Tuesday, December 25, 2012

Skyfall ( Part 3 )


Ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku sempat melirik Greyson sejenak lalu mengambil ponsel yang berada di saku celana. Aku kembali menoleh ke Greyson sejenak begitu melihat siapa nama yang tertera di layar ponsel.

Marissa.

“Ya, halo?” ucapku setelah menerima sambungan telepon darinya.

“HOLY CRAP CIELYTA GUSNAWAN!” sahutnya dari sana yang begitu kencang bahkan sampai ku jauhkan ponselku dari telinga. Greyson bahkan sempat bertanya siapa yang sedang menelfonku.

“Calm, Marissa. Kamu bisa buat aku jantungan tahu.”

“Hehe, maaf. Makasih banget loh sama buku yang kamu kasih.”

Aku tersenyum, “Sama-sama. Sudah dibaca bukunya?”

“Ini lagi dibaca. Berkali-kali aku ketawa loh! Apalagi dibagian saat aku harus menjalankan dare dari kamu saat sepulang sekolah.”

“Ya, aku tahu. Bahkan aku tertawa berkali-kali saat menulis buku itu.”

“Iya-iya, aku nggak bisa bayangin wajah aku waktu jalanin tantangan itu loh.”

“Nggak usah dibayangkan, kamu pasti akan tertawa tanpa henti.”

“Ya-ya, baiklah kalau begitu lanjutkan saja liburan mu di Bali! Terima kasih hadiah bukunya!”

“Iya, sama-sama. Maaf ya cuman bisa kasih hadiah itu di hari ulangtahunmu.”

“It’s okay. Aku mau lanjut baca bukunya dulu ya, bye!”

“Bye!”

Sambungan terputus.

Marissa. Ia adalah sahabat yang baru ku kenal beberapa bulan lalu di saat kami sama-sama baru memasuki SMA. Saat itu aku tengah duduk di sebuah kursi dan tidak ada yang mengisi kursi kosong di sebelahku karena memang tidak ada yang ku kenal di sini. Sampai akhirnya ketika bel tanda masuk berbunyi Ia datang dengan langkah kakinya yang cepat dan duduk di satu-satunya kursi kosong yang ada di kelas, alias kursi di sebelahku. Semenjak menjadi teman satu bangku, kami mulai dekat hingga saat ini kami bisa dibilang sangat dekat walaupun baru mengenal satu sama lain beberapa bulan yang lalu.

Kemarin tepatnya di hari saat aku harus pergi ke Bali, Marissa berulangtahun. Sebenarnya cukup menyedihkan untuk tidak secara langsung mengucapkan selamat kepadanya karena pesawat yang pagi-pagi sudah harus berangkat. Maka, ku taruh sebuah buku bermodel diary yang sudah ku isi dengan banyak kalimat yang mendeskripsikan Marissa di kursi teras rumahnya. Karena kebetulan saat aku ingin memberikan buku itu, Marissa dan keluarganya sedang pergi. Jadi, terpaksa ku tinggalkan dan tidak bisa memberikannya ucapan selamat ulangtahun secara langsung.

Kalau mengenai mengapa kami tertawa di sambungan telepon tadi saat membahas tentang dare, itu sangat wajar. Karena pengalaman di saat Marissa harus menjalankan dare yang ku berikan adalah pengalaman terkonyol yang pernah ada bagiku. Saat itu Ia ku paksa untuk meminta nomer dan foto semua lelaki yang kami temui di sepanjang jalan saat pulang sekolah, dan bodohnya seorang kakek tua pun Ia minta nomer ponsel dan fotonya. That was full of fun.

Aku kembali tertawa begitu mengingat kejadian konyol itu, sedangkan Greyson menatapku dengan penuh tanya dan tak lama kemudian Ia kembali meninju lenganku pelan.

“Kau mengapa tertawa dan siapa yang baru saja menghubungimu tadi?” tanyanya.

Ku coba meredam tawaku dengan mulut yang ku tutup dengan kedua tangan lalu menatap Greyson yang dengan wajah seriusnya memperhatikanku. Aku berdeham sejenak.

“Ia sahabatku. Namanya Marissa, ada apa? Kau tertarik dengannya?”

“Aku tidak mengenalnya, bodoh. Mana mungkin bisa langsung tertarik.”

Greyson memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, lalu melanjutkan langkahnya dan aku masih di sini berdiri memperhatikannya berjalan. Postur tubuhnya yang tinggi terlihat jelas dari belakang dengan rambut cokelat gelapnya itu. Tak lama, Greyson menoleh ke belakang. Membuyarkan lamunanku yang asik memperhatikannya.

“Mengapa masih di situ?” tanyanya.

Aku berlari mendekatinya dan menyamakan langkah kaki kami. Mungkin terdengar konyol, tetapi setiap kali berjalan dengan orang lain mataku pasti selalu tertuju ke kaki seseorang yang sedang berjalan bersamaku, lalu kakiku menyamakan langkah kakinya. Jika Ia melangkahkan kaki kanannya, maka aku juga harus melangkah di kaki yang sama. Mungkin aneh, tetapi sejak kecil aku selalu melakukannya.

“Kau sedang apa?” Tanya Greyson yang menangkapku sedang memperhatikan langkah kakinya.

“Um, tidak.” Jawabku yang langsung berburu menatap ke wajahnya.

“Kau menyamakan langkah kaki ku?” tanyanya lagi dengan alis yang diangkat satu.

Ku tutup wajahku menggunakan kedua tangan. Ya, kau tahu aku malu karena tertangkap basah melakukan hal aneh itu.

“Mungkin terdengar aneh, tetapi aku selalu melakukan itu sejak kecil. Rasanya seperti ada yang mengganjal jika langkah kaki kita saat berjalan tidak sama. Oke, dan mungkin sekarang kau akan memandangku lebih aneh.” Jelasku panjang.

Ia sempat terdiam. Keheningan sempat menyelimuti kami dan Greyson menatapku dalam. Kini ku rasa jantungku berdegup dengan kencang, aliran darahku bahkan bergerak lebih cepat, bahkan sepertinya desiran angin menghempas tubuhku lebih kencang.

“Kau memang aneh.”

Tiga kata itu terlontar dari bibir mulusnya dan beberapa saat kemudian Ia tertawa cukup kencang dengan pandangan ke laut.

“Kau menertawakanku, Greyson?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.

Tak lama kemudian, Ia tertawa. “Tidak, aku tidak menertawakanmu. Tetapi menertawakan tingkah lakumu itu.” Ucapnya dengan menatap kedua mataku. Oiya, menatap dalam artian penuh ledek karena diselingi tawanya itu. Oleh karena itu, ku layangkan sebuah tinjuan kecil tepat di lengannya.

“Aw! Kau ahli juga dalam meninju!”  ujar Greyson sambil memegang lengan kirinya.

“Tidak juga, kau saja yang lemah!” balasku dengan juluran lidah ke depan. Meledek dirinya.

“Oh, ya? Ku rasa kau salah.” Ucapnya dengan tatapan penuh jahil. Aku sempat tidak mengerti dengan tatapan itu sampai akhirnya Ia berlari mencoba mengejarku yang sudah terlebih dahulu berlari menyadari tatapan penuh jahilnya itu.

Kaki ku yang tidak menggunakan alas apapun menyusuri garis pantai, mencoba berlari secepat mungkin agar tidak terkejar oleh Greyson, dan sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihat sudah sejauh apa aku darinya.

Jantungku berdegup begitu kencang karena berlari, padahal seharusnya aku ingat pesan Ayah bahwa aku tidak boleh berlari kencang karena bisa membuat badanku lemas seketika dan kini itu terjadi.

Langkah kakiku bergerak lebih pelan, lemas rasanya, dan akhirnya kini lututku sudah bertemu dengan pasir pantai begitu juga kedua telapak tanganku yang menapak pada pasir. Nafasku tak beraturan, mulutku membuka untuk membantu menstabilkan nafas, dan keringat pun bercucuran jatuh ke pasir pantai yang bersih.

Seseorang memegang kedua bahuku, lalu membantuku ke posisi duduk. Greyson, dia orangnya.

“Kau kenapa?” tanyanya sambil mencoba meluruskan kaki ku.

Aku tidak menjawab karena masih mencoba untuk menstabilkan nafasku. Ku pejamkan mata sejenak agar nafas bisa stabil lebih cepat, tetapi begitu mataku membuka Greyson tidak ada.

“Greyson?” panggilku begitu nafas mulai kembali stabil. Aku menoleh ke kanan dan kiri tetapi tetap tidak ada dirinya. Ingin berdiri, tetapi rasanya kakiku masih belum sanggup untuk melakukan itu.

Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sudah jam tiga sore, cepat juga waktu berlalu.

Hari menjelang sore, para pengunjung pantai pun lebih bertambah. Banyak di antara mereka yang baru saja datang langsung menyeburkan diri ke dalam air laut untuk sekedar bermain air, ada yang hanya duduk di pinggiran pasir pantai untuk berbincang-bincang bersama kerabat atau temannya, dan ada juga yang langsung mengayuh papan selancarnya ke tengah laut dan menanti ombak yang akan membawa mereka kembali.

Melihat mereka dengan lincahnya berselancar, terbesit di benakku untuk bisa melakukan itu seperti mereka. Bergaya di atas papan selancar dengan lincahnya ditemani ombak yang sudah menjadi kawannya, tetapi di lain sisi aku takut. Aku takut jika pada niat awalnya ku inginkan ombak untuk menjadi kawan, malah menjadi lawan.

“Kamu sudah baikan?”

Ia datang dengan segelas teh di genggamannya dan kini Ia berlutut di hadapanku dengan tangannya yang menggenggam teh dijulurkan ke arahku, “Minum dulu, agar lebih tenang. Ini teh hangat.” Ujarnya lembut. Jujur, ini ucapannya yang terlembut kalau dibanding dengan ucapan-ucapan sebelumnya.

Ku terima gelas berisi teh hangat itu dan tersenyum, “Terima kasih. Sebenarnya aku tidak menyukai teh.”

Ia mengubah posisinya menjadi duduk di sampingku, kakinya ikut diluruskan ke depan dan kedua tangannya menopang tubuhnya sendiri di belakang.

“Kau tadi kenapa?” tanyanya dan wajahnya memandang ke wajahku juga yang sedang menoleh dirinya.

Aku menggeleng pelan, “Tidak tahu. Mungkin, karena aku telah melanggar larangan Ayah.”

“Larangan apa?”

“Ayah melarangku untuk berlarian cepat.”

“Mengapa Ia melarangmu?”

Ku angkat kedua bahuku, “Aku pun tak tahu. Ia bilang itu bisa membuat orang mudah lelah.”

Kini, Greyson malah tertawa begitu ku jawab pertanyaannya. “Dimana-mana, berolahraga memang membuat orang lelah. Ayahmu aneh-aneh saja.”

“Aku tahu, Greyson. Tetapi setiap ku langgar larangan Ayah, ini selalu terjadi. Badanku terasa sangat amat berat, nafasku sesak.”

“Mungkin, kau belum terbiasa berolahraga. Kapan-kapan, kita harus berolahraga bersama. Kau harus melatih jantungmu, Ciel.”

Aku hanya mengangguk. Tak lama, Greyson bangun dari tempatnya lalu menjulurkan tangannya begitu berdiri.

“Kemana?” tanyaku.

“Suatu tempat,” balasnya dengan mengedipkan mata kanannya.


---

That’s all about part 3 from my third story!
Hope you guys will love it ;)
Wait for the next part and thanks for read!
-chanda.
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Skyfall ( Part 2 )


Aku berhenti di sebuah lukisan. Lukisan yang terdapat empat orang di dalamnya. Satu lelaki paruh baya, satu wanita paruh baya, satu lelaki muda, dan satu gadis kecil yang dipangku oleh wanita paruh baya yang ternyata Ibunya itu. Ingin sekali tanganku bergerak untuk memotret lukisan ini, tetapi tidak bisa. Entah, tidak sanggup.

“Excuse me,” sebuah suara membuyarkan lamunanku. Maka aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berkata seperti itu.

Seorang lelaki muda dengan kamera yang menutupi wajahnya, tak lama kemudian suara dari blits kamera itu terdengar dan lelaki itu menurunkan kamera dari wajahnya untuk melihat hasil potretannya.

Dan aku terdiam menyadari bahwa Ia adalah lelaki aneh yang membaca novel tepat di saat matahari sedang terbenam itu. Bodohnya, aku terus memperhatikannya sama seperti di saat matahari terbenam kemarin. Kini lelaki itu mendangakkan wajahnya untuk melihatku yang sedang memperhatikannya. Oh gila, mungkin Ia menyadari bahwa aku memperhatikannya.

“You? Are you that girl who staring at me yesterday?” tanyanya dengan suara serak khas lelaki remaja.

Aku hanya menunduk dan menggeleng tidak jelas. Kemudian terbesit di pikiranku untuk melangkah menjauhi lelaki itu.

“Hey, I remember you. I remember your eyes.”

Kini langkahku terhenti. Ya Tuhan, mungkin aku terlihat sangat aneh saat ini. Langkah kaki terdengar mendekat dan sosoknya kini berada di hadapanku.

“I remember your eyes, girl.”

“How can you remember my eyes? You were meters away from me yesterday, you cant look at my eyes.”

“Aha! It’s you!”

Bodoh. Dengan mudahnya Ia menjebakku.  Dengan mengatakan bahwa kemarin kami berjarak bermeter-meter jauhnya, itu sangat menjelaskan bahwa aku lah gadis yang memperhatikannya kemarin. Bodoh.

“Okay, it’s me.” Ucapku pada akhirnya.

Lelaki yang sepertinya bukan berasal dari Indonesia ini hanya tertawa kecil, “Why are you staring at me yesterday?” tanyanya.

Aku hanya menghela nafas, “You’re weird.” Jawabku.

“Weird?”

“Yes. You read a novel while the sun goes down.” Jawabku.

Ia terkekeh pelan, “You too.”

“Me?”

“You weird, girl. You were staring at a random guy while the sun goes down.”

***

Sebuah ice cream cokelat berada di genggamanku, dan aku mulai melahap ice cream itu perlahan. Kini aku sedang duduk di sebuah kursi taman yang berada di luar galeri, bersama lelaki tadi. Mungkin aku telah melanggar pesan kakak untuk tidak pergi bersama orang yang tidak dikenal, tetapi menurutku lelaki ini baik.

Oh ya, lelaki itu. Ia berasal dari Amerika tetapi bisa berbahasa Indonesia dengan cukup lancar ternyata. Katanya Ia sering pergi ke Indonesia di setiap liburan. Ia suka dengan cuaca dan orang-orang yang berada di sini, katanya.

“Ku kira kau bukan berasal dari Indonesia.” Ujarnya setelah melahap ice cream miliknya sendiri.

“Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Matamu.” Jawabnya.

Tanganku bergerak naik dan memegang pelupuk mata milikku. “Oh, ya. Aku mengerti.”

“Darimana kau mendapatkan bola mata biru itu? Orang Indonesia biasanya berbola mata cokelat atau hitam, kan.”

Aku tersenyum sekilas, “Ibuku. Ia berdarah Perancis.”

“Ah, aku mengerti. Kau beruntung mempunyai darah Perancis di tubuhmu.”

Aku menunduk menatap sepatu converse cokelat yang ku pakai. “Terima kasih.”

***

Aku hanya tersenyum dan sesekali tertawa mendengar cerita dari lelaki bernama Greyson ini. Kini kami sedang menyusuri Pantai Kuta diiringi candaan dan cerita pengalamannya selama di Bali. Ia bilang sudah sejak kecil keluarganya datang ke Bali untuk berlibur di setiap tahun, oleh karena itu Ia bisa berbicara bahasa Indonesia dengan cukup baik.

“Kau bisa berselancar?” Tanyanya kepadaku.

Aku menggeleng. “Tidak, tetapi kakak ku bisa. Aku sempat tenggelam ketika belajar berselancar.” Jawabku.

“Kau punya kakak?”

“Ya, kakak lelaki. Bahkan saat ini aku berlibur di Bali hanya berdua dengannya.”

“Benarkah? Lalu mengapa kakakmu itu tidak pergi menemanimu menjelajahi Bali?”

“Ia sibuk dengan pameran karya lukisnya.”

Greyson menghentikan langkahnya, lalu matanya menatapku tajam. “Jangan bilang bahwa kakak mu itu Farhan Gusnawan?”

“Kau kenal dia? Ia kakak ku.” Ujarku dan di saat itu juga Greyson menatapku lebih tajam.

Kini kedua tangannya mendarat di bahuku, “Why you don’t tell me?!” serunya sambil mengguncang bahuku. Guncangan yang cukup keras.

“Calm, Grey.”

Aku mencoba membuat Greyson berhenti mengguncang bahuku. “Salah sendiri kau tidak bertanya.”

“Ya Tuhan, asal kau tahu setiap tahun aku pergi ke Bali untuk menyaksikan pameran yang diadakan kakakmu itu! Aku sangat mengagumi hasil karyanya!”

Lagi-lagi Greyson mengguncangku dan berkali-kali aku mencoba untuk menenangkannya.

“Lihat, aku punya berbagai macam foto karya kakak mu dari tahun ke tahun di setiap pameran!”

Ia menunjukkanku foto-foto yang ada di kamera miliknya. Foto berbagai lukisan hasil karya kakak ku. Ya Tuhan, kakak benar-benar beruntung memiliki seorang penggemar seperti Greyson yang rela pergi dari Amerika ke Indonesia hanya untuk melihat hasil karya miliknya. Aku benar-benar harus memberi tahu kakak akan hal ini, Ia pasti akan merasa sangat senang.

“Kau penggemarnya?” tanyaku kepada Greyson yang sedang menggigit bibir bagian bawahnya.

Ia mengangguk cepat. “Tentu saja! Bahkan aku sempat terinspirasi dari lukisan kakak mu dan membuatkan lagu dari cerita yang tertera di lukisan itu.”

“Kau menulis lagu?”

“Ya. Sebenarnya hanya untuk iseng, aku suka menulis di atas kertas. Mencurahkan apa yang sedang ada di otak ku dan dengan begitu saja sebuah melodi datang, maka ku coba untuk digabung dengan kalimat-kalimat yang telah ku tulis. Hasilnya sebuah lagu yang sangat aneh mungkin jika kau dengar, Ciel.”

Aku menatapnya aneh, “Ah, tidak-tidak. Kau harus menyanyikan lagu itu untuk ku. Mungkin bagus.”

“Lagu itu buruk, aku bukan penulis lagu professional.”

Aku tertawa dan menepuk bahunya pelan. “Haha, aku tidak peduli. Intinya kau harus menyanyikan lagu burukmu itu untuk ku dan aku akan mencoba untuk tidak tertawa saat kau bernyanyi.”

“Kau pasti akan tertawa.” Ucapnya dengan wajah hopeless.

“Sudah ku bilang, aku akan mencoba untuk tidak tertawa.” Kini tawaku meledak lagi dan sebuah tinjuan kecil mendarat di lenganku. Siapa lagi, pasti tinjuan Greyson seorang lelaki Amerika seumuranku yang baru dikenal beberapa jam yang lalu. Walaupun sebenarnya kami sudah bertemu kemarin, tetapi baru mengenal satu sama lain beberapa jam yang lalu.

Kami masih berjalan menyusuri pinggir pantai dengan alas kaki yang sudah kami tinggalkan di atas pasir agar membiarkan jemari kaki kami bisa merasakan air laut yang hangat. Kini Greyson mulai bercerita tentang kehidupannya di Amerika, tentang masa kecilnya dan sesekali Ia selipkan sebuah canda yang membuat tawaku meledak dengan mudahnya.

Ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku sempat melirik Greyson sejenak lalu mengambil ponsel yang berada di saku celana. Aku kembali menoleh ke Greyson sejenak begitu melihat siapa nama yang tertera di layar ponsel.

Marissa.


---

That’s all about part 2 from my third story!
Wait for the next part, hope you guys love it xoxo
-chanda
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Skyfall ( Part 1 )



***

Pernah kah kalian merasa jatuh cinta terhadap suatu benda yang bisa membuat kalian melupakan dunia?

Benda yang membawa sekelebat memori dan memori itu bisa membuatmu tersenyum dan meneteskan air mata di saat yang sama.

Benda itu memiliki kekuatan abadi di hatimu.

Karena benda itu tidak akan pernah pergi darimu,
Benda itu akan selalu ada menyaksikanmu di saat kamu tertawa.
Benda itu akan selalu ada menyaksikanmu di saat kamu tersenyum.
Benda itu akan selalu ada menyaksikanmu di saat kamu menangis.
Benda itu akan selalu ada menyaksikanmu dalam keadaan apapun.
Dan benda itu akan selalu membuatmu merasa dekat dengan seseorang yang telah lama pergi.

Pernah atau punya kah kalian benda seperti itu?

Kalau aku,
Aku  punya benda itu.

***

Ku tarik koper keluar dari bandara, didampingi oleh Kak Farhan di sisiku yang menarik koper miliknya sendiri. Terik sinar matahari dari luar bandara cukup menyilaukanku yang sudah mengenakan kacamata hitam dan suasana hangat nan ramah para penduduk Bali pun mulai menyambut kami.

Bali.
Ya, aku akan menghabiskan waktu berliburku seminggu ke depan di tempat ini bersama kakak lelaki satu-satunya yang ku punya yaitu Kak Farhan di tempat yang keindahannya tidak terkalahkan oleh wisata yang ada di luar negeri ini, dan aku bangga akan hal itu sebagai Warga Negara Indonesia.

Sebuah taksi berhenti tepat di hadapan kami, aku dan kakak pun segera masuk ke dalam.

Selama di perjalanan menuju hotel, mataku tidak pernah terlepas ke luar kaca jendela untuk melihat betapa indah dan alaminya Pulau Dewata yang terkenal di dunia ini. Well, hotel yang akan kami tempati sampai seminggu ke depan bukanlah hotel yang kami sewa atau mungkin dalam artian kami yang bayar. Tetapi, panitia penyelenggara pameran lukisan Kak Farhan lah yang menyewa hotel untuk kami.

Kak Farhan memang seorang pelukis yang sudah cukup terkenal di Indonesia. Setiap tahun, Ia selalu mengadakan pameran atas karyanya di Bali tetapi kali ini adalah yang pertama kalinya aku ikut bersamanya mengunjungi Bali. Karena kebetulan pameran tahun ini diadakan saat liburan semester, jadi aku bisa ikut bersamanya. Sayangnya, Ayah tidak bisa ikut bersama kami karena mempunyai tugas di Jakarta. Sangat disayangkan.

Tak lama, taksi berhenti menandakan bahwa kami sudah sampai dan harus turun. Kakak yang duduk di jok depan memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi itu yang dibalas senyum dan ucapan terima kasih sang supir. Selang beberapa detik, kakak menoleh ke belakang seakan memberi isyarat bahwa-inilah-hotelnya-kita-harus-turun-. Aku mengangguk dan membuka pintu keluar mobil.

Aku sempat terdiam sejenak.
Melihat hotel yang terlihat sangat amat mewah di depanku ini. Apakah ini berarti bahwa kakak memang sudah terbilang sangat sukses bahkan panitia pameran menyewakannya hotel yang sangat berkelas ini?

Kakak menyenggol bahuku pelan lalu tertawa kecil dan mengisyaratkan ku untuk mengikutinya masuk ke dalam hotel ini.

Wanita muda bagian resepsionis tersenyum ramah begitu kami masuk ke dalam hotel. Kakak pun menghampirinya dan menyebutkan nama lengkapnya.

“Farhan Mar Gusnawan.” Ujar kakak ramah sambil menampilkan deretan gigi rapihnya.

“Oh, Tuan Farhan Gusnawan. Ini kuncinya.” Sahut wanita itu sambil memberikan kunci kepada kakak.

Kakak pun berjalan mendekat kepadaku setelah berterima kasih kepada wanita muda di meja resepsionis itu.

“Semudah itu?” tanyaku padanya.

Kakak hanya tertawa kecil, “Ia sudah kenal pada kakak. Setiap kali ke Bali kakak menginap di sini.” Jawabnya terkekeh.

Aku ikut tertawa. Setelah itu kami pun pergi ke kamar hotel yang sudah disediakan oleh panitia pameran kakak.

***

16.00 WITA.

Hari pertama di Bali dan dari siang tadi hanya ku habiskan di dalam kamar hotel untuk beristirahat melepas lelah. Rencananya, sore ini kakak ingin mengajak ku ke Pantai Kuta yang tidak jauh dari hotel. Bahkan dengan berjalan kaki sudah bisa sampai. Ya bagaimana tidak, bahkan dari balkon hotel sudah bisa terlihat ombak yang berlomba di laut.

Kakak masih sibuk di kamar mandi untuk membersihkan badannya, sedangkan aku sudah rapih dengan kaus tipis dan celana jeans selutut untuk bersiap pergi ke Pantai Kuta. Maka aku berjalan ke balkon untuk melihat pemandangan pantai dari atas dibanding harus menunggu kakak mandi di dalam.

Udara semilir pantai menghempas tubuhku lembut. Sinar matahari hangat juga ikut menghampiriku. Memberikan kehangat disela angin yang dingin begitu pintu kaca pembatas balkon ku buka.

Ku taruh tanganku di pagar pembatas balkon sambil memperhatikan kumpulan turis yang sedang berjalan santai menuju pantai. Mungkin mereka sengaja pergi ke pantai di sore hari agar bisa melihat matahari terbenam di garis pembatas laut.

Kini tangan kanan ku sudah tidak berada di pagar pembatas balkon lagi, melainkan sedang menggenggam liontin emas yang sudah bertahun-tahun ku pakai dan tidak pernah dilepas.

Kalung yang ku pakai ini bertuliskan namaku sendiri, yaitu Cielyta Gusnawan. Nama yang memiliki banyak arti bagiku dan aku selalu bangga mempunyai nama ini.

***

Pantai Kuta, Bali.
17.27 WITA

Tangan kananku menggenggam sebuah pulpen bertinta hitam yang selalu ku bawa kemana-mana, sedangkan tangan kiriku meraih pasir-pasir pantai, menggenggam kehangatannya.

Di pangkuanku, sebuah buku berbentuk diary terbuka tepat di halaman pertama yang masih kosong. Aku memang baru membeli buku ini di saat tengah dalam perjalan menuju Bandara Soekarno Hatta saat ingin pergi menuju Bali. Aku membelinya dari seorang gadis kecil di saat lampu merah jalanan menyala. Buku diary simple dengan cover langit yang redup dan tulisan “Skyfall” di tengahnya ini ku beli seharga lima puluh ribu rupiah dari gadis itu. Cukup terbilang mahal, mungkin jika gadis itu tidak menceritakan bahwa Ibunya sedang sakit dan sangat membutuhkan uang aku tidak akan membeli ini. Oleh karena keadaan Ibunya, aku membeli buku itu. Aku tidak akan pernah tega untuk melihat orang lain menderita terutama jika seorang Ibu yang menderita karena penyakitnya.

Kini tangan kiriku menjadi alas buku ini, sedangkan pulpen yang berada di genggaman tangan kananku mulai menari di atas halaman pertama buku ini. Menggambar pemandangan yang ada di depanku, yaitu orang-orang yang sedang asik menikmati hangatnya sinar matahari sore sambil berselancar. Sebenarnya, aku bukan seorang penggambar yang handal. Tetapi Kak Farhan sempat memberitahuku beberapa teknik menggambar, jadi aku cukup bisa dalam hal ini walaupun tidak sehandal dirinya.

Tanganku berhenti menggambar begitu suara kakak terdengar memanggilku.

“Ciel!” panggilnya yang berlari ke arahku.

Aku menoleh, “Sudah selesai?” tanyaku.

Sedari tadi kakak tidak bersama ku untuk duduk menikmati pasir pantai. Ia sedang menyiapkan dan menata galeri yang akan dipakai untuk pameran karyanya esok, dan untungnya galeri itu tidak jauh dari Pantai Kuta tempat ku berada saat ini.

“Belum, masih ada beberapa yang harus ditata.”

“Lalu kenapa kakak ke sini?”

“Ciel gapapa kakak tinggal sendirian?”

Aku mengangguk mantap, “Tentu saja. I’m okay.”

Kakak sempat menatapku, lalu mengangguk pelan dan berjalan menjauhi ku. Kini aku sendirian lagi, tanganku mulai melanjutkan gambar yang tadi sempat terhenti karena kehadiran kakak.

Kini matahari sudah mulai mendekat ke garis pembatas laut dan langit. Mulai mempersiapkan dirinya untuk tenggelam dan terbit di belahan bumi lainnya.

Orang-orang yang sedari tadi berada di laut mulai menepi ke pantai, untuk bersiap-siap melihat matahari terbenam bersama. Aku menoleh ke sekeliling, memperhatikan orang-orang yang sedang saling rangkul untuk menyaksikan matahari terbenam. Sedangkan aku di sini hanya sendirian dan memeluk lutut ku sendiri. Tetapi aku baru menyadari bahwa ada yang memiliki nasib sama seperti diriku. Ia berada di sisi kananku, tidak terlalu jauh tetapi tidak terlalu dekat dari tempat ku berada. Ia sedang membaca sebuah novel, kepalanya menunduk dan sesekali tangannya bergerak seperti sedang menghapus air mata. Tanpa ku sadari aku terus memperhatikannya. Entah, Ia aneh. Di saat matahari terbenam malah asik membaca novel.

Atau mungkin aku juga bisa dibilang aneh karena memperhatikannya, bukan memperhatikan matahari yang sedang bergerak turun dan menenggelamkan dirinya.

***

Hari kedua di Bali.
08.43 WITA

Tujuh belas menit lagi, pameran karya seni kakak akan segera dibuka. Tetapi Ia bahkan masih ada di dalam kamar hotel untuk menata dirinya sendiri.

“Di sana kamu jangan pergi kemana-mana sebelum izin sama kakak, jangan mau pergi diajak sama orang yang tidak dikenal, jika ada hal aneh terjadi kamu hubungi kakak saja. Mengerti? Karena di sana kakak pasti sibuk dan nggak bisa mengawasi kamu terus.”

Aku mengangguk pelan, “Ciel sudah lima belas tahun, kak. Ciel ngerti.”

“Bagi kakak, kamu masih anak kecil.” Candanya dan mengacak rambutku pelan.

Setelah itu, kakak menggandeng tanganku dan berjalan kaki ke galeri tempat pameran dilaksanakan karena galeri ini tidak jauh dari hotel tempat kami menginap.

Akhirnya, kami sampai di galeri tempat pameran diselenggarakan. Megah menurutku. Kakak langsung disambut dengan orang-orang begitu sampai. Mereka juga sempat melirikku yang digandeng kakak, maka kakak memperkenalkanku kepada mereka sebagai adik perempuan satu-satunya.

“Sekarang kita harus misah, ingat kalau ada apa-apa hubungi kakak.” Bisik kakak.

Aku mengangguk, lalu merangkul tubuhnya. “Bonne chance, Je t'aime.” Bisikku yang artinya ‘semoga beruntung, aku mencintaimu’ dalam bahasa Perancis.

Kakak hanya tersenyum lalu mengecup puncak kepalaku pelan, “Bye, hati-hati. Ingat pesan kakak.” Ujarnya lalu berlari masuk ke dalam.

Aku juga masuk ke dalam galeri untuk melihat karya-karya milik kakakku dan sesekali aku memotret beberapa karyanya dengan kamera yang sudah ku kalungi sedari tadi. Sesekali, aku memotret kakak yang sedang menjelaskan arti dari karyanya kepada turis-turis yang datang dan Ia terkadang menyadari bahwa aku sedang memotretnya dan tersenyum ke kamera.

Aku berhenti di sebuah lukisan. Lukisan yang terdapat empat orang di dalamnya. Satu lelaki paruh baya, satu wanita paruh baya, satu lelaki muda, dan satu gadis kecil yang dipangku oleh wanita paruh baya yang ternyata Ibunya itu. Ingin sekali tanganku bergerak untuk memotret lukisan ini, tetapi tidak bisa. Entah, tidak sanggup.

“Excuse me,” sebuah suara membuyarkan lamunanku. Maka aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berkata seperti itu.

Seorang lelaki muda dengan kamera yang menutupi wajahnya, tak lama kemudian suara dari blits kamera itu terdengar dan lelaki itu menurunkan kamera dari wajahnya untuk melihat hasil potretannya.

Dan aku terdiam menyadari bahwa Ia adalah lelaki aneh yang membaca novel tepat di saat matahari sedang terbenam itu.


---

So here’s the part 1 of my third story!
Hope you guys love it :>
Thanks for read,
Chanda.

http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png