***
Langsung ku ambil setangkai bunga mawar yang tergeletak di
tanah dan sudah kebasahan, saat mengambil bunga itu ada tangan yang menepuk
pundakku dari belakang.
"Grey! Ngapain?"
Suara itu terdengar dari belakang. Suara yang khas, suara yang ku kenal.
Aku bangkit setelah mengambil bunga mawar yang tergeletak di tanah tadi kemudian berbalik badan melihat siapa yang menepukku dan begitu berbalik terlihat seorang lelaki dengan seorang perempuan di hadapanku.
Yang laki-laki memegang payung untuk menutupi mereka berdua dari hujan dan yang perempuan menggandeng tangan lelaki itu.
Aku kenal perempuan itu tapi tidak untuk lelaki itu.
"Grey! Kamu ngapain hujan-hujanan?" Tanya Jihan yang ternyata menepukku tadi.
"Hah, Jihan! Aku lagi-"
"Lagi ngambil bunga mawar yang geletakan di tanah? LOL Grey." Potong Jihan yang hanya ku balas dengan tawa singkat canggung, apalagi aku nggak tau siapa lelaki yang Jihan gandeng itu.
"Nih ada payung satu buat kamu daripada hujan-hujanan gitu, Grey!" Jihan memberiku sebuah payung dari dalam tasnya.
"Nggak usah, Jihan! Aku naik mobil kok, makasih nggak usah repot." Balasku.
"kamu ke sini bawa mobil cuma buat ngambil bunga mawar yang udah kebasahan di atas tanah gitu? Grey, kamu aneh deh!"
"Yep thats me." Balasku tertawa.
Aku nggak aneh.
Aku ambil bunga ini buat Alyssa, tapi aku nggak mungkin jujur untuk bilang itu ke kamu Jihan.
"Kamu sendirian?" Tanya Jihan.
"Mm ya." Balasku berbohong. Aku berbohong lagi.
Maafkan aku, Aly.
Aku nggak bermaksud buat nggak anggep kamu.
Aku cuman nggak mungkin bilang kalo aku ke sini sama kamu, Aly.
Karna Jihan sahabat Alfia.
Aku nggak mau Jihan tahu tentang kamu Aly.
Aku nggak mau Jihan tahu tentang hubungan....
pertemanan kita.
Entah hanya hubungan pertemanan atau lebih.
"Oh oke kamu cepet masuk mobil sana! Udah basah kuyub gitu!" Suruh Jihan yang ku balas dengan mengangguk berbalik badan dan berlari menuju mobilku yang sudah terparkir di depan taman. Tetapi baru beberapa langkah aku berlari, Jihan berteriak dari belakang.
"Grey!"
Mendengar seruan Jihan aku berhenti dan berbalik badan dan terlihat Jihan dan lelaki tadi berlari mendekatiku.
"Grey aku lupa kenalin kamu, ini Frans. Yang bakal nemenin aku di prom night."
Jihan memperkenalkanku kepada Frans, lelaki yang akan menemaninya di prom night. Frans lelaki yang tampan dengan postur tubuh yang diidamkan semua perempuan dan Ia terlihat cocok dengan Jihan.
"Greyson."
Ku ulurkan tangan kepada Frans untuk berkenalan.
"Frans."
Frans membalas jabatan tanganku dengan tersenyum.
"Nice to know you." Ucapku.
"Nice to know you too, Greyson." Balas Frans yang kemudian melepas jabatan tangan ini.
"Aku mau ke mobil dulu ya Jihan, Frans! Aku duluan!"
Pamitku dan buru-buru berbalik badan dan berlari menuju mobil, aku khawatir Aly kenapa-kenapa sendirian di mobil dengan keadaannya yang seperti itu.
"Grey! Jangan lupa bawa seseorang ke prom night ya! Alfia ngizinin kok!"
Suara teriakan Jihan lagi-lagi terdengar dari belakang, membuatku menolehkan kepala dan membalasnya dengan senyum serta anggukan kemudian berbalik lagi dan berlari menuju mobil.
Ku buka pintu mobil dengan keadaan yang masih basah kuyub dan langsung masuk ke dalam.
"Greyson?! Kamu lama banget ya ampun baju kamu basah!" seru Aly sambil meraba-raba bajuku yang basah kuyub begitu masuk ke dalam mobil.
"Its okay, Aly. Ini bunganya." Balasku dan menaruh setangkai bunga mawar ini di telapak tangannya.
Aly tersenyum begitu ku taruh bunga ini di atas telapak tangannya yang kemudian disusul dengan tetesan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Aly, kamu kenapa nangis?" Tanyaku sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya dan tiba-tiba Aly memelukku.
"Thanks, Grey. Thanks for this." Ucapnya dengan nada bergetar saat memelukku.
Aku tersenyum mendengar perkataan Aly yang kemudian ku balas pelukannya dan membelai rambut Aly yang hitam panjang.
Membelai rambutnya dari atas sampai bawah. Mencoba membalas pelukan Aly yang begitu erat.
Mencoba untuk memberikan rasa nyaman kepada Aly di dalam dekapan ini.
Mencoba memberikan Aly kebahagiaan di dalam dekapan ini.
Dan aku melakukan ini semua untuk sebuah tujuan.
Yaitu untuk menggantikan kesedihan Aly atas keadaannya dengan dekapan ini, mencoba agar Aly bisa merasakan apa yang biasa di alami semua remaja perempuan lainnya. Aku ingin Ia merasa normal layaknya yang lain.
"Aku nggak tau kenapa kamu mau ngejalanin hari-hari sama perempuan cacat kaya aku." Ucap Aly dengan nada yang masih bergetar karena menangis di dalam dekapanku dan ucapannya membuatku tersentak. Membuat hatiku tiba-tiba merasakan sesuatu yang mengganjal dan sakit yang akhirnya membuat air mata menetes membasahi pipiku juga.
"ure normal, Aly. Believe me. You have peoples that always be there for you. You have peoples that loves you." ucapku dan melepas dekapanku agar bisa menatap wajah Aly dengan jelas.
"Nobody loves me, Grey." Balas Aly yang masih terus meneteskan air mata.
Ku dekatkan bibirku ke telinga Aly dan berbisik, "I love you and I care."
Seketika itu juga, tangis Aly malah semakin terisak. Tangisnya semakin kencang dan penuh kepedihan begitu di dengar bahkan air mata yang jatuh pun semakin deras membasahi pipinya.
"Aly, stop it. It breaks my heart everytime I see you cry." Ucapku dengan mengusap air mata yang membasahi pipinya dan akhirnya perlahan-lahan Aly mulai berhenti menangis.
"We go home now, kay? Kamu udah menggigil gitu, Aly." Sahutku yang hanya dibalas dengan anggukan pelan Aly katena Ia masih menangis walaupun tidak sepedih yang sebelumnya.
Aku pun mulai menancapkan gas tapi hasilnya mobil ini nggak jalan-jalan dan ternyata kehabisan bensin.
"God! Bensinnya habis aku lupa ngisi tadi!" Panikku.
"Habis?"
"Aku lupa ngisi tadi pagi. Yaudah aku keluar mau dorong mobil dulu sampe pom bensin di sana."
"Tapi Grey, diluar hujan."
"Its okay lagipula aku juga udah basah gini daripada kamu menggigil gitu, Aly."
"Grey...."
"Ya?"
"Thanks."
"Anytime for you, Aly."
Aku keluar mobil dengan hujan yang masih deras. Lebih baik aku yang kehujanan dan kebasahan daripada Aly harus menahan dinginnya.
Aku ke belakang mobil dan berusaha mendorong mobil ini tapi hasilnya mobil ini nggak bergerak sama sekali mungkin karena cuma didorong oleh satu orang. Tetapi kejadian ini mengingatkanku akan suatu hal. Suatu hal yang pernah ku alami bersama seseorang.
"Grey! Ngapain?"
Suara itu terdengar dari belakang. Suara yang khas, suara yang ku kenal.
Aku bangkit setelah mengambil bunga mawar yang tergeletak di tanah tadi kemudian berbalik badan melihat siapa yang menepukku dan begitu berbalik terlihat seorang lelaki dengan seorang perempuan di hadapanku.
Yang laki-laki memegang payung untuk menutupi mereka berdua dari hujan dan yang perempuan menggandeng tangan lelaki itu.
Aku kenal perempuan itu tapi tidak untuk lelaki itu.
"Grey! Kamu ngapain hujan-hujanan?" Tanya Jihan yang ternyata menepukku tadi.
"Hah, Jihan! Aku lagi-"
"Lagi ngambil bunga mawar yang geletakan di tanah? LOL Grey." Potong Jihan yang hanya ku balas dengan tawa singkat canggung, apalagi aku nggak tau siapa lelaki yang Jihan gandeng itu.
"Nih ada payung satu buat kamu daripada hujan-hujanan gitu, Grey!" Jihan memberiku sebuah payung dari dalam tasnya.
"Nggak usah, Jihan! Aku naik mobil kok, makasih nggak usah repot." Balasku.
"kamu ke sini bawa mobil cuma buat ngambil bunga mawar yang udah kebasahan di atas tanah gitu? Grey, kamu aneh deh!"
"Yep thats me." Balasku tertawa.
Aku nggak aneh.
Aku ambil bunga ini buat Alyssa, tapi aku nggak mungkin jujur untuk bilang itu ke kamu Jihan.
"Kamu sendirian?" Tanya Jihan.
"Mm ya." Balasku berbohong. Aku berbohong lagi.
Maafkan aku, Aly.
Aku nggak bermaksud buat nggak anggep kamu.
Aku cuman nggak mungkin bilang kalo aku ke sini sama kamu, Aly.
Karna Jihan sahabat Alfia.
Aku nggak mau Jihan tahu tentang kamu Aly.
Aku nggak mau Jihan tahu tentang hubungan....
pertemanan kita.
Entah hanya hubungan pertemanan atau lebih.
"Oh oke kamu cepet masuk mobil sana! Udah basah kuyub gitu!" Suruh Jihan yang ku balas dengan mengangguk berbalik badan dan berlari menuju mobilku yang sudah terparkir di depan taman. Tetapi baru beberapa langkah aku berlari, Jihan berteriak dari belakang.
"Grey!"
Mendengar seruan Jihan aku berhenti dan berbalik badan dan terlihat Jihan dan lelaki tadi berlari mendekatiku.
"Grey aku lupa kenalin kamu, ini Frans. Yang bakal nemenin aku di prom night."
Jihan memperkenalkanku kepada Frans, lelaki yang akan menemaninya di prom night. Frans lelaki yang tampan dengan postur tubuh yang diidamkan semua perempuan dan Ia terlihat cocok dengan Jihan.
"Greyson."
Ku ulurkan tangan kepada Frans untuk berkenalan.
"Frans."
Frans membalas jabatan tanganku dengan tersenyum.
"Nice to know you." Ucapku.
"Nice to know you too, Greyson." Balas Frans yang kemudian melepas jabatan tangan ini.
"Aku mau ke mobil dulu ya Jihan, Frans! Aku duluan!"
Pamitku dan buru-buru berbalik badan dan berlari menuju mobil, aku khawatir Aly kenapa-kenapa sendirian di mobil dengan keadaannya yang seperti itu.
"Grey! Jangan lupa bawa seseorang ke prom night ya! Alfia ngizinin kok!"
Suara teriakan Jihan lagi-lagi terdengar dari belakang, membuatku menolehkan kepala dan membalasnya dengan senyum serta anggukan kemudian berbalik lagi dan berlari menuju mobil.
Ku buka pintu mobil dengan keadaan yang masih basah kuyub dan langsung masuk ke dalam.
"Greyson?! Kamu lama banget ya ampun baju kamu basah!" seru Aly sambil meraba-raba bajuku yang basah kuyub begitu masuk ke dalam mobil.
"Its okay, Aly. Ini bunganya." Balasku dan menaruh setangkai bunga mawar ini di telapak tangannya.
Aly tersenyum begitu ku taruh bunga ini di atas telapak tangannya yang kemudian disusul dengan tetesan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Aly, kamu kenapa nangis?" Tanyaku sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya dan tiba-tiba Aly memelukku.
"Thanks, Grey. Thanks for this." Ucapnya dengan nada bergetar saat memelukku.
Aku tersenyum mendengar perkataan Aly yang kemudian ku balas pelukannya dan membelai rambut Aly yang hitam panjang.
Membelai rambutnya dari atas sampai bawah. Mencoba membalas pelukan Aly yang begitu erat.
Mencoba untuk memberikan rasa nyaman kepada Aly di dalam dekapan ini.
Mencoba memberikan Aly kebahagiaan di dalam dekapan ini.
Dan aku melakukan ini semua untuk sebuah tujuan.
Yaitu untuk menggantikan kesedihan Aly atas keadaannya dengan dekapan ini, mencoba agar Aly bisa merasakan apa yang biasa di alami semua remaja perempuan lainnya. Aku ingin Ia merasa normal layaknya yang lain.
"Aku nggak tau kenapa kamu mau ngejalanin hari-hari sama perempuan cacat kaya aku." Ucap Aly dengan nada yang masih bergetar karena menangis di dalam dekapanku dan ucapannya membuatku tersentak. Membuat hatiku tiba-tiba merasakan sesuatu yang mengganjal dan sakit yang akhirnya membuat air mata menetes membasahi pipiku juga.
"ure normal, Aly. Believe me. You have peoples that always be there for you. You have peoples that loves you." ucapku dan melepas dekapanku agar bisa menatap wajah Aly dengan jelas.
"Nobody loves me, Grey." Balas Aly yang masih terus meneteskan air mata.
Ku dekatkan bibirku ke telinga Aly dan berbisik, "I love you and I care."
Seketika itu juga, tangis Aly malah semakin terisak. Tangisnya semakin kencang dan penuh kepedihan begitu di dengar bahkan air mata yang jatuh pun semakin deras membasahi pipinya.
"Aly, stop it. It breaks my heart everytime I see you cry." Ucapku dengan mengusap air mata yang membasahi pipinya dan akhirnya perlahan-lahan Aly mulai berhenti menangis.
"We go home now, kay? Kamu udah menggigil gitu, Aly." Sahutku yang hanya dibalas dengan anggukan pelan Aly katena Ia masih menangis walaupun tidak sepedih yang sebelumnya.
Aku pun mulai menancapkan gas tapi hasilnya mobil ini nggak jalan-jalan dan ternyata kehabisan bensin.
"God! Bensinnya habis aku lupa ngisi tadi!" Panikku.
"Habis?"
"Aku lupa ngisi tadi pagi. Yaudah aku keluar mau dorong mobil dulu sampe pom bensin di sana."
"Tapi Grey, diluar hujan."
"Its okay lagipula aku juga udah basah gini daripada kamu menggigil gitu, Aly."
"Grey...."
"Ya?"
"Thanks."
"Anytime for you, Aly."
Aku keluar mobil dengan hujan yang masih deras. Lebih baik aku yang kehujanan dan kebasahan daripada Aly harus menahan dinginnya.
Aku ke belakang mobil dan berusaha mendorong mobil ini tapi hasilnya mobil ini nggak bergerak sama sekali mungkin karena cuma didorong oleh satu orang. Tetapi kejadian ini mengingatkanku akan suatu hal. Suatu hal yang pernah ku alami bersama seseorang.
***
No comments:
Post a Comment