Wednesday, November 28, 2012

The Power of Eyes ( Part 32 )

Ku buka pintu toko ini dan terciumlah semerbak wangi berbagai macam bunga. Kaki ku langsung melangkah menuju berbagai macam flower crown yang dipajang.

Ku ambil flower crown yang dihiasi oleh bunga mawar berwarna merah muda itu, melihat bentuknya yang manis, dan tanpa pikir panjang ku bawa flower crown itu ke kasir untuk membelinya.


***


Aku masuk ke mobil dengan tas kertas yang berisi flower crown yang baru saja ku beli itu.


Baru saja ingin menancapkan gas untuk pulang, ponselku berbunyi.


”Ya, Alfia?” Ucapku setelah tersambung dengannya melalui telepon.


”Um, kamu lagi sibuk nggak?” Sambutnya.


”Enggak kok, kenapa?”


”Kebetulan aku lagi di cafe dekat rumah kamu, mungkin kamu bisa mampir?”


”Oh, aku bisa kok. Tunggu ya, sepuluh menit lagi aku ada di belakang kamu!”


”ih horror banget sih, Grey.”


”Haha,”


”Oke, I'll wait. Bye.”


”Bye.”


Setelah sambungan telepon terputus, langsung ku kendalikan mobil menuju cafe tempat Alfia berada saat ini.


***


Pintu cafe terbuka begitu ku dorong pelan bersamaan dengan suara gemercing yang bersumber dari sebuah lonceng kecil di atas pintu ini. Membuat suara setiap kali pintu terbuka.


Mataku langsung tertuju kepada seorang perempuan di pojok cafe yang sedang melambaikan tangannya ke arahku dengan senyum yang khas.


”Hai,” sapaku hangat seraya menggapai tubuhnya lembut.


”Hai, miss you.” Sapanya balik.


Aku duduk di seberangnya, ”miss you too.” Balasku. ”Jadi, ada apa?”


”Nothing, cuman kangen aja.” Ucapnya. Alfia pun meneguk pelan kopi hangat miliknya, begitu juga aku meneguk kopi hangat yang Ia pesankan untukku sedari tadi. Setelah itu kami pun berbincang-bincang bersama, menghabiskan malam ini berdua.


***


Setelah menyikat gigi dan membersihkan tubuh, aku beranjak ke kasur untuk tidur dan mimpi indah. Tetapi, baru saja ingin menutup mata dan memasuki dunia mimpi, ponselku berbunyi menandakan ada pesan masuk.


From: Alfia

Text: ”Sweet dreams ;)x”

Aku tersenyum sembari mengetik beberapa deret kalimat di ponselku.


To: Alfia

Text: ”sweet dreams too babe ;)♥ omg lol, you must be dream bout me this night.”

Send.


Ponselku bergetar lagi,


From: Alfia

Text: ”oh really? ;p”

Aku tertawa kecil, lalu mulai mengetik lagi.


To: Alfia.

Text: ”ofc yes ;p”

Send.


Ku taruh ponsel di sisiku, kemudian berbaring sejenak dengan kedua tangan yang ku lipat di bawah kepala.


Senyum muncul di wajahku tanpa sebab.

Entah, apa yang membuatku tersenyum.
Intinya tadi aku tersenyum karena suatu hal spesial, walaupun aku sendiri tidak menyadari hal apa itu.

***


Ku buka mataku perlahan. Mencoba perlahan mengatur sinar matahari yang masuk menembus selaput mataku dan sesaat kemudian mataku sudah membulat alias nyawa yang ada di tubuhku sudah terkumpul semua.


Ku sibak gorden yang menutupi pintu kaca yang membatasi kamar dan balkon, membiarkan sinar matahari masuk dengan bebasnya ke dalam kamar, memberikan kehangatan bagi siapapun yang ada di dalamnya.


Ku geser pintu kaca ini dan langsung merasakan hangatnya cahaya matahari yang meresap ke tubuhku perlahan, menaikkan suhu tubuhku.


Burung-burung asik bertengger dan bernyanyi dengan riang di atas ranting-ranting pohon, membiarkan semua orang mendengar suara mereka yang merdu, dan membangunkan orang-orang yang masih tertidur pulas agar bisa bangun dan mendengar mereka bernyanyi.


Tiba-tiba seekor burung terbang dari ranting pohon ke pagar pembatas balkon, lalu menghafapkan wajahnya ke arahku.


Burung itu menatapku lembut masih dengan kakinya yang bertengger di pagar besi ini. Sesaat kemudian, Ia pindah ke tanganku. Mendaratkan kaki mungilnya di jemariku.


Burung itu kemudian menggeserkan badannya dua langkah mendekat, lalu menunduk seperti memberikan isyarat bahwa Ia ingin dielus bulunya, tetapi di saat ingin mendaratkan jemariku di bulunya Ia langsung pergi, dan terbang kembali ke ranting pohon tempatnya semula.


Aku terheran melihat tingkah burung itu dan entah tiba-tiba terbesit di benakku bahwa burung itu seperti ingin menyampaikan suatu pesan tersirat.


***


Ku berhentikan mobilku di depan rumah yang seminggu lalu masih sangat asing di mataku, tetapi sekarang rumah itu adalah segalanya karena di sana tinggal seseorang yang telah memberiku banyak pelajaran tentang arti hidup yang sebenernya, dan tentang rasa syukur yang harus ku ucapkan setiap saat atas segala macam yang telah ku terima di dunia selama ini.


Tadi, ku putuskan untuk pergi menemui Aly sejenak pagi ini karena kebetulan aku tidak memiliki acara apapun dengan Alfia. Maka, setelah mandi dan sarapan langsung ku tancap gas menuju rumah ini.


”Pagi, Carmel.” Sapaku hangat kepada sosok yang sedang menyiram tanaman miliknya yang terawat dengan baik.


”Oh, pagi, Greyson!” Sapanya balik lalu merangkulku sejenak. ”Ada apa ke sini pagi-pagi?”


”Cuman mau ketemu Aly aja, boleh kan?”


”Tentu boleh, Grey. Aly ada di dalam, kamu boleh temui dia.”


Aku mengangguk lalu berjalan ke dalam rumah sederhana ini untuk mencari sosok perempuan yang memiliki banyak kenangan dengan bunga mawar itu.


Akhirnya ku dapati sosoknya sedang duduk di bibir kasur, dengan kedua tangannya yang menggenggam erat setangkai bunga mawar yang masih terlihat segar dan mencium wanginya yang semerbak. Seketika, aku jadi teringat tentang segala hal yang Carmel katakan tentang Aly dan bunga mawar.


”Hai,” sapaku lembut seraya berjalan dan ikut duduk di sampingnya. ”Pagi, Aly.”


”Grey?”


”Ya, itu aku.”


”Oh, ya pagi juga. Ada apa pagi-pagi sudah datang?”


”Aku cuman mau ngajak kamu jalan aja. Udara di luar segar sayang kalau hanya dihabiskan dengan duduk termenung sendiri di dalam kamar, kan?”


Aly terdiam sejenak, lalu menurunkan tangannya yang tadinya berpapasan dengan wajahnya untuk mencium aroma semerbak bunga itu.


”Yang ku hirup di dalam kamar ini juga segar kok,” ucapnya lembut.


Aly menjalankan tangannya ke samping, mencari-cari keberadaan tanganku. Begitu menemukan tanganku, langsung Ia taruh bunga mawar yang sedari tadi ada di genggamannya menjadi di atas telapak tanganku.


”Bunga mawar ini masih cantik dan segar, loh. Baru dipetik Kak Carmel tadi.”


Aku mendangak untuk menatap wajahnya, melihat ekspresinya yang datar walaupun dengan senyum tipis yang mengembang di wajahnya.


”Kamu benar, tetapi ada satu mawar lagi yang lebih cantik dan segar daripada mawar ini.”


”Mawar mana?”


”Mawar yang ada di sampingku. Alyssa Catherina Roses. Mawar yang paling cantik dan berbeda dari mawar-mawar lain.”


***


”Oke, Grey. Jadi kamu ajak aku ke taman lagi? Dan kamu nyuruh aku untuk ngelakuin ini lagi?” Gerutu Aly di saat ku pinta Ia untuk menebak kami sedang berada di mana hanya dengan menggunakan telapak kakinya.


Aku tertawa kecil mendengar gerutuannya, lalu menuntunnya untuk duduk di rerumputan taman.


Aku memang sengaja mengajaknya ke taman hanya untuk sekedar bersantai dan bermain bersama.


Kami sama-sama menghempaskan diri di atas hamparan rumput hijau. Kedua tangan ku lipat dan ku taruh di bawah kepala sebagai penumpu.


”Apa yang sekarang sedang kamu lihat?” Tanyaku pada Aly.


”Hah,” Ia tahan ucapannya. ”Aku buta, Grey. Kamu tahu itu, kan.”


”A-aku tahu,” ku hentikan ucapanku sejenak. ”Aku tidak bertanya tentang apa yang mata kamu lihat, Aly. Tetapi, aku bertanya tentang apa yang hati kamu lihat saat ini. Kamu boleh buta mata, tetapi tidak dengan hati kamu, kan?”


Tidak ada balasan.

Hening.
Aly tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.

”Maaf, lupakan saja pertanyaan bodohku tadi.”


”Tidak, Grey. Aku diam bukan karena aku tidak suka dengan pertanyaan yang kamu lontarkan, tetapi aku diam untuk mencoba mendeskripsikan apa yang hatiku lihat saat ini.”


”Lalu, apa yang hati kamu lihat?”


”Terang.”


”Terang?”


”Sebuah cahaya terang yang berasal dari suatu benda yang tidak ku ketahui pasti apa itu.” Aly menahan ucapannya. ”Mungkin, cahaya terang itu kamu. Itu kamu, Grey.”


***


Ku pasang earphone di telingaku, kemudian memasangkan earphone yang satunya di telinga kanan Aly.


”Untuk apa?” Tanya Aly.


”Tunggu,” ku buka file voice note saat aku meng-cover lagu U Smile, lalu menekan tombol play.


”Ini suara kamu, Grey?”


”Iya, kenapa?”


”Bagus.”


”Makasih, Aly.”


Aku pamit untuk ke mobil sebentar.


Begitu sampai di dalam mobil langsung ku ambil flower crown yang ku beli semalam. Flower crown mawar berwarna merah muda yang ku belikan khusus untuknya.


Aku berjalan ke kursi tempat di mana Aly berada dengan flower crown ini di genggaman tanganku.


”I have something for you!” seruku selagi duduk di sampingnya.


”Apa?”


”Coba tebak.”


”Oh, no. Aku benci menebak.” Aly menahan ucapannya, ”um ayolah beri tahu aku, Grey.”


Aku tidak membalas perkataannya. Lalu ku pasang flower crown ini di atas kepalanya dengan senyum yang entah mengapa selalu mengembang di pipiku.


”Grey..”


”Flower crown. Maaf, cuma ini yang bisa aku kasih untuk ulangtahun kamu kemarin.” Ku tarik nafas panjang. ”Gimana, kamu suka?”


Tangis mengalir lembut menyusuri pipinya, isak tangis perlahan terdengar tetapi langsung ku redam cepat dengan peluk ini.


”Dont cry, okay.” Ucapku lembut sembari menyusuri rambut panjangnya dengan jemariku.


”Thanks for everythings,” ujarnya dengan getaran di tiap kata.


”Welcome,”


”I love you, Grey. I love you so much.”


”I lo-” ucapanku terputus.


Lidahku terasa kaku dengan tiba-tiba. Bibirku kelu untuk melontarkan kata-kata yang baru saja ingin ku lontarkan. Nafasku sesak. Entah, mengapa itu semua bisa terjadi dengan tiba-tiba.


Aku terdiam sejenak, lalu menarik nafas panjang.


”I love you too.” Ucapku pada akhirnya sambil terus memeluk Aly lembut.


Ku pejamkan mata sejenak dan muncul wajah Alfia di benakku yang membuatku langsung membuka mata dengan cepat.


Tetapi, jantungku langsung terasa seperti berhenti berdetak begitu mengetahui dan menyadari bahwa ada Alfia di depanku dengan tangis yang ada di pipinya.


Alfia melihatku dan Aly.



***

No comments:

Post a Comment