly yang menatap keluar jendela. Dari tatapannya aku tahu apa yang ada di benaknya sekarang. Pasti Ia ingin melihat apa yang ada di depannya.
Aly, aku yakin kamu pasti bisa melihat di suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat dunia yang indah suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat wajah kamu di depan kaca suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat senyummu suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat senyumku untukmu suatu saat nanti.
Ku harap kamu bisa melihat diriku suatu saat nanti.
Aku sangat mengharapkan itu, Aly.
Aku kembali memfokuskan diri ke jalanan tetapi sesaat kemudian Aly menyebut namaku.
"Grey..." Panggil Aly yang terpaksa membuatku melirik dirinya.
"Ya, Aly?" Balasku yang terpaksa harus bolak-balik fokus dari jalanan ke wajah Aly.
"Ini apa?" Aly meraba-raba sebuah kotak merah kecil di depannya. God. Kotak Alfia.
"Em itu em kotak em hiasan em, Aly." Jawabku terbata. Kotak hiasan? Aku berbohong atau tidak?
"Oh, isinya apa memang?" Tanya Aly lagi, oke aku harus jawab apa?
Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang tepat dari pertanyaan Aly sambil fokus mengendarai mobil.
Aku harus jawab....
"Grey?"
"Ya?"
"Isi kotak ini apa?" Tanya Aly lagi.
"Itu em isinya em cu-cuma em, kita udah sampe Aly!" Seruku begitu sampai di tempat yang ku maksud. Untunglah sudah sampai jadi aku nggak perlu jawab pertanyaan Aly.
"Benarkah? Kita sampai di mana?" Tanya Aly, aku cuma tersenyum kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Aly.
"Kita di mana Grey?"
"SsttA...nanti kamu bisa rasain sendiri." Balasku sambil menuntun Aly berjalan menuju tempat di mana kami pertama kali bertemu.
Ya, taman.
"Grey aku kan nggak bisa ngeliat gimana caranya aku bisa tau?"
"Coba kamu buka sepatu kamu, terus rasain apa yang kamu pijak."
Aly dengan bantuanku pun membuka sepatu yang menyelimuti kakinya sedari tadi.
"Bisa nebak?" Tanyaku.
"Em...." Aly menghentakkan kakinya, mencoba merasakan apa yang sedang Ia injak. "Ini..." Lanjut Aly.
"apa?"
"Rumput?"
"Ya, lalu?"
"Rumput ada dimana-mana, Grey. Aku nggak bisa nebak."
"The first time we met?"
"First time we met...taman?"
"Yep!"
Ku gandeng tangan Aly dan mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi taman.
"Sit please." Pintaku kemudian Aly pun duduk di kursi itu.
Ku ambil kamera yang talinya sedari tadi melingkar di leherku kemudian menyiapkan fokus untuk memotret Aly.
And BLASH!
Aku berhasil mengambil gambar Aly yang sedang menundukkan kepala dengan rambutnya yang terurai dengan indah.
Andai kamu bisa melihat hasil potretanku, Aly.
Andai kamu bisa melihat wajahmu yang begitu cantik di foto ini, Aly.
Andai kamu bisa memberikan pendapat tentang hasil potretanku ini, Aly.
Andai kamu bisa melakukan itu semua.
Aku tahu ini bukan andai-an semata,
aku tahu kamu pasti bisa melakukan itu semua di suatu saat nanti, Alyssa.
"Grey, kamu kok nggak ada suaranya?" Seru Aly membuyarkan lamunanku.
"Aku habis motret kamu, Aly." Balasku sambil menghapus air mata yang jatuh membasahi pipiku. Ya, mungkin aku terharu bahkan aku nggak nyadar kalau tadi perlahan air mataku mulai menetes.
"Kamu motret aku? Ya ampun Grey! Kamu kok nggak bilang dulu sih pasti jelek kan hasilnya!"
"Bagus kok, tenang aja."
Tiba-tiba pandanganku tertarik dengan bunga-bunga yang tertanam dengan indahnya di taman dan tanpa berpikir panjang aku pun berjalan mendekat ke tumbuhan itu dan memetik setangkai bunga berwarna merah merekah kemudian mendekatkan bunga itu ke wajahku dan mencium aroma yang semerbak dari bunga itu.
Sebuah ide muncul di pikiranku tanpa sengaja dan karena ide itu ku bawa setangkai bunga mawar ini ke Aly.
"Hold this." Pintaku sambil menaruh bunga itu di telapak tangan Alyssa yang kemudian digenggamnya.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Coba kamu raba bentuknya dan cium aromanya. Itu mudah untuk di tebak, Aly." Jawabku.
Aly menuruti pintaku.
Ia meraba-raba bentuk dari bunga itu dari ujung kelopak sampai ujung tangkainya kemudian mendekatkan bunga itu ke wajahnya dan menghirup aroma yang dikeluarkan oleh bunga itu dan tak lama setelah itu sebuah senyum muncul dari wajah Aly.
"Grey, benda ini aku simpen ya." Pinta Aly dengan senyum yang sedari tadi tidak hilang.
"Sure! Kamu bisa simpen itu, Aly." Balasku.
"Thanks Grey for this." Sahutnya dengan penuh senyum bahagia yang membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang karena senyum itu.
"memang kamu udah tau itu apa?" Tanyaku.
"Bunga mawar. Aku hafal persis baunya." Jawab Aly yang membuatku tersenyum.
"Ya, kamu benar." Balasku yang disambut senyum Aly sambil menghirup aroma bunga mawar itu untuk ke sekian kalinya.
Ku tatap Aly dari atas sampai bawah, menatap setiap lekuk wajahnya dengan hidung yang mancung, bibir yang merah ditambah paduan rambut panjangnya yang menawan.
Ya Tuhan, mengapa Aly diberi cobaan seperti ini?
She didnt deserve it, seriously.
Aly seharusnya bisa melihat dunia yang begitu indah di depannya.
Aly seharusnya bisa melakukan apapun yang Ia suka di usianya yang masih belia.
Aly seharusnya bisa melihat dirinya yang indah di pandang di depan kaca.
Aly pantas melakukan itu semua.
Tetapi di lain sisi, aku tahu ini semua jalan Tuhan.
Ini adalah rencana Tuhan yang mungkin terbaik untuk Aly.
Dan aku tahu Tuhan pasti akan membayar semua kesedihan Aly selama ini dengan kebahagiaan.
Aku tahu Tuhan akan membayar itu semua suatu saat ini.
Aku tahu dan aku percaya akan itu.
Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya tanpa disangka. Membuatku kaget bukan main karena tadinya langit begitu cerah tiba-tiba hujan dengan derasnya.
Sebenarnya ini bukan masalah bagiku karna dengan berlari aku bisa langsung terhindar dari hujan dan masuk ke dalam mobil, tapi di sampingku ada Aly. Ia berbeda.
"Aly! Hujan ayo kita masuk ke mobil!" Seruku yang mulai sedikit panik.
"Tapi aku susah jalan, Grey!" Jawab Aly yang membuatku sadar akan keadaannya.
Setelah memikirkan berbagai hal, dengan panik dan sigapnya ku gendong Aly yang membuatnya kaget.
"Grey! Bunganya jatuh!" Teriak Aly saat aku gendong.
"Nanti aku ambil mending kamu masuk mobil dulu!" Balasku dengan berlari secepat mungkin untuk masuk ke mobil dengan Aly yang tangannya melingkar di leherku selama ku gendong.
***
"Grey bunganya!" Seru Aly di dalam mobil.
"Tenang Aly, bakal aku ambil kok! Mending kamu pake ini dulu biar hangat!" Balasku sambil memberi Aly jaket kesayanganku yang tersimpan di kursi belakang.
Aku melihat ke luar mobil, hujan cukup deras. Aku nggak yakin bakal basah-basahan cuman buat ngambil bunga itu tapi di lain sisi aku takut buat Aly kecewa. Aku nggak mau dia sedih. Aku nggak mau menambah kesedihannya selama ini karna keadaan fisiknya. Aku nggak mau.
"Kamu tunggu di sini, biar aku ambil bunganya ya." Ucapku kepada Aly.
"Masih hujan deras nanti kamu kebasahan?"
"Nggak kok, udah nggak deras. Kamu tunggu di sini aja, oke? Biar aku ambil." Balasku berbohong kemudian keluar dari mobil dan berlari ke tempat tadi.
Langsung ku ambil setangkai bunga mawar yang tergeletak di tanah dan sudah kebasahan, saat mengambil bunga itu ada tangan yang menepuk pundakku dari belakang.
No comments:
Post a Comment