***
Dan kini lagi-lagi aku terjebak dalam kesalahan atas
diriku sendiri. Ku berikan kotak music yang seharusnya milik Alyssa kepada
Alfia.
“Good night,” Alfia mendekap tubuhku lembut. “Bye, Grey.
Thanks for today.”
“Thanks for today too.” Balasku.
“Kamu besok libur kan?”
“Iya, cuma dua hari.” Jawabku. “Katanya sih libur buat
istirahat.”
“Berarti besok kita bisa hang out kan?”
“Iya.”
Alfia tersenyum sejenak lalu berlari menuju gerbang
rumahnya dan melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam.
***
Ku berhentikan mobil di depan rumah yang akhir-akhir ini
tidak pernah ku kunjungi lagi. Rumah ini terlihat sunyi, sepi, bahkan seperti
tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku yang
sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam lalu melihat ke rumah itu lagi dan
berfikir, apa mungkin pemilik rumah ini sedang tertidur dengan pulas di atas
tempat tidur?
Sebenarnya aku cukup ragu-ragu untuk turun karena aku
tidak membawa apa-apa di hari bahagianya. Di hari ulangtahunnya yang ke-17.
Well, bukan ‘tidak membawa apa-apa’ tetapi ‘barang yang ku bawa ku berikan
kepada orang lain’, dan itu adalah sebuah kecerobohan dan kesalahan besar yang
baru saja ku alami.
Ku buka pintu mobil perlahan, dengan diriku yang sudah
tidak mengenakan setelan jas lagi melainkan mengenakan kaus dan celana jeans
panjang sesuai dengan rencanaku tadi pagi agar tidak ketahuan bahwa aku
membohongi Alyssa karena tidak jadi membawanya untuk ke prom night.
Aku berjalan dengan badan yang bergetar, jantungku
berdegup kencang, pikiranku kusut memikirkan bagaimana ekspresi Aly nanti di
saat mengetahui kedatanganku yang akhir-akhir ini menghilang. Marah-kah? Senang-kah?
Itulah yang terus menerus terputar di pikiranku saat ini.
Ku ketuk pintu rumah ini masih dengan jantungku yang
berdegup kencang dengan pikiran-pikiranku yang kusut bagai benang yang tak
terurus.
Setelah beberapa saat tidak mendapat balasan dari dalam,
ku ketuk pintunya sekali lagi mengharapkan ini adalah ketukan terakhir dan
segera mendapat balasan dari dalam.
Dan benar, sesaat kemudian pintu terbuka perlahan dan
wajah Carmel yang kusut terlihat dari balik pintu. Carmel tampil tidak seperti
biasanya, wajahnya kali ini tampak begitu kusut dan terlihat sangat lelah.
“Grey,” ucapnya lirih. “ku pikir kau tidak akan datang.”
“Bagaimana mungkin aku bisa tidak datang di hari bahagia
Aly? Pasti aku datang.”
“Hari ini bukan hari bahagia Aly.”
“Maksud kamu?”
Carmel tidak membalas pertanyaanku dan hanya berjalan
masuk ke dalam, “Ikut aku.” Ucapnya.
Aku hanya bisa mengikutinya. Berjalan di belakangnya,
sampai akhirnya kami sampai di depan pintu kamar bertuliskan ‘alyssa’.
Carmel menoleh ke arahku sejenak, kemudian membuka pintu
kamar itu perlahan, dan mempersilahkanku untuk masuk ke dalam.
Aku masuk ke dalam dan kaget melihat apa yang ada di
depanku.
Kamar Alyssa.
Ya, aku tahu itu. Tetapi kamarnya sangat berantakan,
bahkan ada benda-benda yang jatuh tergeletak di lantai, seperti habis dilempar.
Aku berlari begitu mataku mendapati Aly yang sedang
menangis berada di pojok ruangan memakai gaun yang ku berikan padanya beberapa
hari yang lalu, dengan kepalanya yang bersandar pada tembok, dan dengan air
mata yang membasahi pipinya.
“Aly! Kamu kenapa?” tanyaku seraya mendekap tubuhnya erat
yang membuat tangisnya makin terisak. “Maafin aku, maaf aku baru datang
sekarang, maaf aku tidak bisa mengajakmu ke prom night malam ini, maaf aku
telah menghancurkan hari bahagia kamu, maaf, maafkan aku, Aly.”
Aly masih tidak menjawab, tangisnya tambah menggelegar di
tiap kata yang ku ucapkan tadi, tangisnya makin tumpah di kaus yang ku kenakan,
badannya bergetar dan tidak membalas dekapanku sama sekali, tangannya tergontai
lemah di atas lantai.
“Maaf, maaf, Aly. Aku minta maaf.” Ucapku lagi, masih
mendekapnya erat.
“Maaf akhir-akhir ini aku nggak bisa nemuin kamu,
aku..aku ada kepentingan lain.”
Masih tidak ada balasan dari mulut ataupun tubuh Aly,
yang membuatku akhirnya melepas dekapan ini dan menatap wajahnya yang dipenuhi
oleh air mata dan darah di pipinya.
Tunggu, darah?
“Darah?” ku usap pipi Aly yang ada darahnya.
Aly masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari
mulutnya, matanya terus menerus menumpahkan air mata, tetapi Ia angkat telapak
tangannya yang kanan dan ku lihat ada luka terbeset di telapak tangan mulusnya,
luka sumber darah itu.
Aku menatap ke sekeliling mencari benda apa yang membuat
tangan Aly sampai terluka begini, dan akhirnya ku dapati vas berisikan
setangkai bunga mawar tergeletak dalam keadaan pecah di atas lantai tidak jauh
dari tempat kami berada sekarang, dan tangkai bunga mawar itu sudah terbagi
dua.
Ku dekati vas bunga yang pecah dengan kaca yang
berserakan itu, dan benar vas ini lah sumber dari luka yang berada di telapak
tangan Aly karena ada darah di daerah dekat kumpulan kaca yang berserakan itu.
Aku mendekat lagi ke Aly yang masih diam membisu dengan
badannya yang bergetar dan tangisnya yang tidak berhenti sedari tadi.
“Jadi tangan kamu terluka karena vas bunga itu? Kamu
pecahin vas berisikan bunga dariku saat di taman itu?” tanyaku sambil memegang
kedua pipi Aly, menghapus air mata yang terus menerus tumpah dari matanya.
“Kenapa, Aly? Kenapa? Kenapa kamu pecahin? Kamu benci sama aku? Asal kamu tahu
aku ambil bunga itu di saat hujan deras, aku rela basah-basahan cuman untuk ngambil
setangkai bunga mawar itu.”
Ia masih diam.
“Terserah kalau kamu masih mau terus membungkam, intinya
aku sayang sama kamu, aku peduli sama kamu, dan untuk masalah akhir-akhir ini
karena aku tidak pernah menemui mu aku minta maaf, aku ada kepentingan lain.”
“Kepentingan apa..?” tanyanya lirih dengan bibir yang
bergetar. Akhirnya, Ia membuka mulut. Tetapi pertanyaannya malah membuatku
bingung.
Kepentingan apa yang ku lakukan akhir-akhir ini?
Aku menunduk, sekarang giliran aku yang diam membisu.
Aku menunduk, sekarang giliran aku yang diam membisu.
“Kepentingan apa, Grey?” tanyanya lagi. Masih dengan getaran di
tiap kata. Masih dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. “..aku tahu kok
kamu pasti akan ninggalin aku, cepat atau lambat.”
“Apa maksud kamu?”
“Mana ada sih yang mau berteman dengan ku, Grey? Dengan gadis buta
seperti ku yang tidak memiliki kelebihan apapun. Aku tahu, Grey, aku tahu.
Pasti cepat atau lambat kamu akan ninggalin aku dan aku udah siapin mental
untuk hari di saat kamu pergi meninggalkanku.” Jelasnya. “..tapi sayang, aku nggak pernah bisa siap
buat terima kepergian kamu nanti. Kepergian kamu ke orang lain untuk
meninggalkan aku. Asal kamu tahu, dua hari yang lalu di saat kamu tidak datang
di pagi hari aku udah punya perasaan kalau kamu perlahan-lahan sudah mulai akan
meninggalkanku, tetapi pagi itu aku mencoba untuk bersikap positive dengan
beranggapan bahwa kamu pasti akan datang walaupun telat tidak seperti biasanya,
aku coba untuk beranggapan positive, Grey. Tapi sayang, keesokan harinya kamu
juga nggak datang dan itu membuat dugaanku akan kepergian itu semakin kuat. Dan
pagi tadi di hari ulangtahunku aku coba untuk berfikir positif lagi bahwa kamu
akan datang karena kamu udah janji buat ngajak aku ke prom night, aku coba
untuk berfikir positive lagi, Grey. Tetapi lagi-lagi sayang, gaun dan make up
yang sudah ku persiapkan dari tadi siang percuma. Sangat-sangat percuma. Kamu
nggak datang. Dan itu semakin membuatku yakin bahwa ini lah hari kepergian kamu
meninggalkan aku. Aku mencoba kuat untuk menerima kenyataan itu tetapi
sayangnya aku nggak bisa. Aku benar-benar nggak bisa…”
Aku langsung memeluk tubuh
Alyssa dengan cepat di saat Ia selesai menjelaskan itu semua, dan kini tangisnya
benar-benar pecah, sangat penuh dengan keperihan hatinya yang akhir-akhir ini
mungkin Ia rasakan karenaku, dan tangisannya semakin membuatku merasa bersalah.
Semakin membuatku merasa terpuruk di antara dua orang yang begitu berarti di
hidupku saat ini. Terpuruk di antara mereka yang sama-sama memiliki tempat di
hatiku, dan aku tidak sanggup untuk memilih satu di antara mereka. Aku tidak
sanggup. Benar-benar tidak. Bahkan kalau bisa, ingin sekali ku belah tubuhku
ini menjadi dua bagian agar aku tetap bisa bersama mereka di saat yang sama
walaupun itu mustahil. Tetapi ku mohon, aku tidak ingin menyakiti mereka.
“aku capek, aku capek untuk terus menerus berfikir positive
tentang kamu, Grey. Aku capek karena semua itu sia-sia, malah membuat hatiku
terasa semakin sakit..”
Aku tambah memeluknya erat untuk meredam getaran tubuhnya akibat
tangis itu dan tidak membalas penjelasannya. Aku memilih untuk diam dan membiarkannya saat ini menumpahkan
segalanya kepadaku. Menumpahkan tangisnya, kekesalannya, dan segalanya. Mungkin
itu akan membuatnya sedikit baikan.
“aku tahu aku salah, aku memang bodoh, aku memang tidak tahu
diri..” Aly menggantungkan ucapannya dan menarik nafas dalam. “..aku memang
salah karena bisa jatuh cinta sama seseorang yang baru seminggu yang lalu ku
kenal, aku memang bodoh dan tidak tahu diri karena mana mungkin gadis buta
seperti aku dicintai, aku tuh nggak pantas untuk dicintai! Aku tuh nggak
pantas! Aku memang nggak tahu diri, Grey! Aku tahu itu!”
Aly memukul lantai dengan kedua tangannya masih dengan dirinya di
dalam dekapanku, dekapan eratku.
Aku hanya bisa terus memeluk Aly, dan menambah eratan peluk ini di
saat badannya mulai bergetar dengan hebat karena isakan tangis itu. Isakan
tangis yang sangat amat penuh dengan kepedihan. Dan kepedihan itu karena aku.
Karena diriku sendiri.
“Nobody love me, nobody..”
“But I do, Aly.”
Ku lepas dekapan erat ini lalu menyenderkan tubuh Aly di dinding
kamarnya.
Ku ubah posisiku menjadi di sebelahnya, sama-sama menyender ke
dinding kamar berwarna biru muda ini.
“Nggak ada satu orangpun di dunia ini yang tidak patut untuk
dicintai. Siapapun berhak untuk dicintai, semua orang punya hak itu.”
“Aku? Aku nggak patut, kan? Aku nggak patut dicintai karena
keadaan fisikku..”
“Kata siapa? Ingat, Aly. Semua orang pasti punya kekurangan dan
kelebihan, semua orang pasti punya itu karena di dunia ini tidak ada yang
sempurna. Satu-satunya yang sempurna adalah Tuhan.”
“Semua orang punya kelebihan? Memang aku punya kelebihan apa,
Grey? Yang aku punya itu Cuma kekurangan!”
“Asal kamu tahu, hari itu di saat aku melihat kamu bernyanyi
dengan santainya di atas genting menurutku itu suatu pemandangan yang luar
biasa. Kamu tahu kenapa luar biasa? Karena kamu melakukan itu dengan santainya,
dengan mudahnya, dan dengan nyamannya. Bahkan kalau aku disuruh untuk bernyanyi
di atas genting aku nggak akan pernah mau, dan aku akan sangat amat tidak
tenang jika bernyanyi di atas genting. And guess what? Kamu bisa melakukan itu,
Aly. Walaupun dengan keadaan kamu yang..”
“buta.”
“Aku nggak bermaksud, tetapi sungguh menurutku itu kelebihan kamu
yang sangat amat luar biasa bagiku! Dan suara kamu juga indah, Aly.”
Aly menampilkan senyumnya yang akhir-akhir ini sudah tidak pernah
ku lihat, tangisnya mulai berhenti, getaran tubuhnya akibat isakan tangis itu
mulai meredam.
Ku angkat tangan kanan Aly dan menaruhnya di atas kakiku yang
dilipat. Ku ambil sapu tangan yang berada di saku celana lalu mengelap darah
yang keluar dari luka di tangannya.
“Perih, Grey..” respon Aly.
“Um, aku ambil air dulu ya buat bersihin lukanya.”
Aku beranjak bangun, tetapi begitu bangun aku kembali menatap ke
Aly dengan tatapan kosongnya tetapi dengan senyum mungil khasnya yang perlahan
mulai muncul kembali.
Ku bungkukkan badanku, lalu menggendong Aly dengan tiba-tiba.
“Grey? Kamu ngapain gendong aku?”
Aku tidak membalas pertanyaannya, tetap menggendongnya dan
menaruhnya dengan posisi senyaman mungkin di atas kasur empuknya.
“Aku ambil air dulu ya.” Ucapku, Aly tersenyum dan mengangguk
kecil.
Aku berjalan keluar kamarnya untuk mengambil air, tetapi aku
merasa menginjak sesuatu di saat ingin keluar dari kamarnya.
Dan ku dapati secarik kertas berada di bawah telapak kakiku.
Aku membungkuk, mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang
tertera di atasnya.
‘Don’t be like last year, please.’
Itulah tulisan yang tertera dan ku perkirakan ini adalah tulisan
tangan Aly.
Aku menoleh ke belakang, ke Aly yang sedang menatap kosong ke
depan di atas kasurnya dan tiba-tiba senyum muncul dari wajahku padahal dalam
hati ku bertanya kepada Aly, “Memang apa yang terjadi di tahun lalu?”
***
Ku usap tangan Aly perlahan dengan sapu tangan yang sudah ku
basahi ini sambil sesekali menatap wajahnya yang menahan perih.
“Kamu harus hati-hati kalau mau mecahin barang,”
“Grey, maaf. Aku kebawa emosi tadi.”
“Aku ngerti kok, malah seharusnya aku yang minta maaf.” Ku genggam
tangan Aly, lalu mengelus rambutnya lembut. “Sudah jam sebelas malam, kamu
nggak istirahat?”
“Rasanya malas untuk tidur, semua kantukku hilang karena kamu.”
Aku hanya tersenyum. Tak lama kemudian Aly menguap.
“Tuh kan kamu udah ngantuk, mending sekarang kamu tidur, Aly.”
“Tapi..kamu janji buat datang lagi besok, ya. Jangan menghilang
lagi, itu membuatku cemas tahu.”
“Ya, aku akan datang.”
***
Aku duduk di kursi tepat di sebelah Aly yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Ku usap kepala Aly
lembut, agar Ia cepat tidur.
“Maaf, aku nggak bawa apa-apa untuk kamu hari ini.”
“Nggak apa-apa kok, kamu datang aja udah bikin aku seneng.”
“Sekali lagi aku minta maaf ya,”
“Its okay,”
***
Aku keluar dari kamar Aly begitu Ia tertidur pulas setelah ku
temani.
“Grey,” panggil Carmel yang sedang duduk di salah satu sofa.
“Ya, Carmel?”
Aku duduk di dekat Carmel. “Ada apa?”
Carmel
menunduk sejenak, lalu menarik nafas panjang. “Ada banyak yang ingin ku
jelaskan padamu,” Ia menoleh ke arahku. “..tentang Alyssa. Tentang yang
sebenarnya."
No comments:
Post a Comment