Thursday, December 27, 2012

Skyfall ( Part 4 )


Kini, Greyson malah tertawa begitu ku jawab pertanyaannya. “Dimana-mana, berolahraga memang membuat orang lelah. Ayahmu aneh-aneh saja.”

“Aku tahu, Greyson. Tetapi setiap ku langgar larangan Ayah, ini selalu terjadi. Badanku terasa sangat amat berat, nafasku sesak.”

“Mungkin, kau belum terbiasa berolahraga. Kapan-kapan, kita harus berolahraga bersama. Kau harus melatih jantungmu, Ciel.”

Aku hanya mengangguk. Tak lama, Greyson bangun dari tempatnya lalu menjulurkan tangannya begitu berdiri.

“Kemana?” tanyaku.

“Suatu tempat,” balasnya dengan mengedipkan mata kanannya.

***

Greyson berjalan di depanku, sesekali Ia menoleh ke belakang untuk memberiku sebuah senyum tipis kemudian kembali menatap ke depan.

“Kita mau kemana sebenarnya?” Tanyaku dengan sedikit berteriak karena Ia sudah berjalan agak jauh di depanku.

Greyson berbalik badan, lalu menghampiriku yang masih ada di belakangnya.

“Ayo, cepat jika kau ingin tahu!” ujarnya dan menggait tangan kananku. Menjadikan tanganku ada di genggamannya kini.

Kami sudah berjalan cukup jauh, tetapi masih sama-sama menyusuri Pantai Kuta ini. Kami berjalan mengikuti garis pantai yang entah aku sendiri pun tidak tahu dimana ujungnya. Hingga akhirnya bebatuan karang mulai terlihat di pinggir laut.

Greyson menoleh ke arahku, lalu menampilkan senyum di wajahnya.

“Ayo,” ajaknya.

“Kemana?” tanyaku yang masih belum terlalu mengerti dengan maksudnya.

“Menikmati air laut,” Ia berjalan ke beberapa batu di laut yang bisa dijadikan sebuah jalan di tengah air laut. Baru satu langkah berjalan di atas bebatuan, Ia berhenti dan menoleh ke arahku yang masih berdiri di atas pasir pantai. “Mau kau dulu yang berjalan atau aku?” tanyanya. Aku tidak menjawab, melainkan hanya menatap kedua bola matanya itu.

“Ayolah, lebih baik lady first.” Ujarnya lagi yang kemudian menggamit tangan kananku, menuntunku ke bebatuan itu.

“Aku berjalan di belakangmu, tenang saja.” Ucapnya.

Aku mengangguk pelan, lalu mulai melangkahkan kakiku di atas bebatuan laut ini dengan hati-hati. Sesekali, Greyson memperingatkanku untuk melangkah dengan hati-hati, dan Ia pun dengan mudahnya menangkap tubuhku jika ingin jatuh. Kini, bebatuan yang ku jadikan pijak sudah tidak ada. Batu yang sedang ku pijak adalah batu yang berada paling ujung.



Greyson memegang kedua lenganku, dan membantuku untuk berbalik badan menghadap ke wajahnya.

“Ayo, duduk pelan-pelan.” Pintanya.

Ia membantuku untuk duduk dengan menggenggam kedua tanganku, dan akhirnya aku berhasil duduk di bebatuan ini dengan aman. Kini, kaki kami berdua sudah dibalut oleh air laut sore yang hangat. Beberapa kali ombak menghantam bebatuan ini yang menciptakan cipratan air kepada kami berdua, dan di setiap cipratan itu kami tertawa.

“Kau mengajak ku kesini hanya untuk menikmati cipratan air dari ombak?” tanyaku diselingi tawa.

Greyson balas tertawa, lalu menatap ke bawah. “Bisa dibilang seperti itu,” jawabnya lalu tertawa lagi.

Aku hanya terkekeh pelan, kemudian menggerakkan kakiku di air yang juga menciptakan cipratan kecil yang mengenai tubuh kami.

“Apa menurutmu tentang air?” tanyanya yang kemudian menolehkan wajahnya ke arahku.

Aku menunduk, menatap jemari-jemari kakiku yang berada di dalam air. “Terkadang bisa menjadi teman, terkadang bisa menjadi lawan.” Jawabku, kemudian menghadap ke arahnya. “Kalau menurutmu?”

Greyson terkekeh pelan, lalu menghairflip rambutnya. “Mereka sama seperti manusia.” Jawabnya.

Mataku menyipit menandakan aku tidak mengerti dengan apa yang Ia maksud, dan lagi-lagi Ia terkekeh pelan lalu mengambil sedikit air yang Ia tadang di kedua tangannya.

“Ya, mereka sama seperti kita. Mereka terus mengalir mengikuti arus yang membawanya, dan mereka pun tidak tahu kemana mereka akan pergi. Ke sungai yang indah dan bersih atau sungai yang kotor, mau tidak mau mereka harus menerima sungai itu dengan segala keadaannya. Mereka tidak bisa menolak karena hanya bisa mengikuti arus, hingga pada akhirnya mereka sampai di laut luas yang akan membuatnya menguap menjadi awan di langit ketika matahari bersinar terik. Setelah itu, mereka menjadi butiran air hujan yang jatuh membasahi bumi dan mereka pun hanya bisa menuruti di belahan bumi mana mereka akan jatuh dan menjalani kehidupan mereka seperti yang sebelumnya. Mengalir hingga sampai ke laut dan kembali ke atas. Sama seperti kehidupan manusia, kan?” jelasnya yang diakhiri oleh sebuah senyuman.

Aku ikut membalas dengan senyum. Greyson memperbaiki posisi duduknya, lalu memainkan tangannya di air.

“Hidup manusia juga seperti air, terus mengalir, dan kita sendiri pun tidak tahu arus itu akan membawa kita ke kehidupan yang baik atau buruk. Kita hanya harus terus mengalir, hingga bermuara di laut luas yang dipenuhi oleh ikan-ikan dan terumbu karang yang indah, sampai akhirnya kita harus kembali ke atas. Bersatu menjadi sekumpulan awan,” Greyson berhenti memainkan tangannya di dalam air. “Itulah kehidupan. Tetapi, di lain sisi kita juga harus berusaha untuk mencapai yang terbaik. Tidak boleh hanya mengandalkan arus kehidupan.”

Ku tepuk kedua tanganku dan tersenyum lebar begitu mendengar penjelasan dari Greyson. Sedangkan, Greyson hanya tersipu malu karena pipinya memerah.

“Perkataanmu benar, sangat benar. Karena pada akhirnya kita semua akan kembali ke atas, meninggalkan dunia, kan?”

Greyson kembali mengangguk. “Jam berapa sekarang?” tanyanya.

Ku lihat jam tangan yang melingkar, kemudian kembali menatapnya. “Hampir jam setengah lima, ada apa?”

“Kau ingin melihat matahari terbenam di tempat yang istimewa?” tanyanya dengan mengkedipkan sebelah matanya lagi.

***

Aku berjalan di sampingnya, masih menyusuri pantai tetapi sepertinya kami sudah berjalan cukup jauh dari tempat sebelumnya. Jika dibandingkan dengan Pantai Kuta mungkin kami sudah berjalan sangat jauh.

Ku ambil ponsel yang sedari tadi ada di saku ku. Tidak ada pesan dari kakak, padahal biasanya Ia selalu mengirimi ku pesan singkat setiap kali aku sedang pergi. Mungkin Ia masih sibuk, pikirku.

Aku menatap Greyson yang sedang berjalan di sampingku dengan pandangannya ke depan. Kini aku bingung, mengapa dengan mudahnya aku mau diajak oleh lelaki yang baru ku kenal identitasnya tadi pergi menyusuri pantai yang tidak ada habisnya.

Pantai terputus. Kini di depanku sudah tidak ada hamparan pasir pantai lagi, melainkan seperti sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi.

Aku menoleh ke arah Greyson yang ternyata juga sedang menoleh ke arahku, tak lama sebuah senyum muncul mengembang di wajahnya. Lalu Ia mulai melangkahkan kakinya menaiki bebatuan menuju tebing. Aku hanya memperhatikan tingkahnya. Begitu berhasil berada  di atas batu besar itu, Ia menjulurkan tangannya.

Aku hanya terdiam menatap tangan miliknya yang dijulurkan ke arahku.

“Ayo, cepat. Aku tahu kau tidak akan bisa menaiki bebatuan ini tanpa bantuan.” Ujarnya. Tangan miliknya yang cukup besar itu masih terus dijulurkan. Akhirnya, ku taruh tanganku di atas telapak tangannya dan di saat itu juga Greyson membantuku naik ke bebatuan.

Ku bersihkan debu yang menempel di celana begitu berhasil naik ke atas, lalu juga membersihkan sikutku yang tergesek bebatuan. Aku berdiri, Greyson sudah berjalan di depanku ingin memanjat sebuah batu besar lagi. Aku berlari pelan dengan hati-hati, kemudian langsung menyambar tangan Greyson dan naik ke atas batu besar itu lagi. Berulang kali, aku naik ke bebatuan besar hingga akhirnya di sebuah tempat yang cukup tinggi jika diukur dari dasar pasir pantai.

Aku berjalan ke ujung bebatuan, kemudian menunduk melihat ombak laut yang memecah dinding tebing tempat kami berada. Cukup mengerikan, tetapi pemandangan dari atas sini terlihat sangat indah dipadu dengan langit yang sudah mulai menggelap.

Aku kembali berjalan ke Greyson yang sedang duduk di sebuah batu, lalu duduk di sebuah batu tepat di sisinya.

“Pemandangannya indah,” ucapku.

“Ya, oleh sebab itu aku mengajakmu ke sini. Dulu, aku suka pergi ke sini untuk menyaksikan matahari terbenam.”

“Dulu?”

“Ya, aku jarang ke sini lagi.”

“Kenapa?”

“Akan ku ceritakan padamu suatu saat nanti.”

Aku hanya mengangguk pelan, “Akan ku tunggu.” Balasku.


---

That’s all about part 4 from my third story!
Wait for the next part, hope you guys love it xoxo
Thanks for read,
-chanda

No comments:

Post a Comment