Kini, Greyson malah tertawa begitu ku jawab
pertanyaannya. “Dimana-mana, berolahraga memang membuat orang lelah. Ayahmu
aneh-aneh saja.”
“Aku tahu, Greyson. Tetapi setiap ku langgar larangan
Ayah, ini selalu terjadi. Badanku terasa sangat amat berat, nafasku sesak.”
“Mungkin, kau belum terbiasa berolahraga. Kapan-kapan,
kita harus berolahraga bersama. Kau harus melatih jantungmu, Ciel.”
Aku hanya mengangguk. Tak lama, Greyson bangun dari
tempatnya lalu menjulurkan tangannya begitu berdiri.
“Kemana?” tanyaku.
“Suatu tempat,” balasnya dengan mengedipkan mata
kanannya.
***
Greyson berjalan di depanku, sesekali Ia menoleh ke
belakang untuk memberiku sebuah senyum tipis kemudian kembali menatap ke depan.
“Kita mau kemana sebenarnya?” Tanyaku dengan sedikit berteriak
karena Ia sudah berjalan agak jauh di depanku.
Greyson berbalik badan, lalu menghampiriku yang masih ada
di belakangnya.
“Ayo, cepat jika kau ingin tahu!” ujarnya dan menggait
tangan kananku. Menjadikan tanganku ada di genggamannya kini.
Kami sudah berjalan cukup jauh, tetapi masih sama-sama
menyusuri Pantai Kuta ini. Kami berjalan mengikuti garis pantai yang entah aku
sendiri pun tidak tahu dimana ujungnya. Hingga akhirnya bebatuan karang mulai
terlihat di pinggir laut.
Greyson menoleh ke arahku, lalu menampilkan senyum di
wajahnya.
“Ayo,” ajaknya.
“Kemana?” tanyaku yang masih belum terlalu mengerti
dengan maksudnya.
“Menikmati air laut,” Ia berjalan ke beberapa batu di
laut yang bisa dijadikan sebuah jalan di tengah air laut. Baru satu langkah
berjalan di atas bebatuan, Ia berhenti dan menoleh ke arahku yang masih berdiri
di atas pasir pantai. “Mau kau dulu yang berjalan atau aku?” tanyanya. Aku
tidak menjawab, melainkan hanya menatap kedua bola matanya itu.
“Ayolah, lebih baik lady first.” Ujarnya lagi yang
kemudian menggamit tangan kananku, menuntunku ke bebatuan itu.
“Aku berjalan di belakangmu, tenang saja.” Ucapnya.
Aku mengangguk pelan, lalu mulai melangkahkan kakiku di
atas bebatuan laut ini dengan hati-hati. Sesekali, Greyson memperingatkanku
untuk melangkah dengan hati-hati, dan Ia pun dengan mudahnya menangkap tubuhku
jika ingin jatuh. Kini, bebatuan yang ku jadikan pijak sudah tidak ada. Batu
yang sedang ku pijak adalah batu yang berada paling ujung.
Greyson memegang kedua lenganku, dan membantuku untuk
berbalik badan menghadap ke wajahnya.
“Ayo, duduk pelan-pelan.” Pintanya.
Ia membantuku untuk duduk dengan menggenggam kedua
tanganku, dan akhirnya aku berhasil duduk di bebatuan ini dengan aman. Kini,
kaki kami berdua sudah dibalut oleh air laut sore yang hangat. Beberapa kali
ombak menghantam bebatuan ini yang menciptakan cipratan air kepada kami berdua,
dan di setiap cipratan itu kami tertawa.
“Kau mengajak ku kesini hanya untuk menikmati cipratan
air dari ombak?” tanyaku diselingi tawa.
Greyson balas tertawa, lalu menatap ke bawah. “Bisa
dibilang seperti itu,” jawabnya lalu tertawa lagi.
Aku hanya terkekeh pelan, kemudian menggerakkan kakiku di
air yang juga menciptakan cipratan kecil yang mengenai tubuh kami.
“Apa menurutmu tentang air?” tanyanya yang kemudian
menolehkan wajahnya ke arahku.
Aku menunduk, menatap jemari-jemari kakiku yang berada di
dalam air. “Terkadang bisa menjadi teman, terkadang bisa menjadi lawan.”
Jawabku, kemudian menghadap ke arahnya. “Kalau menurutmu?”
Greyson terkekeh pelan, lalu menghairflip rambutnya. “Mereka sama seperti manusia.” Jawabnya.
Mataku menyipit menandakan aku tidak mengerti dengan apa
yang Ia maksud, dan lagi-lagi Ia terkekeh pelan lalu mengambil sedikit air yang
Ia tadang di kedua tangannya.
“Ya, mereka sama seperti kita. Mereka terus mengalir
mengikuti arus yang membawanya, dan mereka pun tidak tahu kemana mereka akan
pergi. Ke sungai yang indah dan bersih atau sungai yang kotor, mau tidak mau
mereka harus menerima sungai itu dengan segala keadaannya. Mereka tidak bisa
menolak karena hanya bisa mengikuti arus, hingga pada akhirnya mereka sampai di
laut luas yang akan membuatnya menguap menjadi awan di langit ketika matahari
bersinar terik. Setelah itu, mereka menjadi butiran air hujan yang jatuh
membasahi bumi dan mereka pun hanya bisa menuruti di belahan bumi mana mereka
akan jatuh dan menjalani kehidupan mereka seperti yang sebelumnya. Mengalir
hingga sampai ke laut dan kembali ke atas. Sama seperti kehidupan manusia, kan?”
jelasnya yang diakhiri oleh sebuah senyuman.
Aku ikut membalas dengan senyum. Greyson memperbaiki
posisi duduknya, lalu memainkan tangannya di air.
“Hidup manusia juga seperti air, terus mengalir, dan kita
sendiri pun tidak tahu arus itu akan membawa kita ke kehidupan yang baik atau
buruk. Kita hanya harus terus mengalir, hingga bermuara di laut luas yang
dipenuhi oleh ikan-ikan dan terumbu karang yang indah, sampai akhirnya kita
harus kembali ke atas. Bersatu menjadi sekumpulan awan,” Greyson berhenti
memainkan tangannya di dalam air. “Itulah kehidupan. Tetapi, di lain sisi kita
juga harus berusaha untuk mencapai yang terbaik. Tidak boleh hanya mengandalkan
arus kehidupan.”
Ku tepuk kedua tanganku dan tersenyum lebar begitu
mendengar penjelasan dari Greyson. Sedangkan, Greyson hanya tersipu malu karena
pipinya memerah.
“Perkataanmu benar, sangat benar. Karena pada akhirnya
kita semua akan kembali ke atas, meninggalkan dunia, kan?”
Greyson kembali mengangguk. “Jam berapa sekarang?”
tanyanya.
Ku lihat jam tangan yang melingkar, kemudian kembali
menatapnya. “Hampir jam setengah lima, ada apa?”
“Kau ingin melihat matahari terbenam di tempat yang
istimewa?” tanyanya dengan mengkedipkan sebelah matanya lagi.
***
Aku berjalan di sampingnya, masih menyusuri pantai tetapi
sepertinya kami sudah berjalan cukup jauh dari tempat sebelumnya. Jika
dibandingkan dengan Pantai Kuta mungkin kami sudah berjalan sangat jauh.
Ku ambil ponsel yang sedari tadi ada di saku ku. Tidak
ada pesan dari kakak, padahal biasanya Ia selalu mengirimi ku pesan singkat
setiap kali aku sedang pergi. Mungkin Ia masih sibuk, pikirku.
Aku menatap Greyson yang sedang berjalan di sampingku
dengan pandangannya ke depan. Kini aku bingung, mengapa dengan mudahnya aku mau
diajak oleh lelaki yang baru ku kenal identitasnya tadi pergi menyusuri pantai
yang tidak ada habisnya.
Pantai terputus. Kini di depanku sudah tidak ada hamparan
pasir pantai lagi, melainkan seperti sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi.
Aku menoleh ke arah Greyson yang ternyata juga sedang
menoleh ke arahku, tak lama sebuah senyum muncul mengembang di wajahnya. Lalu
Ia mulai melangkahkan kakinya menaiki bebatuan menuju tebing. Aku hanya
memperhatikan tingkahnya. Begitu berhasil berada di atas batu besar itu, Ia menjulurkan
tangannya.
Aku hanya terdiam menatap tangan miliknya yang dijulurkan
ke arahku.
“Ayo, cepat. Aku tahu kau tidak akan bisa menaiki
bebatuan ini tanpa bantuan.” Ujarnya. Tangan miliknya yang cukup besar itu
masih terus dijulurkan. Akhirnya, ku taruh tanganku di atas telapak tangannya
dan di saat itu juga Greyson membantuku naik ke bebatuan.
Ku bersihkan debu yang menempel di celana begitu berhasil
naik ke atas, lalu juga membersihkan sikutku yang tergesek bebatuan. Aku
berdiri, Greyson sudah berjalan di depanku ingin memanjat sebuah batu besar
lagi. Aku berlari pelan dengan hati-hati, kemudian langsung menyambar tangan
Greyson dan naik ke atas batu besar itu lagi. Berulang kali, aku naik ke
bebatuan besar hingga akhirnya di sebuah tempat yang cukup tinggi jika diukur
dari dasar pasir pantai.
Aku berjalan ke ujung bebatuan, kemudian menunduk melihat
ombak laut yang memecah dinding tebing tempat kami berada. Cukup mengerikan,
tetapi pemandangan dari atas sini terlihat sangat indah dipadu dengan langit
yang sudah mulai menggelap.
Aku kembali berjalan ke Greyson yang sedang duduk di
sebuah batu, lalu duduk di sebuah batu tepat di sisinya.
“Pemandangannya indah,” ucapku.
“Ya, oleh sebab itu aku mengajakmu ke sini. Dulu, aku
suka pergi ke sini untuk menyaksikan matahari terbenam.”
“Dulu?”
“Ya, aku jarang ke sini lagi.”
“Kenapa?”
“Akan ku ceritakan padamu suatu saat nanti.”
Aku hanya mengangguk pelan, “Akan ku tunggu.” Balasku.
---
That’s all about part 4 from my third story!
Wait for the next part, hope you guys love it xoxo
Thanks for read,
-chanda

No comments:
Post a Comment