Ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku sempat melirik Greyson
sejenak lalu mengambil ponsel yang berada di saku celana. Aku kembali menoleh
ke Greyson sejenak begitu melihat siapa nama yang tertera di layar ponsel.
Marissa.
“Ya, halo?” ucapku setelah menerima sambungan telepon
darinya.
“HOLY CRAP CIELYTA GUSNAWAN!” sahutnya dari sana yang
begitu kencang bahkan sampai ku jauhkan ponselku dari telinga. Greyson bahkan
sempat bertanya siapa yang sedang menelfonku.
“Calm, Marissa. Kamu bisa buat aku jantungan tahu.”
“Hehe, maaf. Makasih banget loh sama buku yang kamu
kasih.”
Aku tersenyum, “Sama-sama. Sudah dibaca bukunya?”
“Ini lagi dibaca. Berkali-kali aku ketawa loh! Apalagi
dibagian saat aku harus menjalankan dare
dari kamu saat sepulang sekolah.”
“Ya, aku tahu. Bahkan aku tertawa berkali-kali saat
menulis buku itu.”
“Iya-iya, aku nggak bisa bayangin wajah aku waktu jalanin
tantangan itu loh.”
“Nggak usah dibayangkan, kamu pasti akan tertawa tanpa
henti.”
“Ya-ya, baiklah kalau begitu lanjutkan saja liburan mu di
Bali! Terima kasih hadiah bukunya!”
“Iya, sama-sama. Maaf ya cuman bisa kasih hadiah itu di
hari ulangtahunmu.”
“It’s okay. Aku mau lanjut baca bukunya dulu ya, bye!”
“Bye!”
Sambungan terputus.
Marissa. Ia adalah sahabat yang baru ku kenal beberapa
bulan lalu di saat kami sama-sama baru memasuki SMA. Saat itu aku tengah duduk
di sebuah kursi dan tidak ada yang mengisi kursi kosong di sebelahku karena
memang tidak ada yang ku kenal di sini. Sampai akhirnya ketika bel tanda masuk
berbunyi Ia datang dengan langkah kakinya yang cepat dan duduk di satu-satunya
kursi kosong yang ada di kelas, alias kursi di sebelahku. Semenjak menjadi
teman satu bangku, kami mulai dekat hingga saat ini kami bisa dibilang sangat dekat
walaupun baru mengenal satu sama lain beberapa bulan yang lalu.
Kemarin tepatnya di hari saat aku harus pergi ke Bali,
Marissa berulangtahun. Sebenarnya cukup menyedihkan untuk tidak secara langsung
mengucapkan selamat kepadanya karena pesawat yang pagi-pagi sudah harus
berangkat. Maka, ku taruh sebuah buku bermodel diary yang sudah ku isi dengan
banyak kalimat yang mendeskripsikan Marissa di kursi teras rumahnya. Karena
kebetulan saat aku ingin memberikan buku itu, Marissa dan keluarganya sedang
pergi. Jadi, terpaksa ku tinggalkan dan tidak bisa memberikannya ucapan selamat
ulangtahun secara langsung.
Kalau mengenai mengapa kami tertawa di sambungan telepon
tadi saat membahas tentang dare, itu
sangat wajar. Karena pengalaman di saat Marissa harus menjalankan dare yang ku berikan adalah pengalaman
terkonyol yang pernah ada bagiku. Saat itu Ia ku paksa untuk meminta nomer dan
foto semua lelaki yang kami temui di sepanjang jalan saat pulang sekolah, dan
bodohnya seorang kakek tua pun Ia minta nomer ponsel dan fotonya. That was full
of fun.
Aku kembali tertawa begitu mengingat kejadian konyol itu,
sedangkan Greyson menatapku dengan penuh tanya dan tak lama kemudian Ia kembali
meninju lenganku pelan.
“Kau mengapa tertawa dan siapa yang baru saja
menghubungimu tadi?” tanyanya.
Ku coba meredam tawaku dengan mulut yang ku tutup dengan
kedua tangan lalu menatap Greyson yang dengan wajah seriusnya memperhatikanku.
Aku berdeham sejenak.
“Ia sahabatku. Namanya Marissa, ada apa? Kau tertarik
dengannya?”
“Aku tidak mengenalnya, bodoh. Mana mungkin bisa langsung
tertarik.”
Greyson memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, lalu
melanjutkan langkahnya dan aku masih di sini berdiri memperhatikannya berjalan.
Postur tubuhnya yang tinggi terlihat jelas dari belakang dengan rambut cokelat
gelapnya itu. Tak lama, Greyson menoleh ke belakang. Membuyarkan lamunanku yang
asik memperhatikannya.
“Mengapa masih di situ?” tanyanya.
Aku berlari mendekatinya dan menyamakan langkah kaki
kami. Mungkin terdengar konyol, tetapi setiap kali berjalan dengan orang lain
mataku pasti selalu tertuju ke kaki seseorang yang sedang berjalan bersamaku,
lalu kakiku menyamakan langkah kakinya. Jika Ia melangkahkan kaki kanannya, maka
aku juga harus melangkah di kaki yang sama. Mungkin aneh, tetapi sejak kecil
aku selalu melakukannya.
“Kau sedang apa?” Tanya Greyson yang menangkapku sedang
memperhatikan langkah kakinya.
“Um, tidak.” Jawabku yang langsung berburu menatap ke
wajahnya.
“Kau menyamakan langkah kaki ku?” tanyanya lagi dengan
alis yang diangkat satu.
Ku tutup wajahku menggunakan kedua tangan. Ya, kau tahu
aku malu karena tertangkap basah melakukan hal aneh itu.
“Mungkin terdengar aneh, tetapi aku selalu melakukan itu
sejak kecil. Rasanya seperti ada yang mengganjal jika langkah kaki kita saat
berjalan tidak sama. Oke, dan mungkin sekarang kau akan memandangku lebih
aneh.” Jelasku panjang.
Ia sempat terdiam. Keheningan sempat menyelimuti kami dan
Greyson menatapku dalam. Kini ku rasa jantungku berdegup dengan kencang, aliran
darahku bahkan bergerak lebih cepat, bahkan sepertinya desiran angin menghempas
tubuhku lebih kencang.
“Kau memang aneh.”
Tiga kata itu terlontar dari bibir mulusnya dan beberapa
saat kemudian Ia tertawa cukup kencang dengan pandangan ke laut.
“Kau menertawakanku, Greyson?” tanyaku sambil mengerutkan
dahi.
Tak lama kemudian, Ia tertawa. “Tidak, aku tidak
menertawakanmu. Tetapi menertawakan tingkah lakumu itu.” Ucapnya dengan menatap
kedua mataku. Oiya, menatap dalam artian penuh ledek karena diselingi tawanya
itu. Oleh karena itu, ku layangkan sebuah tinjuan kecil tepat di lengannya.
“Aw! Kau ahli juga dalam meninju!” ujar Greyson sambil memegang lengan kirinya.
“Tidak juga, kau saja yang lemah!” balasku dengan juluran
lidah ke depan. Meledek dirinya.
“Oh, ya? Ku rasa kau salah.” Ucapnya dengan tatapan penuh
jahil. Aku sempat tidak mengerti dengan tatapan itu sampai akhirnya Ia berlari
mencoba mengejarku yang sudah terlebih dahulu berlari menyadari tatapan penuh
jahilnya itu.
Kaki ku yang tidak menggunakan alas apapun menyusuri
garis pantai, mencoba berlari secepat mungkin agar tidak terkejar oleh Greyson,
dan sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihat sudah sejauh apa aku
darinya.
Jantungku berdegup begitu kencang karena berlari, padahal
seharusnya aku ingat pesan Ayah bahwa aku tidak boleh berlari kencang karena
bisa membuat badanku lemas seketika dan kini itu terjadi.
Langkah kakiku bergerak lebih pelan, lemas rasanya, dan
akhirnya kini lututku sudah bertemu dengan pasir pantai begitu juga kedua
telapak tanganku yang menapak pada pasir. Nafasku tak beraturan, mulutku
membuka untuk membantu menstabilkan nafas, dan keringat pun bercucuran jatuh ke
pasir pantai yang bersih.
Seseorang memegang kedua bahuku, lalu membantuku ke
posisi duduk. Greyson, dia orangnya.
“Kau kenapa?” tanyanya sambil mencoba meluruskan kaki ku.
Aku tidak menjawab karena masih mencoba untuk
menstabilkan nafasku. Ku pejamkan mata sejenak agar nafas bisa stabil lebih
cepat, tetapi begitu mataku membuka Greyson tidak ada.
“Greyson?” panggilku begitu nafas mulai kembali stabil.
Aku menoleh ke kanan dan kiri tetapi tetap tidak ada dirinya. Ingin berdiri,
tetapi rasanya kakiku masih belum sanggup untuk melakukan itu.
Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan
kiriku. Sudah jam tiga sore, cepat juga waktu berlalu.
Hari menjelang sore, para pengunjung pantai pun lebih
bertambah. Banyak di antara mereka yang baru saja datang langsung menyeburkan
diri ke dalam air laut untuk sekedar bermain air, ada yang hanya duduk di
pinggiran pasir pantai untuk berbincang-bincang bersama kerabat atau temannya,
dan ada juga yang langsung mengayuh papan selancarnya ke tengah laut dan
menanti ombak yang akan membawa mereka kembali.
Melihat mereka dengan lincahnya berselancar, terbesit di
benakku untuk bisa melakukan itu seperti mereka. Bergaya di atas papan selancar
dengan lincahnya ditemani ombak yang sudah menjadi kawannya, tetapi di lain
sisi aku takut. Aku takut jika pada niat awalnya ku inginkan ombak untuk
menjadi kawan, malah menjadi lawan.
“Kamu sudah baikan?”
Ia datang dengan segelas teh di genggamannya dan kini Ia
berlutut di hadapanku dengan tangannya yang menggenggam teh dijulurkan ke
arahku, “Minum dulu, agar lebih tenang. Ini teh hangat.” Ujarnya lembut. Jujur,
ini ucapannya yang terlembut kalau dibanding dengan ucapan-ucapan sebelumnya.
Ku terima gelas berisi teh hangat itu dan tersenyum,
“Terima kasih. Sebenarnya aku tidak menyukai teh.”
Ia mengubah posisinya menjadi duduk di sampingku, kakinya
ikut diluruskan ke depan dan kedua tangannya menopang tubuhnya sendiri di
belakang.
“Kau tadi kenapa?” tanyanya dan wajahnya memandang ke
wajahku juga yang sedang menoleh dirinya.
Aku menggeleng pelan, “Tidak tahu. Mungkin, karena aku
telah melanggar larangan Ayah.”
“Larangan apa?”
“Ayah melarangku untuk berlarian cepat.”
“Mengapa Ia melarangmu?”
Ku angkat kedua bahuku, “Aku pun tak tahu. Ia bilang itu
bisa membuat orang mudah lelah.”
Kini, Greyson malah tertawa begitu ku jawab
pertanyaannya. “Dimana-mana, berolahraga memang membuat orang lelah. Ayahmu
aneh-aneh saja.”
“Aku tahu, Greyson. Tetapi setiap ku langgar larangan
Ayah, ini selalu terjadi. Badanku terasa sangat amat berat, nafasku sesak.”
“Mungkin, kau belum terbiasa berolahraga. Kapan-kapan,
kita harus berolahraga bersama. Kau harus melatih jantungmu, Ciel.”
Aku hanya mengangguk. Tak lama, Greyson bangun dari
tempatnya lalu menjulurkan tangannya begitu berdiri.
“Kemana?” tanyaku.
“Suatu tempat,” balasnya dengan mengedipkan mata
kanannya.
---
That’s all about part 3 from my third story!
Hope you guys will love it ;)
Wait for the next part and thanks for read!
-chanda.
