Tuesday, November 6, 2012

The Power Of Eyes ( Part 29 )

***

Dan kini lagi-lagi aku terjebak dalam kesalahan atas diriku sendiri. Ku berikan kotak music yang seharusnya milik Alyssa kepada Alfia.

“Good night,” Alfia mendekap tubuhku lembut. “Bye, Grey. Thanks for today.”

“Thanks for today too.” Balasku.

“Kamu besok libur kan?”

“Iya, cuma dua hari.” Jawabku. “Katanya sih libur buat istirahat.”

“Berarti besok kita bisa hang out kan?”

“Iya.”

Alfia tersenyum sejenak lalu berlari menuju gerbang rumahnya dan melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam.

***

Ku berhentikan mobil di depan rumah yang akhir-akhir ini tidak pernah ku kunjungi lagi. Rumah ini terlihat sunyi, sepi, bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.

Ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam lalu melihat ke rumah itu lagi dan berfikir, apa mungkin pemilik rumah ini sedang tertidur dengan pulas di atas tempat tidur?

Sebenarnya aku cukup ragu-ragu untuk turun karena aku tidak membawa apa-apa di hari bahagianya. Di hari ulangtahunnya yang ke-17. Well, bukan ‘tidak membawa apa-apa’ tetapi ‘barang yang ku bawa ku berikan kepada orang lain’, dan itu adalah sebuah kecerobohan dan kesalahan besar yang baru saja ku alami.

Ku buka pintu mobil perlahan, dengan diriku yang sudah tidak mengenakan setelan jas lagi melainkan mengenakan kaus dan celana jeans panjang sesuai dengan rencanaku tadi pagi agar tidak ketahuan bahwa aku membohongi Alyssa karena tidak jadi membawanya untuk ke prom night.

Aku berjalan dengan badan yang bergetar, jantungku berdegup kencang, pikiranku kusut memikirkan bagaimana ekspresi Aly nanti di saat mengetahui kedatanganku yang akhir-akhir ini menghilang. Marah-kah? Senang-kah? Itulah yang terus menerus terputar di pikiranku saat ini.

Ku ketuk pintu rumah ini masih dengan jantungku yang berdegup kencang dengan pikiran-pikiranku yang kusut bagai benang yang tak terurus.

Setelah beberapa saat tidak mendapat balasan dari dalam, ku ketuk pintunya sekali lagi mengharapkan ini adalah ketukan terakhir dan segera mendapat balasan dari dalam.

Dan benar, sesaat kemudian pintu terbuka perlahan dan wajah Carmel yang kusut terlihat dari balik pintu. Carmel tampil tidak seperti biasanya, wajahnya kali ini tampak begitu kusut dan terlihat sangat lelah.

“Grey,” ucapnya lirih. “ku pikir kau tidak akan datang.”

“Bagaimana mungkin aku bisa tidak datang di hari bahagia Aly? Pasti aku datang.”

“Hari ini bukan hari bahagia Aly.”

“Maksud kamu?”

Carmel tidak membalas pertanyaanku dan hanya berjalan masuk ke dalam, “Ikut aku.” Ucapnya.

Aku hanya bisa mengikutinya. Berjalan di belakangnya, sampai akhirnya kami sampai di depan pintu kamar bertuliskan ‘alyssa’.

Carmel menoleh ke arahku sejenak, kemudian membuka pintu kamar itu perlahan, dan mempersilahkanku untuk masuk ke dalam.

Aku masuk ke dalam dan kaget melihat apa yang ada di depanku.

Kamar Alyssa.
Ya, aku tahu itu. Tetapi kamarnya sangat berantakan, bahkan ada benda-benda yang jatuh tergeletak di lantai, seperti habis dilempar.

Aku berlari begitu mataku mendapati Aly yang sedang menangis berada di pojok ruangan memakai gaun yang ku berikan padanya beberapa hari yang lalu, dengan kepalanya yang bersandar pada tembok, dan dengan air mata yang membasahi pipinya.

“Aly! Kamu kenapa?” tanyaku seraya mendekap tubuhnya erat yang membuat tangisnya makin terisak. “Maafin aku, maaf aku baru datang sekarang, maaf aku tidak bisa mengajakmu ke prom night malam ini, maaf aku telah menghancurkan hari bahagia kamu, maaf, maafkan aku, Aly.”

Aly masih tidak menjawab, tangisnya tambah menggelegar di tiap kata yang ku ucapkan tadi, tangisnya makin tumpah di kaus yang ku kenakan, badannya bergetar dan tidak membalas dekapanku sama sekali, tangannya tergontai lemah di atas lantai.

“Maaf, maaf, Aly. Aku minta maaf.” Ucapku lagi, masih mendekapnya erat.

“Maaf akhir-akhir ini aku nggak bisa nemuin kamu, aku..aku ada kepentingan lain.”

Masih tidak ada balasan dari mulut ataupun tubuh Aly, yang membuatku akhirnya melepas dekapan ini dan menatap wajahnya yang dipenuhi oleh air mata dan darah di pipinya.
Tunggu, darah?

“Darah?” ku usap pipi Aly yang ada darahnya.

Aly masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya, matanya terus menerus menumpahkan air mata, tetapi Ia angkat telapak tangannya yang kanan dan ku lihat ada luka terbeset di telapak tangan mulusnya, luka sumber darah itu.

Aku menatap ke sekeliling mencari benda apa yang membuat tangan Aly sampai terluka begini, dan akhirnya ku dapati vas berisikan setangkai bunga mawar tergeletak dalam keadaan pecah di atas lantai tidak jauh dari tempat kami berada sekarang, dan tangkai bunga mawar itu sudah terbagi dua.

Ku dekati vas bunga yang pecah dengan kaca yang berserakan itu, dan benar vas ini lah sumber dari luka yang berada di telapak tangan Aly karena ada darah di daerah dekat kumpulan kaca yang berserakan itu.

Aku mendekat lagi ke Aly yang masih diam membisu dengan badannya yang bergetar dan tangisnya yang tidak berhenti sedari tadi.

“Jadi tangan kamu terluka karena vas bunga itu? Kamu pecahin vas berisikan bunga dariku saat di taman itu?” tanyaku sambil memegang kedua pipi Aly, menghapus air mata yang terus menerus tumpah dari matanya. “Kenapa, Aly? Kenapa? Kenapa kamu pecahin? Kamu benci sama aku? Asal kamu tahu aku ambil bunga itu di saat hujan deras, aku rela basah-basahan cuman untuk ngambil setangkai bunga mawar itu.”

Ia masih diam.

“Terserah kalau kamu masih mau terus membungkam, intinya aku sayang sama kamu, aku peduli sama kamu, dan untuk masalah akhir-akhir ini karena aku tidak pernah menemui mu aku minta maaf, aku ada kepentingan lain.”

“Kepentingan apa..?” tanyanya lirih dengan bibir yang bergetar. Akhirnya, Ia membuka mulut. Tetapi pertanyaannya malah membuatku bingung.

Kepentingan apa yang ku lakukan akhir-akhir ini?

Aku menunduk, sekarang giliran aku yang diam membisu.

“Kepentingan apa, Grey?” tanyanya lagi. Masih dengan getaran di tiap kata. Masih dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. “..aku tahu kok kamu pasti akan ninggalin aku, cepat atau lambat.”

“Apa maksud kamu?”

“Mana ada sih yang mau berteman dengan ku, Grey? Dengan gadis buta seperti ku yang tidak memiliki kelebihan apapun. Aku tahu, Grey, aku tahu. Pasti cepat atau lambat kamu akan ninggalin aku dan aku udah siapin mental untuk hari di saat kamu pergi meninggalkanku.” Jelasnya.  “..tapi sayang, aku nggak pernah bisa siap buat terima kepergian kamu nanti. Kepergian kamu ke orang lain untuk meninggalkan aku. Asal kamu tahu, dua hari yang lalu di saat kamu tidak datang di pagi hari aku udah punya perasaan kalau kamu perlahan-lahan sudah mulai akan meninggalkanku, tetapi pagi itu aku mencoba untuk bersikap positive dengan beranggapan bahwa kamu pasti akan datang walaupun telat tidak seperti biasanya, aku coba untuk beranggapan positive, Grey. Tapi sayang, keesokan harinya kamu juga nggak datang dan itu membuat dugaanku akan kepergian itu semakin kuat. Dan pagi tadi di hari ulangtahunku aku coba untuk berfikir positif lagi bahwa kamu akan datang karena kamu udah janji buat ngajak aku ke prom night, aku coba untuk berfikir positive lagi, Grey. Tetapi lagi-lagi sayang, gaun dan make up yang sudah ku persiapkan dari tadi siang percuma. Sangat-sangat percuma. Kamu nggak datang. Dan itu semakin membuatku yakin bahwa ini lah hari kepergian kamu meninggalkan aku. Aku mencoba kuat untuk menerima kenyataan itu tetapi sayangnya aku nggak bisa. Aku benar-benar nggak bisa…”

 Aku langsung memeluk tubuh Alyssa dengan cepat di saat Ia selesai menjelaskan itu semua, dan kini tangisnya benar-benar pecah, sangat penuh dengan keperihan hatinya yang akhir-akhir ini mungkin Ia rasakan karenaku, dan tangisannya semakin membuatku merasa bersalah. Semakin membuatku merasa terpuruk di antara dua orang yang begitu berarti di hidupku saat ini. Terpuruk di antara mereka yang sama-sama memiliki tempat di hatiku, dan aku tidak sanggup untuk memilih satu di antara mereka. Aku tidak sanggup. Benar-benar tidak. Bahkan kalau bisa, ingin sekali ku belah tubuhku ini menjadi dua bagian agar aku tetap bisa bersama mereka di saat yang sama walaupun itu mustahil. Tetapi ku mohon, aku tidak ingin menyakiti mereka.

“aku capek, aku capek untuk terus menerus berfikir positive tentang kamu, Grey. Aku capek karena semua itu sia-sia, malah membuat hatiku terasa semakin sakit..”

Aku tambah memeluknya erat untuk meredam getaran tubuhnya akibat tangis itu dan tidak membalas penjelasannya. Aku memilih untuk  diam dan membiarkannya saat ini menumpahkan segalanya kepadaku. Menumpahkan tangisnya, kekesalannya, dan segalanya. Mungkin itu akan membuatnya sedikit baikan.

“aku tahu aku salah, aku memang bodoh, aku memang tidak tahu diri..” Aly menggantungkan ucapannya dan menarik nafas dalam. “..aku memang salah karena bisa jatuh cinta sama seseorang yang baru seminggu yang lalu ku kenal, aku memang bodoh dan tidak tahu diri karena mana mungkin gadis buta seperti aku dicintai, aku tuh nggak pantas untuk dicintai! Aku tuh nggak pantas! Aku memang nggak tahu diri, Grey! Aku tahu itu!”

Aly memukul lantai dengan kedua tangannya masih dengan dirinya di dalam dekapanku, dekapan eratku.

Aku hanya bisa terus memeluk Aly, dan menambah eratan peluk ini di saat badannya mulai bergetar dengan hebat karena isakan tangis itu. Isakan tangis yang sangat amat penuh dengan kepedihan. Dan kepedihan itu karena aku. Karena diriku sendiri.

“Nobody love me, nobody..”

“But I do, Aly.”

Ku lepas dekapan erat ini lalu menyenderkan tubuh Aly di dinding kamarnya.

Ku ubah posisiku menjadi di sebelahnya, sama-sama menyender ke dinding kamar berwarna biru muda ini.

“Nggak ada satu orangpun di dunia ini yang tidak patut untuk dicintai. Siapapun berhak untuk dicintai, semua orang punya hak itu.”

“Aku? Aku nggak patut, kan? Aku nggak patut dicintai karena keadaan fisikku..”

“Kata siapa? Ingat, Aly. Semua orang pasti punya kekurangan dan kelebihan, semua orang pasti punya itu karena di dunia ini tidak ada yang sempurna. Satu-satunya yang sempurna adalah Tuhan.”

“Semua orang punya kelebihan? Memang aku punya kelebihan apa, Grey? Yang aku punya itu Cuma kekurangan!”

“Asal kamu tahu, hari itu di saat aku melihat kamu bernyanyi dengan santainya di atas genting menurutku itu suatu pemandangan yang luar biasa. Kamu tahu kenapa luar biasa? Karena kamu melakukan itu dengan santainya, dengan mudahnya, dan dengan nyamannya. Bahkan kalau aku disuruh untuk bernyanyi di atas genting aku nggak akan pernah mau, dan aku akan sangat amat tidak tenang jika bernyanyi di atas genting. And guess what? Kamu bisa melakukan itu, Aly. Walaupun dengan keadaan kamu yang..”

“buta.”

“Aku nggak bermaksud, tetapi sungguh menurutku itu kelebihan kamu yang sangat amat luar biasa bagiku! Dan suara kamu juga indah, Aly.”

Aly menampilkan senyumnya yang akhir-akhir ini sudah tidak pernah ku lihat, tangisnya mulai berhenti, getaran tubuhnya akibat isakan tangis itu mulai meredam.

Ku angkat tangan kanan Aly dan menaruhnya di atas kakiku yang dilipat. Ku ambil sapu tangan yang berada di saku celana lalu mengelap darah yang keluar dari luka di tangannya.

“Perih, Grey..” respon Aly.

“Um, aku ambil air dulu ya buat bersihin lukanya.”

Aku beranjak bangun, tetapi begitu bangun aku kembali menatap ke Aly dengan tatapan kosongnya tetapi dengan senyum mungil khasnya yang perlahan mulai muncul kembali.

Ku bungkukkan badanku, lalu menggendong Aly dengan tiba-tiba.

“Grey? Kamu ngapain gendong aku?”

Aku tidak membalas pertanyaannya, tetap menggendongnya dan menaruhnya dengan posisi senyaman mungkin di atas kasur empuknya.

“Aku ambil air dulu ya.” Ucapku, Aly tersenyum dan mengangguk kecil.

Aku berjalan keluar kamarnya untuk mengambil air, tetapi aku merasa menginjak sesuatu di saat ingin keluar dari kamarnya.

Dan ku dapati secarik kertas berada di bawah telapak kakiku.

Aku membungkuk, mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang tertera di atasnya.

‘Don’t be like last year, please.’

Itulah tulisan yang tertera dan ku perkirakan ini adalah tulisan tangan Aly.

Aku menoleh ke belakang, ke Aly yang sedang menatap kosong ke depan di atas kasurnya dan tiba-tiba senyum muncul dari wajahku padahal dalam hati ku bertanya kepada Aly, “Memang apa yang terjadi di tahun lalu?”

***

Ku usap tangan Aly perlahan dengan sapu tangan yang sudah ku basahi ini sambil sesekali menatap wajahnya yang menahan perih.

“Kamu harus hati-hati kalau mau mecahin barang,”

“Grey, maaf. Aku kebawa emosi tadi.”

“Aku ngerti kok, malah seharusnya aku yang minta maaf.” Ku genggam tangan Aly, lalu mengelus rambutnya lembut. “Sudah jam sebelas malam, kamu nggak istirahat?”

“Rasanya malas untuk tidur, semua kantukku hilang karena kamu.”

Aku hanya tersenyum. Tak lama kemudian Aly menguap.

“Tuh kan kamu udah ngantuk, mending sekarang kamu tidur, Aly.”

“Tapi..kamu janji buat datang lagi besok, ya. Jangan menghilang lagi, itu membuatku cemas tahu.”

“Ya, aku akan datang.”

***

Aku duduk di kursi tepat di sebelah Aly yang sedang berbaring  di tempat tidurnya. Ku usap kepala Aly lembut, agar Ia cepat tidur.

“Maaf, aku nggak bawa apa-apa untuk kamu hari ini.”

“Nggak apa-apa kok, kamu datang aja udah bikin aku seneng.”

“Sekali lagi aku minta maaf ya,”

“Its okay,”

***

Aku keluar dari kamar Aly begitu Ia tertidur pulas setelah ku temani.

“Grey,” panggil Carmel yang sedang duduk di salah satu sofa.

“Ya, Carmel?”

Aku duduk di dekat Carmel. “Ada apa?”

Carmel menunduk sejenak, lalu menarik nafas panjang. “Ada banyak yang ingin ku jelaskan padamu,” Ia menoleh ke arahku. “..tentang Alyssa. Tentang yang sebenarnya."

***

No comments:

Post a Comment